Strategi Putin Dalam Intervensi Militer di Suriah

Oleh: Satrio Arismunandar

Intervensi langsung oleh militer Rusia di Suriah memberi komplikasi baru bagi upaya penyelesaian perang di Suriah. Banyak perkiraan terlontar tentang apa sebenarnya tujuan Rusia, dan bagaimana ia akan mencapai tujuan itu dengan langkah militernya tersebut.

Langit di atas Suriah sampai pertengahan Oktober 2015 ini digetarkan oleh raungan pesawat-pesawat jet tempur Rusia. Pesawat-pesawat itu membombardir kubu kelompok oposisi yang menentang Presiden Suriah Bashar al-Assad. Yang juga diserang adalah kubu kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah atau ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Serangan dahsyat Rusia yang gencar ini mengubah arah pertempuran di darat, yang sebelum ini membuat pasukan Suriah pro-Assad terdesak.

Menurut pengamatan pihak Barat, yang lebih banyak dihantam oleh serangan pesawat-pesawat negara beruang merah itu tampaknya adalah basis pertahanan kelompok oposisi anti-Assad. Padahal, awalnya alasan resmi bagi aksi militer Rusia adalah untuk “memerangi kelompok teroris ISIS.”

Hal ini menimbulkan kecaman dari kelompok oposisi Suriah dan negara-negara Barat, yang menuduh Rusia hanya menjadikan ancaman ISIS sebagai dalih. Karena yang disasar serangan terutama justru kubu kelompok-kelompok oposisi atau wilayah di mana hanya terdapat sedikit elemen ISIS. Jatuhnya sejumlah korban di kalangan warga sipil juga menjadi alasan untuk mengecam serangan pesawat-pesawat Rusia.

Dengan hadirnya intervensi militer Rusia secara langsung, konstelasi konflik di Suriah menjadi semakin rumit. Awalnya, konflik di Suriah adalah seperti perang proxy (kepanjangan tangan). Militer Suriah pro-Assad, yang didukung Rusia, Iran, dan Hizbullah-Lebanon, berperang melawan berbagai kelompok oposisi anti-Assad, yang didukung Arab Saudi beserta rekan-rekan Arabnya, Amerika Serikat beserta sejumlah negara Barat, dan Turki. Berbagai persenjataan untuk kelompok oposisi anti-Assad disalurkan oleh CIA dan intelijen Arab Saudi melalui perbatasan Turki. Sedangkan ISIS adalah “pemain liar” yang memanfaatkan kekisruhan di Suriah dan Irak untuk kepentingannya sendiri, dan berhasil menguasai wilayah yang luas di Suriah dan Irak.

Seperti Telur di Ujung Tanduk

Ketika militer Rusia –yang memiliki pangkalan laut di Suriah-- belum turun tangan secara langsung, militer Suriah sedang terdesak berat. Banyak wilayah yang dikuasai militer Suriah sudah jatuh ke tangan kelompok oposisi anti-Assad dan kelompok ekstrem ISIS. Cepat atau lambat, kekalahan militer Suriah –yang berarti juga ambruknya rezim Assad—tampaknya akan terjadi.

Militer Suriah kini tinggal menguasai sebagian kecil wilayah Suriah, yang menjadi basis tradisional lama pendukung Assad.
Posisi kritis Assad, yang seperti telur di ujung tanduk, membuat Rusia selaku sekutu lama merasa khawatir. Banyak aset dan kepentingan Rusia di kawasan Timur Tengah akan terancam lenyap, jika kekuasaan Assad dibiarkan runtuh. Maka Presiden Rusia Vladimir Putin pun mengambil keputusan, saatnya sudah tiba bagi militer Rusia untuk bertindak.

Seperti sudah diprediksikan oleh para pengamat, pada penghujung September 2015 Rusia akhirnya turun tangan langsung secara militer di Suriah, untuk menyelamatkan sekutunya Bashar al-Assad. Dalam sudut pandang Moscow, langkah itu akan menegaskan kembali status Rusia sebagai kekuatan yang tak bisa ditinggalkan, dalam setiap upaya penanganan krisis di level regional maupun global.

Langkah itu juga diharapkan akan memecah isolasi internasional, dengan mengalihkan perhatian dari kasus keterlibatan Rusia di kawasan Crimea, Ukraina. Kelompok warga berbahasa Rusia di daerah Crimea menentang kontrol dari pemerintah Ukraina, yang didukung Amerika dan negara-negara Barat. Rusia dituduh memberi dukungan militer dan persenjataan pada kelompok antipemerintah di Crimea, dan karena itulah sejumlah sanksi ekonomi dijatuhkan oleh Amerika dan sekutu-sekutunya terhadap Rusia. Meski bisa bertahan, sanksi-sanksi ini cukup mengganggu Moscow.

Lewat intervensi militer di Suriah, Rusia juga berharap meraih sejumlah dukungan di Uni Eropa, dan mungkin menciptakan kondisi-kondisi bagi pelonggaran sanksi, yang diterapkan terhadap Rusia sejak kasus Crimea. Yang lebih penting, aksi Rusia membuat Amerika melunakkan posisinya terhadap Presiden Bashar al-Assad, di mana pengunduran diri Assad tidak lagi dipandang sebagai prasyarat bagi langkah penyelesaian krisis Suriah.

Metode Sistematik Putin


Menurut pengamat Dmitry Adamsky, untuk mengkaji apa yang sebetulnya dicari Rusia lewat intervensinya di Suriah dan bagaimana negara beruang merah ini akan mencapai tujuan itu, perlu dibuat beberapa asumsi.

Pertama, perbedaan pendapat di kalangan pengamat --tentang sikap kehati-hatian Presiden Rusia Vladimir Putin dan kapasitas Kremlin terhadap kebijakan keamanan nasional yang kuat-- hingga saat ini belum mencapai titik temu. Namun bukti-bukti empiris mengisyaratkan, Putin tampaknya memiliki metode sistematik tersendiri untuk mengelola berbagai krisis dan interaksi strategis.
Sebagai mantan petinggi dinas rahasia KGB era Uni Soviet, Putin dibimbing oleh pemahamannya tentang masa lalu Rusia dan visi yang kukuh dipegangnya tentang masa depan Rusia. Ia mengkaji pilihan-pilihan yang ada, mengubah langkah untuk menanggapi peristiwa, dan menunjukkan kemampuan improvisasi dan eksploitasi terhadap kekeliruan yang dilakukan lawan-lawannya.

Kedua, hasil akhir yang didambakan Moscow lewat intervensi militer di Suriah bisa diduga adalah terciptanya Suriah yang stabil, di mana Rusia bisa menjaga dan memelihara kehadiran regionalnya. Untuk mencapai hal itu, pada awalnya, Rusia akan mencoba mengamankan dan memperkuat basisnya di daerah pesisir Suriah, di fasilitas-fasilitas militer Latakia dan Tartus. Militer Rusia sudah sekian lama hadir di sana.

Rusia dapat memperluas daerah kepala pantainya dengan meningkatkan kapasitas lapangan terbang, serta melengkapi galangan-galangannya bagi kapal-kapal pengangkut dan kapal perang yang lebih besar. Rusia akan memanfaatkan landasan luncur yang sudah dioptimalkan itu untuk memasok pasukan Assad dan pasukan Rusia sendiri dalam pertempuran, untuk menstabilkan dan melindungi perbatasan-perbatasan “Suriah kecil,” yakni basis pertahanan wilayah yang masih dikuasai pasukan Assad.

Sementara itu, Moscow mungkin mulai melangkah ke arah penyelesaian politik atas krisis Suriah. Kemungkinan, Kremlin pertama-tama akan mendesakkan dipulihkannya garis-garis perbatasan Suriah pra-perang. Jika hal itu tampaknya sulit diwujudkan atau terlalu berisiko, maka Rusia mungkin akan menerima keberadaan perbatasan “Suriah kecil” yang sudah ada.

Pengalaman Pahit di Afganistan


Rusia pada dasarnya lebih menginginkan posisi Assad tetap bertahan dalam masing-masing skenario tersebut. Namun Rusia tidak akan menghalangi digesernya Assad, dengan syarat pemerintah baru Suriah akan melindungi kepentingan Moscow dan memungkinkan proyeksi kekuatan Rusia di tingkat regional.

Ketiga, Moscow mungkin memahami bahwa posisinya di Suriah tidaklah kuat dan intervensi militer itu suatu saat mungkin akan berubah jadi bencana. Rusia sangat menyadari petualangan regional yang gagal oleh Amerika di Afganistan, serta pengalaman pahit yang pernah dialami Rusia di negeri yang sama, juga di Kaukasus Utara dan Ukraina.

Jika kita mencoba menganalisis berdasarkan karya penerbitan studi kawasan dan penerbitan yang dikeluarkan militer Rusia pada tahun-tahun terakhir ini, tampak bahwa para pakar dan ahli strategi Rusia telah memiliki gambaran yang jelas tentang kemungkinan terbaik dan terburuk dari intervensi militer dan kampanye serangan udara. Namun, seberapa jauh pemahaman itu akan diterjemahkan ke dalam kebijakan konkret di Suriah, masih belum jelas.

Secara strategis, komentar para pakar Rusia telah mengerucut ke batas-batas kapasitas militer Rusia yang sangat besar, dalam menghadapi musuh yang menganut ideologi kuat. Kekuatan militer kasar Rusia mungkin bisa menimbulkan kerugian besar pada para pejuang jihad, namun bukan pada gagasan-gagasan Salafinya. Para ahli strategi itu telah memperdebatkan, bagaimana menjalankan pertempuran di Suriah, dengan risiko-risiko yang layak diambil dan biaya-biaya yang harus dibayar.

Moscow juga mempertimbangkan potensi kesulitan untuk mempertahankan toleransi publik terhadap perang di sebuah negara asing yang jauh di seberang lautan, khususnya pada saat ekonomi Rusia sendiri sedang merosot dan ada kebuntuan situasi di Ukraina. Terakhir, Kremlin juga peka terhadap keprihatinan kalangan elite bisnis tentang kemungkinan dampak buruk intervensi militer di Suriah, khususnya karena potensi kemiripannya dengan pengalaman kegagalan militer Rusia di Afganistan.

Dengan semua aspek situasi, yang mungkin saja berjalan tidak sesuai rencana, keputusan Putin untuk campur tangan secara militer di Suriah bisa jadi merupakan salah perhitungan. Was-was terhadap kemungkinan bertindak ceroboh, Rusia bisa jadi akan terjebak dalam pengeluaran energi dan sumberdaya yang terlalu besar dan berlarut-larut, sehingga merepotkan dirinya sendiri (overextension). Overextension ini adalah risiko utama yang dihadapi Rusia dalam keterlibatan militernya di Suriah. Oleh karena itu, Kremlin harus berusaha menemukan keseimbangan yang pas agar tidak bertindak berlebihan, tapi juga tidak boleh kekurangan.

Ajaran Mikhael Gorbachev

Di sini Kremlin mungkin akan mengadopsi pendekatan yang mirip dengan prinsip Soviet, tentang pemenuhan kebutuhan yang masuk akal (reasonable sufficient). Prinsip yang pertama kali diartikulasikan oleh pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev ini awalnya dimaksudkan untuk memelihara kekuatan militer secukupnya, sekadar mampu untuk melindungi Soviet terhadap ancaman-ancaman dari luar.

Jika diterapkan dalam konteks Suriah, prinsip ini berarti membatasi skala intervensi ke level minimum, yang akan tetap memungkinkan Rusia memproyeksikan pengaruhnya di Suriah. Di Ukraina, Moscow telah memperoleh pembelajaran pahit tentang batas-batas kekuatan, di mana tambahan aplikasi kekuatan militer tidaklah berarti menambah kemampuan untuk menyelesaikan secara tuntas masalah di lapangan.

Sebaliknya, hal itu justru menyeret Rusia semakin jauh ke dalam pertempuran yang tidak pernah diperkirakan ataupun didambakannya. Saat ini, pemenuhan kebutuhan yang masuk akal itu mungkin mencegah Moscow, agar tidak sampai melampaui titik kulminasi intervensi. Yakni, manakala penggelaran kekuatan tambahan tidak lagi menguntungkan, tetapi justru menjadi bersifat kontraproduktif.

Dalam intervensi di Suriah, Moscow berusaha menggalang aliansi seluas mungkin. Meski demikian, inti koalisi militer yang terbentuk cukup sempit, yakni terdiri atas: Unit-unit militer Suriah yang masih loyal pada Assad, Pengawal Revolusi Iran dan pasukan Basij, pasukan Hizbullah-Lebanon, dan pemerintah Irak yang didominasi Syiah. Dalam kampanye ini, Moscow tampaknya akan mencoba merancang dan mengawasi operasi-operasi koalisi, serta bertindak sebagai pelipatganda kekuatan di garis depan.

Sebagai tambahan atas dukungan diplomatik, Rusia mungkin memberikan bantuan perencanaan dan logistik; komando, komunikasi kontrol, dan kapabilitas intelijen; dan tentu saja serangan udara. Komponen udara dari misi ini mungkin mencakup pesawat pembom tempur, jet dukungan serangan udara jarak dekat, helikopter tempur dan helikopter angkut, serta pesawat tanpa-awak (drone).

Semua itu akan dikerahkan untuk mendukung pasukan pro-Assad. Rusia mungkin juga akan menggunakan jet-jet pencegat untuk menangkal kemungkinan serangan udara terhadap wilayah yang dikontrol pasukan Assad. Rusia juga dapat menggelar sistem rudal darat-ke-udara dan jet-jet canggih untuk pertahanan bagi semua komponen yang dikerahkan.

Mendelegasikan Pertempuran Darat


Pada saat yang sama, sesuai dengan prinsip reasonable sufficiency, Moscow tampaknya akan mendelegasikan sebagian besar pertempuran darat kepada para sekutunya. Rusia dapat berpartisipasi dalam perencanaan operasional, berbagi informasi intelijen visual dan sinyal, dan pengarahan sasaran. Namun, tamnpaknya tidak mungkin batalyon-batalyon pasukan Rusia akan menjadi pemandangan reguler di Damascus, ibukota Suriah. Sebagai gantinya, Moscow tampaknya akan mendorong program-program untuk melatih dan memberi masukan pada unit-unit pasukan Assad, yang menurut pandangan Moscow –untuk alasan politik dan militer—sebagai pasukan tempur yang paling efektif untuk melawan ISIS.

Rusia tampaknya cukup percaya diri bahwa ia dapat merancang sebuah kampanye koalisi yang efektif, berdasarkan pengalaman dari puluhan latihan yang diselenggarakan dengan Perjanjian Keamanan Kolektif (Collective Security Treaty) dan Organisasi Kerjasama Shanghai (Shanghai Cooperation Organizations). Meski begitu, Rusia agak merasa prihatin pada kemampuan kerjasama operasi (interoperability) pasukan-pasukan koalisi pro-Assad.

Pada tingkatan strategis, Rusia, Iran, dan Suriah, dan mungkin juga Hizbullah dan Irak, dilaporkan telah berkoordinasi pada beberapa upaya militer sejak musim panas. Moscow juga terbiasa bekerjasama dengan pasukan Suriah, yang ia latih, perlengkapi, dan didik selama puluhan tahun. Sedangkan Assad sudah lama bekerjasama secara mendalam dengan Hizbullah. Kedua negara itu juga bekerjasama dengan Iran. Namun kubu koalisi ini tidak memiliki banyak pengalaman bekerja bersama sebagai satu keseluruhan, dan sebagian besar pihak-pihak itu tidak pernah menyelenggarakan operasi koalisi skala-besar sebelumnya.

Maka kemampuan Rusia untuk mengkoordinasikan aktivitas-aktivitas para mitranya akan menjadi faktor kunci. Menurut pakar Rusia, keberhasilan militer ISIS selama ini sebagian besar disebabkan oleh ketidakmampuan Assad untuk mengkonsentrasikan upaya militernya terhadap ISIS, langkah setengah-setengah dan serba tanggung dari kelompok koalisi sebelumnya, dan kurangnya koordinasi di kalangan para pemberontak anti-Assad.

Dengan memberikan semacam fokus dan pembenaran bagi kampanye anti-ISIS, koalisi yang dipimpin Rusia tampaknya berusaha membalikkan arah jalannya perang. Berdasarkan teori militer Rusia yang telah ada, kampanye serangan udara tampaknya akan berbentuk serangan terhadap tiga sistem yang menyatukan ISIS: rantai komando dan kontrol, rantai pasokan-pasokan, dan pusat-pusat daya tarik ekonomi.

Ketika serangan udara mencoba memecah-mecah ISIS, operasi-operasi darat akan berusaha membubarkan atau memporak-porandaan kelompok-kelompok pejuang lokal kecil. Kampanye itu tidak harus berskala besar, tapi hanya dibutuhkan sekadar untuk pembalikan dari tren yang ada, dan mendemonstrasikan kekuatan dari rezim yang masih berkuasa sekarang, serta memfasilitasi kondisi-kondisi bagi sebuah proses politik.

Dalam beberapa aspek, rancangan kampanye mungkin juga dinukil dari konsep Perang Generasi Baru Rusia (Russia’s New Generation Warfare). Ini adalah seperangkat gagasan tentang perubahan karakter perang yang telah beredar di komunitas strategis Rusia, di bawah pimpinan Kepala Staf Umum yang menjabat saat ini, Valery Gerasimov. Gagasan itu sudah membentuk doktrin militer Rusia 2014 dan operasi-operasi yang menyusul kemudian di Ukraina.

Konsep itu meminimalkan peran operasi-operasi militer skala-besar dari era perang industrial, dan sebagai gantinya mengkombinasikan kekuatan keras (hard power) dan kekuatan lunak (soft power) di lintas ranah militer, diplomatik, dan ekonomi. Ia memanfaatkan tindakan tak-langsung, operasi informasi, paramiliter, dan pasukan-pasukan operasi khusus yang didukung oleh kapabilitas militer yang canggih. Jika diterapkan dengan benar, konsep ini secara alamiah akan nyambung dan serasi dengan prinsip reasonable sufficiency.

Depok, 14 Oktober 2015

Dirangkum dari berbagai sumber, untuk Majalah AKTUAL.

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI