PM Najib Razak Tersandung Tuduhan Korupsi

Oleh: Satrio Arismunandar

Citra pemerintah Malaysia tercoreng oleh dugaan aliran dana dari perusahaan 1MDB ke rekening pribadi Perdana Menteri Najib Razak. Meski diduga terlibat megakorupsi, posisi Najib sementara masih kuat.

Semua bermula dari pemberitaan suratkabar The Wall Street Journal (WSJ) pada awal Juli 2015. Media milik Dow Jones itu mengutip dokumen hasil penyelidikan resmi dan memuat tabel, yang mengindikasikan adanya aliran dana ratusan juta dollar AS dari perusahaan pengelola dana investasi pemerintah Malaysia, 1MDB (1Malaysia Development Berhad), ke sejumlah rekening pribadi milik Perdana Menteri Najib Razak.

Dalam berita yang berjudul “Government Documents from Probe of Najib Razak,” WSJ memuat sembilan dokumen tentang dugaan aliran dana ke rekening milik Najib. Menurut WSJ, dokumen-dokumen itu merupakan hasil investigasi otoritas Malaysia. Di situ ditunjukkan adanya aliran dana dari sejumlah perusahaan pada Maret 2013, Desember 2014, dan Februari 2015.

Dalam pemberitaannya, WSJ menyebut, ada lima deposito yang masuk ke dalam rekening Najib. Dua transaksi terbesar jumlahnya 620 juta dollar AS (setara Rp 8,27 triliun) dan 61 juta dollar AS (setara Rp 813,97 miliar). Transaksi tersebut dilakukan pada 2013 dari perusahaan yang terdaftar di British Virgin Islands melalui bank Swiss.

Najib tentu saja membantah keras tudingan itu, yang jika terbukti bisa memicu krisis politik terbesar di Malaysia. Najib menegaskan, dirinya akan berjuang untuk mencari kebenaran. Najib meminta penjelasan WSJ dan mempertimbangkan langkah hukum terhadap media asing itu. Lewat kantor perdana menteri, Najib mengklaim bahwa laporan itu hanyalah upaya merusak dan melemahkan kepercayaan terhadap perekonomian Malaysia.

Najib bahkan menyebut laporan itu sebagai bentuk “sabotase politik” terhadap dirinya. Laporan WSJ itu juga dinilai akan menodai pemerintah dan pada ujungnya bertujuan menggulingkan perdana menteri yang telah dipilih secara demokratis. Pihak Najib menambahkan, semua pihak harus menyadari adanya penegasan 1MDB sebelumnya, yang memastikan tidak ada aliran dana ke PM Najib.

Membekukan enam rekening

Namun, sekadar membantah memang tidak cukup. Apalagi berita WSJ itu menyatakan, aliran dana yang masuk ke beberapa rekening pribadi Najib itu sangat besar. Nilai dana yang masuk ke rekening tokoh politik nomor satu di Malaysia itu mencapai 700 juta dollar AS (sekitar Rp 9,3 triliun), dan dana itu berasal dari sejumlah badan perbankan dan 1MDB.

Jaksa Agung Abdul Gani Patail pada 8 Juli 2015 menyatakan, sejumlah dokumen yang dimuat dalam pemberitaan itu sebelumnya adalah subyek utama dari proses penyelidikan mereka. Kejagung Malaysia sudah membentuk satuan tugas khusus untuk menangani hal ini. Satgas itu telah menyita sejumlah dokumen terkait 17 rekening dari dua bank untuk membantu proses penyelidikan lebih lanjut. Satgas itu juga membekukan enam rekening yang dianggap mencurigakan.

Laporan sementara pemeriksaan audit internal pemerintah Malaysia terhadap perusahaan Negara 1MBD belum menemukan hal yang mencurigakan. Kendati demikian, tim audit mengakui bahwa 1MDB kurang mau bekerjasama. “Tidak ada yang mencurigakan dalam laporan sementara. (Tetapi) 1MDB tidak bekerjasama penuh dengan auditor umum,” ujar Nur Jazlahn Mohamed, kepala Komite Akuntan Publik Bipartisan (PAC) pada 9 Juli 2015.

Meskipun pihak 1MDB membantah, dengan mengatakan bahwa tuduhan-tuduhan itu tidak berdasar, penyelidikan masih berjalan. Laporan PAC ini memang belum menjadi kesimpulan akhir dari penyelidikan. Satgas yang merupakan gabungan dari Kejagung, Komisi Pemberantasan Korupsi Malausia, Bank Negara (bank sentral), dan Polisi Kerajaan Malaysia masih mendalami kasus ini.

Dugaan korupsi terhadap Najib sebenarnya bukanlah barang baru. Desas-desus atau kecurigaan tentang aliran dana ke rekening Najib sudah lama beredar di kalangan masyarakat Malaysia. Namun, karena tidak adanya kebebasan pers di Malaysia, tidak ada satu pun media setempat yang berani memberitakannya. Suratkabar The Wall Street Journal telah mengisi kekosongan informasi ini.

Publik Malaysia juga menyorot serius skandal korupsi yang melibatkan Najib ini. Di Twitter, misalnya, tagar #1MBD menjadi trending topic nasional dengan berbagai kicauan dan gambar satir. Kecemasan penguasa terlihat dari pernyataan Komisi Multimedia dan Komunikasi Malaysia, yang memperingatkan publik agar tidak membagi suatu informasi yang belum dipastikan kebenarannya di media sosial.

Di ibukota Malaysia, Kuala Lumpur, opini publik terbelah antara mereka yang meragukan kredibilitas Najib dan yang masih tetap mempercayainya. Laporan investigasi kasus ini berdampak pada nilai tukar mata uang ringgit Malaysia, yang dikabarkan jatuh ke level terendah sejak tahun 2005.

Gerakan kubu oposisi

Menyikapi kasus ini, sekitar 100 anggota kelompok oposisi dan aktivis –yang mewakili sekitar 40 organisasi swadaya masyarakat-- pun menggelar pertemuan darurat di Kuala Lumpur pada 7 Juli 2015. Mereka meminta PM Najib mundur agar investigasi kasus tersebut bisa dilakukan secara independen. Aktivis reformasi, Ambiga Sreenevasa, yang hadir pada pertemuan itu, meminta dibentuknya pelaksana tugas pemerintahan sambil menunggu pelaksanaan pemilihan umum satu tahun mendatang.

Kepala Bersih 2.0 Maria Chin Abdullah meminta penyelidikan kasus ini dapat berjalan transparan. “Kami berharap, investigasi diketahui masyarakat untuk memungkinkan pengawasan,” katanya. Sedangkan tokoh oposisi lain, Lim Guan En, meminta asset 1MDB dan Najib dibekukan.

Citra PM Najib saat ini memang sedang jadi bulan-bulanan, bahkan sebelum mencuatnya kasus aliran dana dari 1MDB ini. Tak kurang dari mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad yang melontarkan kritik pedas kepada pemerintahan Najib. Karena kritik-kritiknya yang keras, aparat keamanan pada Juni 2015 sempat menghentikan Mahathir ketika sedang berbicara di forum umum terbuka. Ini baru pertama kali terjadi terhadap tokoh sekaliber Mahathir di negaranya sendiri.

Mengomentari kasus tuduhan korupsi terakhir, Mahathir berpendapat, dengan adanya skandal 1MDB ini, PM Najib telah mempermalukan negara. “Seluruh dunia tahu tentang Najib, Jho Low, dan 1MDB,” ucapnya, seperti dikutip The Star. “Pada masa lalu, negeri ini belum pernah dipermalukan dengan tuduhan-tuduhan tak terjawab seperti sekarang ini,” tulis Mahathir menyindir Najib dalam blog-nya.

Dalam wawancara dengan BBC, Mahathir menantang Najib untuk membuktikan kepada rakyat Malaysia bahwa berbagai aset dan kekayaan yang dimilikinya sekarang diperoleh secara legal. Mahathir juga menyebut Najib memiliki gaya hidup mewah, yang selama ini sudah sering menjadi sorotan pemberitaan berbagai media asing.

Lewat akun Facebook resminya, Najib membantah semua tuduhan itu. Ia justru balik menuduh Mahathir telah ceroboh, karena menuduh sembarangan bahwa terdapat dana sebesar 42 miliar ringgit Malaysia (setara Rp 147,6 trilun) hilang dari 1MDB. “Padahal, faktanya utang yang telah diaudit itu justru didukung aset yang juga telah diaudit senilai 51 miliar ringgit Malaysia (setara Rp 179,27 triliun). Dari sini jelas terlihat, tuduhan palsu itu merupakan bagian kampanye sabotase politik,” tulis Najib.

Meski diserang dengan tuduhan kasus korupsi, posisi Najib di dalam negeri relatif masih kuat karena masih cukup banyak dukungan terhadapnya. Najib pada 6 Juli 2015 mengucapkan terimakasih kepada petinggi UMNO (Organisasi Nasional Melayu Bersatu), partai yang berkuasa di Malaysia, dan kepada pemimpin spiritual Partai Islam Se-Malaysia yang tak percaya pada kabar tuduhan korupsi itu.

Bagaimana kelanjutan tuduhan korupsi ini dan status 1MDB, masih jadi bahan spekulasi yang menarik. Perusahaan pengelola investasi pemerintah 1MDB yang dipimpin langsung Najib ini memiliki utang 11,6 miliar dollar AS (setara Rp 154,82 triliun). Jauh sebelum muncul pemberitaan WSJ, 1MDB telah menghadapi sejumlah penyelidikan dari bank sentral, badan pemeriksa keuangan, kepolisian, dan Komite Rekening Rakyat di parlemen Malaysia. (Diolah dari berbagai sumber)

Depok, 17 Juli 2015

Ditulis untuk Rubrik Luar Negeri Majalah AKTUAL
e-mail: arismunandar.satrio@gmail.com

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)