Problematika Pemanfaatan Simbol Islam

Oleh Satrio Arismunandar

Kalangan pers Indonesia baru-baru ini terkejut dan prihatin dengan dijadikannya Pemimpin Redaksi The Jakarta Post, Meidyatama Suryodiningrat (MS), sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama. Hal itu terkait dengan pemuatan gambar karikatur tentang ISIS (Islamic State in Iraq and Syria) di harian berbahasa Inggris tersebut pada edisi Kamis, 3 Juli 2014.

Korps Mubaligh Jakarta pada 15 Juli 2014 melaporkan Harian The Jakarta Post ke Bareskrim Polri, karena menganggap pemuatan kartun itu “menghina Islam.” Harian ini dituduh melanggar pasal 156a KUHP, tentang Penghinaan dan Penistaan Agama yang ancaman hukumannya lima tahun penjara. Kasus ini oleh Bareskrim Polri lalu dilimpahkan ke Polda Metro Jaya.

Kartun bermasalah itu menggambarkan seorang milkisi ISIS sedang menaikkan bendera hitam bergambar tengkorak putih, dengan dua tulang bersilang di bawahnya, mirip bendera bajak laut. Di latar belakang terlihat seorang pejuang ISIS akan mengeksekusi lima tawanan, yang sedang berlutut dan mata mereka ditutup kain hitam. Tiga milisi ISIS lain stand by dengan senjatanya di sebuah mobil.

Yang dipersoalkan adalah pada bagian atas gambar tengkorak itu terdapat tulisan berbahasa Arab laa ilaaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah), sedangkan di dalam tengkorak putih itu tertulis kalimat dalam huruf Arab, “Allah, Rasul, Muhammad.” Rangkaian kata dengan susunan dari atas ke bawah itu dianggap bentuk cincin Nabi Muhammad SAW, yang berfungsi sebagai stempel. Nabi Muhammad SAW pada masa hidupnya juga berperan sebagai kepala negara. Ia biasa mengirim surat kepada para kaisar, raja-raja, dan para kepala suku untuk berdakwah, dan di akhir surat yang dikirimkan itu biasa dibubuhi dengan stempel kenabian (Indopos, Jumat, 12 Desember 2014, hlm. 7).

Pemanfaatan dan manipulasi simbol

Tulisan ini tidak bermaksud membahas rincian aspek hukum dari tuduhan terhadap The Jakarta Post. Namun, karena Pemimpin Redaksi The Jakarta Post dituduh melakukan “penghinaan terhadap Islam,” maka tulisan ini akan difokuskan pada problematika yang terkait perumusan identitas “Islam.” Masyarakat awam sering sulit membedakan antara “representasi Islam” dan pemanfaatan, atau bahkan manipulasi, “simbol-simbol Islam.”

“Islam” adalah sebuah konsep atau gagasan, yang tidak punya wujud konkret seperti benda nyata yang bisa kita sentuh. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan “penghinaan terhadap Islam” biasanya berhubungan dengan perlakuan terhadap simbol-simbol, yang dianggap mewakili “Islam” atau “representasi Islam.”

Ekspresi laa ilaaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah) jelas merupakan bagian dari identitas Islam. Ekspresi Allahu Akbar (Allah Maha Besar), yang selalu dibaca oleh setiap Muslim dalam sholat lima waktu setiap hari, jelas adalah juga bagian dari identitas Islam. Tidak ada umat agama lain yang menggunakan ekspresi itu. Dalam hal ini, kita bisa sepakat.

Persoalannya, semua orang dengan mudah bisa menggunakan, bahkan memanipulasi simbol-simbol yang dianggap sebagai “identitas Islam” tersebut. Ambillah contoh Saddam Hussein, yang ketika masih berkuasa sebagai Presiden Irak, ia juga memimpin partai Sosialis Arab Baath. Asal tahu saja, salah satu perumus utama ideologi sosialis Partai Baath adalah Michel Aflaq, seorang Kristen Arab. Ideologi Baath ini –yang merupakan campuran dari kepentingan sosialis Arab, nasionalis Arab, pan-Arabisme, dan anti-imperialis-- selain digunakan di Irak, ia juga diadopsi di Suriah, tempat asal Aflaq.

Ketika sedang berkecamuk Perang Teluk I (1991), antara Irak melawan koalisi militer yang dipimpin Amerika (zaman Presiden George Bush senior), atas kehendak Saddam, parlemen Irak mensahkan penambahan tulisan “Allahu Akbar” (Allah Maha Besar) pada bendera nasional Irak. Tindakan Saddam ini, meski ia tidak pernah dikategorikan sebagai tokoh berideologi Islam, bisa dipahami sebagai manuver simbolis untuk menggalang dukungan di saat perang.

Bendera ISIS bukan simbol Islam

Nah, lalu bagaimana kita memposisikan “identitas Islam” dalam kasus bendera Irak ini? Meskipun mayoritas warga Irak beragama Islam, dan Saddam sendiri beragama Islam Sunni, negara Irak di bawah Saddam Hussein tidak pernah berideologi Islam. Ideologi partai yang berkuasa di pemerintahan adalah sosialis Arab. Maka bisa disimpulkan, ekspresi “Allahu Akbar” memang diakui sebagai bagian dari identitas Islam. Tetapi bendera yang dicantumi tulisan “Allahu Akbar” itu bukanlah identitas Islam, tetapi identitas nasional Irak.

Dalam kasus yang kini menyebabkan Pemimpin Redaksi The Jakarta Post menjadi tersangka dengan tuduhan menghina Islam, karikatur yang dipersoalkan sebetulnya merupakan “plesetan” dari bendera ISIS. Bendera ISIS aslinya memang berwarna dasar hitam, dengan tulisan laa ilaaha illallah dan tulisan lain, yang diakui sebagai bagian dari identitas Islam. Perbedaan bendera ISIS asli dan bendera ISIS versi kartun adalah di bendera ISIS asli tidak ada gambar tengkorak, tetapi hanya ada gambar bulatan putih.

Penggunaan gambar tengkorak, menurut dugaan saya, merupakan “plesetan” atau “sindiran” dari si pembuat karikatur terhadap perilaku milisi ISIS, yang --menurut berita sejumlah media—sangat enteng dalam menumpahkan darah pihak-pihak yang dianggap musuhnya. Bahkan, sekalipun yang dianggap lawan oleh ISIS itu juga warga sesama Muslim.

Dengan analogi kasus Saddam Hussein yang menambahkan “Allahu Akbar” pada bendera Irak, bendera ISIS bukanlah mewakili Islam dan bukan identitas Islam. Walaupun di bendera ISIS itu terdapat tulisan laa ilaaha illallah dan tulisan lain, yang diakui sebagai bagian dari identitas Islam. Bendera ISIS adalah mewakili identitas ISIS, bukan identitas Islam. Bahkan, begitu negara, ulama, dan kalangan Islam yang akan menentang keras jika dikatakan bahwa ISIS merupakan representasi Islam.

Di sinilah dibutuhkan kecermatan kita untuk mampu memilah, mana yang betul-betul mewakili identitas Islam. Dan mana pula yang sekadar pemanfaatan atau bahkan manipulasi simbol-simbol Islam. Jika masyarakat kita sudah semakin kritis dan paham tentang pembedaan-pembedaan semacam ini, banyak masalah yang terkait dengan isu-isu keagamaan di Indonesia mungkin dapat lebih mudah diselesaikan. ***


*Penulis adalah doktor ilmu budaya dari Universitas Indonesia, dosen ilmu komunikasi, dan pernah meliput Perang Teluk 1991 di Baghdad, Irak, sebagai wartawan Harian Kompas.

Comments

dimar ublik said…
Lha iya lho gan, wong setan juga menyebut bahwa Allah itu Maha Besar wong hanya tulisan aja koq dipermasalahkan. Oleh sebab itu memang harus banyak belajar ya bahwa Muslim itu tidak harus fanatik ngawur tapi belajar pinter dan bijak agar bisa menunjukkan bahwa Islam itu Rakhmatan lil Alamin. Kita tunjukkan Iman kita dengan perbuatan bukan dengan simbol. SUBHANALLAH, WALKHAMDULILLAH, WALAILAHAILALLAH, WALLAHUAKBAR. LA KHAULA WA LA QUWATA ILABILAHI ALIYULADHIEM

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)