Persaingan Sengit Kandidat Pengganti F-5E/F Tiger II

Oleh: Satrio Arismunandar

Berbagai pesawat tempur modern, canggih, dari generasi di atas 4 (tapi belum sampai ke generasi 5) telah ditawarkan kepada Indonesia, dan bertarung sengit untuk menggantikan armada pesawat F-5E/F Tiger II TNI Angkatan Udara yang sudah semakin tua. Sampai saat artikel ini ditulis, Kementerian Pertahanan RI belum melakukan tender dan belum memutuskan pesawat mana yang akan dipilih untuk menggantikan F-5E/F.

Meskipun demikian, ada beberapa kandidat yang sudah jelas dan disebut-sebut berpotensi menggantikan F-5E/F, dalam tugasnya menjaga kedaulatan di ruang udara Negara Kesatuan RI. Kandidat itu antara lain: Saab JAS 39 Gripen, Sukhoi Su-35BM, F-16 Block 60, Eurofighter Typhoon, dan Dassault Rafale. Ada yang bermesin tunggal (Gripen dan F-16), dan ada juga yang bermesin ganda (Su-35BM, Typhoon, dan Rafale).

Tulisan ini mencoba secara sepintas menampilkan profil para kandidat pengganti F-5E/F tersebut, dengan keunikan dan keunggulan masing-masing. Misalnya, dari aspek kecepatan, kelincahan bermanuver, kekuatan mesin, jarak tempuh, penggunaan bahan bakar, persenjataan yang bisa diangkut, jenis dan kemampuan radar yang digunakan, kompatibilitas dengan sistem pertahanan Indonesia yang sudah ada, dan banyak aspek teknis lain.

Tetapi pilihan pesawat tempur tidak semata-mata karena aspek teknis. Termasuk yang diperhitungkan oleh Indonesia tentunya: aspek harga, dukungan purna jual, suku cadang, tawaran kemitraan dalam bentuk alih teknologi, kemungkinan ancaman embargo, pertimbangan politik, dan sebagainya. Namun, aspek ancaman embargo dan politik tidak disinggung dalam tulisan ini.

Saab JAS 39 Gripen

Saab JAS 39 Gripen adalah pesawat tempur supersonik multiperan dari Swedia yang diproduksi oleh Saab, Swedia. Gripen yang bermesin tunggal dapat digunakan untuk misi intersepsi, serangan darat, dan pengintaian. Tak heran, akronim JAS yang melekat di namanya adalah singkatan dari Jakt (udara-ke-udara), Attack (serangan darat), dan Spaning (pengintaian). Gripen hadir menggantikan jet tempur buatan Swedia generasi sebelumnya, Saab 35 Draken dan Saab 37 Viggen.

Gripen adalah hasil pengembangan bersama Saab Military Aircraft, Ericsson Microwave Systems, Volvo Aero Corporation dan Celsius Aerotech. Gripen termasuk pesawat tempur generasi keempat. Gripen menggabungkan kemampuan baru pada sistem avionik yang dikendalikan perangkat lunak, material modern, desain aerodinamis yang lebih maju, dan mesin dengan sistem yang sepenuhnya terintegrasi, dan hasilnya benar-benar sebuah pesawat tempur dengan spesifikasi multiperan.

Lahirnya Gripen berawal pada penghujung 1970-an, ketika Angkatan Udara Swedia membutuhkan penggantian armada pesawat tempur Saab 35 Draken dan Saab 37 Viggen yang sudah semakin tua. AU Swedia mensyaratkan pesawat pengganti yang berharga terjangkau, berkecepatan Mach 2, dan mampu menggunakan landasan pendek, agar bisa memanfaatkan strategi pangkalan tersebar jika terjadi invasi musuh.

Pesawat itu harus lebih kecil dari Saab 37 Viggen, tetapi mampu mengangkut persenjataan dan menempuh jarak yang setara atau bahkan lebih baik. Beberapa desain pesawat tempur asing pun dikaji, termasuk F-16 Fighting Falcon, F/A-18 Hornet, Northrop F-20 Tigershark, dan Dassault Mirage 2000. Akhirnya, pemerintah Swedia pada 1982 memilih pengembangan pesawat tempur baru untuk dilakukan oleh Saab (Svenska Aeroplan Aktiebolag).

Gripen menawarkan kelincahan, sistem akuisisi target tembak yang canggih, radar multi-peran yang kuat, persenjataan modern, dan kemampuan dalam peperangan elektronik komprehensif. Pesawat ini juga dirancang untuk mengantisipasi semua ancaman pada masa kini maupun masa depan.

Gripen cocok dilengkapi dengan sejumlah persenjataan yang berbeda-beda, di luar kanon tunggal Mauser BK-27 kaliber 27 mm (yang dihilangkan pada Gripen varian 2 kursi). Elemen penting pada JAS 39 Gripen varian ekspor adalah sistem rudal pesawat. Rudal yang bisa digunakan itu seperti: rudal udara-ke-udara AIM-120 AMRAAM, AIM-9 Sidewinder, rudal udara-ke-permukaan AGM-65 Maverick, dan rudal antikapal Saab Dynamics RBS-15.

Saab Dynamics telah bekerjasama dengan produsen utama rudal di Eropa dalam pengembangan rudal baru udara-ke-udara, untuk digunakan pada jet tempur Eurofighter, Rafale, dan Gripen. Dua proyek utama yang dikerjakan adalah pengembangan Meteor and IRIS-T. Meteor adalah rudal udara-ke-udara jarak menengah (10 –12 km) yang penembakannya dipandu radar. Pengembangannya dikerjakan bersama BAe Dynamics, Alenia Difesa, Marconi dan German LFK. Sedangkan IRIS-T adalah rudal udara-ke-udara jarak pendek yang dipandu infra merah, dan dikembangkan bersama Bodenseewerk Geratechnik.

Pada 2010, armada Gripen AU Swedia menuntaskan proses pembaruan, yang memungkinkan kompatibilitas Gripen dengan beragam persenjataan, termasuk rudal jarak jauh MBDA Meteor, rudal jarak dekat IRIS-T, dan bom yang dipandu laser GBU-49. Direktur Pemasaran Saab untuk India, Edvard de la Motte bahkan berani berkata: “Jika Anda membeli Gripen, silahkan pilih dari mana asal senjata yang ingin Anda gunakan. Israel, Swedia, Eropa, Amerika Serikat….Amerika Selatan. Itu semua terserah pihak pembeli.”

Berkat kerjasama pemasaran dengan BAe (British Aerospace) pada 2001, versi ekspor JAS 39 Gripen sudah menggunakan standar operasional (interoperability) Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), yang dilengkapi kemampuan pengisian bahan bakar di udara. Gripen sudah dipakai dan atau dipesan oleh Angkatan Udara Swedia, Ceko, Hungaria, Afrika Selatan, Thailand, dan Brasil.

Kombinasi sayap delta dan canard memberikan Gripen performa yang lebih baik dalam hal karakter terbang maupun lepas landas dan mendarat. Avionik yang total menyatu membuat pesawat ini mampu diprogram. Pesawat ini juga mempunyai perangkat perang elektronika internal, sehingga mampu mengangkut beban maksimal tanpa mengorbankan kemampuan perang elektronikanya.

Salah satu keunggulan menarik dari Gripen adalah kemampuannya untuk mendarat pada jalanan umum, yang merupakan salah satu strategi pertahanan Swedia. Begitu mendarat, pesawat ini bisa diisi bahan bakar dan dipersenjatai lagi dalam waktu 10 menit oleh 5 orang kru darat yang beroperasi dari sebuah truk. Kemudian Gripen terbang kembali untuk melaksanakan misinya.

Panjang landasan pacu yang dibutuhkan Gripen untuk lepas landas sangat pendek, sekitar 800 meter. Jarak pendaratan juga diperpendek dengan memperbesar rem udara, menggunakan kontrol permukaan untuk menekan pesawat ke arah bawah. Langkah berikutnya adalah memutar canard, mengubahnya menjadi rem udara yang besar, untuk lebih kuat lagi menekan pesawat ke bawah. Maka jika syarat landasan itu adalah panjang 800 m dan lebar 9 meter, pesawat Gripen dengan mudah bisa mendarat dan lepas landas dari berbagai jalan tol yang sudah ada di Indonesia.

Hal yang patut dicatat, biaya operasional Gripen hanya sekitar 4.700 USD per jam terbang. Ini sangat hemat dibandingkan pesawat tempur modern lain yang sekelas. Gripen memang dirancang untuk persyaratan perawatan yang sederhana, sama seperti pesawat F-5E/F Tiger II. Selain itu, Gripen-E adalah salah satu tipe yang bisa terbang melebihi kecepatan suara tanpa menggunakan afterburner. Pesawat-pesawat tempur lain mungkin bisa melesat lebih cepat, tapi tidak bisa lama-lama karena afterburner memboroskan bahan bakar. Ini berarti Gripen lebih mudah melakukan misi interception (penyergapan).

Gripen-E sudah mengusung radar AESA (active electronically scanned array) dan memiliki IRST (infra-red search and tracking), yang memudahkannya melacak pesawat musuh di udara. Jika TNI-AU menggunakan Gripen E, Indonesia bisa memiliki akses ke radar AESA yang akan menjadi standar pesawat tempur untuk beberapa dekade ke depan.

Selain itu, Gripen-E adalah pesawat tempur yang beroperasi dalam jejaring (networked fighter). Gripen dirancang untuk beroperasi sebagai salah satu komponen dari jejaring sistem pertahanan nasional, yang memungkinkan pertukaran informasi real-time secara otomatis antara pesawat Gripen dengan fasilitas-fasilitas di darat. Dengan Gripen-E, Indonesia bisa mengintegrasikan pesawat ini dengan semua radar di darat, dan membuka kemungkinan penggunaan pesawat AWACS di masa depan, yang saat ini belum menjadi bagian dari air power Indonesia.

Hal yang juga menarik, jika TNI-AU memilih menggunakan Gripen, Swedia telah menawarkan paket kerjasama dengan industri pertahanan RI, khususnya PT Dirgantara Indonesia. Paket itu meliputi kerjasama kemitraan jangka panjang yang lengkap, didukung dengan alih teknologi yang komprehensif. Paket kerjasama ini bisa mempercepat langkah Indonesia untuk menguasai teknologi tinggi kedirgantaraan.

Wakil Presiden SAAB untuk Indonesia, Peter Carlqvist, mengambil contoh Brasil yang baru saja membeli 36 unit Gripen NG. Dengan Brasil, SAAB melakukan 100 persen transfer teknologi. Kondisi itu bisa terjadi karena perusahaan dirgantara Brasil, Embraer, mumpuni menerima transfer teknologi dari SAAB.
Menurut Clarqvist, pihaknya ingin agar industri lokal bisa melakukan sendiri perbaikan pesawat Gripen mereka. Jadi pihak pembelilah yang bertanggung jawab terhadap Gripen yang dimilikinya dan yang memegang kendali. Jika pun terjadi embargo, negara pembeli Gripen sudah mandiri dan punya kompetensi pemeliharaan sendiri.

Sukhoi Su-35BM

Sukhoi Su-35, yang oleh NATO diberi nama kode Flanker-E, adalah pesawat tempur multiperan, berdaya jelajah panjang, dan bertempat duduk tunggal buatan Rusia. Pesawat yang mampu melakukan manuver super ini dikembangkan dari Su-27 Flanker, dan awalnya diberi nama Su-27M, sebelum diubah namanya menjadi Su-35. Su-35 juga dikenal dengan sebutan Super Flanker.

Terbang perdana pada 1988, Su-35 didesain oleh Sukhoi dan dibangun oleh Komsomolsk-on-Amur Aircraft Production Association (KnAAPO). Pesawat ini awalnya dikembangkan untuk menandingi F-15 Eagle dan F-16 Fighting Falcon. Karena kesamaan fitur dan komponen yang dikandungnya, Su-35 dianggap sebagai sepupu dekat Sukhoi Su-30MKI, sebuah varian Su-30 yang diproduksi untuk India. TNI-AU sudah mengoperasikan Su-27 dan Su-30, meski dari varian yang berbeda.

Desain Su-35 versi awal sangat identik dengan Su-27, tetapi memakai canard seperti Su-33 (versi yang bisa mendarat di kapal induk) dan dengan mesin yang lebih bertenaga, ditambah sistem fly-by-wire digital baru. Pesawat Su-35 juga dilengkapi dengan sebuah radar multi-mode baru yang lebih canggih, detektor infra merah, dan senjata yang telah ditingkatkan kemampuannya.

Perubahan lainnya di antaranya kokpit kaca, probe pengisian bahan bakar di udara, gir moncong roda-kembar, dua penyangga tambahan di bawah sayap, kapasitas bahan bakar yang lebih besar, dan sirip ekor yang lebih lebar dengan ujung serat karbon horisontal.

Su-35 merupakan seri Flanker terakhir dan merupakan pengisi kekosongan generasi antara generasi 4 dan generasi 5, sehingga bisa dimasukkan dalam generasi 4++. Pesawat Su-35 perdana kemudian dikembangkan lagi menjadi Su-35BM, yang bertempat duduk tunggal dengan avionik yang diperbarui dan aneka modifikasi badan pesawat. BM itu singkatan dari Bolshaya Modernizatsiya (Modernisasi Besar). Su-35BM versi domestik Rusia dinamakan Su-35S, sedangkan Su-35BM versi ekspor dinamakan Su-35K.

Pada 2007, Sukhoi mengumumkan bahwa Su-35BM mulai diproduksi masal untuk AU Rusia. Versi produksi ini menggunakan mesin yang lebih bertenaga, thrust vectoring nozzle kedua yang telah dikembangkan, dan air intake yang lebih besar. Su-35BM tidak memakai canard seperti purwarupanya, tetapi canard ini dapat dipasang sesuai keinginan konsumen. Pembaruan lain termasuk radar yang lebih canggih, kokpit, kompatibilitas dengan senjata tambahan, dan pemakaian alat elektronik terbaru.

Berat kosong Su-35 adalah 18.400 kg, berat terisinya 25.300 kg, dan berat maksimumnya saat lepas landas 34.500 kg. Ditenagai dengan dua mesin turbofan Saturn 117S, masing-masing mesin memiliki dorongan kering 86,3 kN dan dorongan dengan afterburner 14.500 kgf. Su-35 memiliki kecepatan maksimum Mach 2,25 atau 2.390 km/jam. Jarak jangkaunya 3.600 km, dan bisa mencapai 4.500 km dengan tangki bahan bakar tambahan. Batas tertinggi terbangnya adalah 18.000 m.

Persenjataannya adalah sebuah kanon internal Gryazev-Shipunov GSh-30-1 kaliber 30 mm. Ada dua rel ujung sayap untuk peluru kendali udara ke udara R-73 (AA-11 "Archer") atau poda ECM. Juga ada 12 tempat di sayap untuk mengangkut berbagai persenjataan sampai 8.000 kg, termasuk peluru kendali udara ke udara, peluru kendali udara ke darat, roket, dan bom.

Angkatan Udara Rusia memesan 48 pesawat Su-35S, dan telah mengoperasikan 12 pesawat Su-35 sejak 2008. Sedangkan Angkatan Udara Venezuela memesan 24 pesawat Su-35. Model-model Su-35 sudah coba dipasarkan ke beberapa negara, termasuk Brasil, China, Aljazair, Malaysia, India, Indonesia, dan Korea Selatan. Sejauh ini belum ada yang resmi memesannya, walau harus diakui minat terhadap pesawat ini cukup besar. Sukhoi awalnya memproyeksikan akan mengekspor lebih dari 160 Su-35 versi modernisasi kedua ke seluruh dunia.

F-16E/F Block 60

Pesawat jet tempur supersonik F-16 Fighting Falcon bukan barang asing bagi TNI-AU. Pesawat tempur multi peran bermesin tunggal ini awalnya dikembangkan oleh General Dynamics, yang lalu di akuisisi oleh Lockheed Martin. Di negara pembuatnya, Amerika Serikat, pesawat ini awalnya dirancang sebagai pesawat tempur ringan, dan akhirnya berevolusi menjadi pesawat tempur multi-peran yang sangat populer.

Kemampuan F-16 untuk bisa dipakai untuk segala macam misi inilah yang membuatnya sangat sukses di pasar ekspor. F-16 dipakai oleh 24 negara selain Amerika Serikat. F-16 merupakan proyek pesawat tempur Barat yang paling laris, dengan sekitar 4.000 F-16 sudah di produksi sejak 1976. TNI-AU membeli versi awal, yakni varian F-16 A/B Block 15 OCU. Kemudian Indonesia mendapat hibah 24 pesawat F-16 Block 25 bekas pakai, yang ditingkatkan kemampuannya agar setara dengan F-16 Block 52 yang sudah dimiliki negara tetangga Singapura.

F-16 dikenal memiliki kemampuan tempur di udara yang sangat baik, dengan inovasi seperti tutup kokpit tanpa bingkai yang memperjelas penglihatan, gagang pengendali samping untuk memudahkan kontrol pada kecepatan tinggi, dan kursi kokpit yang dirancang untuk mengurangi efek g-force pada pilot. Pesawat ini juga merupakan pesawat tempur pertama yang dibuat untuk menahan belokan pada percepatan 9g.

Varian F-16 yang ditawarkan untuk menggantikan F-5E/F adalah F-16 Block 60, yang merupakan varian paling canggih dan sejauh ini hanya digunakan oleh Uni Emirat Arab (UAE). Varian tercanggih ini secara tak resmi dijuluki Desert Falcon (Elang Gurun). Yang membedakan dengan varian-varian sebelumnya, F-16 Block 60 ini menggunakan radar canggih APG-80 AESA, yang secara serentak mampu menjejaki berbagai sasaran di darat dan ancaman dari udara untuk menghancurkannya.

Mesin General Electric F110-GE-132 yang digunakan F-16 Block 60 adalah pengembangan dari model 129, dan mampu memberi daya dorong 144 kN. Sistem perang elektronik yang diusung pesawat ini juga canggih, yakni perangkat perang elektronik terintegrasi Falcon Edge buatan Northrop Grumman, bersama dengan AN/ALQ-165 Self-Protection Jammer. Falcon Edge yang dikembangkan khusus untuk Block 60 bukan hanya sanggup melihat adanya ancaman, tetapi juga jarak ancaman itu.

Meskipun sama-sama varian F-16, F-16 Block 60 adalah pesawat yang sangat berbeda dengan pesawat F-16 yang kini sudah ada di TNI AU, baik F-16 A/B maupun F-16 ‘setara’ Block 52 yang baru tiba. Misalnya, mesin, airframe, dan radar F-16 Block 60 sangat berbeda dengan mesin, airframe dan radar F-16 ‘setara’ Block 52 dan F-16 Block 15 OCU. Meski demikian, persenjataan yang bisa digunakan di F-16 ‘setara’ Block 52 juga bisa digunakan di F-16 Block 60. Sebaliknya, ada beberapa senjata yang bisa digunakan di F-16 Block 60 tapi tidak bisa digunakan di F-16 ‘setara’ Block 52.

Senjata F-16 Block 52 yang bisa diangkut Block 60 itu antara lain rudal udara-ke-udara jarak dekat AIM-132 (ASRAAM) dan rudal penyerang darat AGM-84E. Block 60 juga bisa dilengkapi tangki bahan bakar tambahan atau CFT (conformal fuel tanks), yang mampu menambah 2.045 liter bahan bakar serta meningkatkan jarak tempuh pesawat. Keuntungan CFT adalah ia bisa membebaskan tempat di sayap, yang bisa dipasangi persenjataan ketimbang tangki bahan bakar.

Sekadar catatan, UAE telah mendanai seluruh biaya pengembangan F-16 Block 60 senilai 3 miliar dollar AS, dengan imbalan UAE akan menerima royalti jika ada F-16 Block 60 yang dijual ke negara lain, termasuk ke Indonesia. Menurut Flight International, itulah pertama kalinya AS menjual pesawat (F-16) yang lebih baik ke negara lain dibandingkan pesawat yang digunakan oleh militer AS sendiri.

Eurofighter Typhoon
Tidak salah jika pesawat tempur Typhoon buatan Eurofighter GmbH ditawarkan sebagai pengganti F-5E/F. Pesawat tempur multi peran yang bersayap delta dan sayap kanard, serta bermesin ganda dan super lincah, ini adalah andalan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Artinya, kualifikasi kemampuan Typhoon sudah memenuhi standar NATO yang ketat.
Pembuatannya yang dirintis pada 1979 melibatkan keahlian BAE Systems (Inggris), Alenia Aeronautica (Italia), EADS Deutschland (Jerman,) EADS (Spanyol), dan Norwegia. Prancis semula mau terlibat dalam proyek Typhoon, tetapi pada 1985 menarik diri untuk mengembangkan pesawat tempurnya sendiri: Rafale. Typhoon direncanakan akan tetap beroperasi di negara-negara NATO sampai 2040.

Kalau melihat bentuk luarnya. rancangan Typhoon mirip pesawat tempur modern Eropa lainnya, seperti Dassault Rafale (Prancis) dan Saab Gripen (Swedia). Typhoon menggunakan konfigurasi canard delta dikombinasikan dengan area sayap mirip dengan F-15 Eagle, dan kapasitas bahan bakar internal yang relatif sama. Karena kombinasi kelincahan, fasilitas stealth yang sulit dilacak, dan sistemnya yang modern, Typhoon dipandang luas sebagai pesawat tempur hebat.

Typhoon ini memiliki konstruksi ringan karena 82 persennya mengunakan bahan komposit, yang terdiri dari 70 persen komposit serat karbon dan 12 persen kaca bertulang komposit, dengan umur diperkirakan 6.000 jam terbang. Pesawat ini juga menggunakan aluminium lithium, titanium, dan aluminium casting. Fitur teknologi siluman termasuk radar frontal berpenampang rendah dan sensor pasif.

Typhoon adalah pesawat yang sangat lincah, baik pada kecepatan rendah maupun supersonik, yang dicapai melalui stabilitas desain. Memiliki sistem kontrol fly-by-wire, hal ini memberikan stabilitas buatan pada Typhoon, mengingat pengoperasian manual saja tidak akan bisa mengimbangi ketidakstabilan yang melekat pada desainnya. Sistem fly-by-wire ini mencegah pilot dari bermanuver melebihi tingkatan manuver yang diizinkan.

Kemampuan manuvernya memang luar biasa. Hal itu terbukti pada latihan gabungan AU India dan Inggris, Juli 2007, di mana Typhoon Inggris dapat mengimbangi kelincahan Sukhoi Su-30 MKI India. Typhoon memiliki kemampuan supercruise, yaitu terbang dengan membawa persenjataan pada kecepatan melebihi Mach 1 tanpa menggunakan afterburner. Sebagai dapur pacu ada dua mesin Eurojet EJ200, yang dapat melesatkan pesawat ini hingga mencapai kecepatan Mach 2.

Untuk perangkat elektronik pencari lawan, Typhoon dibekali Radar Euroradar CAPTOR, yang dapat memandu rudal jarak jauh di luar jarak visual (beyond visual range air-to-air missile), serta berbagai senjata untuk menyerang sasaran di darat. Radar CAPTOR lalu coba digabungkan dengan teknologi AESA (active electronically scanned array). Selain itu Eurofighter juga dilengkapi infra red search and track system seperti pada keluarga Su-27 Flanker, sehingga Eurofighter dapat memandu rudalnya tanpa menggunakan radar.

Pesawat ini juga mempekerjakan defensive aids sub-system yang canggih dan sangat terintegrasi bernama Praetorian. Sistem monitor Praetorian dapat merespon secara otomatis terhadap ancaman dari udara dan permukaan, serta memberikan penilaian ancaman mana yang diprioritaskan untuk dihadapi. Ia dapat merespon beberapa ancaman secara bersamaan. Metode deteksi ancaman termasuk Penerima Peringatan Radar (RWR), Sistem Peringatan Rudal (MWS) dan Penerima Peringatan Laser (LWR, hanya untuk versi Typhoon di Inggris).
Negara yang sudah menggunakan dan memesan Typhoon sejauh ini adalah: Inggris (jumlah total 232 pesawat), Jerman (180 pesawat), Italia (121 pesawat), Spanyol (87 pesawat), Arab Saudi (72 pesawat), dan Austria (18 pesawat).

Dassault Rafale

Pesawat Rafale buatan pabrik Dassault Aviation, Prancis, tak mau kalah dalam persaingan untuk menjadi pengganti F-5E/F TNI-AU. Meski datang belakangan, Prancis malah berhasil mendatangkan dua unit pesawat andalannya ke Indonesia pada 25 Maret 2015, untuk “diujicoba” langsung oleh Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional I, Marsma TNI Fahru Zaini Isnanto.

Rafale adalah pesawat tempur serbaguna generasi ke-4.5, bermesin dua, dan bersayap delta. Rafale dirancang sebagai pesawat yang berpangkalan di daratan maupun di kapal induk. Rafale memiliki banyak varian, yaitu Rafale A, Rafale B, Rafale C, Rafale D, Rafale M, dan Rafale N untuk menggotong senjata nuklir.

Belakangan, cuma tiga varian yang paling banyak diproduksi, yaitu Rafale B (Biplace - tandem seater), Rafale C (Chasseur - kursi tunggal), dan Rafale M (Marine - ditempatkan di kapal induk untuk Korps Udara Angkatan Laut Prancis). Perbedaan paling pokok Rafale M dengan kedua varian lain adalah perangkat roda pendarat yang lebih kekar dan bobotnya yang bertambah 500 kilogram.

Rafale B yang berkursi tandem dan diperagakan di Jakarta adalah yang populasinya paling banyak dalam Angkatan Udara Prancis, sampai sekitar 60 persen. Tipe ini dibuat untuk pendidikan konversi penerbang hingga misi tempur sesungguhnya. Pilot utama menerbangkan pesawat, sedangkan pilot kedua untuk misi lain tambahan yang bisa berjalan secara simultan.

Dalam konfigurasi standar, Rafale dilengkapi sistem avionik (sistem sensor dan kinerja elektronika dalam keseluruhan sistem aviasi) yang cukup andal. Tipe-tipe awal dilengkapi sistem pertahanan elektronik terintegrasi yang disebut Spectra, yang menciptakan situasi siluman virtual berbasis peranti lunak. Kemampuan itu lalu digenjot melalui radar AESA RBE2 AA, yang dipercaya mampu melayani berbagai tuntutan tugas.

Dengan radarnya yang canggih, Rafale mampu meningkatkan efektivitas pemakaian persenjataan, baik peluru kendali ataupun sistem roket yang dibawanya. Rafale juga akan lebih mampu mengenali mana sasaran yang harus dimusnahkan sesegera dan sebanyak mungkin, dan mana yang tidak perlu.

Menurut Letnan Kolonel Sylvain Guillard, instruktur penerbang Armee de l’Air yang turut dalam misi pengenalan Rafale ke Jakarta, Rafale sejak awal dirancang untuk memenuhi semua keperluan pilot tempur. “Pilot hanya menyaksikan data dalam satu layar monitor, yang di tengah. Jadi pilot tidak akan disibukkan dengan hal-hal lain, selain misi menghancurkan sasaran atau mengacaukan serbuan lawan,” katanya.

Rafale dalam operasionalisasinya memiliki “otak” bernama Integrated Modular Avionics dalam arsitektur Modular Data Processing Unit. Ini memungkinkan pilot untuk fokus saja pada misi, sepanjang data yang dimasukkannya akurat. Jika pun kurang akurat, pilot masih bisa mengambil keputusan secepat mungkin sesuai situasi yang dia hadapi.

Marsma Fahru Zaini Isnanto, yang pernah mencoba fitur-fitur yang ada di kokpit Rafale dalam penerbangan ujicoba, mengatakan, ia mencoba menyimulasikan penyerangan darat terhadap obyek vital. “Saya cuma masukkan data koordinat sasaran, pilih jenis persenjataan atau bom yang dipakai, lalu Rafale meluncur secara otomatis ke arah sasaran,” katanya.

Secara otomatis pula, katanya, pesawat tempur dengan sayap canard di belakang dome radar utama itu menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan, termasuk ketinggian dan kontur daratan sasaran, cuaca saat itu, hingga potensi ancaman yang ada. Keunggulan Rafale, semuanya itu dikerjakan oleh pesawat tempur sesuai data yang dimasukkan. Pilot tinggal menentukan, kapan ia memencet tombol pelepasan senjata. ***

Depok, Mei 2015
Ditulis untuk Majalah DEFENDER
e-mail: arismunandar.satrio@gmail.com

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI