“Operation Decisive Storm” yang Tidak Tuntas di Yaman

Oleh: Satrio Arismunandar

Bom-bom berjatuhan, mengakibatkan suara dentuman menggelegar, kerusakan parah, dan korban-korban warga sipil di Sana’a, ibukota Yaman, hari Kamis, 26 Maret 2015. Hari itu adalah babak baru krisis di Timur Tengah, yang sebelumnya sudah runyam oleh perang saudara di Suriah, dan perang melawan kelompok ekstrem ISIS (Negara Islam di Irak dan Suriah), yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Hari itu Angkatan Udara Arab Saudi mulai melancarkan Operation Decisive Storm (Operasi Badai Tegas), lewat serangan udara dahsyat ke negeri tetangganya Yaman, yang jauh lebih miskin secara ekonomi. Tak kurang dari 100 pesawat tempur canggih Saudi dikerahkan, untuk membombardir posisi kelompok militan Houthi dan pasukan pendukungnya, yakni militer yang loyal pada mantan Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh.

Al Arabiya menyatakan, babak pertama serangan udara diarahkan ke pangkalan udara militer di Bandara Internasional Sana’a, dan berhasil menghancurkan banyak sistem pertahanan udara Yaman. Menurut pejabat-pejabat Saudi, serangan udara itu juga menghancurkan sejumlah pesawat tempur Yaman, yang belum sempat mengudara dan masih berada di pangkalan. Tiga komandan Houthi dikabarkan tewas dalam pemboman itu.

Serangan Saudi pada 26 Maret juga menghantam pangkalan udara Al-Anad, dan bekas fasilitas pasukan operasi khusus AS di Governorat Lahij yang direbut Houthi beberapa hari sebelumnya. Sasaran-sasaran yang lain, dilaporkan temasuk pangkalan rudal di Sana’a yang dikontrol oleh Houthi dan depot bahan bakar di pangkalan itu. Cakupan serangan meluas pada 27 Maret, dengan instalasi radar di Governorat Ma’rib dan sebuah pangkalan udara di Governorat Abyan.

Aksi militer Saudi ini tidak dilakukan sendirian, tetapi didukung oleh puluhan pesawat tempur dari para sekutunya, khususnya dari negara-negara Arab Teluk. Intervensi militer langsung oleh Saudi, yang didukung Amerika Serikat dan diberi nama sandi Operation Decisive Storm ini, bertujuan mengenyahkan kekuasaan kelompok Houthi di Yaman.

Digulingkan Karena Ingkar Janji

Warga Houthi adalah penganut Muslim Syiah aliran Zaidiyah. Aliran Syiah ini sebetulnya moderat dan dari segi hukum Islam sangat mirip dengan mazhab Hanafi di kalangan Muslim Sunni. Kubu Houthi, yang didukung pasukan loyalis Ali Abdullah Saleh, berkuasa di ibukota Sana’a, sesudah menggulingkan Presiden Abd Rabbuh Mansur Hadi yang pro-Saudi. Hadi dijatuhkan karena dianggap tidak menepati janji tentang pembagian kekuasaan di Yaman, yang telah disepakati sebelumnya oleh kekuatan-kekuatan politik utama.

Mansur Hadi, yang penganut Muslim Sunni, memang sudah tidak populer di dalam negeri. Merasa posisinya terdesak, ia pun meminta bantuan militer Saudi, yang masih mengakui Hadi sebagai “pemerintahan Yaman yang sah.” Saudi menuduh Houthi melakukan kudeta ilegal dan mendapat dukungan dari Iran, yang mayoritas warganya juga penganut Syiah.

Saudi adalah monarki penganut Sunni, yang sedang bersaing pengaruh dengan Iran di Timur Tengah. Saudi merasa was-was bahwa jika dibiarkan saja, Iran akan memiliki batu pijakan baru di Yaman berkat kemenangan Houthi. Apalagi Iran dianggap sudah berpengaruh kuat di Suriah, Irak, dan Lebanon, antara lain lewat partai dan milisi Hizbullah. Dengan tambahan Yaman, Iran akan semakin kuat pengaruhnya. Penguasaan pemerintahan Houthi yang akrab dengan Iran atas Yaman, khususnya kota Aden, secara strategis bisa mengontrol jalur tanker-tanker minyak yang melewati Laut Merah. Hal itu jelas tidak diinginkan oleh Saudi maupun AS.

Kemenangan Houthi, yang sebenarnya berstatus kelompok minoritas di Yaman (hanya 35-40 persen dari total populasi) , bisa terjadi berkat dukungan kuat militer yang pro-Ali Abdullah Saleh. Kemenangan Houthi yang cepat ini memang tidak terprediksi, serta mengagetkan Saudi dan Amerika. Maka, para penentu strategi di Saudi memutuskan, prospek kemajuan “proxy dukungan Iran” ini harus dipotong lewat intervensi militer langsung di Yaman, dengan melibatkan para sekutunya di negara-negara Arab lain.

Dukungan Pesawat dan Kapal Perang

Dalam Operation Decisive Storm, negara yang ikut mengerahkan militer dan mendukung secara konkret militer Saudi adalah: Bahrain (15 pesawat tempur), Kuwait (15 pesawat), Qatar (10 pesawat), Uni Emirat Arab (30 pesawat), Mesir (4 kapal perang), Maroko (6 pesawat), Jordania (6 pesawat), Sudan (4 pesawat), Somalia (fasilitas militer), dan Amerika. Di sini, Saudi sangat mengandalkan data intelijen AS dan foto-foto hasil pantauan satelit mata-mata, untuk menyeleksi sasaran yang harus digempur, termasuk persenjataan dan pesawat-pesawat tempur Yaman.

Saudi juga mengaku sudah menyiapkan 150.000 pasukan darat, yang berkumpul di daerah dekat perbatasan Saudi-Yaman. Pengerahan pasukan Saudi ini bahkan sudah dilakukan ketika pihak Houthi sedang melakukan ofensif ke ibukota Sana’a, dan Presiden Hadi masih bercokol di ibukota. Sedangkan pihak Houthi mengaku didukung 100.000 pejuang militan.

Selain 100 pesawat tempur Saudi, ada 86 pesawat tempur lain yang dilibatkan oleh negara-negara Arab pendukung Saudi untuk Operation Decisive Storm ini. Kuwait sendiri menyumbangkan 3 skuadron F/A-18 Hornet ke Arab Saudi untuk operasi militer ini. Sedangkan Mesir mengerahkan empat kapal perangnya, yang berlayar melalui Laut Merah menuju Teluk Aden, mendekati Perairan Yaman.

Belakangan Iran juga mengirim dua kapal perangnya, yang tiba di Teluk Aden pada 22 April 2015, dengan tugas resmi melakukan misi “anti-pembajakan.” Juru bicara koalisi Arab, Brigjen Ahmed al-Assiri, mengaku memantau semua gerakan kapal Iran. Ia bahkan mengancam bahwa semua pelabuhan di Yaman berada di bawah kontrol koalisi, dan kapal mana pun yang mencoba memasok senjata kepada Houthi dari pelabuhan Yaman akan menjadi sasaran serangan koalisi.

Sementara itu, Mesir, Jordania dan Sudan menyatakan siap memberi komitmen pasukan darat untuk ditempatkan di Arab Saudi. Somalia membuka ruang udara, perairan teritorial, dan pangkalan-pangkalan militernya di Berbera dan Bosaso untuk digunakan oleh pasukan koalisi.

AS menyediakan dukungan intelijen dan logistik, termasuk misi SAR untuk pilot-pilot koalisi jika pesawat mereka tertembak jatuh. Dalam operasi ini, memang sebuah pesawat F-15 Saudi jatuh pada 27 Maret di kawasan Teluk Aden, karena gangguan mekanis sehabis melakukan tugas pemboman, tapi dua pilotnya dapat diselamatkan oleh tim SAR AS. AS juga mempercepat proses penjualan senjata ke negara-negara anggota koalisi.

Risiko Terjun ke Pertempuran Darat

Untuk negara non-Arab, Pakistan diajak Saudi untuk terlibat dalam Operation Decisive Storm, namun dengan halus Pakistan menolak berpartisipasi. Meski PM Pakistan Nawaz Sharif punya “utang budi” pada Saudi, karena ketika terusir dari Pakistan dulu ia pernah ditampung di Saudi, pihak Pakistan tidak yakin bahwa operasi militer ini akan memberi hasil yang definitif. Militer Pakistan tahu, perang melawan milisi Houthi tidak bisa dimenangkan semata-mata hanya dengan menggunakan serangan udara.

Sedangkan, jika menggunakan pasukan darat, berdasarkan pengalaman pasukan Mesir sebelumnya yang berdarah-darah di Yaman, Pakistan khawatir perang melawan gerilyawan Houthi di medan tempur Yaman yang berbukit-bukit itu akan berlarut-larut.

Militer Mesir, misalnya, dilatih untuk perang di medan terbuka seperti padang pasir. Perang Arab-Israel, di mana Mesir selalu berpartisipasi, terjadi di medan yang relatif datar dan terbuka. Namun, pasukan Mesir tak siap untuk perang gerilya di medan berbukit-bukit. Itulah sebabnya, dulu pasukan Mesir pernah kepayahan dan menderita banyak prajurit tewas, ketika mencoba ikut campur dalam konflik internal Yaman.

Pengalaman buruk serupa pernah dialami militer Uni Soviet melawan gerilyawan Mujahidin di Afganistan. Perang yang berkepanjangan itu akhirnya menyedot energi, sumberdaya manusia, serta keuangan yang sangat besar, dan ujung-ujungnya tetap tak bisa dimenangkan. Militer Pakistan tak ingin terjebak dalam “rawa-rawa perang Yaman,” di mana sangat mudah untuk masuk, tetapi sulit mencari jalan keluar.

Indonesia sendiri juga diminta Saudi untuk mendukung Operation Decisive Storm , tetapi pemerintah Jokowi menolak berpartisipasi. Secara prinsip, operasi militer koalisi Saudi terhadap Yaman memang dilakukan secara sepihak, didukung oleh sebagian besar anggota Liga Arab tetapi tetap di luar kerangka PBB. Karena itu, Indonesia –seperti juga dalam kasus Perang Teluk 1990-1991, antara Irak di bawah Presiden Saddam Hussein melawan koalisi militer yang dipimpin AS saat itu—juga tak ingin berpartisipasi.

Korban-korban Perang di Yaman


Akibat konflik militer Yaman ini, sekitar 10.000 warga terpaksa jadi pengungsi. Banyak negara, seperti China, Pakistan, India, dan Indonesia, mengungsikan warganya meninggalkan Yaman. Berbagai kelompok pengungsi itu lari ke somalia utara dan Djibouti. Sejak dilakukan evakuasi intensif sampai artikel ini ditulis, Pemerintah RI telah mengevakuasi 1.981 warga negara Indonesia (WNI) keluar dari Yaman.

Pada hari-hari pertama, serangan udara Saudi dan koalisi telah menewaskan 200 warga sipil Yaman, di mana 88 di antaranya terbunuh di Sana’a. Sejak Operation Decisive Storm dimulai sampai 24 April 2015, telah tewas 944 orang dan sekitar 3.500 orang luka-luka akibat operasi militer di Yaman.

Indonesia, yang tidak terlibat dalam konflik, juga terkena imbas perang. Pada 20 April 2015, pukul 10.45 waktu setempat, ada dampak ledakan bom yang “menyasar” menerpa kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Sana’a.

Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi mengecam keras insiden yang mengakibatkan terlukanya beberapa staf diplomat, dan rusaknya gedung KBRI serta seluruh kendaraan milik KBRI yang berada di area tersebut. Saat itu terdapat 17 WNI di KBRI Sana’a, yang terdiri dari staf KBRI, anggota tim evakuasi WNI dari Jakarta, dan WNI yang sedang mengungsi. Serangan tersebut sebenarnya ditujukan kepada depot amunisi Houthi yang berada di kawasan tersebut, tak terlalu jauh dari KBRI.

Pada Selasa malam, 21 April 2015, Saudi mengumumkan dihentikannya operasi militer di Yaman. Namun Saudi berjanji akan terus menggunakan kekuatan militer untuk membendung upaya Houthi menguasai Yaman. Dengan demikian, pernyataan penghentian aksi militer itu sebetulnya cuma “basa-basi,” karena setiap saat bisa diaktifkan lagi.

Terbukti, pesawat-pesawat Saudi dan koalisinya kemudian tetap menggempur posisi gerilyawan Houthi, yang terlibat dalam pertempuran darat melawan militer yang mendukung Mansur Hadi. Pesawat tempur koalisi menghajar barak Batalyon Kavaleri 35 di kota Taez, yang jatuh ke tangan Houthi pada 22 April 2015. Sasaran lain yang dihujani bom adalah Distrik Khour Maksar dan Dar al-Saad di kota Aden, untuk menghentikan gerak maju pasukan Houthi ke dua distrik tersebut, yang didukung dengan tank-tank dan artileri berat. Dua distrik itu dipertahankan mati-matian oleh milisi yang pro-Hadi.

Seperti sudah diperkirakan, pihak Saudi dan koalisinya mulai menyadari, sesudah Operation Decisive Storm berlangsung sekitar 25 hari, tampaknya perang akan berlarut-larut. Serangan udara pada akhirnya punya keterbatasan tertentu, dan perlu melibatkan pasukan darat untuk penguasaan wilayah. Namun, pelibatan pasukan darat melawan gerilyawan Houthi jauh lebih berisiko bagi pihak koalisi.

Proses penyelesaian konflik berikutnya, yang masuk akal bagi kedua pihak yang bertempur, mulai masuk ke ranah diplomasi, yakni lewat dialog politik yang dicanangkan di ibukota Oman, Muscat. Posisi Oman, negara tetangga Yaman, sebagai penengah atau mediator diterima oleh semua pihak yang bertikai di Yaman, termasuk juga oleh Saudi dan Iran. Hal ini karena Oman terlihat bersikap netral. Oman adalah satu-satunya negara Arab Teluk yang tidak terlibat dalam Operation Decisive Storm.

Apapun hasil perundingan itu nantinya, tampaknya satu hal sudah jelas: Operation Decisive Storm belum tuntas, karena gagal mencapai tujuannya untuk mengenyahkan kekuasaan Houthi, yang didukung kuat oleh militer loyalis Ali Abdullah Saleh. Operasi militer koalisi ini paling jauh hanya berhasil menggiring Houthi ke meja perundingan.

Terbukti, meski sudah digempur secara gencar dari udara selama hampir sebulan, pasukan Houthi masih tangguh di pertempuran darat melawan pasukan yang mendukung Presiden Mansur Hadi. Faktanya, militan Houthi masih tetap menjadi ancaman serius bagi pasukan pendukung Mansur Hadi, dan bagi kepentingan Saudi sendiri.

Depok, April 2015
Ditulis untuk Majalah DEFENDER
e-mail: arismunandar.satrio@gmail.com

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)