ISIS, Persenjataan Ringan, dan Taktik Tempurnya

Oleh: Satrio Arismunandar

Kelompok ekstrem Negara Islam di Irak dan Suriah alias ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) betul-betul sudah menjadi momok dan mimpi buruk di Timur Tengah. Memiliki pejuang yang militan, menguasai persenjataan yang cukup lengkap, dan telah menduduki wilayah yang cukup luas di Irak dan Suriah, maka ISIS sudah seperti sebuah negara tersendiri.

Pasukan pemerintak Irak yang didukung oleh milisi Muslim Syiah dan suku-suku Muslim Sunni pada awal Maret 2015 melancarkan ofensif untuk merebut kembali kota Tikrit, yang dikuasai oleh ISIS. Merebut Tikrit, kota kampung halaman mantan Presiden Irak Saddam Hussein ini, adalah langkah pertama pemerintah, untuk merebut kembali kota terbesar kedua di Irak, Mosul, yang dikuasai ISIS sejak Juni 2014.

Sekitar 30.000 pasukan pemerintah Irak, milisi Syiah, dan suku-suku Sunni melancarkan ofensif terbesar di Irak, sejak ISIS menyerbu dan menguasai sebagian besar wilayah Irak utara, tahun 2014. ISIS kini menguasai sekitar sepertiga wilayah Irak dan sebagian wilayah Suriah, dan telah mendeklarasikan berdirinya “Kekhalifahan Islam” di wilayah yang sudah dikuasai.

Banyak negara di Timur Tengah kalang kabut dengan kehadiran ISIS yang fenomenal. Bahkan Amerika Serikat seperti gamang, melihat ISIS yang dalam waktu singkat kini sudah menjadi seperti negara tersendiri tersebut. Kegamangan AS ini disebabkan kekeliruan dalam membaca dan merumuskan apa itu ISIS. Presiden AS Barack Obama pada September 2014 mengatakan, “ISIS adalah organisasi teroris.” Namun Obama keliru. Meski ISIS sering menggunakan taktik-taktik teror, ISIS sama sekali berbeda dengan deskripsi umum tentang organisasi teroris.

ISIS sebagai Negara-Semu

Al-Qaeda, yang sering disebut sebagai organisasi teroris oleh AS, hanya memiliki puluhan atau ratusan anggota. Al-Qaeda menyerang warga sipil, tidak menguasai wilayah tertentu, dan tidak sanggup berhadapan langsung melawan pasukan militer.

Sebaliknya, ISIS mengaku telah memiliki 30.000 pejuang, menguasai wilayah yang luas di Irak dan Suriah, memiliki kemampuan militer yang meluas, mengontrol jalur-jalur komunikasi, mengomandoi infrastruktur, mampu mendanai diri sendiri, dan terlibat dalam operasi-operasi militer yang canggih.

Maka dengan kapasitas itu, ISIS mungkin sudah layak disebut sebagai negara-semu (pseudo-state) yang dipimpin oleh sebuah militer konvensional. Itulah sebabnya, strategi-strategi kontra-terorisme dan kontra-insurgensi (counterinsurgency) --yang sukses meredam Al-Qaeda-- tidak akan mempan melawan ISIS. Sesudah memahami hakikat ISIS sebagai sebuah kekuatan militer, kita kini akan membahas persenjataannya.

Banyak perhatian diberikan terhadap persenjataan berat yang digunakan ISIS, yang merupakan hasil rampasan perang sesudah menaklukkan musuh-musuhnya. Seperti kendaraan lapis baja, tank, Humvee, meriam, bahkan pesawat tempur. Namun yang kurang diperhatikan adalah senjata kecil, seperti senapan serbu dan pistol, yang diperlukan oleh setiap prajurit dan secara reguler digunakan.

“Sebuah Humvee Amerika mungkin bagus untuk pertunjukan, untuk propaganda. Namun yang menarik adalah mengetahui dengan apa mereka sebenarnya bertempur,” ujar Damien Spleeters, peneliti lapangan dari Conflict Armament Research. Ini adalah sebuah perusahaan berbasis di Inggris yang melacak senjata-senjata di zona-zona konflik. “Senjata-senjata kecil memang kurang seksi, namun saya percaya senjata-senjata itu sangat penting,” lanjut Spleeters.

Spleeters dan koleganya masuk ke Suriah pada Juli 2014 untuk melacak beberapa senjata ringan ini. Dalam membuat analisis, mereka mengandalkan pada tumpukan stok senjata yang dirampas dari ISIS oleh pejuang-pejuang yang menjadi lawannya. Ini menandai pertama kalinya para pakar independen mampu mendokumentasikan senjata-senjata yang digunakan ISIS, langsung dari tangan pertama.

Senapan Serbu Andalan ISIS

Senjata infantri utama ISIS adalah senapan serbu AK-47 dengan berbagai variannya. Ini sebenarnya bukan hal yang mengejutkan. AK-47 yang buatan Rusia ini banyak tersedia di Suriah dan negara-negara tetangganya, seperti Irak, Yordania, Mesir, dan Palestina/Israel. Bisa dibilang, AK-47 adalah senjata yang paling banyak digunakan oleh kelompok-kelompok perlawanan di banyak bagian dunia, karena senapan AK-47 ini bandel, tidak butuh perawatan yang rumit, cocok untuk medan perang yang berat seperti gurun pasir, meski bobotnya agak berat.

“Kalau jatuh ke air rawa, ketika diangkat lagi, AK-47 masih bisa ditembakkan. Sedangkan kalau senapan M16 yang buatan Amerika jatuh ke rawa, pasti macet,” ujar seorang petugas keamanan Indonesia, yang berpengalaman menggunakan AK-47 di daerah konflik di Papua.

ISIS memiliki uang kontan yang cukup untuk memperoleh model-model yang andal dan modern, bahkan ketika harga senjata dan amunisinya sudah meningkat. ISIS juga memiliki sistem pelatihan yang diperhatikan dengan baik, dan fokus pada pejuang-pejuang berpengalaman.

Sementara AK-47 punya reputasi sebagai senjata pasukan yang abai pada perawatan dan tidak terlatih, senjata itu bisa menjadi jauh lebih efektif di tangan pejuang-pejuang berpengalaman, dengan pemahaman pada taktik-taktik infantri modern. Manakala dilengkapi dengan berbagai senjata ringan lain, termasuk RPG, roket, dan mortir ringan, sebuah tim ISIS yang dilengkapi AK-47 dapat bertempur dengan alot, baik dalam posisi menyerang maupun bertahan. Dengan berfokus pada AK-47 yang banyak digunakan di mana-mana, serta amunisinya juga mudah diperoleh, ISIS juga dapat mengurangi masalah komplikasi logistik.

Melintasi Berbagai Front

Walau ukuran sampelnya terbatas, hasil temuan Spleeters menunjukkan, ISIS tampaknya sudah menggunakan senjata-senjata yang ia rampas di Irak, sehingga berdampak besar dalam pertempuran. Begitu juga dengan di Suriah, yang tetap menjadi basis perlawanan ISIS. Selain itu, ISIS dengan cepat dan efektif dapat memindahkan senjata antara kedua negara itu dan melintasi berbagai front.

Sesudah kemunculannya yang mengejutkan di Irak, ISIS dengan cepat memindahkan banyak dari senjata baru yang diperolehnya di Irak ke wilayah Suriah, di mana ISIS terlibat dalam konflik melawan beragam musuh –mulai dari kelompok pemberontak saingannya, milisi Kurdi, dan dalam tingkatan yang jauh lebih rendah, pasukan pemerintah Suriah. Walaupun pemerintah Obama mengatakan, pihaknya mempertimbangkan serangan udara terhadap posisi ISIS di Suriah di mana banyak para pemimpin ISIS berbasis, kampanye militer AS terhadap ISIS sejauh ini lebih banyak terkungkung di wilayah Irak.

Dari 17 senjata yang didokumentasikan Spleeters dan koleganya di Suriah, enam senjata adalah buatan Amerika. Dari enam senjata itu, lima senjata tampaknya berasal dari stok senjata yang dirampas oleh ISIS di Irak. Senjata itu semula telah diberikan oleh AS kepada pasukan Irak. Pemberian senjata itu adalah bagian dari program bernilai miliaran dollar AS, yang mencakup juga pelatihan untuk militer Irak.

Tim Spleeters ini juga memperoleh temuan penting lain. Yakni, ISIS memiliki roket-roket anti-tank yang kuat buatan bekas Yugoslavia. Roket itu adalah tipe M79 90mm HEAT (High-Explosive Anti-Tank). Tim Spleeters mendokumentasikan dua roket yang direbut dari ISIS oleh pejuang-pejuang suku Kurdi di Suriah.

Roket-roket semacam itu dilaporkan telah diberikan oleh Arab Saudi kepada kelompok pemberontak Suriah, yang beraliansi dengan Amerika pada 2013. Arab Saudi adalah sekutu Amerika dan pendukung utama pemberontakan melawan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad, dengan mendompleng isu gerakan reformasi dan demokratisasi yang meluas di negara-negara Arab lain, yang populer dengan sebutan Musim Semi Arab (Arab Spring).

Senjata-senjata Buatan Amerika

Ketika perang saudara antara pendukung Bashar al-Assad melawan kelompok pemberontak yang didukung pihak asing berkecamuk di Suriah, AS menolak mengizinkan pemberian dukungan militer yang signifikan kepada kaum pemberontak moderat dalam bentuk pemberian senjata-senjata berat. AS sering menyatakan, senjata-senjata berat seperti itu mungkin akan jatuh ke tangan kelompok ekstrem.

Kemudian terbukti, sejumlah senjata berat jatuh ke tangan ISIS. Tetapi tulisan ini akan lebih terfokus pada senjata-senjata ringan. Senjata-senjata ISIS yang berhasil ditemukan tim Spleeters, antara lain, senapan serbu M16A4 buatan Amerika. Senjata itu direbut dari militan ISIS dekat kota Kobani di Suriah utara. ISIS tampaknya memperoleh senapan serbu ini dari pasukan Irak yang ditaklukkannya pada Juni 2014.

Ditemukannya senjata itu di Suriah menunjukkan “fluiditas logistik” atau lalu-lintas persenjataan yang mudah dilakukan di perlintasan medan-medan tempur ISIS di Suriah dan Irak. Sejumlah senjata M16A4 lainnya diperoleh dari ISIS di pegunungan Sinjar, Irak utara. Usaha ISIS, untuk membantai populasi penganut agama minoritas Yazidi di sekitar pegunungan Sinjar, telah mendorong AS untuk melancarkan kampanye serangan udara terhadap kubu-kubu ISIS di wilayah bersangkutan.

Tim Spleeters juga menemukan hal yang aneh di antara senjata-senjata yang digunakan ISIS. Yakni, ditemukannya senapan semi-otomatis yang dibuat oleh Bushmaster Firearms International, perusahaan pembuat senjata AS yang dikenal baik. Senjata itu adalah senapan semi-otomatis XM15-E2S 5.56 × 45mm. Desain semi-otomatis itu mengisyaratkan, senapan yang digunakan ISIS itu dibeli dari pasar sipil, sehingga membuat semakin tidak jelas dari mana sebenarnya senapan itu diperoleh.

Taktik Tempur ISIS

Selama tahun 2014, ISIS telah mencetak sejumlah kemenangan dalam pertempuran melawan pasukan Irak, Kurdi, dan Suriah. ISIS memperoleh sukses meski kurang memiliki akses terhadap persenjataan berat yang biasa digunakan lawan-lawannya. Persenjataan berat yang diperoleh ISIS sebagian besar berasal dari “perolehan perang,” yakni mencomot senjata-senjata yang ditinggalkan oleh lawan-lawannya yang dikalahkan.

ISIS bisa menang dengan mengeksploitasi kerapuhan-kerapuhan para musuh-musuhnya, yang mengambil bentuk organisasi militer Barat, namun kurang memiliki disiplin dalam pertempuran dan komunikasi. Hal ini memungkinkan ISIS mengidentifikasi, dalam aspek taktis maupun operasional, titik-titik lemah yang dapat menyebabkan keseluruhan posisi lawan dibenturkan pada dirinya sendiri.

Pada esensinya, ISIS memiliki bentuk operasional yang mengizinkan komandan-komandan yang terdesentralisasi untuk memanfaatkan pejuang-pejuang berpengalaman mereka, untuk menghantam titik-titik kelemahan para musuhnya. Pada saat yang sama, pusat tetap memegang cukup kontrol operasional untuk menyelenggarakan perencanaan jangka menengah-ke-jangka panjang, tentang bagaimana mengalokasikan pasukan, logistik, dan penguatan (reinforcements).

ISIS tidak pilih-pilih dalam penggunaan senjata-senjata itu. Kelompok militan ini bertempur dengan senjata apa saja yang bisa ia temukan. Bagaimanapun, beberapa sistem persenjataan telah menjadi ciri umum bagi satuan-satuan tempur ISIS. Biasanya, senjata itu bersifat mobile, mudah digunakan, dan mudah perawatannya.

Dari uraian ini, kita mendapat gambaran singkat bagaimana kelompok ekstrem ISIS bisa berjaya di banyak medan pertempuran, dengan taktik tempur yang khas dan persenjataan yang dimilikinya. Kini ISIS di Irak menghadapi ujian lebih lanjut, bagaimana ia bisa bertahan menghadapi serangan pasukan pemerintah Irak, yang sudah lebih terkoordinasi dan dirancang secara cermat. Bahkan dikabarkan, pasukan Irak juga didukung oleh penasihat-penasihat militer dari Iran. Kita lihat saja nanti perkembangannya. ***

April 2015
Ditulis untuk Majalah Defender

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI