Tatap Redaksi: Kompromi Demi Rakyat

Oleh Satrio Arismunandar

Kalau mendengar kata “kompromi” dalam konteks politik, yang terbayang di pikiran kita adalah tindakan tercela dan nista para politisi. Politik adalah dunia yang sudah begitu buruk dan kotor citranya di mata sebagian kalangan. Sehingga kata “kompromi” hampir selalu diterjemahkan sebagai kebohongan, penipuan, ketidak-konsistenan, ketiadaan prinsip, dan hal-hal negatif lain.

Tetapi, seperti dikatakan almarhum Presiden Amerika John F. Kennedy dalam bukunya Profiles in Courage (1955), kita tidak boleh terburu-buru mengutuk segala tindakan kompromi sebagai sesuatu yang nista dari segi moral. Politik dan pembuatan undang-undang tidak menyediakan tempat bagi prinsip yang kaku dan harapan yang terlampau muluk-muluk.

Orang-orang yang ekstrem dan fanatik, baik yang berada di ujung kiri ataupun di ujung kanan spektrum politik, pastilah akan merasa kecewa melihat apa yang dipandangnya sebagai kelambanan pemerintah dalam menanggapi prinsip mereka. Tetapi seorang senator (ketika menulis buku itu, Kennedy masih menjabat Senator, belum menjadi Presiden AS) berkewajiban mendamaikan berbagai kepentingan yang bertentangan di dalam negara bagian dan partainya, dan mewakili mereka dalam perang kepentingan di tingkat nasional.

“Sesungguhnya ia mengetahui bahwa hanya ada sedikit sekali, seandainya memang ada, isu-isu di mana semua kebenaran dan semua malaikat suci berada pada satu sisi,” tulis Kennedy. Tetapi yang menjadi pertanyaan kemudian, kata Kennedy, adalah bagaimana kita berkompromi dan dengan siapa.

Bayangkanlah, Anda menjadi Senator AS. Pada pagi hari, Anda menerima kunjungan perwakilan serikat buruh, yang menuntut agar Anda memperjuangkan kenaikan upah buruh sebesar mungkin. Sedangkan pada siang harinya, Anda menerima kunjungan perwakilan asosiasi pengusaha, yang meminta Anda memperjuangkan agar upah buruh jangan dibiarkan naik terlalu tinggi, karena kondisi ekonomi sedang merosot dan dikhawatirkan banyak pabrik akan tutup jika upah buruh terlalu tinggi.

Baik kalangan buruh ataupun pengusaha, mereka semua adalah konstituen Anda, yang mendukung Anda ketika mau menjadi Senator. Masing-masing mereka juga memiliki aspirasi dan kepentingan yang sah, yang semua itu harus dikelola dan sedapat mungkin diakomodasikan dengan cara yang bijak, seimbang, dan mempertimbangkan berbagai aspek. Tetapi bagaimana merumuskan sikap dan tindakan yang “bijak, seimbang, dan mempertimbangkan berbagai aspek” itu tidaklah mudah.

Ketika Anda mencoba membuat rumusan tindakan yang terbaik, bahkan sekalipun dilandasi niat berbuat yang terbaik untuk rakyat, sangat mungkin Anda akan dituding “berkompromi,” berbohong, menipu, tidak konsisten, dan sebagainya. Kalau sesudah itu Anda lantas pulang kampung dan mundur dari dunia politik, berarti Anda memang tidak cocok berkiprah di dunia politik. Tetapi jika Anda memilih untuk bertahan, dibutuhkan keberanian, tekad, kesabaran, komitmen, dan berbagai sifat lain untuk berkiprah di politik.

Tindakan yang menurut Anda benar, logis, masuk akal, dan dilandasi niat baik, tidak otomatis mendapat apresiasi. Jangankan Anda yang “belum punya nama,” bahkan politisi dan negarawan besar sekaliber Bung Karno saja oleh lawan politiknya pernah dituding “berkompromi” dan menjadi “kolaborator” pemerintah pendudukan Jepang.

Nah, pemerintahan baru Indonesia di bawah Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla sangat mungkin akan dipaksa oleh keadaan untuk melakukan “kompromi,” mulai dari isu penyusunan kabinet. Demi stabilitas pemerintahan menghadapi berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan politik yang berat, serta mengamankan agenda-agenda prorakyat, Jokowi-JK mungkin harus menempuh langkah tidak populer itu. Dalam kaitan itu, ada baiknya Jokowi-JK menyimak masukan dan pandangan dari Presiden John F. Kennedy. ***


Depok, Oktober 2014
Ditulis untuk Majalah AKTUAL

Comments

IBU HAYATI said…
aya ibu hayati ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di HONGKONG jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga dikampun,jadi TKW itu sangat menderita dan disuatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak disengaja saya melihat komentar orang tentan MBAH KABOIRENG dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di HONGKONG,akhirnya saya coba untuk menhubungi MBAH KABOIRENG dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan MBAH KABOIRENG meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan MBAH KABOIRENG kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik MBAH KABOIRENG sekali lagi makasih yaa MBAH dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja MBAH KABOIRENG DI 085-260-482-111 insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW.. KLIK GHOB 2D 3D 4D 6D DISINI















Saya ibu hayati ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di HONGKONG jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga dikampun,jadi TKW itu sangat menderita dan disuatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak disengaja saya melihat komentar orang tentan MBAH KABOIRENG dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di HONGKONG,akhirnya saya coba untuk menhubungi MBAH KABOIRENG dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan MBAH KABOIRENG meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan MBAH KABOIRENG kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik MBAH KABOIRENG sekali lagi makasih yaa MBAH dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja MBAH KABOIRENG DI 085-260-482-111 insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW.. KLIK GHOB 2D 3D 4D 6D DISINI

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)