Haji Samanhudi, Pendiri Sarekat Dagang Islam

Oleh: Satrio Arismunandar

Pergerakan nasional Indonesia dalam melawan penjajahan Belanda diekspresikan antara lain lewat munculnya organisasi-organisasi modern dari kalangan pribumi, yang memperjuangkan hak-hak dan kepentingan rakyat. Salah satu organisasi modern itu adalah Sarekat Islam, yang berawal dari Sarekat Dagang Islam (SDI). Tokoh utama di balik pendirian SDI itu adalah Kyai Haji Samanhudi.

SDI yang didirikan Samanhudi merupakan sebuah organisasi massa, yang awalnya adalah wadah bagi para pengusaha batik di Surakarta. Samanhudi tergerak mendirikan SDI setelah melihat adanya diskriminasi terhadap para pengusaha pribumi. Samanhudi merasakan perbedaan perlakuan oleh penguasa Hindia Belanda terhadap pedagang pribumi, yang mayoritas beragama Islam, dengan pedagang Tionghoa yang lebih mendapat keistimewaan. Persaingan usaha menjadi tidak sehat.

Samanhudi menyimpulkan, pedagang pribumi harus mempunyai organisasi sendiri untuk membela kepentingan mereka. Maka pada 1905, ia mendirikan Sarekat Dagang Islam untuk mewujudkan cita-citanya.

Samanhudi lahir di Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah, pada 1868. Ayah Samanhudi bernama Haji Muhammad Zen, seorang pengusaha batik di Laweyan. Namanya semasa kecil adalah Supandi Wiryowikoro.

Pendidikan pertama Samanhudi adalah mengaji al-Quran, kemudian belajar agama dari Kiyai Jejorno. Ia masuk Sekolah Rakyat (Volks School) zaman penjajahan Belanda di Surakarta, kemudian melanjutkan ke HIS (Hollansch Indische School), sekolah rendah dengan bahasa pengantar Belanda di Madiun, tetapi tidak sampai tamat.

Ia pernah menimba ilmu di pondok pesantren (Ponpes) KM Sayuthy (Ciawigebang), Ponpes KH Abdur Rozak (Cipancur), Ponpes Sarajaya (Kabupaten Cirebon), Ponpes (Kabupaten Tegal), Ponpes Ciwaringin (Kabupaten Cirebon), dan Ponpes KH Zainal Musthofa (Tasikmalaya).

Dalam menuntut ilmu keagamaan, Samanhudi bersikap sangat hormat terhadap para gurunya, terlebih terhadap KH Zainal Musthofa. Samanhudi banyak bercerita tentang kepahlawanan gurunya yang satu ini. Zainal Musthofa berjuang melawan penjajahan Jepang hingga gugur di depan regu tembak serdadu Jepang.

Usaha batik yang digeluti Samanhudi bermula dari magang dalam perusahaan keluarga sampai berusia 19 tahun, untuk seterusnya ia bisa mandiri. Di usia itu dikabarkan ia menikah. Pada 1888, di usia 20 tahun, Samanhudi membuka perusahaan batik dan berkembang pesat. Di tahun 1900-an, cabang perusahaan batiknya sudah tersebar di berbagai kota, seperti Tulungagung, Bandung, Purwokerto, Surabaya, Banyuwangi, dan Parakan. Di Solo saja pabrik batiknya mempekerjakan kurang lebih 200 orang. Ketika itu ia tergolong sebagai orang kaya.

Namanya, Supandi Wiryowikoro, berubah menjadi Haji Samanhudi setelah ia menunaikan ibadah Haji dan bermukim di Makkah pada 1904-1905. Ibadah Haji bukan hanya mengubah namanya, tetapi juga jalan hidupnya; dari pengusaha batik kaya menjadi aktivis, perintis pergerakan Islam di Indonesia. Ia berubah, dari membangun pabrik-pabrik batik jadi membangun jiwa rakyat yang dijajah Belanda.

Selama bermukim di Makkah, Samanhudi menimba Ilmu keislaman dalam hukum agama dan politik. Saat itu gerakan pembaruan untuk membebaskan diri dari imperialis Barat sedang menjadi topik utama di Dunia Islam, dengan tokoh-tokohnya seperti Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Jamaluddin al-Afghani, serta pergerakan Salafiyah. Semua informasi dunia Islam itu bermuara di Makkah pada saat musim Haji.

Tak heran, sekembalinya dari ibadah Haji, Samanhudi mendirikan organisasi Islam dalam bidang yang dikuasainya, yaitu perniagaan dengan nama SDI tahun 1905. Langkah Samanhudi itu adalah tanggapan yang cepat dan tepat kepada imperialisme modern dan sesuai dengan tantangan zamannya.

SDI bukanlah sekedar organisasi dagang, seperti Kamar Dagang atau Kongsi Perniagaan, yang mengejar keuntungan materi anggotanya. Tetapi SDI bertujuan mengangkat martabat Islam dan penganutnya yang sengsara akibat penjajahan Belanda. SDI juga dijadikan wadah dalam melawan diskriminasi perniagaan asing (Tionghoa), yang mendapat hak istimewa dari kolonial Belanda.

Di Surabaya, Samanhudi pun menyusun kekuatan di bidang perdagangan dan agama melalui SDI. Pada 1912, nama SDI diubah menjadi Sarekat Islam (SI). Organisasi ini mendapat sambutan luas masyarakat, sehingga pada Kongres I, 25-26 Januari 1913 di Surabaya, ia sudah memiliki 89.999 anggota. Pada 1916, anggota organisasi itu berkembang menjadi 360.000, dan kemudian bertambah lagi menjadi 450.000 orang. Samanhudi berhasil menyatukan solidaritas Muslim, khususnya dalam bidang perdagangan, yang di kemudian hari menjadi kekuatan untuk menuntut kemerdekaan dari kolonial Belanda.

Organisasi SDI mudah meraih dukungan masyarakat Muslim di pulau Jawa karena beberapa faktor berikut: Pertama, menjadikan Islam dan ajarannya sebagai strategi perjuangan, untuk membangkitkan semangat jiwa Islam (Iman) yang telah lama tertidur akibat penjajahan. Kedua, ide kesadaran berorganisasi lahir dari pendirinya sendiri, seorang haji dan pengusaha Muslim yang sukses. Ketiga, pendanaan awal yang berasal dari kantong pribadi ketua, pengusaha yang berhasil di zamannya.

Keempat, kain batik dan sarung merupakan komoditi masyarakat Muslim Nusantara di kota-kota sampai ke pedesaan dan di komunitas institusi pendidikan (pesantren). Kelima, memanfaatkan jaringan perniagaan, yang memang telah mapan di berbagai kota seluruh Pulau Jawa: Solo, Surabaya, Semarang, Bandung, dan Batavia (Jakarta). Keenam, memiliki buruh pabrik batik dan rekan dagang bertaraf internasional dari bangsa Arab, Muslim India, Cina, dan Muslim pribumi Nusantara. Ketujuh, mempunyai media komunikasi yang efektif sejak sebelum berdirinya SDI, yaitu buletin Taman Pewarta (1902-1915).

Pada 1912, Samanhudi dengan SDI-nya pernah difitnah oleh pemerintahan kolonial Belanda sebagai penggerak huru-hara anti-Cina di Kesultanan Surakarta, yang meluas ke kota-kota lain. Padahal itu adalah provokasi pemerintah kolonial, dengan target, Revolusi Cina pimpinan Sun Yat Sen, 1911 — yang mendapat kemenangan berkat dukungan Muslim Cina — tidak menular ke Indonesia.

Sebenarnya huru-hara itu dilakukan oleh Lasjkar Mangoenegaran yang ditugaskan pemerintah untuk merusak toko-toko Cina. Akibatnya Oleh Residen Surakarta, Wijck, SDI dijatuhi hukuman pembekuan pada 12 Agustus 1912. Namun, pada 26 Agustus, schorsing itu terpaksa dicabut kembali, karena menimbulkan reaksi yang di luar perhitungan kolonial Belanda, yaitu para petani anggota Sarekat Islam dari Kesultanan Surakarta melakukan mogok, menolak kerja di onderneming Krapyak, Surakarta.

Dari organisasi pengusaha, kini SDI sudah menjadi organisasi politik. Sampai 1914, Samanhudi menjadi ketua umumnya, kemudian dilanjutkan oleh Haji Oemar Said Tjokroaminoto. SI berjuang secara politik dengan memihak kepentingan rakyat. SI berupaya menaikkan tingkat upah pekerja, membela petani yang tertindas, menentang harga sewa tanah yang tinggi, dan membela rakyat yang diperlakukan sewenang-wenang oleh tuan tanah.

Berkaitan dengan tahun lahirnya Sarekat Islam terdapat dua versi, yang menjadi polemik para ahli sejarah. Sebagian menetapkan organisasi berdiri berdasarkan tahun pendaftaran organisasi. Dan yang lain cenderung menetapkan awal organisasi berdasarkan pengakuan dari pendiri organisasi.

Penuturan Samanhudi kepada Haji Tamar Djaja pada 25 Juni 1955, bahwa Sarekat Dagang Islam didirikan pada 16 Oktober 1905. Kemudian diikuti dengan didirikan Sarekat Islam (SI) pada 1906. Penuturan ini dibenarkan oleh Muhammad Roem sebagai pelaku sejarah Sarekat Islam dan dituliskan dalam Bunga Rampai dari Sejarah. Dijelaskan oleh Samanhudi bahwa Susunan Pengurus Sarekat Islam adalah: Ketua Haji Samanhudi. Sekretaris I dan II Surati dan Haji Hisyam Zaini. Bendahara: Kartosumarto. Komisaris: Haji Syarif, Haji Syukur, Esmuntani, Mangunprawiro, Abdul Fatah, Cokrosumarto, Sutosumarto.

Data itu diyakini otentik oleh pakar sejarah, Suryanegara, yang menunjukkan bahwa Samanhudi sebagai ketua dalam dua organisasi Islam pertama di Indonesia. Ia menjadi ketua dan memimpin SDI hingga 1912, dan sebagai ketua kehormatan ketika SI diketuai oleh Oemar Said Tjokroaminoto.

Menginjak usia senja, kehidupan Samanhudi tidak lagi sejaya dulu. Perusahaan batiknya bangkrut. Ia tidak aktif lagi berpartai, namun perhatiannya terhadap pergerakan nasional tetap bergelora. Pada waktu perang kemerdekaan, Samanhudi membentuk Barisan Pemberontak Indonesia Cabang Solo dan mendirikan Gerakan Kesatuan Alap-alap.

Pada 28 Desember 1956, Samanhudi meninggal dunia di Klaten dan dimakamkan di Desa Banaran, Sukoharjo, Jawa Tengah. Sikap Samanhudi yang selalu membela rakyat banyak patut menjadi teladan. Atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia pun menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional untuk Kyai Haji Samanhudi pada 9 November 1961.

Depok, 19 Oktober 2015

Dikutip dari berbagai sumber, dan dituliskan untuk Rubrik Sang Penerobos di www.Aktual.com

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)