Posts

Showing posts from November, 2015

Menguji Nyali dan Prospek di Pasar Irak

Image
Wartawan Aktual, Satrio Arismunandar, melakukan kunjungan jurnalistik di Irak, bertepatan dengan pameran perdagangan internasional di Baghdad, 1-10 November 2015. Berikut laporannya tentang upaya pelaku usaha Indonesia untuk masuk ke pasar, di negara yang “rawan dan berbahaya” tersebut.

Jika mendengar kata “Baghdad” atau “Irak,” yang terbayang di kepala adalah negara yang selalu ricuh, jadi ajang konflik bersenjata, sering jadi sasaran serangan bom, bahkan ada ancaman nyata dari kelompok ekstrem ISIS (Negara Islam di Irak dan Suriah). Gambaran itu tidak sepenuhnya keliru, tetapi belum lengkap. Hal ini karena Irak selain tempat berisiko, ia adalah juga sebuah negeri yang penuh peluang dan prospek menarik untuk bisnis.

Nah, itulah sebabnya mengapa sejumlah 11 pelaku usaha kelas UKM (usaha kecil dan menengah) Indonesia, yang berasal dari Bandung, Jawa Barat, pada November ini membesarkan nyali untuk datang ke Baghdad. Mereka mengikuti ajakan dari Kedutaan Besar RI di Baghdad, untuk mengi…

Tinggal Seorang Diri di Surga

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Jika Anda sering menyempatkan diri mengamati berbagai isi media daring (online) dan media sosial tentang Indonesia saat ini, Anda mungkin akan segera merasa lelah, capek, lunglai. Persisnya, lelah secara mental. Pagi berlangit cerah cemerlang, yang seharusnya bisa Anda nikmati, berubah menjadi mendung hitam yang suram, penuh energi negatif.

Mengapa? Hal itu karena media tersebut penuh dengan konten yang bernuansa konflik, kebencian, permusuhan, antipati, prasangka, ketakutan, sikap paranoid, kecurigaan, kata-kata kasar, caci maki, dan lain-lain. Meski tidak dinyatakan secara eksplisit, semua ekspresi itu berlandaskan pada satu anggapan dari person bersangkutan: “Saya adalah yang paling benar, dan mereka yang tidak sama dengan saya berarti salah.” Titik.

Mereka yang menganggap diri paling benar tersebut seolah-olah tidak pernah kekurangan bahan dan punya banyak energi untuk menghujat, mencerca, menghina, melecehkan, bahkan mengkafir-kafirkan pihak lain, yang d…

Belajar dari Kekompakan Sunni-Syiah di Kuwait

Image
Foto: Warga Muslim Sunni dan Muslim Syiah sholat Jumat bersama di Kuwait.

Oleh: Satrio Arismunandar

Kalau di Indonesia saat ini terkesan sedang dikipas-kipas konflik antara Sunni versus Syiah, di Kuwait –negara monarki Arab Teluk—baru-baru ini justru muncul berita yang menarik dan kontras. Menteri Pengadilan, Wakaf dan Urusan Islam Kuwait Yaqoub Al-Sanea ketika diwawancarai DPA Jerman, sebagaimana dilansir Alwaie News (6 November 2015) justru menegaskan persatuan antara Muslim Sunni dan Muslim Syiah di negeri kaya minyak ini.

“Peristiwa-peristiwa teror yang terjadi di Kuwait sama sekali tidak bisa mengusik dan memusnahkan persatuan antara warga Sunni dan warga Syiah Kuwait… Kuwait adalah negara yang berlandaskan hukum dan tidak terpengaruh oleh sektarianisme. Sudah 300 tahun warga Sunni dan Syiah di negara hidup berdampingan dengan rukun, bersaudara dan setara,” kata Yaqoub Al-Sanea.

Kuwait sudah beberapa kali jadi sasaran serangan teroris. Yang jadi target terutama adalah masjid-masj…

Muhammad Yunus: Memberantas Kemiskinan Lewat Kredit Mikro

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Salah satu masalah utama di dunia Islam adalah kemiskinan. Dalam upaya melawan kemiskinan itu, salah satu tokoh Islam di dunia modern, yang sangat besar jasanya dalam mengangkat kehidupan warga Muslim miskin ke arah yang lebih baik dan bermartabat, adalah Muhammad Yunus. Berkat dedikasinya pada kaum miskin, ia terpilih sebagai pemenang Hadiah Nobel Perdamaian (bersama dengan Grameen Bank) pada 2006.

Tokoh yang selalu berpenampilan sederhana ini lahir di Chittagong, Bengali Timur (kini Banglades) pada 28 Juni 1940. Ia adalah bankir yang mengembangkan konsep kredit mikro, yakni pengembangan pinjaman skala kecil untuk usahawan miskin yang tidak mampu meminjam dari bank umum. Yunus mengimplementasikan gagasan ini dengan mendirikan Grameen Bank.

Grameen Bank menyediakan kredit kecil untuk rakyat miskin yang tidak memiliki jaminan, untuk membantu klien membangun keuangan swasembada. Konsep yang diterapkan Grameen Bank adalah “melalui kredit mikro, menciptakan pemb…

RAPBN 2016 dan “Pengorbanan” Jokowi di Infrastruktur

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Pembangunan infrastruktur masih menjadi program kerja pemerintah di tahun 2016. Namun, di tengah melambatnya ekonomi, Presiden Jokowi terpaksa memangkas drastis anggaran sektor ini untuk dialihkan ke pengurangan pengangguran dan kemiskinan.

Cita-cita tinggi yang berimplikasi pada perubahan besar dan mendasar jelas menuntut komitmen, kerja keras, dan pengorbanan untuk mencapainya. Itulah yang terjadi pada Indonesia saat ini, yang sedang melakukan transformasi fundamental ekonomi, dari yang semula selalu bertumpu pada konsumsi, penjualan komoditi dan bahan mentah, menjadi fokus ke produksi, investasi dan industrialisasi.

Dalam kaitan itu, dua fokus utama pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah pembangunan infrastruktur dan ketahanan pangan, ditambah pengendalian subsidi harga bahan bakar minyak. Persoalannya, dalam melakukan transformasi besar yang fundamental itu, Indonesia menghadapi tantangan perlambatan ekonomi global, seperti juga negara-negara lain…