Orang Terkadang Tidak Bisa Membedakan "Menyesal" dengan "Kecewa"

Para tokoh ormas/partai-partai Islam yang hidup pada 1960-an pasti tidak MENYESAL mendukung Jenderal Soeharto pada tahun-tahun itu. Soeharto dianggap berjasa membubarkan partai komunis. Presiden Soekarno jelas tidak akan membubarkan PKI.

Kalau bukan Soeharto, siapa yang punya kemampuan membubarkan PKI waktu itu? Jika PKI berkuasa, apa yang terjadi pada ormas-ormas Islam itu?

Tetapi para tokoh partai Islam pasti KECEWA ketika pada tahun-tahun kemudian Soeharto justru menjadi otoriter, bahkan banyak membatasi partai-partai Islam, kotbah di masjid diawasi intel, dst.

Coba tanya pada para tokoh Islam generasi tua, apakah mereka menyesal mendukung Soeharto pada 1960-an? Jawabannya hampir pasti "TIDAK MENYESAL", karena dalam konteks politik waktu itu ya itulah pilihan terbaik yang ada bagi mereka (dalam perspektif tokoh-tokoh Islam tersebut tentunya).

Bedakan MENYESAL dengan KECEWA. Saya tidak menyesal memilih Jokowi pada 2014. Ada banyak pertimbangan yang dilakukan sehingga saya memilih Jokowi. Tetapi saya kecewa pada beberapa langkah/kebijakan Presiden Jokowi 2015.

Terus apa yang akan saya lakukan? Ya BERJUANG Lagi, dong! Seperti semboyan para aktivis mahasiswa UI: "Tiada kata jera dalam perjuangan!" ha...ha..ha....

Dikutip dari status FB Satrio Arismunandar, 24 Maret 2015
(Foto: saya dgn seorang petugas keamanan di Baghdad, Irak. Foto ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan isi status)

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)