Saya Bukan Penganut Syiah, Tetapi Saya Tidak Merasa Terancam Berhubungan dengan Muslim Syiah atau Penganut Agama Apa pun

Beberapa teman Facebook mengirim pesan pribadi di inbox, sebagian lagi lewat e-mail. Isinya bisa dibilang seragam, yaitu mencoba membuktikan pada saya bahwa ajaran Syiah itu salah, menyimpang, sesat, bukan termasuk Islam, bahkan penganut Syiah sudah masuk kategori kafir, layak masuk neraka, dsb...dst.

Dengan segala hormat, semua upaya itu tidak perlu karena saya memang bukan penganut Syiah dan tidak pernah jadi penganut Syiah. Perbedaan saya dengan rekan-rekan itu adalah saya justru yakin dengan diri saya sendiri, sehingga saya tidak merasa terancam atau merasa tidak aman berhubungan dengan semua orang dari beragam agama, bahkan yang atheis sekalipun.

Apalagi "darah" saya sebagai wartawan dan penulis membuat saya sangat terbuka untuk berinteraksi dengan semua orang. Teman saya sangat beragam dari berbagai latar belakang, ideologi, agama, etnis. Bahkan beberapa sanak kerabat yang punya hubungan darah dengan saya juga non-Muslim.

Mungkin itulah salah satu sebabnya saya tidak berminat dalam "gerakan anti-Syiah" atau "kafir-mengkafirkan" orang lain (saya sendiri belum berani menjamin pasti masuk surga kok!). Faktor lain, pandangan keislaman saya mungkin lebih cenderung ke arah sufisme/tasawauf, mistik dalam Islam. Jadi cara pandang dan pendekatan saya kepada manusia lain (apapun latar belakang agamanya), lingkungan, dan alam semesta agak diwarnai oleh pendekatan tersebut.

Dalam pandangan saya, konflik Sunni-Syiah adalah warisan pertentangan politik-kekuasaan yang sudah berusia ratusan tahun yang lalu, dan oleh kita yang hidup di abad Internet tahun 2015 sekarang tidak perlu diperbesar atau dilestarikan. Saya sama sekali tidak dipusingkan oleh aspek-aspek teologis, tuduhan hadis palsu, perbedaan cara beribadah Sunni dan Syiah, dst. karena dalam perspektif saya itu semua hanya kembangan kemudian dari konflik awal, yang awalnya adalah soal politik-kekuasaan (untuk memutuskan: siapa yang layak, sah, pantas, menjadi pemimpin umat Islam sesudah Nabi Muhammad SAW wafat).

Dan saya (seperti juga beberapa pengamat lain) menduga, ramainya konflik Syiah-Sunni di Tanah Air baru-baru ini tidak bisa dipisahkan begitu saja dari persaingan pengaruh antara Iran (Syiah) dan Arab Saudi (Sunni) di Timur Tengah. Saudi merasa terancam melihat pengaruh Iran, yang meski diberi sanksi ekonomi dan militer habis-habisan oleh AS dan Uni Eropa, pengaruhnya makin besar di Timur Tengah. Dalam perang melawan ISIS di Irak sekarang, yang berperan utama adalah Iran dan milisi Syiah Irak, bukan Amerika yang pasukannya masih bercokol di Irak.

(Foto: Saya di kompleks makam Ali bin Abi Thalib di Najaf, kota suci bagi Muslim Syiah di Irak selatan. Bagi penganut Syiah, Ali dipandang sebagai Imam pertama yang sangat dihormati)

Dikutip dari status FB Satrio Arismunandar, 19 Maret 2015

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)