Tatap Redaksi: Menyikapi Hasil Perhitungan KPU dan Sikap Negarawan

Oleh: Satrio Arismunandar

Siapa pun tahu Presiden Soekarno itu orang hebat. Retorika pidatonya membius massa dan bisa membangkitkan semangat berapi-api rakyat untuk bangkit melawan penjajahan. Gaya kepemimpinannya memukau, bukan cuma di dalam negeri tetapi juga di panggung politik internasional. Kepemimpinannya memiliki visi dan misi yang jauh ke depan, jauh melampaui zamannya.

Tak heran jika Bung Karno diakui sebagai idola oleh dua calon presiden yang bersaing pada pemilihan presiden 2014, Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Keduanya sering menyebut kebijakan dan pikiran Bung Karno sebagai inspirasi dalam kampanyenya. Bahkan Prabowo bukan sekadar bicara. Sebagai bagian dari pencitraan politik, ia sering memakai pakaian seragam serba putih dan peci hitam, meniru gaya Bung Karno.

Sampai saat ini, banyak yang jadi fans dan pendukung fanatik ajaran-ajaran Bung Karno. Bahkan di masa kemerosotan kekuasaannya, masih banyak pihak yang rela pasang badan untuk mendukung dan melindungi Bung Karno. Pada saat itu, kekuasaan Jenderal Soeharto di Angkatan Darat sedang meningkat, sesudah menghabisi Partai Komunis Indonesia (PKI) dan menangani peristiwa Gerakan 30 September (G30S/PKI).

Kondisinya saat itu jelas. Pengaruh Soeharto sedang naik daun, sedangkan pengaruh Bung Karno sedang merosot, tetapi belum benar-benar habis. Bung Karno yang sudah sakit-sakitan bahkan akhirnya harus menjalani tahanan rumah. Saat itu satuan Marinir (Angkatan Laut) menyatakan tegas, mereka siap mendukung Bung Karno jika harus bentrok menghadapi militer pendukung Soeharto. Jika Marinir bergerak, Bung Karno masih punya peluang untuk berkuasa.

Pilihan tindakan apa yang diambil Bung Karno waktu itu? Apakah Bung Karno memerintahkan Marinir untuk membela dirinya habis-habisan, dan melawan kubu Soeharto? Ternyata, tidak. Bung Karno menyatakan, jika sesama militer sampai bentrok, siapapun yang menang, korban jiwa pasti akan banyak. Kalau sudah begini, yang menderita pastilah rakyat kecil lagi. “Kasihan rakyat jika harus jadi korban. Jika untuk menghindari hal itu saya harus mundur, tidak apa-apa. Biarlah Soeharto yang memimpin, yang penting tidak ada pertumpahan darah,” kira-kira begitulah ucapan Bung Karno.

Ketika bersikap seperti itu, Bung Karno bukan lagi politisi biasa yang mengedepankan pengejaran kekuasaan, namun ia menunjukkan sikap seorang negarawan. Yakni, sikap yang mendahulukan kepentingan rakyat di atas segalanya, termasuk di atas kepentingan kekuasaan dan ambisi politik pribadi.

Sikap negarawan seperti itulah yang kita harapkan muncul dari Jokowi, Prabowo, serta para unsur pendukungnya, dalam menyikapi hasil perhitungan pemilihan presiden yang diumumkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22 Juli 2014. Kepentingan rakyat, bangsa, dan negara harus didahulukan di atas praktik politik yang sekadar mengejar kekuasaan. ***

Satrio Arismunandar

Juli 2014, untuk Majalah AKTUAL

Comments

IBU HAYATI said…
aya ibu hayati ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di HONGKONG jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga dikampun,jadi TKW itu sangat menderita dan disuatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak disengaja saya melihat komentar orang tentan MBAH KABOIRENG dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di HONGKONG,akhirnya saya coba untuk menhubungi MBAH KABOIRENG dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan MBAH KABOIRENG meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan MBAH KABOIRENG kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik MBAH KABOIRENG sekali lagi makasih yaa MBAH dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja MBAH KABOIRENG DI 085-260-482-111 insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW.. KLIK GHOB 2D 3D 4D 6D DISINI















Saya ibu hayati ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di HONGKONG jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga dikampun,jadi TKW itu sangat menderita dan disuatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak disengaja saya melihat komentar orang tentan MBAH KABOIRENG dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di HONGKONG,akhirnya saya coba untuk menhubungi MBAH KABOIRENG dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan MBAH KABOIRENG meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan MBAH KABOIRENG kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik MBAH KABOIRENG sekali lagi makasih yaa MBAH dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja MBAH KABOIRENG DI 085-260-482-111 insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW.. KLIK GHOB 2D 3D 4D 6D DISINI

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI