Saya Tidak Menyesal Memilih Jokowi

Mungkin ada sejumlah orang menyesal memilih Jokowi dalam Pilpres. Tetapi saya: tidak. Saya tidak merasa menyesal memilih Jokowi dalam pilpres, karena dalam konteks situasi waktu itu saya merasa pilihan saya (bersama pilihan 62.576.443 rakyat Indonesia lain) sudah tepat.

Saya bersama sejumlah teman aktivis yakin melalui Jokowi kami bisa lebih leluasa memperjuangkan agenda-agenda Civil Society. Saya bukan tukang ramal. Saya tidak pernah tahu akan terjadi ini dan itu.

Dalam sejarah, kita tidak bisa bilang "seandainya waktu itu begini..." maka akan terjadi begitu,....Kalau waktu itu Jokowi kalah, maka kondisi kita akan jauh lebih baik, dst...dsb.. Belum tentu! Itu namanya spekulasi,dugaan, prakiraan, bukan real. Yang jelas, waktu tidak bisa diputar mundur. Kita harus terus melangkah ke depan.

Maka sebagai orang yang mencoba bersikap dewasa dan tidak emosional (ha..ha..ha..), saya harus mengambil sikap. Bukan dengan menyesali masa lalu, tetapi dengan berpikir dan merumjuskan apa yang bisa saya lakukan SEKARANG.

Ketika Soeharto di zaman Orde Baru menjadi pemimpin otoriter, dan akhirnya jatuh pada 1998, coba Anda tanyakan pada generasi tua (terutama dari partai-partai atau Ormas Islam) yang hidup pada 1960-an. Apakah mereka menyesal mendukung Soeharto di tahun-tahun itu, yang dulu diangggap berjasa besar membubarkan PKI.

Sekarang malah banyak yang memuja-muji Soeharto yang dianggap sukses menjaga harga beras murah (soal konsekuensi dari harga beras ditekan murah itu, soal lain lagi), politik yang stabil (tidak ada orang yang berani bikin ulah dengan isu SARA/Suku-Agama-Ras-Antargolongan). Bahkan PM Paul Keating dari Australia, PM Malaysia Mhathir Mohamad, PM Singapura Lee Kuan Yew begitu hormat dan segan pada Soeharto.

Maka menurut saya, jadi orang itu jangan gampang terombang-ambing oleh perubahan-perubahan yang mungkin temporer. Kita belum tahu. Tetapi kita tetap harus berbuat yang terbaik dalam konteks ruang dan waktunya.

(NB: Ini personal. Dulu saya sedih karena putus cinta ketika jadi mahasiswa. Tapi saya tidak menyesal. Kenapa? Justru karena gagal menjalin kasih waktu dulu, sekarang saya malah mendapat istri yang jauh lebih muda. Nah!)

Dikutip dari status FB Satrio Arismunandar, 23 Maret 2014

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)