Provokasi Baru Israel ke Al-Aqsa

Oleh: Satrio Arismunandar

Rezim Zionis Israel membuat provokasi baru, dengan membiarkan warga Yahudi masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa di Jerusalem. Warga Palestina cemas, kelompok ultranasionalis Yahudi makin diberi akses untk menguasai tempat suci itu.

Ini adalah peristiwa yang tidak biasa di lingkungan Masjid Al-Aqsa, Jerusalem. Jam baru menunjukkan pukul 7.30 pagi, ketika polisi Israel dengan bersenjatakan gas air mata, peluru karet, dan granat kejut, menyerbu masuk ke tempat suci Muslim itu. Kejadian yang memicu bentrokan polisi Israel dengan warga Palestina, 15 September 2015, itu menandai babak baru pelanggaran Israel terhadap hak-hak asasi rakyat Palestina.

Juru bicara polisi Israel, Luba Samri, beralasan bahwa polisi masuk ke dalam Masjid Al-Aqsa untuk membubarkan warga Palestina yang menggelar protes di sana, dan para pemuda itu sudah berada di dalam masjid sejak malam hari. Samri mengklaim, pengunjuk rasa melempari polisi dengan batu, kembang api, bata beton, serta sebuah bom molotov. Dua warga Palestina ditahan, sedangkan 26 warga Palestina dan lima polisi Israel cedera ringan dalam bentrokan itu.

Bentrokan itu sempat menimbulkan percikan api di dalam masjid, serta membakar karpet dan tumpukan kayu yang ada di dalamnya. Api dapat dipadamkan, dan kondisi kembali tenang. Namun, fakta bahwa polisi Israel masuk hingga ke dalam masjid itu dianggap sebagai “perkembangan yang sangat berbahaya.” Hal itu dikatakan Direktur Waqf, Azzam Khatib. Waqf adalah yayasan Islam, yang ikut bertugas mengelola kompleks Masjid Al-Aqsa.

Bentrokan ini adalah lanjutan dari bentrokan sebelumnya pada 13-14 September 2015, ketika polisi Israel melindungi warga Yahudi yang ingin masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa. Direktur Masjid Al-Aqsa Omar Kaswani menyatakan, 80 pemukim Yahudi yang dilindungi polisi Israel menyerang masjid, saat dihadang oleh para relawan Palestina. Menurut media Israel, Menteri Pertanian Israel dari sayap kanan, Uri Ariel, berada di antara rombongan umat Yahudi yang masuk ke kompleks Al-Aqsa.

Reaksi Raja Abdullah II

Reaksi marah pun bermunculan. Raja Abdullah II dari Jordania secara tegas menyebut tindakan polisi Israel itu bersifat provokasi dan bisa berdampak pada hubungan kedua negara. Pemegang tahta dari Dinasti Hasyimiyah di Jordania ini adalah salah satu pemegang mandat atas Masjid Al-Aqsa, yang merupakan tempat suci ketiga bagi umat Islam setelah Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Jordania menandatangani perjanjian perdamaian dengan Israel pada 1994.

“Kalau ini terus terjadi...Tak ada pilihan lain, Jordania harus mengambil tindakan,” kata Raja Abdullah, tanpa menjelaskan lebih jauh. Saat terjadi bentrokan di Masjid Al-Aqsa, November 2014, Jordania sempat menarik duta besarnya dari Israel. Mesir pada insiden terakhir juga mengecam langkah Israel.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas telah berdiskusi lewat telepon dengan Raja Abdullah II, kata juru bicara Kepresidenan Palestina. Mahmoud Abbas mengecam keras serbuan polisi Israel ke Masjid Al-Aqsa. Abas menegaskan, tempat seperti Masjid Al-Aqsa merupakan “garis merah.” Katanya, “Kami tidak akan membiarkan serangan pada tempat-tempat suci kami!”

Bentrokan kekerasan ini terjadi setelah kekalahan telak Israel dalam diplomasi internasional. Pertama, pihak Palestina telah berhasil menggalang dukungan mayoritas 119 negara, yang mengizinkan bendera Palestina bisa dikibarkan di markas PBB, New York, pada Sidang Majelis Umum. Resolusi ini tak terbendung, meskipun Israel dan Amerika Serikat menolak resolusi tersebut. Secara simbolis ini adalah kemenangan diplomasi Palestina, dalam meraih apa yang memang sudah menjadi haknya.

Kekalahan kedua adalah kegagalan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam menghalangi terwujudnya kesepakatan nuklir antara Iran, musuh yang menjadi momok bagi Israel, dengan Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat lain di Eropa. Israel mengklaim, kesepakatan nuklir itu akan memperkuat posisi Iran di Timur Tengah dan mengancam keamanan Israel. Usaha Israel untuk memanfaatkan kubu Partai Republik di Kongres Amerika, untuk membatalkan kesepakatan nuklir itu, juga kandas.

Mau Menggusur Masjid Al-Aqsa

Dengan latar belakang seperti itulah, terjadi serangkaian bentrokan di Masjid Al-Aqsa. Bentrokan ini hanyalah salah satu letupan dari masalah yang lebih krusial dan secara serius mengancam keberadaan Masjid Al-Aqsa, sebagai tempat suci umat Islam. Israel membagi-bagi kompleks Al-Aqsa dalam beberapa wilayah. Sebagian lokasi itu untuk Muslim dan sebagian lain untuk Yahudi. Muslim menyebut kompleks Masjid Al-Aqsa itu sebagai Baitul Maqdis, sedangkan umat Yahudi menyebutnya sebagai Temple Mount.

Kelompok ultranasionalis Yahudi sudah lama ingin “menggusur” Masjid Al-Aqsa dengan dalih masjid itu didirikan di atas bekas Kuil Sulaiman. Mereka ingin membangun lagi kuil itu di kompleks Masjid Al-Aqsa. Otoritas Israel juga telah beberapa lama melakukan “penggalian arkeologis” di bawah kompleks Masjid Al-Aqsa, yang berisiko terhadap kelangsungan keberadaan masjid itu.

Sejak merebut Jerusalem dalam perang 1967, otoritas Israel melarang warga Yahudi berdoa di teras Masjid Al-Aqsa, yang terletak di atas Tembok Barat atau Tembok Ratapan (Wailing Wall), tempat suci umat Yahudi. Namun, kelompok ultranasionalis Yahudi justru mengadvokasi warga Yahudi agar berdoa di teras masjid. Mereka menuntut akses yang lebih luas ke kompleks Masjid Al-Aqsa.

Warga Muslim Palestina mencurigai, Israel sedang berusaha mengubah peraturan di tempat suci itu. Oleh polisi Israel, orang Yahudi diperbolehkan mengunjungi tempat suci di teras Masjid Al-Aqsa pada waktu-waktu tertentu. Namun mereka dilarang berdoa di sana karena berpotensi memicu ketegangan dengan warga Muslim Palestina. Warga Palestina merasa was-was, bahwa umat Yahudi secara bertahap akan semakin diberi akses meluas ke kompleks Masjid Al-Aqsa. Para pemuda Palestina berusaha mencegah hal itu.

Ancaman Langkah Represif

Datangnya lebih dari seribu turis dan umat Yahudi untuk merayakan Tahun Baru Yahudi (Rosh Hashanah), yang dimulai sejak 13 September 2015, semakin membuat khawatir warga Palestina dan otoritas Muslim. Mereka khawatir, Israel akan menghapus peraturan akses dan pengelolaan yang berlaku saat ini, dan menggantinya dengan peraturan baru yang memungkinkan pembagian penggunaan tempat suci itu. Warga Yahudi diberi kesempatan mengunjungi saat pagi hari, dan Muslim pada waktu sesudahnya.

Untuk meredam perlawanan Palestina, seperti biasa PM Netanyahu langsung mengancam dengan langkah-langkah represif. Dalam awal rapat darurat dengan para menteri dan aparat keamanan, Netanyahu mengatakan, akan ada “denda yang signifikan” bagi anak di bawah umur yang melakukan pelanggaran, dengan terlibat pada aksi protes anti-Israel, dan bagi orangtua anak itu. Sudah diputuskan untuk melakukan langkah-langkah keras, dan dibahas perubahan sejumlah peraturan, termasuk hukuman minimum bagi yang melempar batu.

Netanyahu menegaskan, ia tidak akan membiarkan para pembuat keonaran mengganggu orang Yahudi lagi. Namun ditambahkannya bahwa status quo di Masjid Al-Aqsa harus dijaga. Umat Islam dapat mengunjunginya ketika mereka mau menggunakan tempat ibadah itu. “Israel bertekad mempertahankan status quo di tempat itu,” ujarnya.

Netanyahu mengunjungi kompleks Masjid Al-Aqsa pada 16 September 2015. Kunjungan berlangsung ketika tentara dan pemukim Israel menyerang Muslim yang berada di dalam kompleks masjid. Bentrokan hari keempat tak terhindarkan. Kedatangan Netanyahu mengakibatkan bentrokan lebih keras.

Enam warga Palestina diculik tentara Israel, beberapa jam sebelum kunjungan Netanyahu. Selama kunjungan, Netanyahu mengatakan, Israel berencana memperluas mandat pasukan, menyusul bentrokan dengan warga Palestina di sekitar Masjid Al-Aqsa.

Di Turki, Presiden Recep Tayyip Erdogan mendesak PBB bertindak untuk menghentikan agresi Israel di Masjid Al-Aqsa. Desakan itu ditanggapi Nikolay Mladenov, koordinator khusus PBB untuk Proses Perdamaian di Timur Tengah, yang menyatakan keprihatinan serius atas kekerasan di Masjid Al-Aqsa. ***

Jakarta, 21 September 2015

Ditulis untuk Majalah AKTUAL

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)