Ketika ISIS Menantang Hamas

Oleh Satrio Arismunandar

ISIS mengancam akan menaklukkan wilayah Jalur Gaza, Palestina. Alasannya, Hamas yang berkuasa di sana dianggap bersikap lunak pada Israel, dan tidak serius menerapkan “syariat Islam.”

Perilaku kelompok militan Negara Islam di Irak dan Suriah atau ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) semakin membingungkan. Atau lebih tepat dikatakan, tidak ada orientasi yang jelas tentang “misi keislaman” seperti apa persisnya yang diperjuangkan kelompok ekstrem itu. Padahal ISIS sudah berhasil menguasai wilayah yang sangat luas di Irak dan Suriah, dan sudah mendeklarasikan diri sebagai negara atau “kekhalifahan Islam.”

Makin kaburnya “misi keislaman” ISIS terlihat dari konfrontasinya dengan faksi Islam Palestina, Hamas, yang sudah puluhan tahun terbukti berjuang melawan penjajahan Israel. Pada 1 Juli 2015, ISIS melontarkan peringatan keras terhadap Hamas, faksi Islam Palestina yang berkuasa di wilayah Jalur Gaza, daerah Palestina yang diisolasi Israel.

ISIS menyiarkan video yang direkam di Suriah dan ditujukan pada “tiran Hamas.” Dalam video itu, seorang anggota ISIS yang bertopeng mengatakan, “Kami akan menumbangkan Negara Yahudi (Israel), dan kamu (Hamas) dan (faksi nasionalis Palestina) Fatah, dan semua kaum sekuler tidak berarti apa-apa, dan kamu akan dilindas oleh (pasukan) kami yang mendekat.”

ISIS mengatakan, aturan syariat Islam akan diterapkan di Gaza, dan menjanjikan bahwa apa yang terjadi di Suriah saat ini, khususnya di kamp pengungsi Yarmouk, akan terjadi juga di Gaza. Pasukan ISIS pada April 2015 menyerbu kamp pengungsi Palestina di Yarmouk, pinggiran Damascus, dan menancapkan kakinya untuk pertama kali di ibukota Suriah itu. Di kawasan itu bermukim 160.000 warga Palestina dan Suriah. Para pejabat Palestina dan Suriah sudah bertekad untuk merebut kembali Yarmouk.

ISIS sebagai musuh bersama

Seperti juga ISIS, Hamas memusuhi negara Zionis Israel, yang didirikan di atas tanah Palestina. Namun tidak seperti ISIS, Hamas tidak berniat mendirikan kekhalifahan Islam di Timur Tengah dan tidak melancarkan “jihad berskala global.” Hamas lebih membatasi perjuangannya pada kemerdekaan rakyat Palestina.

Oleh pihak intelijen Israel, Hamas dituduh memiliki kaitan dengan ISIS di semenanjung Sinai, Mesir, dalam hal penyelundupan senjata dan serangan teror. Padahal, Hamas justru sedang berseteru dengan ISIS. Tuduhan Israel itu sudah dibantah keras oleh Hamas.

Sejumlah analisis meyakini, ancaman yang dilontarkan ISIS bisa mendekatkan hubungan Israel dan Hamas, karena adanya ISIS sebagai musuh bersama, meski Hamas dan Israel pada hakikatnya tetap berada pada kubu yang bertentangan. Pendekatan Hamas-Israel ini berpotensi mewujudkan kesepakatan gencatan senjata lima-tahun, yang akan memungkinkan Hamas membuka pelabuhan laut di Jalur Gaza dan mengakhiri blokade laut yang diterapkan oleh militer Israel.

“(Hamas) adalah gerakan yang telah menjadi sebuah rezim, dan ketika Anda menjadi sebuah rezim maka Anda dapat menderita sebagai akibat genggaman Anda pada kekuasaan. Hal inilah yang sekarang mereka pelajari. Jadi mereka sedang mencari opsi-opsi,” ujar Haim Tomer, mantan ketua operasi luar negeri Mossad, dinas intelijen Israel.

Sedangkan juru bicara Hamas, Sami Abu Zuhri, mengatakan, Hamas telah menerima “ide-ide” namun belum ada usulan konkret tentang kemungkinan gencatan senjata. “Kami akan menangani setiap upaya, yang akan menjurus ke berhentinya blokade dan mengurangi penderitaan rakyat Gaza, dengan syarat hal itu tidak mempengaruhi perjuangan nasional kami,” lanjutnya.

Kehadiran kelompok Salafi pro-ISIS di dalam wilayah Gaza memang telah merepotkan dan membuat marah Hamas. Hal itu karena kelompok ini tidak mau tunduk pada aturan Hamas, dan berbuat semaunya sendiri tanpa memikirkan dampaknya pada Hamas. Kelompok ini juga menentang rekonsiliasi Hamas dengan faksi nasionalis Fatah dan gagasan gencatan senjata Hamas-Israel.

Brigade Omar, kelompok Salafi yang loyal pada ISIS, telah melancarkan tiga serangan roket dari Jalur Gaza ke Israel pada Juni 2015. Tindakan ini bertujuan memprovokasi Israel dan mempermalukan Hamas. Hamas membantah keterlibatan pada serangan roket itu. Israel pun bereaksi dengan melancarkan beberapa serangan udara ke Gaza, meski militer Israel tampaknya sengaja menyerang bangunan dan fasilitas yang tidak lagi digunakan Hamas, agar tidak membuat situasi makin panas.

Membunuh komandan Hamas

ISIS pada Juni 2015 telah mengancam Hamas, agar “mengakhiri perangnya terhadap agama” di perbatasan Israel dari Gaza, atau akan “menghadapi konsekuensi-konsekuensinya.” Ultimatum ini muncul hanya satu hari setelah ISIS mengklaim bertanggungjawab atas terbunuhnya Saber Siam, seorang komandan Hamas di Jalur Gaza. Menurut laporan setempat, militan ISIS memasang bom di kendaraan Saber Siam dan meledakkannya.

Hamas, yang memimpin Gaza sejak 2007, memandang kelompok-kelompok ekstrem Islam itu sebagai ancaman. Terlebih sesudah pengambilalihan paksa oleh ISIS atas kamp pengungsi Palestina di Yarmouk, dekat Damascus. Maka Hamas pun menindak dan menangkap puluhan pendukung ISIS dalam beberapa minggu terakhir, termasuk para imam masjid. Sebaliknya ISIS menuduh Hamas sebagai pelaku “bid’ah,” yang telah bersikap lunak terhadap Israel dan gagal menerapkan hukum Islam di Gaza.

Hamas yang masih dalam proses memulihkan diri dari pertempuran hidup-mati melawan agresi Israel tahun 2014, kini menemukan musuh internal baru di Gaza, yakni kelompok pendukung ISIS. Kelompok Salafi ini tidak cukup kuat untuk menggulingkan kekuasaan Hamas, namun ulah mereka cukup menyulitkan Hamas. Hamas menuduh mereka sebagai pelaku sejumlah ledakan misterius yang ditujukan pada pos-pos keamanan Hamas, serta sejumlah peluncuran roket ke wilayah Israel.

Tindakan Hamas terhadap kelompok ini, yang sempat menewaskan seorang buronan pro-ISIS awal Juni 2015, tampaknya telah menghilangkan peluang untuk rekonsiliasi di antara keduanya. Buronan itu, Younis al-Hunnor, sudah kabur selama berbulan-bulan dan kematiannya menimbulkan kemarahan ISIS yang menyerukan aksi balasan. “Hamas adalah kafir,” demikian tulisan yang dibuat dengan cat semprot di anak tangga bangunan apartemen al-Hunnor di Gaza selatan.

Khotbah-khotbah anti-Hamas

Hamas umumnya bersikap toleran terhadap kelompok Salafi, sejak kelompok ini muncul di Gaza satu dasawarsa yang lalu, walaupun terkadang terjadi konfrontasi di antara keduanya. Kelompok-kelompok ultrakonservatif ini ingin mengubah Gaza menjadi kekhalifahan Islam. Pada 2009, Hamas menewaskan seorang pemimpin Salafi, yang mendeklarasikan sebuah emirat Islam di kota bagian selatan Gaza, Rafah.

Sejak itu, Hamas dengan diam-diam berusaha membubarkan kelompok-kelompok semacam ini. “Kini mereka menjadi kelompok yang terserak-serak, kadang-kadang terdiri dari sampai 10 orang yang memiliki problem ideologis dengan Hamas. Mereka tidak bisa menemukan seorang inkubator populer untuk meredam aktivitas mereka di Gaza,’ ujar Adnan Abu Amer, analis politik dari Gaza.

Namun dalam bulan-bulan terakhir, kaum Salafi di Gaza telah merasa diperkuat dengan kebangkitan kelompok ISIS, yang mendeklarasikan kekhalifahan di wilayah luas yang telah dikuasainya. Pada waktu yang sama, posisi Hamas telah diperlemah oleh agresi Israel tahun lalu, sedangkan blokade yang diterapkan di perbatasan Gaza oleh Israel dan Mesir terasa terus mempersulit kehidupan warga Gaza.

Menurut para analis, ada sekitar 1.000 loyalis Salafi di Gaza. Ini jumlah yang terlalu kecil untuk mengancam Hamas, namun cukup besar untuk terus-menerus menimbulkan problem. Khotbah-khotbah kaum Salafi ini di masjid-masjid Gaza bersifat anti-Hamas. Para pejuang Salafi ini juga mengklaim bertanggungjawab atas beberapa serangan roket ke Israel. Serangan itu tidak menimbulkan korban di pihak Israel, namun mengganggu gencatan senjata Hamas-Israel yang sudah berlangsung 10 bulan. (Diolah dari berbagai sumber)

Depok, 8 Juli 2015
Ditulis untuk Majalah AKTUAL

Comments

Andy Hrp90 said…
Astagfirullah dasar ISIS BAJINGAN!!!

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI