Wawasan “Green Business” Bagi Capres Jokowi

Oleh Satrio Arismunandar

Bisnis Hijau atau Green Business kini sudah menjadi tren baru di tingkat global. Para pengusaha di masa dulu harus memilih antara mengejar profit atau melindungi lingkungan. Tetapi dengan konsep Bisnis Hijau, kini mereka bisa memperoleh keduanya sekaligus karena Bisnis Hijau bisa sama menguntungkannya seperti bisnis lain.

Sebagai seorang calon presiden, yang memiliki keprihatinan tentang pembangunan yang berkelanjutan dan pelestarian lingkungan buat masa depan, Joko Widodo (Jokowi) selayaknya menerapkan wawasan Green Business ini jika ia terpilih menjadi presiden nanti, InsyaAllah. Capres PDI Perjuangan ini diharapkan tidak akan terjebak pada orientasi bisnis jangka pendek, yang akan merugikan bangsa dalam jangka panjang.

Tetapi, apakah yang disebut Green Business itu sebenarnya? Hijau (green) biasanya dikaitkan dengan alam dan lingkungan. Setiap praktik bisnis pun harus memperhatikan aspek lingkungan sebagai standar operasinya. Karena kita semua hidup di planet yang sama, dan lingkungan hidup ini tidak bisa dipisahkan satu sama yang lain, konsep bisnis “hijau” ini pun harus mendapat perhatian serius dari para pengusaha di Indonesia.

Bisnis berkelanjutan (sustainable business), atau bisnis hijau (green business), adalah suatu usaha yang memberi dampak negatif minimal pada lingkungan, komunitas, masyarakat, atau ekonomi lokal ataupun global. Yakni, suatu bisnis yang berupaya keras melayani tiga aspek utama: manusia (sosial), lingkungan (ekologi), dan profit (ekonomi). Seringkali, bisnis berkelanjutan memiliki kebijakan lingkungan dan hak asasi manusia yang progresif.

Secara umum, suatu bisnis dinyatakan sebagai “hijau” jika ia memenuhi empat kriteria: Pertama, ia memasukkan prinsip-prinsip keberlanjutan ke dalam setiap keputusan bisnisnya. Kedua, ia memasok produk atau jasa yang ramah lingkungan (environmentally friendly), yang menggantikan permintaan terhadap produk-produk dan/atau jasa yang “tidak-hijau.” Ketiga, ia lebih hijau dibandingkan dengan kompetisi tradisional. Keempat, ia telah membuat komitmen yang bertahan lama terhadap prinsip-prinsip lingkungan hidup dalam operasi-operasi bisnisnya.

Suatu bisnis berkelanjutan adalah setiap organisasi yang berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas hijau atau ramah lingkungan, untuk memastikan bahwa semua proses, produk, dan aktivitas manufakturnya telah memperhatikan secara memadai berbagai keprihatinan lingkungan terkini, seraya tetap mempertahankan profit.

Dengan kata lain, ini adalah bisnis yang “memenuhi kebutuhan-kebutuhan dunia sekarang, tanpa mengorbankan kemampuan generasi-generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhan mereka.” Ini merupakan suatu proses penilaian, bagaimana merancang produk-produk yang akan mengambil manfaat dari situasi lingkungan saat kini, dan seberapa baik sebuah produk perusahaan bisa berjaya dengan sumber-sumber yang bisa diperbarui (renewable resources).

Pengertian “keberkelanjutan” (sustainability) di sini merujuk ke tiga pilar, 3P (people, planet, profit), atau manusia, planet, dan keuntungan. Dengan bahasa lain, keberlanjutan harus mencakup faktor sosial, lingkungan hidup, dan ekonomi. Inilah konsep tentang tiga landasan utama dan tujuan “keberkelanjutan.” Bisnis berkelanjutan dengan rantai pemasokan berusaha memberi keberimbangan lewat konsep tiga faktor tersebut. Yakni, dengan menggunakan pengembangan berkelanjutan dan distribusi berkelanjutan, untuk mempengaruhi lingkungan, pertumbuhan bisnis, dan masyarakat.

People berhubungan dengan praktik-praktik bisnis yang adil dan bermanfaat terhadap buruh, komunitas, dan daerah di mana perusahaan itu menjalankan bisnisnya. Sebuah perusahaan yang mengadopsi prinsip tiga pilar tersebut memandang adanya struktur sosial yang bersifat timbal-balik, di mana kesejahteraan perusahaan, buruh, dan kepentingan dari para pemangku kepentingan lain bersifat saling-ketergantungan. Perusahaan semacam ini berusaha memberi manfaat pada banyak konstituen, bukan mengeksploitasi atau membahayakan kelompok manapun dari konstituen tersebut.

Planet atau modal alamiah (natural capital) merujuk ke praktik-praktik lingkungan yang berkelanjutan. Perusahaan yang berkomitmen pada tiga pilar berupaya memberi manfaat pada ketertiban alamiah sebanyak mungkin, atau sekurang-kurangnya tidak membuat kerusakan dan meminimalkan dampak lingkungan.

Perusahaan ini berusaha keras mengurangi jejak ekologisnya (ecological footprint). Caranya, antara lain, dengan secara cermat mengelola konsumsi energi dan bahan baku yang tak bisa diperbarui, serta mengurangi limbah manufaktur. Juga, menghasilkan limbah yang diupayakan sesedikit mungkin kadar racunnya, sebelum membuangnya dengan cara yang aman dan sesuai dengan hukum yang berlaku.

Profit adalah nilai ekonomi yang diciptakan oleh organisasi, setelah pengurangan dengan semua biaya pemasukan (cost of all inputs), termasuk biaya dari modal terkait. Karena itu, profit yang dimaksud di sini berbeda dengan definisi akuntansi tradisional tentang profit.

Menurut konsep awal, dalam kerangka keberlanjutan, aspek “profit” perlu dilihat sebagai manfaat ekonomi nyata yang dinikmati oleh masyarakat tempat perusahaan berada (host society). Ini adalah dampak ekonomi nyata yang diberikan organisasi pada lingkungan ekonominya.

Profit untuk masyarakat ini sering disalahartikan dengan profit terbatas, atau profit internal, yang semata-mata dimiliki oleh perusahaan atau organisasi (yang bagaimanapun juga, tetaplah suatu titik awal penting dalam perhitungan keuntungan). Karena itu, dalam pendekatan tiga pilar, “profit” tidak boleh ditafsirkan sekadar sebagai profit akuntansi perusahaan yang tradisional ditambah dampak sosial dan lingkungan. Kecuali, jika “profit” dari entitas-entitas lain juga dimasukkan sebagai manfaat sosial.

Inilah sekadar wawasan awal tentang Green Business. Kita dari kalangan civil society (masyarakat madani) sangat berharap, Jokowi akan mendukung penerapan wawasan Green Business ini nantinya. ***


Jakarta, 16 Mei 2014

•Satrio Arismunandar adalah dosen Ilmu Komunikasi di beberapa universitas dan penulis buku. Ia pernah menjadi jurnalis Harian Kompas (1988-1995) dan Executive Producer di Divisi News Trans TV (2002-2012).

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI