Tatap Redaksi: Terstruktur, Sistematis, dan Masif

Oleh: Satrio Arismunandar

Akhir-akhir ini ada ungkapan yang semakin populer di masyarakat, yakni ungkapan “terstruktur, sistematis, dan masif” (TSM). Pihak yang pertama kali mempopulerkan ungkapan TSM ini adalah pasangan calon presiden-wakil presiden nomor urut 1, Prabowo Subianto – Hatta Rajasa.

Berdasarkan hasil perhitungan akhir Komisi Pemilihan Umum (KPU), pasangan Prabowo-Hatta dinyatakan kalah suara melawan pasangan nomor urut 2, Joko Widodo- Jusuf Kalla. Namun, kubu Prabowo-Hatta tidak mau menerima hasil pilpres itu. Prabowo-Hatta menuduh telah terjadi kecurangan dalam pilpres yang dilakukan secara “terstruktur, sistematis, dan masif,” sehingga pihaknya jadi kalah. Prabowo-Hatta pun menggugat hasil pilpres itu ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Isi tuduhan kubu Prabowo-Hatta itu sebetulnya sangat serius, sekaligus “mengerikan.” “Mengerikan,” jika betul-betul bisa dibuktikan kebenarannya di MK. Di mana letak “mengerikannya?” Marilah kita uraikan satu-persatu.
Pertama, pengertian “terstruktur” berarti ada kecurangan yang melibatkan struktur kekuasaan. Struktur itu bisa termasuk KPU sendiri, Badan Pengawasan Pemilu (Bawaslu), kelurahan, kecamatan, kepala daerah (walikota, bupati, gubernur), kementerian, bahkan Presiden RI pun termasuk dalam struktur. Belum lagi menyebut kemungkinan keterlibatan aparat, seperti Satpol PP, polisi, TNI, dan Badan Intelijen Negara (BIN).

Apakah memang sistem pemilu dan pilpres Indonesia di zaman reformasi ini sudah rusak sebegitu parahnya seperti itu? Pada zaman Orde Baru, di mana partai cuma ada tiga – Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golkar, dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI)—siapa pemenang pemilu sudah bisa diketahui sebelum pemilu itu dilaksanakan. Hal ini terjadi karena aparat pemerintah, bahkan Polri dan TNI, pada dasarnya sudah “dititahkan”untuk mendukung kemenangan Golkar.

Kedua, pengertian “sistematis,” berarti kecurangan itu tidak bersifat spontan, tetapi melibatkan suatu perencanaan yang matang dan eksekusi di lapangan yang sangat cermat, untuk memenangkan salah satu kubu capres. Jadi, jika salah seorang panitia pemilu melakukan kecurangan, karena secara kebetulan melihat peluang untuk curang, hal itu tidak masuk kategori “sistematis.”

Ketiga, pengertian “masif,” berarti kecurangan itu dilakukan secara besar-besaran di hampir semua tempat pemungutan suara. Jadi, kalau kecurangan terjadi di beberapa puluh TPS atau hanya 10 persen dari seluruh jumlah TPS, itu cuma kecurangan “lokal” dan tidak bisa disebut kecurangan “masif.”

Kita lihat di sini, sebetulnya tidak mudah bagi kubu Prabowo-Hatta untuk membuktikan bahwa sudah terjadi kecurangan dalam pilpres secara terstruktur, sistematis, dan masif. Beban pembuktiannya sangat berat.
Kita berharap, tuduhan “kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan masif” itu tidak terbukti. Harapan itu bukan karena kita membela KPU, bukan juga karena kita mendukung kubu Jokowi-JK, melainkan karena kita prihatin pada nasib dan masa depan negeri ini.

Sudah 16 tahun lebih usia reformasi, pasca kejatuhan rezim Soeharto, Mei 1998. Indonesia yang sudah diakui dunia sebagai “demokrasi nomor 3 terbesar di dunia” (sesudah India dan Amerika Serikat) seharusnya sudah jauh lebih maju, dan jauh dari praktik-praktik curang masa lalu. ***

Satrio Arismunandar
Jakarta, 11 Agustus 2014
Majalah AKTUAL

Comments

IBU HAYATI said…
aya ibu hayati ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di HONGKONG jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga dikampun,jadi TKW itu sangat menderita dan disuatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak disengaja saya melihat komentar orang tentan MBAH KABOIRENG dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di HONGKONG,akhirnya saya coba untuk menhubungi MBAH KABOIRENG dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan MBAH KABOIRENG meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan MBAH KABOIRENG kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik MBAH KABOIRENG sekali lagi makasih yaa MBAH dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja MBAH KABOIRENG DI 085-260-482-111 insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW.. KLIK GHOB 2D 3D 4D 6D DISINI















Saya ibu hayati ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di HONGKONG jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga dikampun,jadi TKW itu sangat menderita dan disuatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak disengaja saya melihat komentar orang tentan MBAH KABOIRENG dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di HONGKONG,akhirnya saya coba untuk menhubungi MBAH KABOIRENG dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan MBAH KABOIRENG meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan MBAH KABOIRENG kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik MBAH KABOIRENG sekali lagi makasih yaa MBAH dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja MBAH KABOIRENG DI 085-260-482-111 insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW.. KLIK GHOB 2D 3D 4D 6D DISINI

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)