Model-model Bisnis Media Online Islam dan Prospeknya

Oleh Satrio Arismunandar

Saat ini sudah begitu banyak media Islam yang bisa kita jumpai di pasar. Salah satu media yang berkembang pesat adalah media online, baik media online berbasis berita (majalah) maupun blog-blog dengan konten Islami. Perkembangan ini, yakni semakin banyaknya kalangan Islam yang terjun ke aktivitas atau bisnis media online, sebenarnya patut diapresiasi.

Yang disayangkan, karena berbagai faktor yang melatarbelakanginya, banyak dari media Islam online itu belum cukup berkembang dilihat dari aspek finansial. Perkembangan media online Islam masih jauh di bawah media online “sekuler,” seperti www.kaskus.co.id, detik.com, kompas.com, okezone.com, dan sebagainya. Kemajuan sebuah media atau bisnis apapun sangat terkait dengan model bisnis yang diterapkan, yakni apakah model yang dipilih itu sudah tepat atau memenuhi kebutuhan khalayaknya.

Sebuah model bisnis menjabarkan pemikiran yang rasional, tentang bagaimana sebuah organisasi menciptakan, memberikan, dan menangkap nilai-nilai, baik itu nilai-nilai ekonomi, sosial, budaya, atau yang lain. Organisasi yang dimaksud di sini adalah perusahaan atau bisnis media online Islam bersangkutan. Sedangkan proses pembentukan model bisnis adalah bagian dari strategi bisnis, sehingga perumusan model bisnis media online Islam juga tentunya berkaitan erat dengan strategi bisnisnya.

Istilah model bisnis, dengan demikian, dipakai untuk ruang lingkup yang luas, dalam konteks formal dan informal, untuk menunjukkan aspek inti suatu bisnis. Yang termasuk aspek inti suatu bisnis mencakup: maksud dan tujuan, apa-yang-ditawarkan, strategi, infrastruktur, struktur organisasi, praktik-praktik niaga, serta kebijakan-kebijakan, dan proses-proses operasional.

Pengertian Media Islam dan Media “Islami”

Sebelum membahas tentang model bisnis media Islam online, saya ingin menjelaskan lebih dulu pengertian tentang apa yang disebut “media Islam.” Dalam konstelasi media yang begitu luas sekarang, ada segmen yang dinamakan ”media Islam” dan/atau ”media Islami.” Ada yang menganggap, media Islam dan media Islami sepenuhnya identik. Tetapi penulis akan mencoba membedakan makna antara keduanya.

Kata “Islam” menunjukkan suatu identitas. Agar bisa disebut sebagai orang Islam, seseorang minimal harus sudah mengucapkan kalimat syahadat, mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. ”Media Islam” tentu juga harus memiliki syarat tertentu, yang membedakannya dengan media lain.

Syarat pertama, media itu harus dimiliki oleh orang Islam. Jika kepemilikannya bersifat kolektif (misalnya, saham perusahaan media itu sudah diperjualbelikan untuk umum di bursa efek), mayoritas saham harus dimiliki orang Islam.

Syarat kedua, media itu sedikit banyak harus mengemban misi dakwah, yakni misi mengagungkan agama Allah, menyebarkan nilai-nilai ajaran Islam, memajukan dan mencerdaskan umat Islam, dan sebagainya. Ini bukan berarti media itu harus semata-mata diisi dengan kumpulan khotbah agama. Perwujudan misi dakwah bisa sangat luas, tergantung kreativitas pengelolanya. Media Islam bebas menyajikan topik apa saja, mulai dari yang spesifik berkaitan dengan agama sampai topik-topik lain, asalkan ada unsur atau nilai dakwahnya. Jadi, misi media Islam bukanlah semata-mata komersial.

Syarat ketiga, media Islam harus menerapkan etika dan nilai-nilai ajaran Islam, dalam menjalankan bisnis perusahaan dan aktivitas keredaksian. Jika syarat kedua berkaitan dengan niat dan tujuan, maka syarat ketiga ini berkaitan dengan cara mencapai tujuan. Dalam aspek bisnis, misalnya, media Islam tidak membabi buta mencari keuntungan. Tidak semua iklan, betapapun besar nilainya, akan diterima. Media Islam akan menolak mengiklankan semua hal yang diharamkan oleh Islam. Jadi, tidak akan ada iklan minuman keras atau makanan yang mengandung daging babi di media Islam.

Kalau kata “Islam” menunjukkan identitas, maka kata “Islami” menunjukkan suatu sifat atau ciri yang merujuk ke identitas Islam. Media Islam yang konsisten dengan sendirinya akan menunjukkan ciri-ciri Islami. Misalnya, media itu akan menolak pemuatan iklan yang mempromosikan barang haram, menolak memuat karikatur yang bisa ditafsirkan menghina Rasulullah SAW, dan menolak memuat gambar-gambar yang masuk kategori pornografi atau mengumbar aurat.

Namun, bisa jadi media yang kebijakan redaksionalnya tampak “Islami” tadi tidak otomatis masuk kategori media Islam, karena pemiliknya bukan orang Islam. Sedangkan niat tampil “Islami” tadi oldeh si pemilik tidaklah dilandasi oleh iman Islam, tetapi semata-mata karena pertimbangan komersial (upaya menjaring khalayak Muslim sebagai konsumen atau target market).

Posisi Media Islam Online

Menurut catatan www.bersamadakwah.com, pertumbuhan media Islam online di Indonesia semakin pesat. Sepanjang 2013, tak kurang dari 20 media Islam baru lahir di Indonesia, menambah jumlah media Islam menjadi 70 web. Namun, ditambahkannya, selain ada yang melesat tajam, ada juga media yang akhirnya ambruk tidak bisa diakses lagi.

Untuk mengukur bagaimana posisi media Islam online di Indonesia, bisa digunakan Alexa Rank. Alexa Rank adalah salah satu situs terpercaya yang diakui untuk menilai dan memberikan fasilitas informasi tentang rangking atau peringkat suatu situs, yang didasarkan pada jumlah trafik pengunjung yang masuk ke situs tersebut. Jika semakin banyak pengunjungnya, maka semakin tinggi pula peringkat situs tersebut. Sebaliknya, jika semakin kecil trafiknya, akan semakin rendah pula peringkat dari situs tersebut.

Alexa Rank mempunyai nilai peringkat dari nilai terkecil, yaitu angka 1 (satu) sampai dengan seterusnya (nilai berjuta-juta). Perhitungan sistem di Alexa Rank, apabila semakin kecil nilai Alexa Rank, berarti semakin bagus peringkat situs tersebut. Situs dengan nilai peringkat terbaik secara global per Agustus 2014 dipegang www.google.com dengan Rank 1, sedangkan peringkat nomor 2 dipegang oleh www.facebook.com dengan peringkat Rank 2 secara internasional.

Berpedoman pada Alexa global, www.bersamadakwah.com mencatat 10 media Islam berbahasa Indonesia terbesar per 1 Januari 2014. Mereka adalah: dakwatuna.com (alexa global: 12.423), arrahmah.com (alexa global: 16.268), islampos.com (alexa global: 17.743), voa-islam.com (alexa global: 18.693), eramuslim.com (alexa global: 30.754), bersamadakwah.com (alexa global: 37.523), fimadani.com (alexa global: 52.391), hidayatullah.com (alexa global: 60.568), islamedia.web.id (alexa global: 83.899), dan akhwatmuslimah.com (alexa global: 85.654).

Ada sejumlah situs yang tidak dimasukkan oleh www.bersamadakwah.com karena sejumlah pertimbangan. Beberapa media yang sebelumnya masuk dalam daftar media Islam 2013 tidak masuk dalam daftar 2014 ini karena telah dimasukkan ke daftar lainnya. Misalnya Republika.co.id yang masuk dalam daftar media umum, nu.or.id masuk dalam daftar media organisasi, dan pkspiyungan.org masuk dalam daftar media partai.

Beberapa Jenis Model Bisnis

Ada tiga pertanyaan utama yang kita coba jawab dalam diskusi ini. Pertama, bagaimana prospek bisnis media online Islam ke depan. Kedua, tantangan-tantangan besar apa yang harus diatasi bisnis media online Islam, agar bisa tetap berjalan dan berkembang. Ketiga, model-model bisnis apa saja yang harus dikembangkan dan dijalankan, untuk bisa menutupi biaya operasional dan menyejahterakan karyawan media bersangkutan.

Kita mulai dari pertanyaan yang ketiga lebih dulu. Ujung dari sebuah model bisnis adalah dari mana datangnya uang untuk pengelola bisnis media online. Model bisnis media online memiliki konsep monetizing (cara memperoleh uang) dari dua sumber pendapatan utama yaitu: sisi pengiklan (advertiser) dan sisi pembaca (reader atau user). Secara sederhana, ada lima jenis model bisnis media online di Indonesia, yaitu:

1. Display Ad

Display ad adalah model bisnis yang paling banyak digunakan. Sebagian besar media online di Indonesia menggunakan medium ini untuk menghasilkan pendapatan. Namun, display ad sebaiknya tidak menjadi model bisnis utama, mengingat pengiklan cenderung hanya mau beriklan dengan model seperti ini jika traffic website media online tersebut dianggap sudah memadai. Sedangkan kita tahu, sebagian besar media Islam online belum punya traffic yang memadai.

Sementara membangun traffic website yang memadai untuk mendapatkan iklan, memerlukan waktu lama dan panjang. Google Adsense termasuk dalam model bisnis ini, walau seringkali pendapatan yang dihasilkan tidak sebesar display ad. Model bisnis display ad bisa berbentuk banner dengan ukuran tertentu yang dipasang pada tampilan website, atau bisa juga berupa mobile ad jika media online tersebut sudah memiliki aplikasi mobile-nya. Hampir semua media online di Indonesia menerapkan model bisnis display ad.

2. Content Creation

Jika kita ingin memfasilitasi produk atau brand dengan iklan dalam bentuk lain yang lebih variatif, model bisnis penciptaan konten (content creation) bisa menjadi pilihan. Melalui model bisnis ini, pesan-pesan sponsor yang bersifat iklan bisa disampaikan dengan halus, melalui konten-konten yang disajikan dalam bentuk tulisan maupun audio visual (dengan gambar bergerak dan suara). Jenis kontennya sendiri bisa beragam antara lain, seperti posting yang bersponsor (sponsored post), konten berbasis video (video based content), newsletter, dan content marketing.

3. Community Engagement

Jika sebuah media online sudah memiliki komunitas dengan basis pengguna (user) atau pembaca (reader) yang solid, model bisnis pelibatan/pemberdayaan komunitas (community engagement) bisa diterapkan. Pada model bisnis ini pihak pengiklan mendanai kegiatan online maupun offline dari komunitas yang dimiliki sebuah media online tertentu, baik berbentuk event sponsorship, forum sponsorhip, dan/atau online activation. Dengan model bisnis community engagement, pesan-pesan berkonotasi iklan bisa disampaikan melalui spanduk, poster, atau material cetak lain yang menampilkan logo dan/atau slogan pengiklan tersebut.

4. Community Insight

Model bisnis wawasan komunitas (community insight) mirip dengan poin sebelumnya, yang memberdayakan komunitas dari sebuah media online tertentu. Tetapi, pada model bisnis ini produk atau brand tertentu menjadikan komunitas dari sebuah media online lebih sebagai obyek riset, yang disebut riset merek dan pesaing (brand and competitor research), dan/atau obyek survey yang disebut survei konsumen (consumer survey).

Untuk beberapa kebutuhan marketing tertentu, beberapa anggota komunitas juga dikumpulkan secara offline untuk riset atau survei yang lebih terfokus dengan konsep focus group discussion (FGD).
Namun, jika kita ingin menerapkan model bisnis community engagement dan community insight, perlu waktu yang lama dan panjang untuk membangun komunitas, yang diawali dengan membangun traffic yang memadai terlebih dahulu.

5. Premium Content Subscription

Model bisnis ini jarang diterapkan pada bisnis media online di Indonesia. Hal itu karena model bisnis langganan konten premium (premium content subscription) mengenakan biaya kepada user atau reader, jika mereka ingin membaca sebuah konten tertentu dari sebuah media online.
Sementara karakter konsumen Indonesia relatif lebih menyukai hal-hal yang bersifat gratis. Khalayak yang bersedia membayar untuk sebuah informasi online sangat terbatas jumlahnya, sedangkan konten itu juga harus punya nilai yang amat penting dan eksklusif, agar orang bersedia membayar untuk mengaksesnya.

Berapa Catatan Permasalahan

Dalam menentukan model bisnis media online, selain harus jelas dari mana pendapatan keuangan akan diperoleh, juga harus menegaskan siapa khalayak sasaran yang dituju media tersebut. Penentuan konsumen sasaran akan membuat strategi pemasaran lebih terfokus, meski di sisi lain juga membuat khalayaknya makin tersegmentasi.

Kita tidak cukup mengatakan bahwa khalayak sasarannya adalah umat Islam. Ini jawaban yang terlalu umum. Karena pertanyaan berikutnya adalah: Umat Islam yang mana? Umat Islam yang usianya berapa, latar belakang pendidikannya apa, dan tinggal di mana? Umat Islam yang daya belinya dan seleranya seperti apa? Umat Islam dari kelas sosial-ekonomi yang mana? Dan banyak pertanyaan lain.

Yang saya agak tercengang, ternyata juga ada pemilahan dari segi “orientasi keagamaan, aliran/mazhab, atau ideologi keislaman.” Blog http://muslimedianews.wordpress.com, misalnya, membuat klasifikasi sendiri yang membedakan antara media Islam yang bernuasa Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), yang dianggapnya lebih terpercaya, dan media yang tidak bernuansa Aswaja. Blog itu membuat daftar media yang “berlabel Islam,” tapi dianggapnya sebagai “tidak Islami.”

Blog itu menyebut media termaksud sebagai “media kelompok radikal dan pro-kelompok radikal. Ajang promosi Gratis untuk Wahhabi, tapi sangat penting diketahui oleh pihak Aswaja agar tidak terjebak informasi/tulisan yang disajikan.” Bahkan ada enam media yang oleh http://muslimedianews.wordpress.com terang-terangan ditandainya sebagai media milik ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), organisasi ekstrem yang kini dimusuhi sekaligus ditakuti oleh banyak negara di Timur Tengah.

Blog http://muslimedianews.wordpress.com menyatakan, “Media berlabel Islam belum tentu Islami.” Blog ini memilah-milah situs web yang disebutnya mewakili atau berafiliasi dengan Wahhabi, Wahhabi radikal, pendukung PKS, tabloid HTI, Aswaja-NU (Ahlussunnah wal Jama’ah), dan penganut Syiah.

Pandangan saya, jika umat Islam sebagai khalayak sasaran dipecah-pecah dalam klasifikasi yang semacam ini, maka khalayaknya semakin terfokus, tetapi jumlahnya sebagai konsumen bagi setiap media juga akan semakin sedikit. Kelompok Islam A enggan mengakses berita di situs kelompok Islam B, yang dianggapnya tidak bisa dipercaya. Begitu juga sebaliknya. Akibatnya, situs web kelompok Islam B gagal meraih traffic yang tinggi, karena pembacanya atau kalangan yang mengaksesnya hanya itu-itu saja (jamaahnya sendiri yang terbatas). Situs kelompok Islam A juga bisa mengalami nasib yang sama.

Sebagai perbandingan, coba kita lihat situs kompas.com dan suratkabar (media cetak) Harian Kompas. Pemiliknya adalah non-Muslim. Tetapi media ini hidup, pembacanya/pengaksesnya banyak, iklannya lumayan besar, dan memiliki pengaruh terhadap para pengambil keputusan, justru karena dukungan de facto pembaca Muslim! Khalayak pengaksesnya mayoritas adalah kalangan Muslim secara umum, yang tidak dipecah-pecah berdasarkan aliran/mazhab atau ideologi keislaman.

Pertanyaan berikutnya, kenapa Muslim Indonesia justru lebih banyak mengakses ke media “sekuler” atau media “non-Muslim,” ketimbang media Islam? Jawabannya adalah kita harus memahami hukum ekonomi, pasar, dan pemasaran. Konsumen Muslim ini merasa “memperoleh sesuatu” dan merasa “kebutuhannya terpenuhi” di media itu, sehingga mereka terus-menerus mengaksesnya.

Media Kompas bisa maju justru karena tidak menonjol-nonjolkan identitas kenon-muslimannya, karena pengelolanya sadar bahwa pasar yang besar di Indonesia dan mayoritas konsumennya adalah Muslim. Kalau mau sukses di bisnis media, pengelola Kompas harus merangkul konsumen Muslim, bukan malah berjarak terhadapnya. Konsumen Muslim bukan cuma butuh informasi tentang agama, tetapi sejalan dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi dan tingkat kehidupannya, juga butuh berbagai informasi lain yang akurat, terpercaya, lengkap, utuh, komprehensif, proporsional, kontekstual, dan relevan. Inilah yang berhasil dipenuhi Kompas.

Untuk mencapai posisi itu, dan memperoleh trust dari kalangam pembaca (yang sekali lagi mayoritasnya adalah Muslim), media dengan brand Kompas sudah menjalani proses sejarah yang panjang, puluhan tahun. Pembinaan profesionalisme jurnalis dan pengelolanya juga sudah lama, dan sudah berhasil membangun struktur dan kultur organisasi yang kuat. Sehingga mungkin kurang fair jika dibandingkan begitu saja dengan media Islam online, yang umurnya baru beberapa tahun.

Selain itu, psikologi para pengiklan umumnya adalah menghindari media yang terlalu kental, keras, atau menonjol “warna ideologinya.” Pemilik bisnis yang memasarkan produk atau jasa tertentu biasanya cenderung ingin melebarkan pasar seluas mungkin, dan diterima oleh sebanyak mungkin konsumen. Oleh karena itu, media yang terlalu segmented, apalagi mengobar-obarkan semangat keagamaan yang terlalu keras, asyik buat si pengelola media itu sendiri, namun tidak menarik bagi pengiklan. Media semacam itu mungkin cocok untuk tujuan agitasi dan propaganda, kampanye politik, atau bagian dari “media perjuangan,” tapi jelas bukan media yang favorit bagi pemasang iklan. Yang memasang iklan di media macam ini kemungkinan hanyalah dari “kalangan sendiri.”

Jadi, jika ditanya bagaimana prospek media Islam online di masa mendatang, secara singkat saya jawab: ada potensi yang lumayan besar. Hal ini karena jumlah Muslim Indonesia, tanpa memandang sekte/mazhab/aliran keagamaannya, memamg besar. Ditambah lagi, ekonomi mereka (daya beli dan tingkat kesejahteraan hidup) terus meningkat. Namun, sejauh mana kita bisa memanfaatkan potensi besar itu akan berpulang pada pengelola media Islam online itu sendiri. Yakni, seberapa jauh mereka bisa membaca dan menangkap kebutuhan konsumen dan memenuhi kebutuhan itu.

Ditambah lagi, para pengelola media Islam online juga harus meningkatkan profesionalismenya. Profesionalisme itu akan terlihat pada tampilan medianya dan konten yang dimuatnya. Sekadar mengetahui kebutuhan konsumen barulah separuh langkah, karena mutlak dibutuhkan kemampuan teknis dan profesionalisme dalam memenuhi kebutuhan itu.

Depok, 26 Desember 2014

Daftar Pustaka

http://satrioarismunandar6.blogspot.com
http://www.bersamadakwah.com/2014/01/inilah-10-media-islam-indonesia.html
http://id.techinasia.com/model-bisnis-media-online-indonesia/
http://istana99kupu.blogspot.com/2014/08/bebarapa-situs-terbaik-di-indonesia.html
http://ahzamedia.biz/mari-berbisnis-secara-online-pandangan-islam-tentang-bisnis-online/
https://muslimedianews.wordpress.com/2013/09/23/top-10-website-islam-aswaja-juara/
http://www.muslimedianews.com/2014/04/ini-situs-situs-syiah-berbahasa.html
http://muslimedianews.wordpress.com/2013/11/01/15-situs-berita-islam-terpercaya-dan-kajian-muslimin/


===============
*Satrio Arismunandar adalah Senior Editor di Majalah Aktual dan media online www.aktual.co. Mantan jurnalis Kompas dan Executive Producer di Divisi News Trans TV. Doktor Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dosen ilmu komunikasi di beberapa universitas swasta, dan penulis buku.

Blog: http://satrioarismunandar6.blogspot.com
E-mail: arismunandar.satrio@gmail.com / satrioarismunandar@yahoo.com
HP: 0812-8629-9061

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI