Puisi Mini Multimedia sebagai Genre Baru

Oleh Satrio Arismunandar

Akhir-akhir ini di sejumlah media sosial mulai bermunculan bentuk karya puisi pendek, yang dilengkapi visual tertentu. Ini berawal dari Denny JA, yang pada pertengahan Agustus 2014 mengajukan ide tentang lahirnya genre puisi baru. Jenis puisi itu untuk sementara dinamakan “Puisi Mini Multimedia” (PMM). Berbagai tanggapan, komentar, masukan, kritik, dan saran pun dilontarkan terhadap konsep Denny tentang PMM.

Tujuan komentar dan kritik itu bukan untuk mematikan suatu gagasan kreatif, namun bagaimana agar gagasan dasar ini bisa semakin matang, semakin diperkaya, semakin jelas bentuknya, dan semakin mungkin diterapkan secara meluas untuk publik. Ada semangat demokratisasi di sini. Artinya, penulisan puisi bukan dianggap sebagai domain eksklusif terbatas untuk segelintir “penyair profesional,” tetapi ia adalah sesuatu yang juga bisa dilakukan oleh masyarakat banyak.

Lewat tulisan ini, saya mencoba menyumbangkan beberapa pemikiran terhadap gagasan awal Denny, untuk mematangkan konsep PMM itu. PMM pada awalnya merupakan format puisi yang menyesuaikan, memanfaatkan, dan mengeksplorasi tren budaya informasi yang akhir-akhir ini muncul dan populer, yakni maraknya media sosial.

Kemunculan media sosial seperti Facebook, Twitter, LinkedIn, Twoo, dan lain-lain adalah salah satu aspek dari globalisasi dan kemajuan teknologi informasi. Dalam kaitan dengan puisi, berkat merebaknya media sosial dan media daring (online), orang kini tidak membaca dan menikmati puisi dari buku dan media cetak konvensional, tetapi juga dari buku elektronik (e-book) dan media daring.

Munculnya media sosial seperti Facebook dan Twitter telah mendemokratisasi dunia media, sebagai suatu wahana produksi informasi. Sekarang yang mampu memproduksi pesan dan informasi, untuk disebarkan secara global, bukan cuma pengelola suratkabar atau stasiun televisi besar, tetapi setiap individu juga mampu melakukannya secara mudah dan dengan biaya sangat murah (untuk tidak mengatakan gratis sama sekali). Dalam dunia jurnalistik, praktik ini sering disebut dengan “jurnalisme warga” (citizen journalism).

Pengertian Puisi Mini Multimedia

Pesan dan informasi yang disebarkan itu bukan cuma sekadar berita, fakta, data, atau liputan peristiwa, tetapi juga hal lain yang mengandung nilai estetika dan seni. Seperti: cerita pendek, foto, lukisan, komik (cerita bergambar), dan dalam kasus kita: puisi. Puisi itu sendiri bisa terdiri dari berbagai macam bentuk dan panjang. Mulai dari puisi esai yang sangat panjang, puisi konvensional yang panjangnya bervariasi, sampai puisi yang sangat pendek atau puisi mini.

Dalam kasus kita, “puisi mini” diartikan sebagai puisi yang panjangnya menyesuaikan dengan format media sosial Twitter, yang membatasi setiap pesan yang disalurkannya maksimal sebanyak 140 karakter (huruf/angka). Oleh karena itu, puisi mini adalah puisi dengan tema beragam, yang panjangnya tidak melebihi 140 karakter. Puisi itu harus berakhir dan tuntas menyelesaikan pesan yang dibawanya dalam satu kali kiriman pesan.

Sampai di sini, pemahaman kita cukup jelas mengenai “puisi mini.” Problematika dan tantangan menjadi lebih berat ketika kita mencoba merumuskan pengertian dan implikasi aspek “multimedia” dari PMM tersebut. Multimedia secara sederhana artinya banyak atau beragam media, yang bisa dimanfaatkan dan dieksploitasi sekaligus dalam pembuatan dan penyampaian suatu PMM.

Dalam dunia jurnalistik, sejalan dengan perkembangan teknologi Internet, pengeksploitasian beberapa media sekaligus untuk pemberitaan ini sudah berlangsung. Misalnya, berita di media daring tentang pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam Sidang Paripurna DPR-RI. Di media daring itu, kita bisa membaca beritanya, seperti membaca berita di koran cetak. Kita juga bisa mengklik rekaman video yang link atau tautannya disediakan bersama paket berita itu, sehingga kita bisa mendengar suara pidato Presiden, sekaligus menonton tayangan Presiden SBY sedang berpidato.

Dalam PMM, aspek multimedia disajikan lewat karya foto, ilustrasi, grafis, video, dan rekayasa citra digital (digital imaging) yang disampaikan bersamaan dengan puisi mini terkait. Dengan adanya minimal dua bentuk pesan (narasi puisi yang bisa dibaca, dan gambar/foto/video ilustrasi yang menyertainya dan kita nikmati secara visual), ini saja sudah cukup untuk memberi karakter “multimedia.” Karakter ini menjadi makin kuat ketika kreator juga menyertainya dengan ilustrasi musik (yang bisa didengar ketika kita mengklik tautan PMM). Jadi, masyarakat penikmat PMM memperoleh pengalaman membaca, melihat, dan mendengar.

Problem tentang Hubungan

Problematika mendasar dalam konsep PMM adalah dalam merumuskan hubungan antara media tulisan (narasi) puisi itu sendiri dan media visual yang menyertainya (plus media audio, jika mau menambah kerumitannya!). Bandingkanlah dengan jika kita membaca cerpen yang biasa dimuat di Kompas Minggu. Cerpen di rubrik budaya suratkabar itu selalu diiringi dengan ilustrasi atau gambar.

Ilustrasi itu, sebagai sebuah karya seni, sebetulnya bisa dinikmati secara terpisah dari karya tulis (cerpen) yang ada. Cerpen itu sendiri juga bisa dinikmati begitu saja, tanpa harus didampingi dengan ilustrasi/gambar apapun. Cerpen itu bersifat otonom atau mandiri. Ia tidak tergantung pada gambar/ilustrasi, untuk bisa diapresiasi sebagai sebuah karya seni. Dengan demikian, jika kita fokus kepada cerpennya, maka ilustrasi/gambar bisa dianggap atau diperlakukan sebagai sekadar pelengkap.

Namun, berbeda dengan PMM di media sosial, cerpen di Kompas Minggu (media cetak) tidak punya atribut atau embel-embel “multimedia” di belakangnya. Para pembaca cerpen di Kompas sudah memaklumi sejak awal bahwa karya yang menjadi fokus di Kompas itu adalah cerpennya. Gambar/ilustrasi lebih bersifat sebagai pelengkap. Sekalipun gambar/ilustrasi itu ditiadakan, pembaca tetap bisa menikmati cerpen sebagai suatu karya yang otonom.

Sedangkan pada PMM, atribut “multimedia” itu membuat gambar/ilustrasi sebagai sesuatu yang vital, sesuatu yang tak bisa dihilangkan, atau sesuatu yang tak tergantikan. Tanpa aspek visual, PMM hanya bisa disebut “puisi mini” atau “puisi Twitter.” Aspek multimedianya tidak muncul.

Kondisinya menjadi makin rumit, manakala aspek audio (suara) juga dilibatkan. Di sinilah letak problemnya, dan juga tantangan bagi kreator puisi. Karena kini ia tidak cuma dituntut pemahaman, keterampilan, dan penghayatan pada narasi puisi, tetapi juga pada aspek visual (plus audio, jika mau lebih lengkap). Masing-masing aspek ini memiliki tuntutan tersendiri, yang --demi kesempurnaan karya-- ia tidak bisa diabaikan begitu saja, kecuali jika si kreator sudah berpuas diri dengan karya-karya bernilai medioker.

Butuh Seniman Serba Bisa

Untuk “penyair generasi lama” yang gaptek (gagap teknologi), hal ini menimbulkan kerepotan tersendiri, karena mereka kini tak cukup berfokus pada narasi semata. Kini mereka harus belajar program photoshop atau program editing gambar lainnya, bahkan mungkin perlu juga belajar fotografi, untuk bisa menyertakan ilustrasi/gambar/foto yang pas dengan tema puisi mini yang dibuatnya. Tanpa itu semua, puisinya tidak layak disebut puisi “multimedia.”

Sebetulnya mereka bisa saja men-search dunia maya dengan Google, untuk meng-copy paste gambar/ilustrasi/foto yang bagus untuk puisi-puisinya. Namun, tindakan itu bisa terbentur pada isu pelanggaran hak cipta atau HAKI (hak atas kekayaan intelektual). Jika main comot foto sembarangan, bahkan sekalipun foto hasil comotan itu sudah dimodifikasi di sana-sini, hal ini masih berpotensi terkena gugatan hukum.

Kecuali jika mereka mengambil gambar/foto/ilustrasi yang statusnya sudah dihibahkan secara gratis kepada publik oleh pemiliknya, misalnya: foto-foto yang sudah dirilis oleh Microsoft sebagai bagian dari paket perangkat lunak Windows-nya. Namun, jika ini dilakukan, ilustrasi/foto pada puisi yang diciptakan akan kehilangan nilai orisinalitas dan eksklusifitasnya, karena banyak orang lain juga bisa mencomot gambar/foto/ilustrasi yang sama dari sumber yang sama pula.

Dalam konteks ini, cukup menarik bahwa PMM bisa menjadi karya bersama oleh dua orang, atau lebih. Hal ini mirip dengan liputan jurnalistik oleh kru media siar televisi, yang biasanya dikerjakan oleh tim terdiri dari dua orang. Yaitu, pasangan reporter (yang fokus pada narasi/konten berita) dan camera person (yang fokus pada aspek suara-gambar/audio-visual). Ada komunikasi timbal-balik yang erat antara reporter dan camera person, tentang konten materi liputan dan aspek audio-visual, untuk bisa menghasilkan sebuah paket berita yang utuh dan terpadu.

Dalam kasus PMM, hal serupa dapat terjadi. Bisa terjadi kerjasama interaktif yang erat (bahasa kerennya: kolaborasi) antara penulis puisi mini (yang berfokus pada narasi) dan ilustrator/fotografer/pelukis (yang berfokus pada aspek visual/gambar). Jika mau lebih lengkap, bisa ditambah kerjasama dengan seorang lagi yang akan memasok aspek audio (musik, lagu, efek suara, dan sebagainya). Jadi, PMM bisa menjadi suatu karya bersama oleh dua sampai tiga orang, walaupun fokusnya –sesuai dengan nama “puisi”—haruslah pada narasinya.

Idealnya, memang sebaiknya kita bisa menjadi seniman serba bisa: mahir menulis narasi yang memikat, pintar membuat foto yang cantik, sekaligus piawai merancang aransemen musik. Semua itu bisa dimanfaatkan untuk betul-betul menghasilkan sebuah karya PMM yang menyentuh secara narasi, memukau secara visual, dan menghentak secara audio. Namun, dalam praktiknya, sangat sedikit orang yang bisa menguasai semua keahlian sekaligus seperti itu.

Yang lebih umum adalah: ada yang jago bikin puisi, tapi tak begitu mahir memotret. Ada yang pintar mengarang lagu, tapi tidak bisa menggambar. Ada yang cemerlang dalam melukis, tapi hanya pas-pasan jika disuruh bikin narasi. Nah, dalam situasi seperti ini, bisa terjadi “kolaborasi” di antara para individu dengan talenta masing-masing untuk menciptakan PMM yang betul-betul “mantap” dan “dahsyat.”

Jadi, prospek PMM sebagai sebuah karya gabungan ini termasuk suatu tren baru, yang mungkin bisa kita eksplorasi lebih lanjut. Saya membedakan PMM dengan karya cerpen yang dilengkapi ilustrasi di Kompas Minggu, karena PMM menyandang atribut “multimedia” di mana aspek audio-visual menjadi bagian yang tak terpisahkan. Sedangkan cerpen di Kompas Minggu bersifat otonom, dan sebetulnya tidak membutuhkan aspek visual untuk bisa diapresiasi sebagai sebuah karya seni.

Alternatif lain, kita menurunkan atribut “multimedia” dari PMM. Kita menyederhanakan PMM menjadi sekadar “puisi mini” atau “puisi Twitter,” dan dengan demikian tidak ada keharusan untuk menyertakan aspek audio-visual. Ini jauh lebih mudah diimplementasikan, namun akan terkesan kurang “wow” bagi para pencinta sastra era Internet. ***

Depok, 17 September 2014

*Satrio Arismunandar adalah Doktor Ilmu Pengetahuan Budaya dari Universitas Indonesia.

Comments

IBU HAYATI said…
aya ibu hayati ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di HONGKONG jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga dikampun,jadi TKW itu sangat menderita dan disuatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak disengaja saya melihat komentar orang tentan MBAH KABOIRENG dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di HONGKONG,akhirnya saya coba untuk menhubungi MBAH KABOIRENG dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan MBAH KABOIRENG meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan MBAH KABOIRENG kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik MBAH KABOIRENG sekali lagi makasih yaa MBAH dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja MBAH KABOIRENG DI 085-260-482-111 insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW.. KLIK GHOB 2D 3D 4D 6D DISINI















Saya ibu hayati ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di HONGKONG jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga dikampun,jadi TKW itu sangat menderita dan disuatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak disengaja saya melihat komentar orang tentan MBAH KABOIRENG dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di HONGKONG,akhirnya saya coba untuk menhubungi MBAH KABOIRENG dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan MBAH KABOIRENG meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan MBAH KABOIRENG kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik MBAH KABOIRENG sekali lagi makasih yaa MBAH dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja MBAH KABOIRENG DI 085-260-482-111 insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW.. KLIK GHOB 2D 3D 4D 6D DISINI

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)