Raja Baru dengan Visi Lama

Oleh: Satrio Arismunandar

Salman bin Abdul Aziz naik tahta menjadi Raja Arab Saudi, menggantikan saudara tirinya yang wafat, Abdullah bin Abdul Aziz. Namun, tampaknya belum akan ada visi baru dan perubahan kebijakan kerajaan, khususnya menyangkut harga minyak, dari sang raja baru.

Stasiun televisi negara Arab Saudi terus-menerus melantunkan ayat-ayat kitab suci Al-Quran menjelang 23 Januari 2015. Saat itu Raja Abdullah bin Abdul Aziz sedang sakit keras dan dirawat di rumah sakit. Rakyat kerajaan yang kaya minyak itu pun merasa mendapat firasat bahwa sang raja akan segera berpulang. Dugaan itu benar.

Raja Abdullah bin Abdul Aziz wafat pada usia 90 tahun, Jumat pagi, 23 Januari 2015, sesudah masuk rumah sakit pada 31 Desember 2014 karena menderita radang paru-paru. Sesuai tradisi Islam di Saudi, Abdullah dimakamkan secara sangat sederhana tanpa nisan di kuburannya. Sejumlah pemimpin negara Islam hadir di acara pemakaman itu. Penggantinya adalah saudara tirinya, Pangeran Mahkota Salman bin Abdul Aziz (79).

Begitu sah dinobatkan sebagai raja baru, untuk memberi kejelasan dan stabilitas pada kerajaan, Salman langsung menyatakan, dirinya akan melanjutkan kebijakan raja-raja sebelumnya. “Kami akan terus –insya Allah-- mempertahankan jalan lurus yang telah ditempuh negeri ini sejak didirikan oleh Raja Abdul Aziz,” ujarnya dalam pidato yang disiarkan di stasiun televisi negara.

Salman naik tahta ketika berbagai masalah menyangkut suksesi kekuasaan membayang di kerajaan Saudi. Kini ada problem stabilitas di monarki absolut, yang sangat minim mengalami reformasi tersebut, menyangkut generasi muda keluarga kerajaan yang kini menginginkan peran lebih besar.

Warisan Raja Abdullah


Abdullah bin Abdul Aziz menjadi Raja sejak 2005, dan secara efektif memegang kendali kerajaan sejak saudaranya, Raja Fahd, terkena stroke pada 1995. Abdullah menerima diberlakukannya perubahan atau reformasi terbatas pada 2011, sebagai tanggapan terhadap gerakan reformasi “musim semi Arab.”

Toh di bawah pemerintahan Raja Abdullah, kaum perempuan Saudi tetap dilarang menyetir mobil, keberadaan partai-partai politik tetap dilarang, dan pelaksanaan hukum penggal dengan pedang tetap menjadi standar sistem pengadilan. Warga masyarakat tetap tidak bisa memberikan suara, kecuali untuk pemilihan umum tingkat kota kecil. Reformasi demokratis masih menjadi barang langka di Saudi.

Di bawah Abdullah, Arab Saudi menggelontorkan miliaran dollar AS bantuan ke Mesir, sesudah Jenderal Abdel Fatah al-Sisi menggulingkan kekuasaan Presiden Mohamed Morsi dari Ikhwanul Muslimin pada 2013. Langkah Abdullah, yang mendukung penggulingan Presiden Morsi yang terpilih secara demokratis, ini merupakan upaya memastikan pengikisan jangka panjang terhadap pengaruh regional Ikhwanul Muslimin di Timur Tengah. Keluarga kerajaan Saudi selalu memandang Ikhwanul Muslimin sebagai ancaman terhadap otoritas mereka di Riyadh.

Itulah sebabnya sejumlah kalangan media dan pendukung hak asasi manusia di Amerika dan Eropa menyikapi dengan kritis, ketika sejumlah pemimpin negara Barat memuji-muji Abdullah bin Abdul Aziz dan datang ke Saudi untuk menunjukkan penghormatan terakhir. Di antara barisan tokoh Barat itu adalah Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Kedatangan mereka menunjukkan, Saudi adalah tetap negara penting di Timur Tengah yang harus terus disokong dan diamankan sebagai sekutu Barat. Negara otokratis ini mengontrol 20 persen cadangan minyak dunia dan masih mendominasi kawasan Timur Tengah yang strategis dan bergolak.

Hubungan Saudi dan Amerika sempat memburuk, karena Saudi khawatir dengan pendekatan diam-diam yang dilakukan antara AS dan Iran, untuk mencari penyelesaian atas isu reaktor nuklir Iran. AS menuduh Republik Islam Iran berencana menggunakan reaktor-reaktornya untuk membuat senjata nuklir, tuduhan yang sudah dibantah Iran. Namun, kini Iran lebih fleksibel. Sikap kompromi Iran dalam isu nuklir akan mendorong dicabutnya sanksi-sanksi ekonomi, yang selama ini diterapkan AS terhadap Iran. Perkembangan ini tidak menyenangkan Saudi. Saudi yang didominasi penganut Muslim Sunni dan Iran yang didominasi penganut Syiah bersaing berebut pengaruh di Timur Tengah.

Saudi juga kecewa berat terhadap AS di bawah Obama, yang dianggap gagal menggulingkan kekuasaan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Kelompok-kelompok mujahidin dan oposisi Suriah berjuang secara militer melawan pasukan Suriah, yang masih loyal pada Bashar al-Assad. Kubu penentang Bashar al-Assad ini mendapat dukungan dana dan persenjataan melalui intelijen Saudi. Tetapi AS dan sekutu-sekutu Baratnya sejauh ini tak mau mengirim pasukannya untuk terjun langsung melawan pasukan Bashar al-Assad, dan meski babak belur, Bashar tetap bertahan di kekuasaan.

Isu ancaman kelompok militan ISIS (Negara Islam di Irak dan Suriah) di Timur Tengah agak mendekatkan kembali hubungan Riyadh dan Washington. Kedua negara memandang ada ancaman nyata dari ISIS, yang semakin melebarkan kekuasaan di wilayah Suriah dan Irak. Langkah-langkah ISIS juga semakin agresif dan tak terduga.

Pada 23 Januari 2015, ISIS membunuh warga negara Jepang, Haruna Yukawa, yang disandera ISIS bersama warga Jepang lain, wartawan lepas Kenji Goto. ISIS mengancam akan mengeksekusi Kenji Goto, jika pemerintah Jepang tidak menyerahkan tebusan senilai 200 juta dollar AS (Rp 2,5 triliun). Sampai artikel ini ditulis, belum jelas bagaimana langkah pemerintah Jepang menangani ancaman eksekusi terhadap Kenji Goto.

Salman Menyiapkan Pengganti

Pada bulan-bulan terakhir sebelum wafatnya Raja Abdullah, Salman mulai memainkan peran lebih aktif dan telah mewakili kerajaan di berbagai pertemuan penting di luar negeri. Dia juga bertindak sebagai Deputi Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan. Salman pernah menjadi Gubernur Riyadh selama bertahun-tahun dan mendapat reputasi sebagai pelaku tata kelola pemerintahan yang baik. Dia juga bertindak sebagai penopang keluarga, yang dengan diam-diam menyelesaikan berbagai ragam problem dengan sebagian dari ribuan keluarga kerajaan di ibukota Riyadh.

Salman juga aktif mengumpulkan dana untuk mendukung kaum mujahidin, yang didorong untuk melawan pasukan Uni Soviet di Afganistan pada 1980-an. Osama bin Laden adalah satu tokoh, yang kemudian jadi tokoh paling terkenal dari para mujahidin tersebut. Salman juga bekerjasama erat dengan kalangan ulama terkemuka Saudi yang menganut Wahabisme.

Meski demikian, kondisi Salman sendiri secara meluas diyakini kurang begitu sehat. Ada spekulasi bahwa ia menderita kepikunan atau penyakit Parkinson, walau pihak kerajaan Saudi sudah membantah kabar ini. Usia Salman kini sudah 79 tahun, jadi tetap ada ketidakpastian tentang pemerintahannya.

Untuk menjaga stabilitas, jauh-jauh hari Salman sudah menyiapkan pengganti. Langkah Raja Salman yang cepat dengan menunjuk saudara tirinya, Muqrin bin Abdul Aziz (69) sebagai Pangeran Mahkota, dan keponakannya Mohammed bin Nayef (55) sebagai Wakil Pangeran Mahkota, tampaknya merupakan cara untuk menghentikan bertahun-tahun spekulasi tentang suksesi kekuasaan. Sebelum ini, perselisihan tentang suksesi dikhawatirkan akan menggoyahkan stabilitas di lingkungan keluarga kerajaan.

Muqrin sebelumnya adalah Wakil Pangeran Mahkota dan mantan pilot pesawat tempur didikan Angkatan Udara Inggris. Muqrin adalah juga mantan pimpinan intelijen Saudi yang dikenal berpandangan agak maju. Muqrin diketahui mendukung reformasi jangka panjang di Saudi.

Namun, prospeknya untuk naik tahta masih dipertanyakan, karena ia lahir dari seorang ibu keturunan Yaman dan bukan dari ibu Saudi, yang dari sisi kesukuan lebih bisa “direstui” di lingkungan keluarga kerajaan. Jika Muqrin nantinya jadi naik tahta, dia tampaknya akan menjadi yang terakhir dari generasi anak-anak pendiri kerajaan Arab Saudi, Raja Abdul Aziz Ibn Saud, yang meninggal pada 1953. Itu akan menjadi akhir dari era sebuah keluarga, Al-Saud. Nama Saud kemudian disatukan dan melekat menjadi nama kerajaan ini (Arab Saudi).

Posisi Muqrin dikonfirmasikan tahun 2014 oleh Dewan Kesetiaan beranggota 35 orang, dalam langkah yang dirancang Raja Abdullah untuk menjalin berlangsungnya suksesi kekuasaan yang mulus. Namun manuver itu tampaknya menghadapi penentangan dari sebagian anak-anak keluarga Ibn Saud yang masih hidup, meski mereka kurang terkenal, khususnya Pangeran Ahmeed. Hal ini berarti tetap ada perdebatan, sesuatu yang dengan susah payah selalu dihindari oleh keluarga Al-Saud.

Namun seorang penulis Saudi berkomentar, “Saya tidak berpikir bahwa mereka akan cukup gila untuk memiliki konflik internal tentang tahta.” Sedangkan seorang mantan diplomat menyatakan, “ Pelajarannya adalah, apapun yang kamu lakukan, lakukanlah secara privat dan jangan biarkan persaingan mengganggu stabilitas aturan keluarga kerajaan.”

Sedangkan Bruce Reidel, veteran dinas intelijen Amerika, CIA, yang kini menjadi salah satu pakar di Brookings Institution mengatakan: “Jika dan ketika Muqrin naik ke posisi Pangeran Mahkota, kerajaan Saudi akan menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Yakni, memilih jajaran generasi berikut untuk menjadi raja dari kalangan cucu-cucu Ibn Saud. Ini akan mengangkat pertanyaan tentang legitimasi, yang tidak muncul pada seabad terakhir kekuasaan Saudi.”

Memprediksi peristiwa yang akan terjadi dalam keluarga besar Al-Saud yang tertutup ini sangat sulit. Namun satu hal sudah jelas, generasi muda keluarga kerajaan kini menuntut peran yang lebih besar. Putra-putra almarhum Raja Abdullah, Pangeran Mitab, Kepala Garda Nasional, dan Pangeran Mishaal, Gubernur Makkah, keduanya kurang mempercayai Salman dan sayap “Sudairi” dari keluarga kerajaan. “Sudairi” adalah nama salah satu istri yang dicintai Ibn Saud.

Mohammed bin Nayef, Menteri Dalam Negeri dan putra almarhum Pangeran Mahkota Nayef bin Abdul Aziz, adalah juga figur yang sangat dihormati dari generasi muda yang sama, dan ia juga banyak dikagumi di Barat. Menjaga konsensus keluarga kerajaan akan lebih sulit sekarang, ketika generasi lebih muda semakin dekat ke kekuasaan, kata para pakar.

Tantangan ISIS dan Kasus Yaman

Salman naik ke kekuasaan pada saat muncul berbagai ketidakpastian di kerajaan Saudi, yang berada di kawasan yang bergolak di mana pengaruh Iran –pesaing Arab Saudi dalam berebut pengaruh di kawasan itu—semakin membesar. Sementara itu, aktivitas militer dan pengaruh kelompok militan ISIS juga semakin meluas. Sampai saat ini, ISIS masih menguasai wilayah kekuasaan yang cukup luas di Suriah dan Irak.

Peran Arab Saudi dalam menggalang dukungan negara-negara Arab untuk bergabung dengan negara-negara Barat dalam melawan ISIS, telah mendapat pujian di Washington. Sedangkan peran Saudi sebagai pengekspor minyak terbesar juga sangat penting di tengah ketidakstabilan pasar minyak. Bagi negara Barat, Saudi juga merupakan pasar yang penting dan menguntungkan bagi industri pertahanan mereka.

Saudi tidak bersikap setengah-setengah dalam melawan ISIS. Pesawat-pesawat tempur Saudi telah membom sasaran-sasaran ISIS di wilayah Suriah. Sedangkan ulama-ulama terkemuka Saudi melontarkan kecaman keras terhadap kelompok militan itu, walaupun ada kemiripan antara ideologi ISIS dan Wahabisme yang dianut Saudi. Polisi Saudi juga aktif menahan ribuan tersangka anggota kelompok militan dalam dasawarsa terakhir.

Salman telah menjanjikan mempertahankan kebijakan kerajaan, dan tidak mengutak-atik sebagian besar komposisi kabinet almarhum Raja Abdullah, termasuk untuk jabatan menteri perminyakan, menteri keuangan, dan menteri luar negeri. Salman bergerak cepat, dengan menunjuk putranya sendiri, Pangeran Mohammed (35), sebagai Menteri Pertahanan menggantikan posisi Salman, dan bertanggung jawab atas kontrak-kontrak bernilai besar dalam pembelian persenjataan militer.

Salman juga meyakinkan pasar energi global bahwa Saudi akan mempertahankan strategi, yang mendesak negara-negara pengekspor minyak lainnya untuk memelihara tingkat produksi minyak yang tinggi. Namun, anjloknya harga minyak yang berkepanjangan serta tekanan-tekanan anggaran di dalam negeri, akan mengetes seberapa jauh Salman sanggup memenuhi komitmennya tersebut.

Sebagai pemimpin baru dari negara dominan penghasil minyak di Timur Tengah, Raja Salman segera muncul sebagai figur terkuat dalam kancah perminyakan dunia. Arab Saudi adalah pemimpin OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries). OPEC terdiri dari 12 negara kaya minyak, yang telah menolak mengurangi produksi minyaknya, dan dengan demikian ikut andil dalam penurunan secara tajam harga minyak mentah dunia. Wafatnya Raja Abdullah sempat memicu spekulasi bahwa Saudi mungkin akan mengganti arah kebijakan, dan harga minyak dunia sempat naik 2 persen. Namun harga minyak kemudian kembali turun, sesudah Raja Salman mengatakan akan tetap berpegang pada kebijakan raja sebelumnya.

Sebagian besar analis, seperti Sadad al-Husseini, mantan Wakil Presiden Eksekutif perusahaan minyak nasional Saudi Aramco, memperkirakan, untuk jangka pendek keluarga kerajaan Saudi akan menolak setiap perubahan drastis terhadap kebijakan sebelumnya. Hal ini dikarenakan Saudi masih menghadapi berbagai tantangan kebijakan luar negeri yang serius. Seperti, kekacauan sosial-politik di negara tetangga, Yaman.

Gerak maju sekitar 30.000 pemberontak Syiah Houthi di Yaman tidak bisa dihambat. Pekan terakhir Januari 2015 ini, mereka telah menduduki ibukota Sana’a, setelah Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi mengundurkan diri dan meninggalkan situasi politik yang kacau balau. Yaman memang dilanda pergolakan politik, pertikaian antarsuku, serta kemiskinan yang serius dan mendalam.

Pada revolusi 2011, Presiden Ali Abdullah Saleh dipaksa mundur untuk memenuhi tuntutan rakyat Yaman. Ia digantikan oleh Wakil Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi, dalam kerangka kesepakatan yang digalang Arab Saudi. Kini kaum pemberontak Houthi yang berkuasa diketahui menjalin koalisi diam-diam dengan mantan Presiden Ali Abdullah Saleh. Saudi tentunya tidak akan membiarkan Yaman dilanda kehancuran, karena akan berpengaruh negatif ke kerajaan Saudi.

Kebijakan Perminyakan Saudi

Salah satu kebijakan kunci kerajaan Saudi yang dipantau internasional adalah soal perminyakan. Raja Salman ingin memproyeksikan stabilitas Saudi di zaman yang penuh ketidakpastian. Dua minggu sebelum jadi Raja, dalam posisi sebagai Pangeran Mahkota, Salman berpidato mewakili saudara tirinya, Raja Abdullah, di mana pada kesempatan itu ia mendukung kebijakan perminyakan yang sudah ada. Salman menyalahkan pertumbuhan ekonomi dunia yang lemah sebagai penyebab jatuhnya harga minyak dunia.

Namun, jika harga minyak tetap rendah dalam setahun ini atau waktu yang lebih panjang, Raja Salman mungkin akan sulit membujuk anggota-anggota OPEC lain untuk tetap kompak bertahan menghadapi tekanan-tekanan keuangan. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan, pendapatan Arab Saudi dan negara-negara di lingkungan Teluk Persia yang menjadi sekutunya akan berkurang 300 miliar dollar AS tahun 2015 ini. Penurunan harga minyak juga akan menggerus cadangan devisa Saudi, yang saat ini diperkirakan berjumlah 750 miliar dollar AS.

Sementara itu, tentang tim penentu kebijakan perminyakan di pemerintahnya, Salman mengisyaratkan, hampir seluruh anggota kabinet Abdullah akan tetap di jabatan masing-masing, termasuk Menteri Perminyakan Ali al-Naimi (79). Sebagai tokoh karir dalam bidang perminyakan Saudi, Naimi dipandang memiliki kombinasi pengetahuan tentang industri dan keterampilan politik untuk menangani keluarga kerajaan dan konstituen lain di kerajaan itu. Pada pertemuan OPEC terakhir, November 2014, Naimi –yang menjadi arsitek utama strategi perminyakan Saudi saat ini—menolak seruan dari Aljazair, Venezuela, dan Iran untuk mengurangi suplai minyak.

Namun, tetap harus dilihat, seberapa jauh Naimi akan tetap bertahan di jabatannya. Pada tahun-tahun terakhir, kepada sejumlah teman dekat, Naimi pernah menyatakan, ia sebenarnya ingin pensiun dan mengejar peran lain, seperti sebagai pimpinan universitas sains dan teknologi Raja Abdullah bin Abdul Aziz. Namun, Naimi tetap bertahan di jabatan Menteri Perminyakan atas permintaan Raja. (Diolah dari berbagai sumber)


Jakarta, 28 Januari 2015

Ditulis untuk Majalah AKTUAL Edisi 31

Comments

Alamanda said…
Aww, nice info banget gan! Ane buta banget sama perkembangan gejolak politik arab gan. Nice sharing gan ^^

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI