Beruang Merah Turun Gunung di Suriah

Oleh: Satrio Arismunandar

Merasa Presiden Suriah Bashar Assad terancam jatuh, Rusia akhirnya mengerahkan militernya untuk mendukung Assad, sekaligus mengamankan batu pijakan Rusia sendiri di Timur Tengah.

Angin perang bertiup makin kencang di Timur Tengah, setelah Rusia –sekutu lama Suriah sejak zaman Uni Soviet—mengirimkan bantuan militer komplit. Keterlibatan aktif militer Rusia ini semakin memperumit konflik dan perang saudara di Suriah, yang sudah memakan korban sekitar 300 ribu jiwa dan menyebabkan arus ratusan jutaan pengungsi ke negara-negara tetangga dan Eropa.

Awalnya, kehadiran Rusia disebutkan hanya berupa bantuan kemanusiaan, penasihat militer, sejumlah tank T-90 dan kendaraan lapis baja BTR-82A, artileri, rudal, dan sedikit pesawat tempur. Namun dua pejabat Kementerian Pertahanan Amerika Serikat mengatakan, Rusia terus menambah jumlah jet tempur mereka di Suriah. Sejauh ini, Rusia setidaknya sudah mengerahkan 28 pesawat tempur dan pembom.

Pesawat-pesawat itu ditempatkan di sebuah lapangan udara di provinsi Latakia, bagian Barat Suriah, kata sumber yang dilansir Times of Israel, 22 September 2015. Jenis pesawat yang ditempatkan di pangkalan udara itu adalah Sukhoi Su-24 dan Su-25, dan ada juga beberapa pesawat jenis Su-27 Flanker.

Helikopter Pengangkut dan Tempur

Organisasi Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) yang berbasis di Inggris menyatakan, Rusia tengah membangun landasan udara. Diduga, pengembangan kapasitas bandar udara Hamdiyeh di Tartus, basis Assad di Latakia selatan, terkait dengan penguatan fasilitas Angkatan Laut Rusia di Pelabuhan Tartus.

Sumber lain di pemerintah Rusia mengungkapkan, Rusia telah mengirimkan tentara ke Suriah, dan jumlah yang sudah dikirim hampir 2.000 orang. Mereka terdiri dari tentara, pilot jet tempur, penasihat militer, dan beberapa insinyur militer. Rusia juga telah mengirimkan helikopter pengangkut atau tempur. Menurut pejabat AS, setidaknya ada 20 helikopter Rusia yang berada di Suriah, dan ditempatkan di pangkalan yang sama dengan 28 jet tempur.

Alasan resmi Rusia untuk semua kehadiran militer ini adalah mendukung pemerintah Suriah yang sah di bawah Presiden Bashar Assad, dalam melawan terorisme. Seperti, kelompok ISIS (Negara Islam di Irak dan Suriah), yang kini telah menguasai sebagian besar wilayah Suriah. Peralatan militer yang dipasok juga dikatakan sebagai bagian dari kesepakatan penjualan yang sudah lama ada.

Selain ISIS, ada sejumlah kelompok oposisi lokal yang juga berperang melawan militer Suriah. Target mereka adalah menumbangkan Assad dari kekuasaan. Kelompok oposisi ini didukung oleh Amerika dan Barat, Turki, dan Arab Saudi. Sedangkan pemerintah Suriah didukung oleh Iran dan kelompok Hizbullah Lebanon. Meski kubu oposisi mendapat pasokan dana dan persenjataan, sejauh ini mereka belum berhasil menumbangkan Assad. Perang pun jadi berlarut-larut selama 4,5 tahun, dengan korban yang terus berjatuhan.

Presiden Assad Terpojok

Meski masih bertahan, Assad dalam posisi lemah dan terpojok. Hal ini memaksa Rusia untuk turun tangan langsung. Suriah adalah batu pijakan satu-satunya yang tersisa bagi militer Rusia di Timur Tengah, dan batu pijakan itu terancam lenyap jika Assad sampai terguling.

Langkah Rusia ini memberi komplikasi baru pada rencana AS dan sejumlah negara tetangga Suriah untuk menggusur Assad. Menteri Luar negeri AS John Kerry meminta Assad untuk mundur, meski kapan persisnya Assad mundur itu bisa diputuskan melalui negosiasi. Kerry meminta Rusia dan Iran untuk mengggunakan pengaruh mereka pada Assad, untuk meyakinkannya agar mau melakukan negosiasi transaksi politik.

Sedangkan dalam sudut pandang Rusia, Damascus harus menjadi bagian dari upaya internasional dalam memerangi ISIS. Maka Rusia mencoba menggalang tiga negara Arab – Mesir, Jordania, dan Uni Emirat Arab-- untuk membangun kerjasama dengan Assad dalam perang melawan teroris, khususnya ISIS. Soal dipertahankannya Assad inilah yang terus menjadi titik sengketa antara Rusia dan AS. ***

Depok, 23 September 2015

Ditulis untuk Majalah AKTUAL

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI