Indonesia, KAA, dan Konflik Yaman (Aktual Review)

Oleh: Satrio Arismunandar

Serangan udara menggebu-gebu dari koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi, yang diarahkan ke kubu-kubu kelompok Houthi di Yaman, akhirnya mulai berimbas ke salah satu pihak yang tidak terlibat dalam konflik: Indonesia. Pada 20 April 2015, pukul 10.45 waktu setempat, ada bom yang “menyasar” menghantam kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di Sana’a, ibukota Yaman.

Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi telah mengecam keras serangan bom yang terjadi di kota Sana’a, yang mengakibatkan terlukanya beberapa staf diplomat Indonesia, dan rusaknya KBRI serta seluruh kendaraan milik KBRI yang berada di area tersebut. Bisa dibilang, 80 persen gedung KBRI rusak parah. Saat pemboman itu terdapat 17 WNI di KBRI Sana’a, yang terdiri dari staf KBRI, anggota tim evakuasi WNI dari Jakarta, dan WNI yang sedang mengungsi.

Informasi awal yang diterima dari Sana’a, serangan tersebut sebenarnya ditujukan kepada depot amunisi yang berada di kawasan tersebut. Jalan di sekitar KBRI rusak parah. Banyak korban jiwa warga sipil setempat yang berada di sekitar daerah tersebut. Pemerintah Indonesia menegaskan, pemboman itu merupakan bukti bahwa penyelesaian masalah melalui kekerasan hanya mengakibatkan korban warga yang tidak bersalah.

Pemerintah juga menekankan kembali, penyelesaian secara damai melalui diplomasi dan perundingan merupakan jalan terbaik. Maka, Indonesia mendesak agar semua pihak segera menghentikan aksi kekerasan dan agar jeda kemanusiaan segera diterapkan. Tujuannya, agar warga sipil termasuk warga negara asing dapat segera keluar dari Yaman, serta bantuan kemanusiaan dapat masuk ke Yaman.

Pemerintah Indonesia meminta agar semua pihak yang bertikai menghormati aturan dan hukum internasional, khususnya menyangkut perlindungan warga sipil, termasuk berbagai resolusi PBB terkait. Kementerian Luar Negeri telah menginstruksikan KBRI dan tim evakuasi di Sana’a, untuk segera mengambil langkah yang diperlukan, guna mengamankan keselamatan warga Indonesia yang berada di sana.

Dua staf diplomat dan seorang WNI yang terluka telah mendapatkan pertolongan dan bersama seluruh WNI lainnya sudah dievakuasi ke Wisma Duta di Sana’a, untuk segera berupaya menuju ke Al Hudaidah. Sejak dilakukan evakuasi intensif, Pemerintah telah mengevakuasi 1.981 WNI keluar dari Yaman sejak Desember 2014. Sampai sekarang sudah 1.973 WNI tiba di Indonesia. Sebagian dari Tim Evakuasi dari Jakarta saat ini masih berada di beberapa wilayah di Yaman.

Insiden pengeboman ini terjadi ketika Indonesia sedang sibuk sebagai tuan rumah peringatan 60 tahun KAA (Konferensi Asia Afrika) di Bandung. KAA 1955 di Bandung itu memang merupakan peristiwa bersejarah, yang menandai kebangkitan dan kemerdekaan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika, lepas dari belenggu penjajahan. Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno waktu itu turut memainkan peran kunci dalam pemerdekaan bangsa-bangsa Asia dan Afrika.

Insiden pengeboman yang berimbas ke gedung KBRI Sana’a seolah-olah menggarisbawahi bahwa Indonesia saat ini, di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo, juga tidak bisa berlepas diri atau terisolasi dari dinamika yang terjadi di Asia–Afrika. Indonesia punya hubungan yang tidak bermusuhan dengan semua pihak yang bersengketa di Yaman.

Mereka yang terlibat konflik adalah: Arab Saudi (dengan negara-negara Arab koalisinya); pemerintah Yaman yang didukung Saudi; kubu perlawanan Houthi yang penganut Syiah dan dituding didukung Iran; serta Iran sendiri, yang sejauh ini tidak terlihat campur tangan langsung dengan konflik di Yaman.

Indonesia sebagai negara besar dengan 250 juta penduduk, yang mayoritas Muslim, diharapkan bisa berperan sebagai penengah untuk mendorong terwujudnya perdamaian atau negosiasi damai dalam krisis Yaman. Krisis itu selain bermula dari konfik-konflik internal, yang merupakan urusan dalam negeri Yaman, dipandang juga terimbas oleh persaingan pengaruh antara dua kekuatan regional: Arab Saudi dan Iran.

Saudi merasa terancam oleh Iran, yang dianggap makin kuat pengaruhnya di kawasan Timur Tengah, khususnya di Suriah, Irak, Lebanon, dan kini Yaman. Indonesia sebaiknya tidak terlibat dalam pemihakan kepada kubu manapun, yang tidak akan menguntungkan posisi Indonesia di Timur Tengah.

Oleh karena itu, pernyataan sejumlah ormas Islam yang beberapa waktu lalu menyatakan dukungan pada serangan Saudi terhadap kelompok Houthi di Yaman, adalah sesuatu kekeliruan naïf yang patut disesalkan. Pernyataan itu juga tidak menunjukkan pemahaman utuh terhadap hakikat konflik di Yaman.

Pernyataan dukungan itu diumumkan sebelum terjadi insiden pengeboman KBRI Sana’a. Kini sesudah terjadi pengeboman, semakin terlihat betapa kelirunya pernyataan simplistis yang terkesan berpihak dan tidak mendorong ke arah perdamaian itu.
Maka dalam momen peringatan KAA di Bandung saat ini, sepatutnya pemerintahan Presiden Jokowi segera merumuskan langkah-langkah konkret, bagi keterlibatan aktif dan positif Indonesia di kawasan bergolak tersebut, berlandaskan kepentingan nasional.

Indonesia dan ormas-ormas Islam di Tanah Air jangan mudah diombang-ambingkan, atau terseret arus ke pemihakan kubu ini dan kubu itu, dalam konflik yang rumit dan berlarut-larut di Timur Tengah. Arah konflik di kawasan itu biasanya cepat berubah, seperti pergeseran bukit-bukit pasir akibat badai di gurun sana. Maka sekali lagi, kepentingan nasional RI harus menjadi landasan dalam setiap pengambilan tindakan.

Depok, 23 April 2015
e-mail: arismunandar.satrio@gmail.com
(Ditulis untuk Aktual.co)

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI