“Ramadhan Berdarah” di Timur Tengah

Oleh: Satrio Arismunandar

Tiga aksi teror di bulan suci Ramadhan menunjukkan pola kekerasan yang sedang berkembang. Jika pun tidak terlibat langsung, ISIS dan gaya brutalitasnya seolah sudah menjadi sumber inspirasi bagi teroris.

Ramadhan, bulan suci bagi umat Islam yang seharusnya diisi dengan puasa, ibadah, dan pendekatan diri pada Allah SWT, ternyata justru dinodai oleh aksi teror di berbagai wilayah, khususnya di kawasan Timur Tengah. Jumat, 26 Juni 2015, secara mengejutkan terjadi serangan teror pada saat hampir bersamaan di Perancis, Kuwait, dan Tunisia.

Sebuah serangan bom bunuh diri menewaskan sedikitnya 28 jamaah dan melukai lebih dari 200 lainnya di Masjid Imam Al-Sadiq, masjid penganut Muslim Syiah, di kawasan al-Sawaber, kota Kuwait. Serangan fatal itu terjadi saat ibadah shalat Jumat. Saksi mata mengatakan, saat pemboman terjadi, masjid sedang dipenuhi sekitar 2.000 jamaah. Sejumlah besar tersangka segera ditangkap, termasuk pemilik kendaraan yang sempat dipakai oleh pelaku bom bunuh diri.

Sementara itu, serangan teroris terjadi di Hotel Riu Imperial Marhaba, di kawasan wisata Port El Kantaoui, kota pantai Sousse, Tunisia. Serangan oleh seorang pria bersenjata ini menewaskan 38 turis, mayoritas turis asing asal Inggris, dan melukai 39 korban lainnya. Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi, pemimpin pemerintahan pertama hasil pemilu sesudah Revolusi Musim Semi Arab, memberlakukan keadaan darurat setelah terjadinya aksi teror ini.

Pelaku, yang diklaim bernama Abu Yahya al-Qayrawani (20), adalah mahasiswa yang menyamar sebagai turis dan masuk dari arah pantai ke tempat para turis berkumpul. Ia menyembunyikan senjatanya dalam payung pantai, sebelum mengeluarkannya dan lalu menembak dengan membabi-buta. Perdana Menteri Tunisia Habib Essid segera mengerahkan tentara untuk mengamankan lokasi-lokasi wisata dan situs arkeologi. Tunisia juga akan menutup sedikitnya 80 masjid yang dinilai selama ini menyebarkan “racun permusuhan.”

Sedangkan serangan teror lain terjadi di Perancis, persisnya di pabrik kimia Air Product, yang berlokasi di Isere, sekitar 25 kilometer selatan Lyon. Serangan ini menewaskan satu orang dan menyebabkan dua lainnya luka-luka, meski gagal meledakkan pabrik. Air Products belum lama ini mendapat kontrak dari perusahaan migas Aramco, untuk membangun dan mengoperasikan kompleks gas industri terbesar di dunia, di kawasan Jazan, Arab Saudi. Pelaku, Yassin Salhi (35), ditangkap setelah menabrakkan mobil ke dalam hanggar yang penuh tabung gas oksigen dan cairan kimia peluntur cat. Salhi juga membunuh atasannya, Herve Cornara (54), dengan memenggal kepalanya.

Gejala umum serupa

Ketiga serangan teror yang hanya berselang dalam hitungan jam itu telah menewaskan lebih dari 60 orang dan membuat ratusan warga luka-luka. Dilihat dari pilihan sasaran dan taktik serangan berbeda-beda yang digunakan, tampaknya tidak ada hubungan langsung antara satu serangan dengan serangan yang lain.

Namun, dari sudut pandang tertentu, ketiga serangan ini mewakili gejala umum serupa, yang mendapat inspirasi –jika bukan keterlibatan langsung—dari kelompok ekstrem Negara Islam di Irak dan Suriah atau ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Apalagi ketiga serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah seorang juru bicara ISIS menyerukan kepada para pengikut ISIS, agar melakukan serangan-serangan selama bulan Ramadhan.

Para pakar Amerika Serikat menyatakan, ledakan kekerasan yang hampir serentak terjadi di tiga benua itu tampaknya meningkatkan kecemasan tentang daya jangkau serangan ISIS. Kelompok ekstrem itu tetap dipandang berfokus pada ambisi-ambisi regional di Irak dan Suriah, di mana ISIS mempertahankan cengkeramannya atas wilayah yang luas, meski akhir-akhir ini mengalami beberapa kekalahan militer.

Para pejabat AS berpendapat, ISIS tampaknya kurang terdorong untuk melancarkan persekongkolan terorisme jauh ke seberang lautan ketimbang organisasi Al-Qaeda dan afiliasinya. Namun, ISIS juga semakin dipandang sebagai pusat dari gerakan yang sedang berkembang, di mana unsur-unsurnya yang terpisah sangat bervariasi. Mulai dari para pengikut lepas, yang tertarik oleh brutalitas ekstrem yang menjadi cap kelompok itu, sampai ke “waralaba-waralaba resmi” ISIS di Libya dan negara-negara lain, yang kondisi keamanannya merosot.

“Ia menjadi semakin meluas secara geografis dan tersebar secara ideologis,” kata Bruce Hoffman, pakar terorisme di Universitas Georgetown. Dalam berbagai cara, menurut Hoffman, sifat tak berwujud dari jejaring itu membuatnya lebih sulit ditangkal ketimbang Al-Qaeda, yang sering mengerahkan hampir seperti kontrol gaya korporasi terhadap waralaba-waralaba regional dan persekongkolan teroris di berbagai penjuru dunia.
Peringatan setahun kekhalifahan ISIS

Tampaknya tiga serangan ini dilakukan secara tidak terkoordinasi. Namun, media pertahanan HIS Jane’s sebelumnya telah memperkirakan, ada risiko yang meningkat bahwa akan terjadi serangan teror selama bulan suci Ramadhan, yang tahun ini dimulai pada 18 Juni. Aksi semacam ini sebelumnya pernah terjadi, namun kali ini perlu mendapat perhatian lebih karena periode Ramadhan tahun ini bertepatan dengan peringatan setahun deklarasi kekhalifahan ISIS.

ISIS cabang wilayat Najd (Provinsi Najd), sebuah kawasan yang mencakup Arab Saudi dan Teluk, sudah mengklaim bertanggung jawab atas serangan di masjid Kuwait. Sedangkan keterlibatan, atau setidak-tidaknya pengaruh ISIS, sangat mungkin terdapat pada kasus serangan di Tunisia. Frekuensi serangan yang meningkat juga menunjukkan tumbuhnya daya tarik ISIS dan seruannya ke arah serangan kekekerasan.

Serangan semacam itu tidak lantas berarti menunjukkan adanya peningkatan besar dari kemampuan pelaku yang sudah terbukti sebelumnya. Di Eropa Barat, Amerika Serikat, dan Australia, pola serangan itu tampaknya akan tetap dilakukan oleh pelaku tunggal atau kelompok yang sangat kecil, yang menggunakan serangan berkapabilitas rendah. Senjata yang digunakan bisa bahan peledak yang dimodifikasi secara kasar, namun lebih mungkin mereka menggunakan senjata api, pedang, dan wahana yang bertujuan menimbulkan korban.

Sedangkan di negara-negara yang memiliki populasi Muslim Syiah yang cukup signifikan, termasuk di Irak, Kuwait, Pakistan, dan Yaman, serangan itu tampaknya akan berfokus ke aset-aset religius Syiah, seperti masjid dan tempat suci lain. Tujuannya adalah untuk semakin mengobarkan perpecahan yang sudah ada antara komunitas Muslim Sunni dan Syiah, guna memicu konflik sektarian lebih jauh.

Mengeksploitasi Isu Sunni-Syiah

ISIS tampaknya cukup berhasil mengeksploitasi isu sektarian Arab Saudi, dalam rangka memperluas kehadirannya di kerajaan itu. Provinsi Timur di Saudi memiliki populasi mayoritas warga Syiah, dan serangan terhadap masjid-masjid Syiah di sana mungkin akan terjadi lagi. Dua serangan bom bunuh diri, yang diklaim dilakukan ISIS, sudah terjadi di dua masjid Syiah di provinsi itu pada 22 dan 29 Mei 2015. Tujuan serangan ini adalah menggoyahkan stabilitas Saudi dengan mengeksploitasi perpecahan antara warga Sunni yang mayoritas dan Syiah yang minoritas.

Untuk Tunisia dan Mesir, serangan –serangan teror tampaknya lebih ditujukan untuk merusak ekonomi, termasuk aset-aset pariwisata dan energi. Sebelum serangan “teror Ramadhan” terakhir, pada Maret 2015, dua lelaki bersenjata juga menembaki para pengunjung museum nasional di pusat kota Tunis, ibukota Tunisia, dan menewaskan 21 turis.

Di Somalia, Harakat al-Shabaab al-Mujahideen (Al-Shabaab) juga meningkatkan serangannya sejak awal Ramadhan, dengan sasaran pasukan penjaga perdamaian dan pasukan keamanan domestik. Petugas keamanan Kenya dan Uganda pada Juni 2015 melaporkan, Al-Shabaab merencanakan serangan terhadap fasilitas pemerintah dan aset-aset komersial di Ethiopia, Kenya, Somalia, dan Uganda selama Ramadhan.
Alhasil, Ramadhan tahun ini dan mungkin Ramadhan di tahun-tahun mendatang berpotensi menjadi panggung aksi kekerasan yang tak berujung. Sebuah ironi yang menyedihkan. (Diolah dari berbagai sumber)

Depok, 8 Juli 2015
Ditulis untuk Majalah AKTUAL

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI