Museum Satriamandala Perlu Berbenah, Koleksi Alutsista Perlu Diperbarui

Museum Satriamandala di Jakarta, yang menghadirkan berbagai hal terkait sejarah Tentara Nasional Indonesia, perlu berbenah diri dalam hal tampilan dan koleksi museum, agar bisa tampil menarik dan menginspirasi generasi muda.
Demikian hasil pengamatan wartawan www.aktual.co, Satrio Arismunandar, ketika hari Sabtu (23 Mei 2015) berkunjung langsung ke museum, yang diresmikan keberadaannya oleh Presiden Soeharto pada 1972 ini.

Ada lantai di ruang dalam yang pecah, dan seharusnya itu segera diperbaiki demi kenyamanan pengunjung. Selain itu, penerangan lampu di beberapa ruang terkesan suram, sehingga tidak menarik dan menyulitkan pengunjung untuk mengamati koleksi museum.

Pernak-pernik yang dijual untuk pengunjung juga sangat terbatas, cuma stiker seharga Rp 3.000 sampai Rp 5.000. Seharusnya pengelola museum bisa lebih kreatif, misalnya dengan menjual kaos dan buku-buku sejarah bertema bela negara atau patriotisme.

Di halaman Museum Satriamandala dipamerkan alat utama sistem persenjataan, tetapi tidak semua alutsista ini diberi keterangan yang lengkap. Pada rudal SAM SA-75 buatan Rusia, tank Stuart buatan Amerika, antena radar buatan Polandia, dan replika Kapal RI Matjan Tutul memang ada diberi panel penjelasan buat pengunjung.

Namun pada panser Brimob, pesawat tempur Mikoyan MiG-21, meriam kapal perang, dan helikopter pengangkut pasukan, tidak diberi panel penjelasan apapun. Mungkin dulu pernah ada panel penjelasan, tapi panel itu sudah rusak atau hilang, dan tidak diganti sampai sekarang.

Koleksi Alutsista Perlu Diperbarui

Koleksi alat utama sistem persenjataan (alutsista) Museum Satriamandala juga perlu diperbarui. Koleksi yang ada, khususnya pesawat tempur, sudah terlalu tua karena terakhir dipasang pada tahun 1980-an.

Pesawat jet tempur yang ditampilkan di halaman depan museum adalah Mikoyan MiG-21 buatan Rusia. Pesawat-pesawat yang ditampilkan di bagian dalam museum bahkan lebih kuno lagi. Padahal banyak pesawat tempur yang sudah dipensiunkan dari TNI Angkatan Udara berasal dari generasi lebih baru.

Alutsista yang terakhir dipajang di halaman museum adalah replika kapal perang tipe MTB (Motor Torpedo Boat) RI Matjan Tutul 602. Kapal aslinya tenggelam di Laut Arafuru pada 1962 akibat serangan keroyokan kapal-kapal perang dan pesawat tempur Belanda.Pada pertempuran itu gugur Komodor Josaphat Soedarso dan para prajurit TNI lainnya.

Replika itu diresmikan masuk koleksi museum pada 2013, dan sejak itu praktis tidak ada penambahan koleksi alutsista lain. Jika tidak ada pembaruan koleksi, dikhawatirkan bisa menimbulkan kebosanan para pengunjung, yang jumlahnya pada saat ramai bisa mencapai 3.000 orang per bulan.

TNI-AU Perlu Sumbangkan Pesawat ke Museum


Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI-AU) perlu menyumbangkan pesawat-pesawat tempur, yang sudah dipensiunkan dari dinas aktif, ke museum-museum. Khususnya ke Museum Satriamandala di Jakarta. Pasalnya, pesawat yang ditampilkan di Satriamandala adalah koleksi kuno tahun 1980-an.

Padahal TNI-AU memiliki pesawat-pesawat yang sudah dipensiunkan, namun belum menjadi koleksi museum. Misalnya: F-86 Sabre, OV-10F Bronco, T-33 Bird, dan A-4 Skyhawk. Bahkan pesawat latih Hawk buatan Inggris juga belum lama pensiun. Dalam waktu tak lama, TNI-AU juga akan mulai mempensiunkan pesawat tempur F-5E/F Tiger II buatan Northrop, Amerika.

Jika pesawat-pesawat ini dipajang di halaman depan museum, pasti akan memberi warna baru dan menarik perhatian pengunjung. Kehadiran pesawat-pesawat tempur yang lumayan agak baru di museum bisa membangkitkan semangat kedirgantaraan buat generasi muda. Apalagi mengingat mayoritas pengunjung Museum Satriamandala adalah siswa dan pelajar. ***

Sabtu, 23 Mei 2015

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)