Wawancara tertulis Winda (koranopini.com) dengan Satrio Arismunandar - tentang Kasus Fatin Hamama (Kekerasan Seksual Verbal terhadap perempuan)

Ini daftar pertanyaan buat Mas Satrio Arismunandar:

1.Bagaimana ceritanya sampai Ma Aris jadi terlibat dalam petarungan Saut dan Fatin?

SA: Saya tidak kenal Saut meski pernah dengar namanya. Saya kenal Fatin juga belum lama. Saya terlibat karena kasihan melihat Fatin, yang sejauh saya lihat adalah seorang perempuan penyair, ibu rumah tangga baik-baik, kok hidupnya susah karena merasa dibully terus-menerus di Facebook. Kekerasan seksual verbal –dengan menggunakan julukan lonte tua yang gak laku-laku, mucikari, bajingan, dsb—menurut saya adalah tidak bisa dibenarkan. Apalagi dilakukan di media sosial yang dibaca ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang. Itu dampak kerusakannya luar biasa. Bisa menimpa anak, keluarga, dan orang lain yang tidak terlibat kasusnya.

2.Saut dkk menganggap bahwa pertikaian ini bukan soal pribadi, tetapi soal rekayasa sejarah sastra yang di dalamnya Fatin menjadi salah satu wayangnya dan dalangnya Denny JA

SA: Justru di sini ngawurnya Saut. Kalau yang dimaksud adalah penerbitan buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Berpengaruh,” Fatin tidak terlibat sama sekali dalam penerbitan buku itu. Dia bukan penggagas, bukan editor, bukan penulis, bukan orang yang mengusulkan atau memutuskan siapa yang layak masuk ke jajaran 33 tokoh sastra. Fatin berkali-kali menjelaskan, tapi Saut tidak menggubris. Kesalahan Fatin (kalau itu mau disebut kesalahan) adalah dia berteman dengan Denny JA dan istrinya Denny JA. Apa salahnya berteman? Kenapa sasaran bulan-bulanan oleh Saut adalah Fatin? Kenapa bukan Tim-8 (8 orang) yang namanya jelas-jelas tertera di buku itu sebagai penulis, penyunting, penyeleksi, dan penentu 33 tokoh pilihan. Apakah Saut sengaja memilih sasaran yang lemah dan gampang di-bully (meski tidak terlibat dalam kasus buku itu)? Silahkan tanyakan saja ke Saut. Tapi bahkan seandainya Fatin terlibat dalam penerbitan buku, itu tidak bisa dijadikan landasan bolehnya melakukan “kekerasan seksual verbal terhadap perempuan.” Istilah “kekerasan seksual verbal terhadap perempuan” ini saya kutip dari Komisioner Komnas Perempuan, ketika menanggapi kasus Fatin.

3.Artikel anda menegaskan adanya unsur kekerasan terhadap perempuan dan pencemaran nama baik. Sejauh yang anda pahami, apakah sebuah proses pertikaian terbuka dan ketika muncul kata-kata kasar sudah termasuk pencemaran nama baik dan kekerasan?

SA: Bisa dilihat dari kata-kata yang digunakan. Apakah masih dalam batas wajar atau sudah vulgar. Sebutan “lonte tua yang gak laku-laku” (tulisan Saut) atau “mucikari” (tulisan Iwan Soekri) jelas suatu kekerasan seksual verbal terhadap perempuan. Fatin secara faktual yang saya lihat kan ibu rumah tangga yang baik, muslimah yang taat beribadah, ibu dari dua anak, punya suami yang punya sumber nafkah jelas. Jelas bukan “lonte” dan bukan “mucikari.” Bayangkan kalau ibu Anda, atau anak perempuan Anda diperlakukan seperti itu. Komisioner Komnas Perempuan, Neng Dara Affiah, secara tegas mengatakan, perlakuan Saut dan Iwan Soekri terhadap Fatin sudah masuk kategori “kekerasan seksual verbal terhadap perempuan yang dilakukan melalui media sosial.” Saya sepakat dengan pendapat Komnas Perempuan.

4.Apakah kalau misalnya, fatin Hamama adalah bagaian dari rekayasa sejarah sastra, ia tetap tidak dinggap melakukan kekerasan?

SA: “ia” itu siapa maksudnya? Fatin jelas adalah korban kekerasan, bukan pelaku. Pelaku kekerasan adalah Saut dan Iwan. Tindakan Saut dan Iwan tidak bisa dibenarkan dengan dalih apapun. Tidak jarang, pelaku kekerasan memang pintar memberi dalih muluk-muluk untuk membenarkan kekerasan yang dilakukannya. Tentara Israel membombardir Gaza berminggu-minggu secara membabi buta, sehingga banyak perempuan dan anak-anak Palestina tewas mengenaskan. Apa dalih bagi kekerasan itu? Jawab Israel: memberantas teroris (Hamas) yang mengancam keselamatan warga Israel. Padahal mayoritas yang tewas dibom justru warga sipil Palestina yang tak bersenjata, bukan anggota Hamas. Mirip itulah yang dilakukan Saut. Ia menggunakan dalih muluk-muluk “menyelamatkan masa depan sastra Indonesia,” seolah-olah dengan dalih yang hebat itu ia boleh seenaknya mem-bully seorang perempuan, ibu rumah tangga baik-baik.

5.Persoalan gender, bukankan sudah selesai, artinya, hak dan kewajiban perempuan sama saja, tada ada bedanya? Jika, ada istilah kekerasan terhadap perempuan itu justru menempatkan perempuan selalu dalam subordinasi pria?

SA: Saya bukan ahli masalah feminisme. Namun sejauh yang saya lihat, persoalan gender dan kesetaraan gender masih jadi masalah serius di Indonesia. Itulah sebabnya ada Komnas Perempuan. Istilah “kekerasan pada perempuan” itu untuk menggarisbawahi bahwa perempuan masih termasuk kelompok rentan terhadap kekerasan. Sama seperti kekerasan terhadap anak. Kekerasan terhadap lelaki atau perempuan sebetulnya sama-sama tidak boleh dilakukan. Tapi dari sekian kasus, banyak yang lebih menyangkut perempuan. Contoh: tenaga kerja RI banyak dikirim ke luar negeri, yang lelaki maupun perempuan. Namun mayoritas kasus yang ramai di media bukankah lebih banyak menyangkut TKW (yang dianiaya, diperkosa oleh majikan, ditahan gajinya, ditahan paspornya, dsb).

Jakarta, Oktober 2014

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)