Visi dan Misi Menjadi Calon Anggota Dewan Pengawas LPP RRI dan Pengembangan LPP Radio

Oleh Satrio Arismunandar

Pengantar

Sebagai calon anggota Dewan Pengawas LPP RRI, jika terpilih saya akan memiliki berbagai tugas dan tanggung jawab. Yang utama adalah menetapkan kebijakan umum, rencana induk, kebijakan penyiaran, rencana kerja dan anggaran tahunan, kebijakan pengembangan kelembagaan dan sumber daya LPP RRI, serta mengawasi pelaksanaan kebijakan tersebut sesuai dengan arah dan tujuan penyiaran. Selain itu, juga harus mengawasi pelaksanaan rencana kerja dan anggaran serta independensi dan netralitas siaran LPP RRI, serta beberapa tugas lain.

Dalam melaksanakan tugas ini, saya harus berangkat dari pemahaman dan komitmen bahwa siaran RRI harus ditujukan untuk kepentingan bangsa dan negara. RRI juga adalah Lembaga Penyiaran Publik yang independen, netral dan tidak komersial. RRI berfungsi memberikan pelayanan siaran informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol sosial, serta menjaga citra positif bangsa di dunia internasional.

Sebagai lembaga penyiaran publik, saya mengerti bahwa ada sejumlah prinsip yang harus dipegang RRI. Yaitu: 1) Penyiarannya untuk semua warga negara; 2) Menjangkau seluruh wilayah negara; 3) Siarannya merefleksikan keberagaman; 4) Siarannya harus berbeda dengan lembaga penyiaran lain; 5) Harus menegakkan independensi dan netralitas; 6) Siaran harus bervariasi dan berkualitas tinggi; 7) Menjadi Flag Carrier dari bangsa Indonesia; 8) Mencerminkan identitas bangsa; dan 9) Perekat dan pemersatu bangsa.

Tentu tidak perlu dikatakan lagi bahwa siaran harus berpedoman pada Pancasila, UUD 1945, serta peraturan yang lainnya. Siaran LPP RRI harus memihak kepada kepentingan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Konteks Lingkungan yang Selalu Berubah

Dalam upaya menyusun dan mengembangkan misi dan visi untuk LPP RRI, saya percaya bahwa lembaga siaran yang punya peran bersejarah dan banyak jasanya ini, dan sudah berdiri sejak 11 September 1945 tak lama sesudah Proklamasi Kemerdekaan RI, pastilah sudah punya misi dan visi tersendiri. Misi dan visi itu, sesuai dugaan saya, terlihat sudah disusun dengan cukup cermat dan tepat.

Oleh karena itu, saya tidak berpretensi mengusulkan visi dan misi yang 100 persen baru, namun lebih bersifat pengembangan dan penyempurnaan dari visi dan misi yang sudah ada. Pengembangan dan penyempurnaan visi dan misi adalah suatu keniscayaan, karena LPP RRI tidak hidup dalam ruang vakum. Keberadaan LPP RRI selalu dalam konteks, lingkungan, situasi dan kondisi tertentu.

Sementara itu, konteks, lingkungan, situasi dan kondisi itu –dalam dunia kita yang dinamis dan selalu berubah ini—tentu juga mengalami pergeseran dan perubahan. Visi dan misi LPP RRI yang sudah ada sekarang dirumuskan dalam konteks dan lingkungan tertentu, di mana sekarang konteks dan lingkungannya mungkin sudah berubah. Oleh karena itu,visi dan misi LPP RRI juga harus disesuaikan atau diubah, agar selalu relevan dengan perkembangan.

Aspek-aspek Perubahan dan Tantangannya

Perubahan konteks dan lingkungan itu menyangkut banyak aspek: Demografis penduduk Indonesia (jumlah penduduk, sebaran, tingkat pendidikan, komposisi usia produktif), sosial-budaya (gaya hidup, selera masyarakat), politik (perubahan pemerintahan, gaya kepemimpinan, orientasi pembangunan, fokus ke Indonesia bagian timur, dll), pertumbuhan ekonomi (Indonesia akan menjadi bagian dari 10 ekonomi terbesar di dunia, daya beli masyarakat), hubungan internasional (mulai berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN tahun ini), dan banyak lagi.

Perubahan konteks dan lingkungan juga menghadirkan perubahan tantangan-tantangan yang harus dihadapi oleh sebuah lembaga/organisasi penyiaran seperti LPP RRI. Hanya dengan kesigapan dan sikap responsif terhadap tantangan perubahan itulah, maka keberadaan LPP RRI menjadi relevan dan bisa bertahan untuk menjalan tugas pokoknya.

Tugas pokok itu adalah: Memberikan pelayanan informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial, serta melestarikan budaya bangsa untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat, melalui penyelenggaraan penyiaran radio yang menjangkau seluruh wilayah NKRI. (PP.12/2005. Ps. 4).

Di bawah ini akan saya tuliskan misi dan visi LPP RRI yang sudah ada, disertai komentar dan masukan dari saya, serta usul perubahan/pengembangan bilamana perlu.

Misi LPP RRI dan Komentar/Masukan

Pertama, memberikan pelayanan informasi terpercaya yang dapat menjadi acuan dan sarana kontrol sosial masyarakat dengan memperhatikan kode etik jurnalistik/kode etik penyiaran. Komentar/masukan: Ini sudah tepat dan masih relevan dalam konteks dan lingkungan Indonesia sekarang. Sekarang sumber informasi begitu banyak, termasuk dari media online dan media sosial, tetapi sebagian besar sumber informasi itu tidak kredibel. RRI harus terpercaya.

Kedua, mengembangkan siaran pendidikan untuk mencerahkan, mencerdaskan, dan memberdayakan serta mendorong kreativitas masyarakat dalam kerangka membangun karakter bangsa. Komentar/masukan: Ini justru sangat relevan dengan kondisi sekarang, di mana perilaku korupsi merajalela dan merusak sendi-sendi kehidupan bangsa. Korupsi yang meluas di segala tingkatan itu sendiri mengindikasikan rusaknya karakter bangsa (sehingga Presiden Jokowi mencanangkan “revolusi mental”).

Ketiga, menyelenggarakan siaran yang bertujuan menggali, melestarikan dan mengembangkan budaya bangsa, memberikan hiburan yang sehat bagi keluarga, membentuk budi pekerti dan jati diri bangsa di tengah arus globalisasi. Komentar/masukan: Ini sesuai dengan tantangan yng dihadapi sekarang. Bangsa Indonesia tidak mungkin menutup diri dari globalisasi, tetapi juga harus punya strategi menghadapi dampak-dampak negatif globalisasi. Pembentukan jati diri bangsa, khususnya untuk generasi muda, harus mendapat penekanan.

Keempat, menyelenggarakan program siaran berperspektif gender yang sesuai dengan budaya bangsa dan melayani kebutuhan kelompok minoritas. Komentar/masukan: Sejumlah 50% lebih populasi Indonesia adalah kaum perempuan. Jadi tidak mungkin kita memajukan Indonesia jika lebih dari separuh penduduk (baca: kaum perempuan) dibiarkan tertinggal dalam pembangunan, termasuk tertinggal dalam akses ke siaran/informasi yang akan meningkatkan kualitas hidup mereka. Kelompok minoritas juga harus diperhatikan sebagai bagian dari keragaman, yang dihargai dalam nilai-nilai Pancasila.

Kelima, memperkuat program siaran di wilayah perbatasan untuk menjaga kedaulatan NKRI. Komentar/masukan: Penduduk RI rentan oleh pengaruh luar, terutama dari negara tetangga, manakala negara tetangga menawarkan fasilitas sosial-ekonomi yang lebih baik. Selain itu warga RI di daerah perbatasan atau pulau terluar sering merasa tidak diperhatikan oleh pemerintah pusat. Olah karena itu, LPP RRI memang perlu memperkuat program siaran yang bisa menjangkau dan “menyentuh” aspirasi mereka, serta meningkatkan rasa nasionalisme.

Namun, dengan makin besar, makin kuat, dan makin majunya Indonesia, misi ini perlu direvisi/diperbarui. Indonesia tidak cuma bersikap “defensif” terhadap pengaruh dari luar, tetapi Indonesia juga memberi pengaruh ke luar. Siaran RRI kita bisa dipahami dan memberi pengaruh ke Malaysia, Singapura (khususnya di komunitas Melayu) dan Timor Leste.

Keenam, meningkatkan kualitas siaran luar negeri dengan program siaran yang mencerminkan politik negara dan citra positif bangsa. Komentar/masukan: Dengan posisi Indonesia yang makin diakui sebagai negara demokrasi ke-3 terbesar di dunia, dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, peran dan kiprah Indonesia sangat diharapkan untuk membantu memberi solusi pada berbagai masalah dunia. Jadi misi ini sangat relevan dengan kebutuhan tersebut.

Ketujuh, meningkatkan partisipasi publik dalam proses penyelenggaraan siaran mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program siaran. Komentar/masukan: Ini sejalan dengan tren di berbagai bidang, di mana masyarakat diharapkan berperan aktif untuk memberi masukan tentang hal-hal yang terkait kepentingan publik. Era di mana masyarakat dicekoki dan tinggal “terima bersih” saja atas semua program siaran, sudah berlalu. Ini adalah era “interaksi” antara publik dan penyelenggara siaran. Dengan demikian, “interaksi” ini juga bermanfaat ketika LPP RRI bersaing dengan siaran radio swasta dalam merebut atensi para pendengar.

Kedelapan, meningkatkan kualitas audio dan memperluas jangkauan siaran secara nasional dan internasional, dengan mengoptimalkan sumberdaya teknologi yang ada dan mengadaptasi perkembangan teknologi penyiaran, serta mengefisienkan pengelolaan operasional maupun pemeliharaan perangkat teknik. Komentar/masukan: Ini sudah jelas. Perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi memang sangat cepat, khususnya teknologi penyiaran. Teknologi siaran digital dan pemanfaatan Internet itu harus terus dipantau, agar LPP RRI tidak ketinggalan dengan stasiun radio lain.

Kesembilan, mengembangkan organisasi yang dinamis, efektif, dan efisien dengan sistem manajemen sumber daya (SDM, keuangan, asset, informasi dan operasional) berbasis teknologi informasi, dalam rangka mewujudkan tata kelola lembaga yang baik (good corporate governance). Komentar/masukan: Ini sudah menjadi standar di perusahaan-perusahaan siaran swasta, dan tidak perlu dijelaskan lagi bahwa LPP RRI juga harus menerapkan standar yang minimal sama, atau syukur-syukur lebih baik.

Kesepuluh, memberikan pelayanan jasa-jasa yang terkait dengan penggunaan dan pemanfaatan asset negara secara profesional dan akuntabel, serta menggali sumber-sumber penerimaan lain untuk mendukung operasional siaran dan meningkatkan kesejahteraan pegawai. Komentar/masukan: Meskipun sebagai LPP, anggaran RRI disediakan negara, sangat bagus jika RRI juga bisa memberi pemasukan keuangan. Hal ini selain mengurangi beban keuangan yang harus ditanggung negara, RRI juga mendapat tambahan pemasukan untuk makin meningkatkan pelayanannya kepada publik.

Sejauh catatan saya (yang mungkin perlu di-update), saat ini LPP RRI memiliki 62 stasiun penyiaran, termasuk Siaran Luar Negeri. Juga 5 satuan kerja (satker) lainnya, yaitu: Pusat Pemberitaan, Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbangdiklat), Satuan Pengawasan Intern, serta diperkuat 16 studio produksi serta 11 perwakilan RRI di Luar negeri. RRI memiliki 61 programa 1, 61 programa 2, 61 programa 3, 14 programa 4, dan 7 studio produksi. Maka RRI ini setara dengan 205 stasiun radio.

Visi LPP RRI dan Komentar/Masukan

Visi LPP RRI yang sudah ada adalah: “Menjadikan LPP RRI radio berjaringan terluas, pembangun karakter bangsa, berkelas dunia.”

Komentar/masukan: Kalau dalam konteks nasional, mungkin visi “berjaringan terluas” sudah tercapai, karena lebih luas daripada radio swasta manapun. Visi “pembangun karakter bangsa” sedang dalam proses, karena karakter itu sendiri masih terus dalam proses pembentukan. Sedangkan visi “berkelas dunia,” ini belum tercapai kalau kita membandingkan katakanlah dengan BBC.

Pengertian “berkelas dunia,” menurut saya, bukan sekadar LPP RRI punya programa berbahasa asing yang bisa ditangkap di luar negeri, namun seberapa besar programa itu diakses, punya pengaruh, dijadikan acuan/referensi.

Saya ingat ucapan mantan Menteri Pertahanan RI dan pakar hubungan internasional FISIP UI Prof. Dr. Juwono Sudarsono, yang mengatakan: “Setiap pagi, untuk mengetahui dan memantau perkembangan internasional, saya selalu mendengarkan siaran BBC London.” LPP RRI dalam konteks pengaruh, saya pikir, belum sampai ke tingkatan itu.

Selain itu, “berkelas dunia” berarti LPP RRI harus menerapkan penggunaan sumberdaya teknologi siaran yang setara dengan teknologi yang diunakan BBC atau VOA, misalnya. Dengan sendirinya, LPP RRI juga harus punya SDM yang terampil dan mumpuni untuk menangani teknologi siaran tersebut. SDM serupa dibutuhkan untuk menangani kualitas konten siaran, tidak cuma aspek teknologi.

Dalam merumuskan visi LPP RRI yang baru, saya mendapat masukan berharga dari diplomat senior Prof. Dr. Makarim Wibisono, yang kini mewakili kepentingan RI di Geneva. Dalam ceramahnya di Sampoerna University, Jakarta, pertengahan Mei 2015, ia mengatakan, dengan mulai berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), seperti juga Uni Eropa, kita sekarang sedang mengembangkan wawasan keregionalan.

Jadi ada upaya pembentukan “me feeling,” rasa bahwa kita bukan cuma sekadar bagian dari Indonesia, tetapi juga bagian dari region Asia Tenggara, bagian dari ASEAN. Masa depan Indonesia terkait dengan masa depan ASEAN/Asia Tenggara, berhadapan dengan raksasa ekonomi Tiongkok, Amerika, Uni Eropa, dan sebagainya.

Prof. Makarim pada kesempatan itu mengungkapkan potensi ASEAN yang sangat besar. Jumlah penduduk ASEAN kini mencapai 591 juta orang, yang berarti 8,8 persen dari populasi dunia (di mana populasi Indonesia adalah yang terbesar di ASEAN). Gabungan produk domestik bruto (GDP) ASEAN mencapai 3,4 triliun dollar AS. Sedangkan luas wilayahnya mencapai 4,46 juta kilometer persegi. Ini adalah kawasan yang sangat dinamis dan pesat pertumbuhan ekonominya.

Membandingkan pembentukan ASEAN dengan Uni Eropa, Prof. Makarim mengatakan, kalau di Uni Eropa proses pembentukannya terjadi dari bawah ke atas (bottom up). Sedangkan proses pembentukan ASEAN adalah dari atas ke bawah, yakni dari inisiatif para pemimpin ASEAN pada waktu itu, seperti antara lain Presiden Soeharto, PM Malaysia Mahathir Mohamad, dan PM Singapura Lee Kuan Yew. Jadi dibutuhkan perjuangan yang lebih berat untuk mensosialisasikan rasa “keregionalan” atau “ke-Asia-Tenggara-an” tersebut.

MEA sudah menjadi komitmen Indonesia, dan masa depan serta kemajuan Indonesia akan sangat terkait erat dengan kemajuan penerapan MEA tersebut. Oleh karena itu, menurut hemat saya, faktor MEA ini harus dipertimbangkan dalam perumusan misi dan visi LPP RRI yang baru.


Depok, 23 Mei 2015

Comments

HAO DOEDIN said…
Sayang gliat radio sekarang mulai redup , atau kah mungkin sistem penyiaran yg kurang kreatif atau produksi yg lebih besar dibandingankan pendapatan..mudah2an radio tetap exis selalu..

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)