Chakri Naruebet: Kapal Induk Thailand yang Jadi “Kapal Pesiar Kerajaan”

Oleh: Satrio Arismunandar

Bagi negara manapun yang memiliki angkatan laut, salah satu simbol kekuatan militer yang juga menjadi kebanggaan adalah jika memiliki kapal induk. Kapal induk, yang mampu mengangkut banyak pesawat tempur dan helikopter, itu memiliki banyak fungsi. Ia juga memungkinkan proyeksi kekuatan jauh melampaui jangkauan kapal perang biasa. Maka kapal induk juga memberi efek penggentar yang signifikan.

Nah, Thailand adalah negara Asia Tenggara pertama yang mengoperasikan kapal induk. Kapal induk itu adalah HTMS Chakri Naruebet, yang dalam bahasa Thai berarti “Demi Kehormatan Dinasti Chakri.” Ia menjadi kapal bendera Angkatan Laut Kerajaan Thailand atau RTN (Royal Thai Navy).

Chakri Naruebet adalah kapal induk pertama dan satu-satunya milik Thailand. Kapal induk ini dirancang berdasarkan desain kapal Principe de Asturias milik Angkatan Laut Spanyol, dan dibangun oleh galangan kapal Izar (sebelumnya EN Bazan), Spanyol. Biaya pembangunannya saat itu 336 juta dollar AS. Kapal induk ini dipesan pada 1992, pembangunannya dimulai pada 12 Juli 1994, dan diluncurkan oleh Ratu Sirikit pada 20 Januari 1996.

Uji coba laut dilakukan dari Oktober 1996 sampai Januari 1997, sebagian dengan koordinasi bersama Angkatan Laut Spanyol. Uji laut ini lalu disusul dengan uji coba penerbangan di Rota, Spanyol. Chakri Naruebet diserahterimakan dan resmi menjadi bagian dari RTN pada 27 Maret 1997. Kapal ini tiba di perairan Thai pada awal Agustus 1997, dan secara resmi mulai berdinas pada 10 Agustus 1997.

Cuma Jadi Atraksi Turis

Chakri Naruebet dirancang untuk mengoperasikan kelompok pesawat tempur V/STOL, pesawat yang bisa lepas landas secara vertikal atau menggunakan landasan pacu yang sangat pendek, dan helikopter. Maka kapal induk ini dilengkapi dengan ski-jump, landasan pacu yang ujungnya melengkung ke atas. Niat awalnya adalah untuk mengoperasikan kelompok gabungan dari pesawat tempur Matador V/STOL dan helikopter S-70 Seahawk (untuk perang anti-kapal selam).

Walau Chakri Naruebet dimaksudkan untuk tugas patroli dan proyeksi kekuatan di perairan Thai, kurangnya pendanaan yang disebabkan oleh krisis keuangan Asia 1997 –di mana saat itu Indonesia juga terkena dampaknya-- membuat kapal induk ini menghabiskan sebagian besar karirnya dengan “nongkrong” di pangkalan laut Sattahip.

Chakri Naruebet telah dikerahkan untuk sejumlah operasi penyelamatan saat terjadi bencana alam, termasuk sesudah terjadinya gempa bumi di Samudera Hindia dan Tsunami 2004. Juga, untuk menanggapi insiden banjir terpisah pada penghujung 2010 dan awal 2011. Selain misi pertolongan dalam bencana alam, hanya sedikit penugasan lain yang pernah dilakukan kapal induk ini.

Bisa dibilang, Chakri Naruebet tak pernah berlayar jauh-jauh dari pangkalannya di Sattahip, dan sebagian waktunya hanya menjadi “atraksi untuk turis.” Ia hanya berlayar selama satu hari latihan tunggal per bulan. Di luar itu, ia hanya berfungsi sebagai sarana transportasi bagi Keluarga Kerajaan Thailand.

Hal inilah yang membuat sejumlah pengamat angkatan laut berkomentar sinis, bahwa kapal induk itu praktis hanya berfungsi sebagai royal yacht (kapal pesiar keluarga kerajaan) yang berukuran terlalu besar dan harganya terlalu mahal! Media Thailand bahkan menjuluki kapal induk ini “Thai-tanic,” sindiran yang menyamakannya dengan kapal pesiar mewah Titanic, yang tenggelam di Lautan Atlantik dalam pelayaran perdana.

Butuh Memodernisasi Armada

Lantas, bagaimana ceritanya sehingga RTN bisa membeli kapal induk itu? Itu bermula dari 1989, ketika Topan Gay menghantam wilayah Thailand. RTN, sebagai unit utama yang bertanggung jawab melakukan misi pencarian dan penyelamatan (SAR), saat itu menyadari bahwa kapal-kapal dan pesawat terbang yang dimilikinya tidak sanggup menahan cuaca yang keras di laut. Lebih jauh, RTN memang membutuhkan kapal yang baru dan berteknologi tinggi untuk memodernisasi armadanya.

Rencana awal RTN waktu itu adalah untuk membeli kapal berbobot 7.800 ton dari Bremer Vulcan, namun Pemerintah Thai membatalkan kontrak ini pada 22 Juli 1991. Sebuah kontrak baru untuk membuat kapal perang yang lebih besar --yang akan dibangun di galangan kapal Bazan, di Ferrol, Spanyol—ditandatangan oleh pemerintah Thai dan Spanyol pada 27 Maret 1992.

Kapal yang diusulkan itu didasarkan pada desain kapal induk Principe de Asturias dari Angkatan Laut Spanyol. Desain kapal Spanyol itu sendiri didasarkan pada konsep Kapal Kontrol Laut (Sea Control Ship) dari Angkatan Laut Amerika Serikat. Desain ini secara resmi dirujuk oleh RTN sebagai sebuah “kapal induk helikopter patroli lepas pantai” (Offshore Patrol Helicopter Carrier).

Chakri Naruebet adalah kapal induk terkecil yang beroperasi di dunia saat ini. Kapal ini berbobot 11.486 ton pada beban penuh. Panjangnya 164,1 meter antara garis tegak lurus, dan 182,65 meter secara keseluruhan. Lebarnya 22,5 meter di garis air, dengan lebar maksimum 30,5 meter, dan kedalaman 6,12 meter.

Dek penerbangan (flight deck) di kapal induk ini berukuran 174,6 x 27,5 meter. Ada sky-jump dengan kemiringan 12°, yang membantu pesawat V/STOL untuk lepas landas. Selain itu ada dua lift pesawat, yang masing-masing mampu mengangkat beban seberat 20 ton.
Di kapal induk ini terdapat 62 perwira, 393 pelaut, dan 146 kru udara. Jika dibutuhkan, sebanyak 675 personel tambahan bisa diangkut, dan biasanya mereka adalah prajurit dari Korps Marinir Kerajaan Thai (RTMC).

Chakri Naruebet ditenagai oleh gabungan sistem mesin diesel dan turbin gas (CODOG). Masing-masing dari dua propeler lima-bilah itu terhubung ke mesin diesel Bazan-MTU 16V1163 TB83, yang memberikan 5.600 HP (4.200 kW) dan digunakan untuk kecepatan jelajah.
Mesin satunya lagi adalah turbin gas General Electric LM2500, yang memberikan tenaga 22.125 HP (16.499 kW), dan digunakan untuk mencapai kecepatan puncak untuk periode pendek. Dua frigate Thailand kelas Naresuan yang dicanangkan untuk mengawal kapal induk ini juga menggunakan sistem CODOG.

Dikanibalisasi Untuk Suku Cadang

Kapal induk ini memiliki kecepatan maksimum 25,5 knot (47,2 km/jam), walau ia hanya bisa mencapai 17,2 knot (31,9 km/jam) dengan mesin dieselnya saja. Jangkauan maksimumnya adalah 10.000 mil laut (19.000 km) dengan kecepatan konstan 12 knot (22 km/jam), dan 7.150 mil laut (13.240 km) pada kecepatan 16,5 knot (30,6 km/jam).

Persenjataan Chakri Naruebet adalah dua senapan mesin 0,5 inchi, dan tiga peluncur rudal darat-ke-udara (SAM) Matra Sadral, yang menembakkan rudal-rudal Mistral. Peluncur rudal itu dipasang pada 2001. Kapal ini juga sebetulnya dirancang cocok untuk dipasangi sistem peluncur vertikal 8-sel Mark 41 untuk rudal-rudal Sea Sparrow, dan empat sistem senjata jarak-dekat Vulcan Phalanx. Rudal Sea Sparrow yang menggunakan bimbingan radar semi-aktif memiliki jangkauan 14 km dan kecepatan Mach 2,5.

Sayangnya, pemasangan senjata anti-serangan udara itu batal dilakukan. Sehingga praktis kapal induk ini hanya dilindungi oleh rudal penjejak infra-merah Mistral, yang berdaya jangkau rendah, cuma 4.000 meter.

Kapal induk ini dirancang untuk mengoperasikan kelompok udara sampai 6 pesawat AV-8S Matador V/STOL ditambah 4 sampai 6 helikopter S-70B Seahawk. Jika diperlukan, Chakri Naruebet juga mampu mengangkut sampai 14 helikopter tambahan, yang terdiri dari campuran Sikorsky Sea King, Sikorsky S-76, dan CH-47 Chinook. Sedangkan ruang hanggar hanya cukup menampung 10 pesawat.

Matador adalah generasi pertama versi ekspor dari pesawat Hawker Siddeley Harrier, yang dibeli versi bekas pakai dari Angkatan Laut Spanyol pada 1997. Sembilan pesawat eks Spanyol itu, yakni 7 versi standar ditambah 2 pesawat latih TAV-8S, diperbarui dulu oleh perusahaan Construcciones Aeronauticas SA sebelum penyerahan. Namun, pada 1999 hanya tersisa satu pesawat yang operasional. RTN terpaksa mencari beberapa Harrier generasi pertama lain untuk dikanibalisasi, demi memperoleh suku cadangnya!

Pada 2003, RTN berusaha memperoleh beberapa pesawat generasi-kedua, Sea Harrier FA2 bekas Angkatan Laut Inggris, dari British Aerospace. Namun transaksi itu gagal. Pesawat-pesawat Matador yang tidak operasional itu akhirnya dihapus sepenuhnya pada 2006. Bagaimanapun, pada 1999, hanya tersisa satu Matador yang operasional, dan keseluruhan armada pesawat V/STOL itu pun dicabut dari layanan pada 2006.

Maka, Chakri Naruebet praktis menjadi kapal induk yang tanpa dilengkapi pesawat terbang satu pun! Thailand saat itu adalah pemerintah terakhir yang masih menggunakan pesawat Harrier generasi pertama, yang lalu dihapus sama sekali.

Sensor yang dipasang pada Chakri Naruebet terdiri dari sebuah radar penjejak udara Hughes SPS-52C, yang beroperasi pada band E/F, serta dua radar navigasi Kelvin-Hughes 1007. Ada provisi untuk memasang sebuah radar penjejak permukaan SPS-64 dan sonar yang dipasang di lambung kapal, namun sampai 2008 tak satu pun yang dipasang. Fasilitas pengontrol tembakan juga belum dipasang.

Kapal induk ini dilengkapi dengan empat peluncur umpan SRBOC, dan sebuah umpan-tarik SLQ-25. Pada April 2012, perusahaan Swedia SAAB memenangkan kontrak untuk memperbarui sistem komando dan kontrol Chakri Naruebet. Kontrak ini mencakup pemasangan sistem komando dan kontrol 9LV Mk4, sebuah radar Sea Giraffe AMB, dan pengembangan datalinks.

Terlibat Pembuatan Film Hollywood

Antara 4-7 November 1997, Chakri Naruebet ikut serta dalam operasi penyelamatan korban bencana alam, menyusul amukan badai strategis Linda yang melintasi Teluk Thailand dan tanah genting Kra. Tugas utama kapal induk itu adalah mencari dan membantu setiap kapal nelayan yang dipengaruhi oleh amukan topan dan badai.

Banjir parah yang terjadi di Provinsi Songkhla mendorong mobilisasi kapal induk pada akhir November 2000. Chakri Naruebet melepas jangkar di sebuah pulau pelabuhan kapal pesiar, Songkhla. Kapal induk ini digunakan sebagai pangkalan bagi helikopter-helikopter dan kapal-kapal kecil, yang mengangkut bahan makanan, suplai, dan orang yang terluka.

Pada Januari 2003, kerusuhan anti-Thai pecah di Phnom Penh, ibukota Kamboja. Pemicunya adalah laporan-laporan media yang tidak akurat, tentang klaim seorang aktris Thai bahwa komplek candi Angkor Wat adalah milik Thailand, bukan milik Kamboja. Warga Thai yang tinggal di Kamboja terancam jadi sasaran amuk massa. Maka Chakri Naruebet pun dikirim untuk membantu upaya evakuasi warga Thai dari Kamboja.

Menyusul terjadinya gempa bawah laut di Samudera Hindua, tsunami yang dahsyat pun terjadi dan melanda berbagai kawasan seputar Samudera Hindia, termasuk pesisir Laut Andaman yang menjadi wilayah Thailand. Personel Chakri Naruebet menjadi bagian dari tim reaksi cepat militer Thai, yang berkekuatan 760 orang dan dikirim ke daerah bencana.

Satuan tugas ini terlibat dalam misi SAR di sekitar Phuket dan Kepulauan Phi Phi, perawatan korban yang terluka, dan penanganan jenazah. Mereka juga terlibat kerja untuk memperbaiki sekolah-sekolah dan berbagai fasilitas pemerintah yang rusak.

Chakri Naruebet ternyata juga pernah terlibat dalam pembuatan film Hollywood, sepanjang Agustus 2005. Film itu berjudul Rescue Dawn. Ini adalah film biografis yang didramatisasi dari kisah nyata Dieter Dengler, pilot Angkatan Laut Amerika, yang ditawan selama Perang Vietnam. Untuk keperluan film itu, geladak penerbangan Chakri Naruebet digunakan untuk menggambarkan kapal induk Amerika, USS Ranger.

Pada November 2010, Chakri Naruebet terlibat dalam operasi pertolongan korban banjir, menyusul banjir besar di negeri itu. Kapal induk itu bersandar di Provinsi Songkhla. Suplai bantuan dan pangan lalu diterbangkan ke warga yang jadi korban banjir. Sedangkan pasien-pasien rumah sakit dievakuasikan dengan helikopter-helikopter yang berbasis di kapal induk.

Operasi penyelamatan korban banjir berikutnya berlangsung pada Maret 2011, selama terjadinya banjir di selatan Thailand. Chakri Naruebet dikirim ke Koh Tao, ketika badai besar menyebabkan banjir dahsyat yang mengisolasikan pulau itu, dan menuntut pengungsian para turis dan warga setempat.

Asia memiliki cukup banyak kapal induk. China, India, Jepang, dan Korea Selatan, semuanya memiliki kapal induk dengan ukuran yang beragam. Persaingan ini membuat Chakri Naruebet, yang berukuran paling kecil dibandingkan semua kapal induk lain yang sudah operasional di dunia saat ini, jadi kalah gengsi. Padahal awalnya ingin dijadikan kebanggaan. ***

April 2015
Ditulis untuk Majalah DEFENDER

Comments

kapal induknya keren ya
apakah Indonesia punya kapal induk? kalau iya kereeeen!
dslsm kenal dari saya
@guru5seni8
penulis di www.kartunet.or.id dan http://hatidanpikiranjernih.blogspot.com

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)