Tatap Redaksi: Rakyat Sudah Jemu dan Lelah

Oleh: Satrio Arismunandar

Marilah kita jujur. Jika Joko Widodo (Jokowi), yang sudah menjadi Presiden RI terpilih, usai melakukan serah terima jabatan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Oktober 2014, seperti dijadwalkan, apakah kehidupan Anda sebagai rakyat Indonesia akan berubah drastis? Jika katakanlah penghasilan anda tiap bulan sekarang Rp 2,5 juta, apakah akan melonjak jadi Rp 5 juta, atau bahkan Rp 10 juta? Kecuali Anda diangkat jadi menteri di kabinet Jokowi, jawabannya jelas: “Tidak.”

Sebagian besar kita akan terus menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja. Kalau tiap hari ke kantor naik angkot atau angkutan umum murah, rasanya tidak mungkin bulan Oktober 2014 kita bisa tiap hari ke kantor naik taksi, atau naik mobil baru! Kita semua tetap harus bekerja keras dengan tekun, jujur, dan cerdas, untuk meningkatkan kesejahteraan lahir batin buat diri sendiri dan keluarga.

Lantas, jika yang menjadi pemenang pemilihan presiden adalah Prabowo Subianto, apakah kehidupan Anda akan berubah drastis? Kecuali Anda terpilih menjadi menteri di kabinet Prabowo (sesuatu yang sangat sulit, mengingat begitu banyaknya partai yang berkoalisi dengan kubu Prabowo), jawabannya setali tiga uang dengan kasus Jokowi: “Tidak.”

Kita percaya bahwa siapa pun yang menjadi pemimpin di pemerintahan baru, pastilah pada tahun-tahun pertama akan bekerja keras untuk membuktikan janji-janji kampanye yang sudah “diobral” pada masa kampanye. Namun, dengan segala niat baik dan keseriusan bekerja itu, mengubah “nasib” dan konsisi bangsa bukanlah hal mudah dan instan. Semua perlu proses. Bukan seperti sulap, “sim salabim” lalu beres!

Oleh karena itu, sesudah Mahkamah Konstitusi (MK) dengan tegas dan jelas menolak seluruh gugatan kubu Prabowo-Hatta terkait sengketa pemilihan presiden, dan keputusan MK itu bersifat final, rakyat ingin kehidupan kembali normal. Tidak ada lagi fitnah, cacian, hujatan, kampanye hitam, yang tersebar di media sosial. Tidak ada lagi demonstrasi yang membuat pedagang tidak tenteram membuka tokonya, para karyawan terhambat menuju kantor, dan sopir taksi sulit mencari penumpang.

Rakyat sudah jemu, capek, dan lelah dengan sengketa pilpres yang seolah-olah tak pernah berakhir, meski MK sudah mengeluarkan keputusannya, yang secara hukum mengikat dan bersifat final. Kubu Prabowo-Hatta bisa saja mengupayakan pembentukan panitia khusus (pansus) di DPR, atau mengajukan gugatan ke PTUN (pengadilan tata usaha negara), dan berbagai cara lain untuk mempersoalkan “kecurangan” dan “ketidakadilan” dalam proses pilpres. Tetapi apa manfaat nyata yang diperoleh rakyat dengan semua itu?

Kalau tujuannya adalah “pembelajaran politik,” rakyat sudah paham bahwa proses pilpres kita tidak 100 persen sempurna (di negara manapun, tidak ada yang proses pilpresnya sempurna). Ada kekurangan di sini dan di sana. Namun, secara umum KPU (Komisi Pemilihan Umum) dianggap sudah melakukan tugasnya, dan hal ini diapresiasi oleh MK dan dunia internasional. Tuduhan terjadi kecurangan yang terstruktur, sistematik, dan masif tidak pernah terbukti di MK.

Jadi marilah kita akhiri semua silang sengketa, dan bersama-sama merajut kekompakan untuk bersama-sama bekerja keras membangun Indonesia. Membangun Indonesia tidak berarti harus berada dalam pemerintahan, terapi semua orang bisa berkontribusi di posisinya masing-masing. Termasuk, menjadi kekuatan penyeimbang yang kritis dan konstruktif di parlemen. ***

Depok, Agustus 2014
Satrio Arismunandar, Majalah AKTUAL

Comments

mutia ohorella said…
Ternyata sekarang lebih menjemukan dan melelahkan... :( Terimakasih buat pendukung fanatik!
Dengarlah hati nurani...apa tidak salah pilih? Apa masih mau berdiri bersama Wimar witular yg menghina agamamu, saudara seimanmu?
IBU HAYATI said…
aya ibu hayati ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di HONGKONG jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga dikampun,jadi TKW itu sangat menderita dan disuatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak disengaja saya melihat komentar orang tentan MBAH KABOIRENG dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di HONGKONG,akhirnya saya coba untuk menhubungi MBAH KABOIRENG dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan MBAH KABOIRENG meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan MBAH KABOIRENG kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik MBAH KABOIRENG sekali lagi makasih yaa MBAH dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja MBAH KABOIRENG DI 085-260-482-111 insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW.. KLIK GHOB 2D 3D 4D 6D DISINI















Saya ibu hayati ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di HONGKONG jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga dikampun,jadi TKW itu sangat menderita dan disuatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak disengaja saya melihat komentar orang tentan MBAH KABOIRENG dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di HONGKONG,akhirnya saya coba untuk menhubungi MBAH KABOIRENG dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan MBAH KABOIRENG meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan MBAH KABOIRENG kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik MBAH KABOIRENG sekali lagi makasih yaa MBAH dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja MBAH KABOIRENG DI 085-260-482-111 insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW.. KLIK GHOB 2D 3D 4D 6D DISINI

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)