Mengusir Militan ISIS dari Tikrit

Redaktur Senior Aktual, Satrio Arismunandar, melakukan liputan jurnalistik ke Irak sejak 20 Februari hingga 5 Maret 2015. Selama sekitar dua minggu, ia mencoba mengurai konflik di Irak menyangkut kelompok ekstrem ISIS. Berikut ini laporannya.

Awal Maret 2015 adalah babak baru dalam pertarungan antara pasukan pemerintah Irak, yang didukung milisi Muslim Syiah dan sebagian suku-suku Muslim Sunni, melawan kelompok ekstrem Daesh. Daesh adalah singkatan bahasa Arab untuk Negara Islam di Irak dan Suriah atau ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Pasukan Irak dan milisi pendukungnya kini berusaha merebut kembali kota Tikrit yang dikuasai ISIS, sebagai langkah awal ke arah Mosul, di Irak utara.

Pejabat Irak menyatakan, serangan pasukan darat secara masif ke basis ISIS di Tikrit ini didukung oleh sejumlah helikopter dan pesawat tempur. Namun, pesawat tempur Amerika Serikat tampaknya tidak terlibat dalam serangan ini, padahal serangan udara yang gencar terbukti cukup ampuh untuk melemahkan posisi militan ISIS di berbagai wilayah. Pihak AS menjelaskan, dalam serangan ke Tikrit, pemerintah Irak memang tidak meminta dukungan serangan udara dari AS. Pasukan koalisi yang dipimpin AS juga tidak ikut campur dalam pertempuran.

Sekitar 30.000 pasukan pemerintah Irak, milisi Syiah, dan suku-suku Sunni kini melancarkan ofensif terbesar di Irak, sejak ISIS menyerbu dan menguasai sebagian besar wilayah Irak utara, termasuk kota nomor dua terbesar Mosul, Juni 2014. ISIS kini menguasai sekitar sepertiga wilayah Irak dan sebagian wilayah Suriah, negara Arab yang bertetangga dengan Irak. ISIS pun telah mendeklarasikan berdirinya “Kekhalifahan Islam” di wilayah yang sudah dikuasai.

Pada hari ketiga penyerbuan, gerak maju pasukan pemerintah dan sekutu-sekutunya melambat karena kelompok ISIS mengerahkan penembak jitu dan memasang berbagai jebakan. Para prajurit pemerintah, misalnya, menemukan sekitar 100 ranjau dan bom-bom yang disebarkan dalam rentang 7,5 km, pada jalan menuju kota strategis di sisi Sungai Tigris itu. Kelompok ISIS menyebar ranjau-ranjau di berbagai jalan utama menuju Tikrit, dan hambatan ini menuntut operasi pembersihan ranjau yang sangat memakan waktu.

Harus Menunggu Pakar Bom

“Bom-bom itu merupakan penghambat utama bagi gerak maju pasukan penyerang, yang harus menunggu pakar bom untuk menjinakkan bom, atau harus bergerak melambung dan menghindari kawasan itu. Dan ini memakan waktu,” ujar Wakil Gubernur Salahuddin, Ammar Hikmat, pada 3 Maret 2015.

Penemuan itu menggarisbawahi bagaimana pertempuran untuk merebut kota Tikrit akan menjadi sangat vital, dan menjadi ujian bagi kemampuan pasukan Irak untuk menghadapi senjata-senjata semacam itu. Kota Tikrit, kampung halaman almarhum Presiden Saddam Hussein, pernah menjadi basis kelompok Al-Qaeda di Irak –pendahulu ISIS—ketika mereka memerangi pasukan Amerika, yang menduduki negeri itu sesudah invasi 2003 ke Irak.

Aksi-aksi bom bunuh diri juga membantu kelompok militan ISIS dalam melemahkan pasukan Irak. Dalam rilis yang disiarkan ISIS, ditunjukkan gambar seseorang yang disebut sebagai warga negara Amerika bernama Abu Dawood al-Amriki. Abu Dawood diklaim telah meledakkan dirinya dalam serangan bunuh diri dengan truk berisi bom. Truk itu diarahkan terhadap pasukan Irak dan milisi Syiah di pinggiran kota Samarra, Irak. Taktik bom bunuh diri semacam ini telah digunakan ISIS secara meluas dalam kampanye yang gagal untuk menguasai Kobani, kota perbatasan Suriah.

Seorang pelaku bom bunuh diri juga mengendarai sebuah kendaraan militer pada siang hari, 3 Maret 2015, dan menghantamkan kendaraan berisi bom itu ke sebuah pos pemeriksaan yang dijaga pasukan pemerintah dan pejuang Syiah di selatan Tikrit. Akibatnya, empat prajurit tewas dan 12 lainnya luka-luka.

ISIS merebut Tikrit pada Juni 2014, dan membantai lebih dari 1.000 prajurit pemerintah Irak. Dikabarkan, militan ISIS waktu itu mendapat dukungan dari banyak suku Sunni setempat yang kuat. Para anggota suku-suku Sunni itu kini ditawari amnesti oleh pemerintah Irak, tentunya jika mereka mau mendukung pemerintah dan tidak lagi mendukung ISIS.

Persekutuan yang Tidak Biasa

Serangan besar-besaran ke Tikrit ini juga terwujud melalui persekutuan yang tidak biasa. Serangan gabungan ini menjembatani perbedaan antara milisi Syiah Irak yang didukung Iran dan suku-suku Sunni Irak. Kedua kelompok ini bergabung dengan pasukan pemerintah Irak, yang di dalamnya juga terdapat prajurit Syiah dan Sunni, dan secara bersama-sama melancarkan operasi militer untuk merebut kembali Tikrit dari tangan ISIS.

Penyerangan dengan melibatkan tiga sekutu ini memang tidak mudah, sehingga ada kesan serangan ini lebih dilakukan oleh kumpulan tentara lepas ketimbang oleh sebuah militer nasional yang berdisiplin tinggi. Jika koalisi pasukan pemerintah Irak, milisi Syiah, dan suku-suku Sunni ini gagal merebut Tikrit, hal itu akan memperlambat rencana untuk merebut kembali Mosul.

Pejabat-pejabat militer AS mengatakan, sebuah misi militer terkoordinasi untuk merebut kembali Mosul tampaknya akan dimulai pada April atau Mei 2015, dan melibatkan hingga 25.000 tentara Irak. Namun pihak AS mengingatkan, jika pihak Irak tidak siap, ofensif itu mungkin akan ditunda.

Tidak adanya keterlibatan langsung militer AS dalam serangan ke Tikrit tampaknya berkaitan dengan ketegangan hubungan antara Baghdad dan Washington. Seorang pembantu Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi, Ali al-Alaa mengungkapkan, para pejabat di Baghdad merasa terganggu karena para pejabat AS terus menunda-nunda tanpa alasan yang jelas, tentang waktu yang diperlukan untuk membebaskan negeri itu dari ISIS. “Irak akan membebaskan Mosul dan Anbar tanpa bantuan mereka!” tegas Ali al-Alaa.

Terdapat rasa frustrasi di Baghdad, sesudah pejabat-pejabat militer AS yang tak disebut namanya mengubah pernyataan tentang waktu serangan ke Mosul. Semula pejabat militer AS mengatakan, pertempuran untuk merebut kembali Mosul akan dimulai pada musim semi. Namun, hanya dalam waktu beberapa minggu, pejabat AS sudah berubah pendapat dan mengatakan, pasukan Irak tidak akan siap melancarkan operasi darat tersebut sampai musim gugur.

Juga terdapat rasa was-was yang meningkat di antara sejumlah anggota parlemen Irak bahwa militer AS telah beroperasi terlalu bebas di Irak. Hal ini membuat PM al-Abadi sampai mendesak anggota-anggota parlemen yang banyak menggerutu tersebut, untuk mengadakan pemungutan suara dan memutuskan secara tuntas, apakah Irak betul-betul siap menolak dukungan AS.

Tidak Mengorbankan Kedaulatan

Al-Abadi mengatakan pada sekelompok anggota parlemen, yang merasa keberatan dengan kehadiran militer AS yang terus berlanjut itu, bahwa intervensi koalisi yang dipimpin AS di Irak datang melalui adanya permintaan resmi yang diserahkan ke PBB. Permintaan itu dilakukan oleh pemerintah Irak sebelumnya, yang menuntut perlindungan sesudah terjadinya invasi militan ISIS.

Abadi memberi jaminan pada anggota-anggota parlemen yang resah itu bahwa kedaulatan Irak tidak akan dikorbankan untuk operasi-operasi pasukan koalisi yang dipimpin AS. “Wakil Presiden (Amerika Joe) Biden telah menekankan dalam pertemuan kami di Munich, tentang komitmen Washington untuk menjaga kedaulatan Irak,” ujarnya.

Di sisi lain, AS juga menyimpan keprihatinan tersendiri terkait dengan ketergantungan Irak yang besar terhadap para pejuang Syiah yang didukung Iran, dalam serangan ke Tikrit. Jumlah milisi Syiah diperkirakan mencapai dua pertiga dari 30.000 pasukan yang melakukan ofensif ke Tikrit.

Direktur Intelijen Nasional AS, James Clapper mengakui, Teheran memiliki komitmen yang sangat besar terhadap pertempuran di Tikrit dan telah menempatkan orang-orangnya di sana dalam kapasitas sebagai penasihat. “Mereka telah membawa sejumlah besar persenjataan ,” tegas Clapper.

Mantan Deputi Direktur CIA Michael Morrel mengakui, Iran dan para prajurit proksinya (proxy soldiers) di dalam Irak telah memberi peluang terbaik untuk mengalahkan ISIS. Namun, keterlibatan Iran itu juga menimbulkan beberapa konsekuensi serius. “Ada risiko nyata bahwa dalam jangka panjang kita dapat mengalahkan ISIS di Irak. Namun, (sesudah kalahnya ISIS) kita mungkin telah menyerahkan Irak ke tangan Iran, dalam arti diplomatik,” tutur Morrel.

“Iran, saya pikir, adalah kekuatan tempur yang paling efektif di dalam Irak. Mereka telah melatih, mereka telah memasok 100.000 milisi Syiah, dibandingkan dengan 50.000 pasukan keamanan Irak yang tidak begitu efektif. Orang Iran-lah sebenarnya yang melakukan pertempuran darat bersama milisi Syiah,” lanjut Morrel. Pejabat-pejabat Iran memang telah mengakui, anggota pasukan elite Quds, divisi pasukan khusus militer Iran, telah bertempur di Irak.

Pengawal Revolusi Iran


Milisi Syiah terbesar yang terlibat dalam serangan ke Tikrit adalah Organisasi Badr. Milisi ini bergerak maju ke arah Tikrit dari lambung kiri atau wilayah timur Tikrit. Dalam serangan ke Tikrit terlihat, Teheran telah memainkan peran lebih penting daripada Washington, meskipun Iran maupun AS saat ini sedang mendukung pihak yang sama dalam melawan musuh bersama, ISIS.

Tidak seperti ofensif ke Tikrit yang dilaksanakan tergesa-gesa dan gagal pada bulan Juli 2014, kampanye militer kali ini tampak mengikuti strategi militer yang cermat, yang dirancang oleh para penasihat Iran di negara tetangga Suriah. Mereka telah membantu Presiden Suriah Bashar al-Assad, dalam merebut kembali sebagian wilayahnya yang hilang dalam perang saudara.

Komandan militer Iran, Qassem Soleimani, bersama dengan dua pemimpin paramiliter Syiah Irak mengawasi serangan di bagian timur Tikrit. Nuansa religius terlihat pada nama operasi militer tersebut: “Di sinilah Saya, Utusan Allah.”
Soleimani, seorang mayor jenderal di satuan Pengawal Revolusi Iran yang terlihat di medan tempur Tikrit, adalah komandan pasukan elite Quds Iran. Washington mencap organisasi ini sebagai “teroris,” karena bertanggung jawab atas pelatihan dan pemberian senjata kepada para kelompok-kelompok Syiah di seluruh Timur Tengah.

Tentu saja, definisi “teroris” di sini adalah mereka yang tidak mau tunduk pada Washington dan yang bermusuhan dengan Israel. Sedikitnya 20.000 pejuang terlibat dalam serangan ke Tikrit, dan mayoritasnya adalah milisi Syiah, yang dikenal sebagai satuan-satuan Hashid Shaabi (Mobilisasi Populer).

Didorong oleh Pemerintah Irak


Seorang pengamat militer yang mantan jenderal di Baghdad mengatakan pada wartawan Aktual, keberadaan satuan-satuan semacam ini –ketika sedang gencar-gencarnya serangan kelompok ekstrem ISIS pada 2014-- memang dibiarkan, bahkan didorong oleh pemerintah Irak. Tampaknya waktu itu suasananya adalah segala unsur yang bisa bangkit melawan ISIS akan didukung, terutama sesudah kekalahan yang memalukan dari pasukan Irak di Mosul, yang dengan mudah disapu oleh militan ISIS pada Juni 2014.

Gerak maju pasukan pemerintah dipersiapkan dengan seksama, sampai ada pembacaan doa dari ulama dan satuan-satuan “pengarah ideologis.” Di Udhaim Damz, 75 km sebelah timur Tikrit, seorang ulama Muslim Syiah, Sheikh Ahmed al-Rubai, memberi wejangan dan arahan moral kepada para milisi Syiah sebelum mereka menyerbu Tikrit.

Al-Rubaei berulang kali menyampaikan pesan pemerintah bahwa para pejuang Syiah harus menghormati warga sipil di kota Tikrit, yang mayoritas warganya adalah Muslim Sunni itu. Milisi Syiah sebelumnya telah dituduh melakukan pencurian dan berbagai pelanggaran lain sesudah beberapa kemenangan sebelumnya. Tuduhan ini secara resmi mereka bantah.

“Jangan menodai diri kita dengan sesuatu yang tak berharga. Hari ini kita adalah sebuah tentara ideologis. Saya tidak ragu pada kalian. Kalian jujur, dan tidak melakukan hal-hal (tercela) itu. Namun, saya hanya sekadar mengingatkan,” ujar Rubaei kepada puluhan milisi Syiah, yang duduk rapi di atas tanah di depannya.

Dalam gerak maju ke Tikrit, pasukan penyerang terdiri dari banyak kendaraan lapis baja, truk pick-up, dan sepeda motor. Konvoi yang mengangkut ratusan pejuang itu juga termasuk artileri yang ditarik Jeep, ambulans, dan mobil polisi berlapis baja.

Milisi Organisasi Badr (Syiah) dan tentara reguler Irak mengendarai tank-tank yang sama. Hanya logo Angkatan Darat Irak yang membedakan tank militer reguler dan tank milisi. Di atas beberapa kendaraan lapis baja militer Irak, tampak berkibar bendera bergambar Hussein bin Ali bin Abi Thalib –cucu Nabi Muhammad SAW yang dianggap sebagai Imam oleh Muslim Syiah—berdampingan dengan bendera nasional Irak.

Kekeliruan Strategi Amerika

Mengapa kelompok ekstrem ISIS tampaknya sulit dikalahkan? Bahkan Amerika seperti bingung melihat fenomena ISIS, yang dalam waktu singkat kini sudah seperti negara tersendiri tersebut. Salah satu alasannya adalah kekeliruan dalam membaca dan merumuskan apa itu ISIS. Presiden AS Barack Obama, dalam pidato yang disiarkan secara nasional pada September 2014, mengatakan: “ISIS adalah organisasi teroris, jelas dan sederhana.” Namun Obama keliru. ISIS sama sekali tidak cocok dengan deskripsi umum tentang organisasi teroris, meski ISIS sering menggunakan taktik-taktik teror.

Al-Qaeda, yang sering disebut sebagai organisasi teroris oleh AS, hanya memiliki puluhan atau ratusan anggota. Al-Qaeda menyerang warga sipil, tidak menguasai wilayah tertentu, dan tidak sanggup berhadapan langsung melawan pasukan militer. Sebaliknya, ISIS sesumbar bahwa pihaknya telah memiliki 30.000 pejuang, menguasai wilayah yang luas di Irak dan Suriah, memiliki kemampuan militer yang meluas, mengontrol jalur-jalur komunikasi, mengomandoi infrastruktur, mampu mendanai diri sendiri, dan terlibat dalam operasi-operasi militer yang canggih.

Maka secara sederhana, ISIS mungkin sudah layak disebut sebagai negara-semu (pseudo-state) yang dipimpin oleh sebuah militer konvensional. Itulah sebabnya, strategi-strategi kontra-terorisme dan kontra-insurgensi (counterinsurgency) --yang dianggap berhasil melemahkan Al-Qaeda-- tidak akan mempan melawan ISIS.

Di Irak, Washington juga lamban dalam menyesuaikan strateginya guna menghadapi hakikat sebenarnya ancaman dari ISIS. Di Irak, AS terus mengandalkan pada sebentuk strategi kontra-insurgensi, menggantungkan diri pada pemerintah pusat di Baghdad untuk membangkitkan kembali legitimasinya yang hilang, menyatukan negeri Irak, dan membangun pasukan asli setempat untuk mengalahkan ISIS. Padahal pendekatan-pendekatan itu semua semula dirancang untuk mengatasi jenis ancaman yang berbeda, dan strategi itu pun kini telah dilampaui oleh perkembangan peristiwa-peristiwa terbaru. 


ISIS dan Warga Indonesia


Pengaruh ISIS ke warga negara Indonesia (WNI) di Tanah Air juga harus dicermati, khususnya dalam bentuk perekrutan warga Indonesia untuk dikirim buat “berjihad” di Suriah atau di Irak. Ketika wartawan Aktual masih berada di Baghdad, ada info dari kalangan diplomatik. Mereka menyatakan, secara informal seorang pejabat pemerintah Irak menyebutkan, adanya 5 WNI yang dicurigai telah bergabung dengan ISIS. Namun, ketika dimintai data dan daftar nama lengkap WNI yang dicurigai bergabung dengan ISIS itu, pejabat Irak tersebut enggan memberi konfirmasi resmi.

Terakhir, 6 Maret 2015, Konsulat Jenderal RI di Istanbul, Turki menyatakan telah berkoordinasi dengan kepolisian setempat, guna menyelidiki hilangnya 16 WNI di negara tersebut. Dari informasi yang diterima, kasus seperti ini bukan yang pertama kali terjadi, dan ditangani oleh Kepolisian Istanbul. Beberapa kasus sebelumnya melibatkan warga negara Amerika Serikat, yang berupaya menyusup ke Suriah melalui perbatasan Turki.

Konjen mengkhawatirkan, hilangnya ke-16 WNI itu menjadi modus baru kegiatan ilegal, yang terkait dengan aktivitas penyelundupan manusia ke sejumlah negara konflik melalui Turki. Konjen menyebutkan, pada 24 Februari 2015 terdapat 25 turis WNI dari Smailing Tour tiba di Bandara Internasional Ataturk.

Saat itu, 16 orang di antaranya menyatakan berpisah dari rombongan dan akan bergabung kembali pada 26 Februari 2015, saat rombongan berada di kota Pamukkale. Sesuai jadwal, rombongan pun kembali ke Jakarta pada 4 Maret 2015 menggunakan Turkish Airlines. Namun, ke-16 WNI yang memisahkan diri tersebut tidak muncul di bandara. Ada kecurigaan, mereka bergabung atau ada keterlibatan dengan ISIS. Tentu ini masih harus dibuktikan. ***


Jakarta, Maret 2015
Ditulis untuk Majalah AKTUAL
E-mail: arismunandar.satrio@gmail.com
HP: 081286299061

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI