Caesar 155, Howitzer Kelas Berat Andalan TNI-AD

Oleh: Satrio Arismunandar

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) masa kini bukan lagi tentara yang hanya dibekali persenjataan “kuno,” seperti citra yang dulu sempat beredar. Mengimbangi tuntutan tugas dan tantangan yang terus berubah, serta sesuai perkembangan teknologi alutsista, TNI-AD secara bertahap kini telah dilengkapi diri dengan persenjataan yang modern dan strategis.

Salah satu persenjataan yang kini menjadi andalan TNI-AD adalah meriam Caesar berkaliber 155 mm. Dengan kehadiran Self Propelled Howitzer kelas berat yang berbobot 18,5 ton ini, TNI-AD sudah melengkapi diri dengan alutsista yang kemampuannya mulai masuk ke skala strategis, bukan cuma taktis.

Caesar 155 adalah howitzer pertama milik TNI-AD yang berkemampuan swa gerak dan memiliki daya jangkau tembakan sejauh 39 km. Meriam ini juga mampu menembakkan 6 amunisi berbobot 47 kg dalam 1 menit. Meriam canggih ini dibuat oleh Nexter GIAT, perusahaan persenjataan di Roanne, Perancis. Howitzer Caesar ini memiliki desain yang lebih inovatif dibandingkan howitzer jenis tersebut, yang sebelumnya menggunakan roda rantai (tracked).

Dalam pengirimannya ke medan tempur, Caesar 155 selalu “digendong” oleh truk bermesin Renault berbobot 19 ton. Meski truk ini berat, ia dapat melaju hingga kecepatan 50 km/jam (off-road) dan 100 km/jam (on-road), sehingga bisa dibilang Caesar 155 memiliki mobilitas yang tinggi. Truk ini dengan bahan bakar yang ada di tangkinya bisa mencapai jarak 600 km.

Sistem penembakan di Caesar 155 juga telah dibuat otomatis, termasuk proses penyiapan dan pemasukan amunisi ke meriam. Truk ini membawa 18 amunisi yang ditempatkan dengan sangat aman di bagian kanan, sementara 18 fuse (sumbu)-nya ditempatkan di sebelah kiri.

Lapisan Baja Khusus

Kabin truk pengangkut meriam Caesar sudah dilengkapi perlindungan anti radiasi nuklir, biologi, dan kimia (nubika). Untuk urusan perlindungan dari serangan musuh, badan truk ini dilapisi baja khusus,dengan ketebalan yang mampu menahan proyektil peluru kaliber 7,62 mm dan pecahan mortir kaliber 80 mm.

Meriam Caesar dioperasikan oleh 5 prajurit. Pada saat truk bergerak menuju lokasi penembakan, kelima prajurit akan berada di dalam kabin, dengan salah satu prajurit bertindak sebagai sopir. Begitu tiba di lokasi, kelima personel turun dari truk dan bekerjasama mengoperasikan penembakan. Satu personel bertugas mengambil amunisi, satu personel menyiapkan fuse-nya, satu personel memantau dan menentukan koordinat target serangan pada komputer, satu personel bertugas memasukkan amunisi, dan satu personel sebagai komandan.

Melihat kemampuannya, howitzer Caesar ini betul-betul layak jadi andalan. TNI-AD direncanakan memperoleh dua batalion howitzer Caesar. Satu batalion artileri medan terdiri dari 3 baterai, dimana 1 baterai terdiri dari 6 meriam. Maka jumlah howitzer Caesar untuk TNI-AD akan mencapai 36 unit. Selain itu, ada satu unit yang akan ditempatkan di lembaga latihan dan pendidikan.

Saat ini TNI-AD sudah memiliki 2 batalion howitzer swagerak, yakni Yon Armed 7/105 GS di Cikiwul, Bekasi (Kodam Jaya), dan Yon Armed 5/105 GS Cimahi, Jawa Barat (Kodam Siliwangi). Howitzer yang digunakan adalah AMX Mk-61 eks Belanda berjumlah 50 unit, yang diperoleh pada akhir 1970-an hingga 1982. Howitzer beroda rantai dengan berat 13,7 ton ini memiliki meriam berkaliber 105 mm.

TNI-AD juga memiliki howitzer kaliber 155mm tipe tarik (towed) yang diperoleh dari Singapura pada 1997. Howitzer ini (di Indonesia sering disebut FH-2000) berbobot 12,9 ton dan digunakan oleh Batalion Armed 9 Kostrad di Sadang, Purwakarta.

Dengan kehadiran Caesar 155,korps Artileri Medan TNI-AD secara drastis telah meningkatkan daya jangkauan tembakannya. Jangkauan tembakan AMX Mk-61 hanya 15 km, sedangkan FH-88 hanya mampu mencapai jarak tembak 30 km. Caesar jelas lebih unggul, karena tembakannya mampu menjangkau jarak hingga 42-50 km. Jauh-dekatnya jangkauan tembakan tentunya ditentukan pula oleh pilihan proyektil yang dipakainya.

Bisa Diangkut Pesawat Hercules

Howitzer Caesar dapat diangkut oleh pesawat pengangkut militer, seperti C-130 Hercules milik TNI-AU atau pun A-400M. Maka, Caesar dengan mudah dan cepat setiap saat dibutuhkan bisa disebar ke daerah konflik. Dua howitzer Caesar pertama telah tiba di Indonesia pada September 2012. Pengadaan meriam Caesar ini dijadwalkan dikirim dari pabriknya di Perancisd alam tiga tahap, dan tahap terakhir diharapkan tuntas pada 2015.

Di antara negara ASEAN, pengguna lain howitzer Caesar adalah Thailand. Negeri gajah putih tersebut membeli 6 unit pada 2006 dan semua unit telah diterima pada 2010. Pembelian oleh Thailand ini merupakan perolehan order ekspor pertama-kali bagi Caesar. Tetapi Indonesia tidak ingin sekadar membeli begitu saja.

Sesuai dengan kebijakan Kementerian Pertahanan RI, yang mendorong kemandirian dalam pengadaan alutsista, industri pertahanan dalam negeri juga diharapkan mendapat manfaat alih teknologi dari setiap impor persenjataan yang dilakukan Indonesia. Maka dalam pembelian meriam Caesar 155, juga digalang kerjasama dengan Nexter untuk memproduksi amunisinya bersama PT Pindad di Bandung.

Amunisi Caesar yang berbentuk runcing ini terbagi menjadi dua. Bagian pertama adalah bagian tabung yang berisi mesiu. Bagian kedua adalah sumbu (fuse) yang terletak di bagian ujung yang runcing. Di bagian sumbu ini terdapat timer, untuk menetapkan kapan amunisi itu meledak setelah dilontarkan oleh meriam.

Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, pada acara serah terima 4 unit Caesar 155, telah berkunjung ke pabrik Nexter di Roanne, Perancis, pada 25 Juni 2014. Sjafrie saat itu berbincang serius dan mengingatkan pihak Nexteragar segera berkoordinasi dalam pembuatan amunisi itu bersama PT Pindad, sebagai bagian dari kesepakatan yang telah ditandatangani. Mike Duckworth, Executive Vice President International Affairs Nexter, menyatakan, pihaknya sangat memahami hal ini dan siap melaksanakannya.

“Inilah target kemandirian industri pertahanan kita. Kita beli senjata, beli amunisi, kita pelajari juga bagaimana membuat amunisi. Mudah-mudahan 5 tahun ke depan Pindad sudah bisa membuat amunisi kaliber besar untuk meriam 155 mm dan bagaimana membuat amunisi besar untuk artileri lain,” kata Sjafrie waktu itu. ***

Depok, Agustus 2015
Ditulis untuk Majalah DEFENDER

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)