Melawan ISIS, Irak Perbarui Alutsistanya

Oleh: Satrio Arismunandar

Militer Irak, yang tercerai berai sejak invasi pasukan Amerika dan sekutunya tahun 2003, kini pelan-pelan mulai dibangun kembali dengan pembelian alat utama sistem persenjataan baru. Pembaruan alutsista ini juga dibayangi ancaman kelompok militan ISIS (Negara Islam di Irak dan Suriah), yang saat ini sudah bercokol kuat di wilayah Irak.

Irak di zaman pemerintahan Presiden Saddam Hussein pernah menjadi kekuatan militer yang disegani di Timur Tengah. Namun, persaingan dan perseteruan dalam politik Irak, yang mengikuti garis agama dan etnis –terutama antara Muslim Sunni, Syiah, dan Kurdi—membuat pemerintahan tidak stabil. Namun, jika berbagai kelompok politik Irak betul-betul bersatu, bukan tak mungkin militer Irak bisa bangkit kembali dan disegani seperti dulu.

Salah satu unsur untuk memperkuat militer Irak adalah penambahan dan pembaruan alutsista. Pertempuran antara angkatan bersenjata Irak melawan kelompok militan ISIS telah mendorong pembelian senjata besar-besaran, termasuk pesawat tempur, helikopter penyerang, dan rudal yang dipandu laser.

Pemerintah Amerika Serikat pada Desember 2014 telah menyetujui penjualan senjata ke Irak dengan nilai 15 miliar dollar AS, atau hampir tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. Angka ini menjanjikan lapangan kerja yang sangat dibutuhkan oleh pabrik-pabrik senjata AS, yang sedang kekurangan pesanan.

Irak juga ingin tambahan 175 tank M1 Abrams, dengan amunisi, suku cadang, dan wahana pendukung, yang akan menuntut biaya sekitar 2,4 miliar dollar AS. Pesanan Irak menjadi angin segar, ketika General Dynamics dengan keras berusaha melobi Pentagon agar membeli tambahan tank Abrams, supaya pabrik-pabrik General dynamics tetap aktif di Lima, Ohio. Sedangkan pimpinan Angkatan Darat AS mengatakan, selama beberapa tahun ke depan, mereka tidak membutuhkan tank-tank baru atau pun versi penyempurnaan.

Timur Tengah dan Afrika Utara telah menjadi salah satu pasar terpenting bagi ekspor senjata. Konsultan Avascent memperkirakan, ada kebutuhan persenjataan senilai sekitar 100 miliar dollar AS untuk periode lima tahun mendatang. Menurut International Institute for Strategic Studies, Irak membelanjakan 16,9 miliar dollar AS untuk sektor pertahanan pada 2013, dan sepertiga dari angka itu adalah untuk pembelian senjata.

Penundaan Pengiriman Senjata

Senjata-senjata yang dipesan Irak dari AS dan negara-negara lain sebetulnya masih kalah dari pesanan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Namun, fokus Irak pada senjata-senjata berbasis-darat, seperti Humvee yang dipasangi senapan mesin, dapat diserahkan secara relatif cepat. Sehingga, dari sudut pandang pelaku industri senjata, Irak menjadi pelanggan kunci yang bisa terus menghidupkan napas pabrik-pabrik senjata. Irak telah memesan tambahan 1.000 Humvee.

AS telah mempercepat pengiriman rudal-rudal Hellfire buatan Lockheed Martin Corp karena situasi mendesak, berupa pertempuran militer Irak melawan pasukan ISIS. Namun dari pihak AS, penjualan senjata ke Irak untuk jangka panjang menimbulkan tanda tanya, karena situasi Irak dianggap tidak stabil. Ada juga kalangan di AS yang meminta adanya jaminan, agar senjata-senjata canggih itu tidak sampai jatuh ke tangan yang salah. Kedekatan antara Irak, yang kini dipimpin tokoh-tokoh Syiah, dengan Iran, menjadi catatan tersendiri. Keprihatinan itu menyebabkan penundaan pengiriman senjata ke Irak.

Lockheed Martin bertindak pada Juni 2014, untuk menyerahkan kiriman pertama dari 36 pesawat F-16 yang sudah disepakati, berdasarkan kontrak dengan Irak senilai 3,6 miliar dollar AS yang diperantarai Angkatan Udara AS. Namun situasi keamanan yang merosot di Irak menyebabkan Angkatan Udara AS menahan pesawat-pesawat itu di AS, dan melatih pilot-pilot Irak menggunakan pesawat itu di Arizona. Walaupun Lockheed telah mengatakan, pihaknya baru akan dibayar jika pesawat-pesawat F-16 itu sudah diserahkan ke Irak.

Hal-hal semacam itu menimbulkan kejengkelan di pihak Irak. Irak jelas tidak mau tergantung hanya pada segelintir pemasok senjata. Kebijakan diversifikasi sumber pasokan senjata juga ditunjukkan secara nyata oleh negara Arab, seperti Arab Saudi, Mesir, dan Uni Emirat Arab. Maka Irak juga membuka diri pada pasokan senjata dari pemasok tradisional: Rusia.

Sejak era Saddam Hussein, militer Irak sudah sangat terbiasa dengan senjata-senjata buatan Rusia (dulu Uni Soviet). Irak telah memesan pesawat-pesawat tempur dan helikopter penyerang ke Rusia berdasarkan kesepakatan 2008, yang bernilai sekitar 4 miliar dollar AS. Rusia kini adalah pemasok senjata nomor dua terbesar bagi Irak, sesudah AS. Irak juga menggandeng Korea Selatan dan Republik Ceko, serta negara-negara lain, untuk memodernisasi militernya.

Helikopter penyerang

Pada Oktober 2012, Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki menandatangani kesepakatan dengan Rosoboronexport untuk membeli persenjataan dari Rusia, dengan nilai transaksi sekitar 4,2 miliar dollar AS. Yang dipesan Irak antara lain: 28 helikopter penyerang Mi-35 dan 15 helikopter penyerang Mi-28NE, ditambah 42 sampai 50 sistem pertahanan udara ketinggian rendah SA-22 Pantsir.

Rancangan Mi-28NE yang dipersenjatai berat lebih mirip dengan helikopter tempur Amerika, AH-64 Apache. Mi-28NE juga memiliki kemampuan untuk beroperasi pada siang dan malam hari. Sedangkan Mi-35M adalah varian yang lebih modern dari Mi-24 Hind, yang pernah dimiliki Irak di era Saddam Hussein. Mi-35 juga merupakan helikopter penyerang yang berukuran jauh lebih besar, dengan ruang internal yang bisa mengangkut 4-6 prajurit. Maka Mi-35 ini adalah opsi yang sangat baik untuk misi-misi pasukan khusus.

Pemerintah AS dilaporkan sempat menawarkan helikopter penyerang AH-1Z, dan akhirnya menawarkan AH-64D/E kepada Irak. Namun, saat itu Irak sudah memesan Mi-28 dan Mi-35 dari Rusia, sehingga Irak menolak memesan helikopter AS ini.

Sedangkan SA-22 Pantsir dirancang untuk pertahanan udara ketinggian rendah yang mobile, yang mengkombinasikan kanon 30 mm kembar dengan 12 rudal 57E6 yang dipandu radar. SA-22 bisa menjangkau jarak 12 km, dan ketinggian sampai 10.000 m. Sensor-sensor yang dimilikinya termasuk radar penjejak dan penentu sasaran, dengan sistem elektro-optik untuk pemindaian pasif.

SA-22 ini tidak cukup memadai untuk menghadapi musuh, yang menggunakan bom presisi dari ketinggian yang di luar jangkauan, namun sudah cukup ampuh untuk menangkal setiap ancaman yang datang dari Iran atau Suriah. Titik lemah SA-22 adalah penggunaan tuntunan komando radio (radio command guidance, RCG) dari peluncur, yang berarti bahwa serangan-serangannya dapat diredam dengan cara jamming secara elektronik, atau dengan mematikan peluncur.

Pesawat Su-25 Frogfoot

Sempat ada juga diskusi di kalangan pers tentang kemungkinan opsi penambahan, berupa pesawat tempur multiperan MiG-29M2 dan sejumlah kendaraan lapis baja. Krisis di Irak juga menjurus ke pembelian secara terbatas sejumlah pesawat dukungan serangan udara Su-25 Frogfoot. Su-25 ini bukan pesawat bikinan baru, yang membutuhkan waktu lama untuk penyerahannya ke militer Irak, tetapi pesawat bekas pakai yang diperbarui. Militer Irak butuh pesawat yang bisa segera dioperasikan untuk cepat menangkal gerak maju militan ISIS.

Pengiriman 5 pesawat Su-25 bekas dari Rusia, bersama para penasehat Rusia, tiba di Irak pada Juni 2014. Sebanyak 7 Su-25 lain datang dari Iran, yang mulai menggunakannya ketika Su-25 Irak dilarikan ke Iran, untuk menghindari serangan pasukan koalisi pimpinan AS, pada Perang Teluk 1991. Su-25 merupakan tandingan Soviet terhadap pesawat A-10 buatan Amerika, jet bersenjata berat untuk misi dukungan udara , yang dirancang untuk bertahan di atas medan tempur dan menjatuhkan bom atau senjata lain secara akurat pada kecepatan rendah.

Pada akhir Oktober 2014, Irak telah menerima kiriman sejumlah helikopter MI-28NE, namun perlu waktu dan persiapan sebelum peralatan canggih ini bisa digunakan. Dengan jajaran helikopter ini, militer Irak merencanakan serangan-serangan kejutan ke kubu ISIS. Sudah muncul berbagai prediksi bahwa militer Syiah Irak akan melancarkan serangan ke kubu-kubu ISIS pada musim semi 2015. Namun, untuk mengusir ISIS dari wilayah luas yang sekarang dikuasainya di antara Aleppo (Suriah) dan Baghdad (Irak) menuntut lebih dari sekadar serangan-serangan udara.

Selain itu, ditembak jatuhnya helikopter penyerang tipe Mi-35M dan IA-407 milik Irak oleh pasukan ISIS pada 8 Oktober 2014 membuktikan, pasukan ISIS itu cukup terlatih dan dipersenjatai dengan baik. Militer Irak bukanlah satu-satunya pasukan yang diperlengkapi dengan rudal antipesawat portabel, yang bisa diluncurkan dari bahu. Helikopter secara inheren memang sangat rawan menghadapi rudal semacam itu. Pasukan Soviet sudah membuktikan hal ini ketika melawan gerilyawan mujahidin di Afganistan.

Dari berbagai paparan di atas, dapat dikatakan bahwa pembangunan militer Irak dan pembaruan serta modernisasi alutsistanya merupakan persoalan krusial. Hal ini terutama karena sudah hadir ancaman nyata, khususnya kehadiran pasukan ekstrem ISIS yang sudah menguasai cukup luas wilayah Irak yang berbatasan dengan Suriah. Namun, mengusir ISIS dari wilayah Irak butuh lebih dari sekadar kecanggihan alutsista. Militansi pasukan Irak sendiri perlu ditingkatkan, dan mereka tidak boleh terpecah belah oleh garis agama dan etnis, sesuatu yang sering terjadi di dunia politik.

Faktor lain yang penting adalah soal anggaran atau kemampuan pembiayaan. Anjloknya harga minyak dunia juga berdampak besar pada kemampuan Irak untuk membiayai impor persenjataan di masa depan. Irak mengandalkan pada penjualan energi untuk 90 persen dari pendapatan anggarannya. Pembelanjaan pemerintah Irak juga terpukul oleh turunnya harga minyak, dan hal itu juga berdampak langsung pada kemampuan Irak untuk menangkal dan memukul mundur pasukan militan ISIS. ***

April 2015
Ditulis untuk Majalah Defender

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)