Menguji Nyali dan Prospek di Pasar Irak

Wartawan Aktual, Satrio Arismunandar, melakukan kunjungan jurnalistik di Irak, bertepatan dengan pameran perdagangan internasional di Baghdad, 1-10 November 2015. Berikut laporannya tentang upaya pelaku usaha Indonesia untuk masuk ke pasar, di negara yang “rawan dan berbahaya” tersebut.

Jika mendengar kata “Baghdad” atau “Irak,” yang terbayang di kepala adalah negara yang selalu ricuh, jadi ajang konflik bersenjata, sering jadi sasaran serangan bom, bahkan ada ancaman nyata dari kelompok ekstrem ISIS (Negara Islam di Irak dan Suriah). Gambaran itu tidak sepenuhnya keliru, tetapi belum lengkap. Hal ini karena Irak selain tempat berisiko, ia adalah juga sebuah negeri yang penuh peluang dan prospek menarik untuk bisnis.

Nah, itulah sebabnya mengapa sejumlah 11 pelaku usaha kelas UKM (usaha kecil dan menengah) Indonesia, yang berasal dari Bandung, Jawa Barat, pada November ini membesarkan nyali untuk datang ke Baghdad. Mereka mengikuti ajakan dari Kedutaan Besar RI di Baghdad, untuk mengikuti pameran perdagangan internasional, Baghdad International Fair 2015, di ibukota Irak tersebut. Dari segi level bisnis, mereka memang pengusaha kecil, tetapi punya semangat besar untuk merintis pasar di Irak, tempat yang tampak belum populer.

Duta Besar Indonesia untuk Irak, Safzen Noerdin sejak 2012 sudah memulai tradisi yang bermanfaat bagi peningkatan ekspor Indonesia ke Irak. Safzen mengajak para pelaku usaha di Indonesia, termasuk UKM, untuk berpartisipasi dalam pameran perdagangan internasional, yang diadakan setiap tahun di Baghdad. Hal itu dijelaskan Koordinator Fungsi Politik dan Ekonomi KBRI Baghdad, S. Ari Wardhana, kepada wartawan Aktual.

Selain menghadirkan pengusaha Indonesia ke Irak, untuk setiap pameran perdagangan yang berlangsung di Indonesia, KBRI Baghdad juga selalu mengusahakan partisipasi dari para pengusaha Irak. Ini berlangsung sejak Trade Expo di Indonesia tahun 2012, yang dihadiri sejumlah pengusaha Irak. “Saya pikir ini sudah menjadi satu indikator yang baik, positif, untuk membuat ini jadi suatu tradisi. Menghadirkan pengusaha Irak ke Indonesia, karena kita tahu mereka adalah buyers. Kita sebagai produsen di situ melihat kapasitas Indonesia untuk memenuhi kebutuhan Irak,” jelas Ari Wardhana.

Ancaman Aksi Militer ISIS

Di satu sisi, pada 2012 Indonesia sudah ikut di Baghdad International Fair. Demikian juga pada 2013 dan 2014, Indonesia ikut dengan segala keterbatasan, karena situasi politik dan keamanan yang rawan di Baghdad saat itu. Yakni, adanya aksi militer ISIS, yang berhasil merebut wilayah yang cukup luas di Irak.

“Di saat-saat Pak Dubes dan teman-teman mempersiapkan proses evakuasi KBRI Baghdad (karena ancaman ISIS), kita juga bisa menghadirkan --meski sangat minimal-- pelaku usaha dari Indonesia. Jadi saya pikir ini sudah membangun mekanisme untuk saling tahu antara kedua pengusaha. Bagaimana bisa meningkatkan ekspor, jika kita tidak membangun mekanisme seperti ini,” lanjut Ari. Target yang ingin dicapai lewat partisipasi di berbagai pameran perdagangan itu adalah meningkatkan neraca perdagangan itu hingga sampai memberi surplus yang signifikan bagi Indonesia.

Menurut Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Bismark, “Kehadiran kami di pameran ini lebih bersifat untuk memperkenalkan produk-produk Jawa Barat. Sehingga jika situasi di Irak nanti membaik, mereka sudah tahu dan mengenal produk-produk kami.”

Pengusaha asal Bandung memamerkan busana Muslim dan busana biasa, kopi, teh, obat-obatan herbal, produk-produk kecantikan alamiah, suplemen makanan, produk perawatan bayi, gula kelapa, aneka ragam bumbu masak, sambal, dan lain-lain. Dalam pemeran, sejumlah warga Irak menunjukkan minatnya pada produk-produk busana, yang dijual cukup murah. Sebuah celana jeans dihargai Rp 165.000 atau sekitar 10 USD, harga yang lumayan murah untuk ukuran Irak.

Pasar di Irak sebenarnya sangat luas karena Irak bisa dibilang hanya menghasilkan minyak bumi, namun produk-produk lain harus diimpor dari luar. Negara lain yang tampil agresif memasarkan produk-produknya di pameran perdagangan ini adalah Jepang dan Iran, yang menyewa satu balairung tersendiri untuk perwakilan dagangnya.
Merasa Yakin Bisa Bersaing

Sesudah empat hari mengikuti pameran dagang di Baghdad dan melihat kebutuhan pasar Irak, ternyata pelaku usaha Indonesia yakin bisa memenuhinya. Produk Indonesia, khususnya asal Jawa Barat, bisa bersaing dengan produk negara lain, seperti misalnya produk Iran dan Mesir. “Secara kualitas, perbedaannya jauh sekali. Kalau melihat produk kerajinan tangan, dibandingkan dengan Mesir, masih jauh lebih baik produk Indonesia, atau khususnya Jawa Barat,” tegas Bismark.

“Saya yakin seyakin-yakinnya tentang keunggulan produk kita. Hanya saja peluangnya saja yang masih belum ketemu. Kan kunci ekspor itu hanya satu, yakni bagaimana kita bisa mendekatkan diri dengan para pembeli. Kalau sudah jalan, ya go ahead-lah pasti,” tutur Bismark.

Menurut Bismark, secara keseluruhan ia tidak melihat adanya situasi hambatan di Irak, tetapi melihat peluang. “Ternyata peluang untuk produk kerajinan tangan, kopi, kehutanan, busana Muslim, pakaian, termasuk batu-batuan, masih sangat besar. Jadi kita punya potensi yang luar biasa menurut saya. Jangan melihat dari sisi hambatan, tetapi coba melihat ke depan, bisa nggak kita masuk. Tentu saja tidak bisa langsung besar, tetapi sedikit demi sedikit beberapa teman pelaku usaha sudah memulai,” tambahnya.

Dalam menyikapi pasar Irak, pengusaha Indonesia perlu mengubah pola pikirnya, yang menganggap pasar ekspor hanya sebagai tambahan atau pelengkap dari pasar dalam negeri. Ekspor itu, termasuk gagasan untuk ekspor ke Irak, sebetulnya adalah bidang yang membutuhkan perhatian dan upaya tersendiri.

Hal itu dinyatakan Direktur Ekspor PT Ikafood Putramas, Boy Gaswin Zen, yang datang mewakili perusahaannya di Baghdad International Fair. Ia juga mewakili Ikapharmindo, perusahaan yang berada dalam satu grup dan berfokus pada produk obat-obatan, perawatan kecantikan, dan consumer goods, seperti sabun, perawat rambut, dan sebagainya.

Menurut Boy Zen, tantangan yang dihadapi dalam melebarkan bisnis ke Irak adalah menemukan mitra lokal yang tepat. Ada keunikan di kawasan Timur Tengah, termasuk di Irak, bahwa mitra lokal sering meminta untuk menjadi satu-satunya perwakilan di wilayah ini, sehingga menutup pintu bagi potensi mitra lokal lain. Maka pemilihan mitra lokal harus disikapi secara cerdas, dengan mempertimbangkan banyak hal.

Ekonomi Irak akan Berkembang

Boy Zen tetap berminat datang ke Irak, yang sering diberitakan di media sebagai negeri yang banyak dilanda konflik, karena melihat potensi di masa depan. “Kami sudah mulai mengekspor sejak 1995 ke negara-negara lain, dan salah satu strategi perusahaan kami adalah ke negara yang diperkirakan ekonominya akan berkembang,” tutur Boy Zen. “Kita yang penting eksis dulu di Irak walaupun kecil dan memperkenalkan produk. Nanti, pada saat kondisi di Irak membaik, kita harapkan produk kita sudah lebih dulu dikenal dibandingkan produk pesaing yang masuk belakangan.”

Hal senada dinyatakan Marketing Export Dept. Manager dari PT. Voksel Electric Tbk, Harris Wijaya, yang datang mewakili perusahaannya di Baghdad International Fair. Tanpa banyak publikasi, lewat PT. Voksel Electric, Indonesia ternyata telah mengekspor produk telekomunikasi seperti kabel dan konduktor ke Irak. Infrastruktur telekomunikasi Irak yang rusak, usang, dan terbengkalai akibat konflik berkepanjangan di negeri itu memang membutuhkan banyak infrastruktur baru. Indonesia berusaha mengisi kekosongan itu.

Menurut Harris, dalam kontrak terakhir dari awal 2014 hingga Mei 2014, nilai kontrak yang diperoleh perusahaannya mencapai 12 juta dollar AS. Sedangkan kalau dihitung sejak awal keterlibatan di Irak, bisa mencapai 20 juta dollar AS. Sekarang Harris sedang berusaha untuk meraih kontrak baru. “Kami sudah sejak 2008 berusaha mengekspor ke Irak, namun baru tahun 2012 tercapai deal. Tentang kontrak terbaru, kami masih negosiasi tentang term of payment,” ujarnya.

Tentang situasi yang dianggap belum stabil di Irak, Harris berpendapat, justru dalam kondisi demikianlah terdapat peluang bagi perusahaannya. Perusahaan-perusahaan besar dari Amerika dan Eropa masih menahan diri untuk masuk ke Irak. “Tetapi jika kondisi sudah benar-benar pulih, raksasa-raksasa itu akan masuk ke Irak dan akan makin sulit bagi kita untuk bersaing melawan mereka,” jelas Harris, yang sudah tiga kali berkunjung ke Irak.
Memberi Apresiasi yang Tinggi

Para pelaku usaha Indonesia, yang mencoba memasarkan produk-produknya di pameran perdagangan internasional di Baghdad, memberi apresiasi yang tinggi terhadap bantuan dan dukungan penuh yang dilakukan KBRI Baghdad. “KBRI ikut mendukung pelaku usaha Indonesia asal Jawa Barat untuk tembus ke pasar ekspor. Ini sesuatu yang luar biasa, karena saya lihat mereka all out,” ujar Bismark.

“Dukungan dari KBRI Baghdad, terus terang, saya bisa mengatakan adalah salah satu yang terbaik yang pernah kami terima. Baik dari Pak Dubesnya, Wakil Dubesnya, dan semua staf di sana. Mereka terus ada lho di stand kita. Mereka tunggu dari pagi sampai sore,” puji Boy Zen.

Sedangkan pimpinan PT. Kamakmuran Niaga Mandiri, Didiet Arry Suparno, berpendapat, “Dukungan dari KBRI Baghdad sangat membantu sekali. Luar biasa dalam memfasilitasi kami semua. Kami diperhatikan dengan baik dalam segala hal. Sampai untuk mesin kopi pun, kami tidak bawa dari Indonesia, tetapi KBRI menyediakan, hingga mereka membeli baru. Hal seperti ini jarang terjadi. Ini hanya satu-satunya terjadi di (KBRI) Baghdad.”

Didiet adalah pengusaha UKM asal Bandung yang bergerak di komoditi kopi. Kapasitas produksi UKM Didiet untuk konsumsi dalam negeri adalah 10 ton per bulan. Sedangkan untuk pasar luar negeri tergantung permintaan, tetapi untuk tahun depan sudah punya kontrak dengan mitra di Hongaria sebesar 20 ton. Kebun kopi binaan UKM Didiet berlokasi di Garut, Sumedang, Bandung Barat, dan Pengalengan, Jawa Barat.

Dari sudut pandang KBRI Baghdad, para pelaku usaha dari Indonesia, yang mau datang dan berpartisipasi untuk mencari pasar di negara seperti Irak, juga patut mendapat apresiasi tinggi. “Saya pribadi sangat salut. Sangat apresiatif pada teman-teman pelaku usaha ini, yang dari segi kapital dan kapasitas produksi biasa-biasa saja, tetapi punya semangat yang luar biasa untuk menghadirkan Merah-Putih dalam berbagai produknya di Irak ini. Mereka patut mendapat apresiasi atas kemauannya datang ke Irak,” kata Ari.

Perlu Membangun Kepercayaan

Untuk pasar-pasar yang dinamis, tetapi memiliki kendala keamanan yang muncul setiap hari seperti Irak, pihak KBRI Baghdad perlu membangun kepercayaan agar para pelaku usaha mau berpartisipasi di pameran. Untuk mewujudkan keinginan KBRI itu membutuhkan suatu perjuangan tersendiri di lapangan.

“Sementara mereka para pelaku usaha itu setiap hari membaca berita tentang adanya bom, maka kita harus membangun kepercayaan. Ketika mereka memutuskan datang ke Baghdad, ya berarti kepercayaan itu sudah terbentuk, sebagai hasil dari kalkulasi mereka sendiri,” lanjut Ari. Kementerian Luar Negeri RI memang sudah mengklasifikasikan tempat penugasan yang dianggap rawan dan berbahaya, dan Irak termasuk salah satu yang dianggap paling berbahaya.

“Sangat mudah untuk mengundang pelaku usaha, jika kita bertugas di negara-negara Eropa atau Amerika. Jalinan hubungan usaha antara negara itu dan Indonesia sudah terbangun. Tetapi dengan Irak kan baru satu pelaku usaha di sini, satu lagi di sana. Sifatnya baru sporadis, spontan, tidak berkesinambungan. Tetapi kita kan ingin yang sifatnya berkelanjutan,” tutur Ari.

Untuk menggenjot ekspor ke Irak tentu tidak selalu berjalan mulus. Ada saja satu dua kendala yang harus diatasi. Masalah yang paling krusial yang dihadapi oleh eksportir komoditi dari kelompok UKM adalah masalah perbankan. Pemerintah telah memberi kebijakan ekonomi jilid I, II, III, dan IV. Tetapi praktiknya di lapangan, pihak perbankan itu masih sangat kaku dalam perlakuan terhadap pengekspor, terutama untuk kelompok UKM yang mau melakukan ekspor kopi. Hal itu dinyatakan Didiet Arry Suparno, yang perusahaannya menghasilkan kopi spesial, dengan brand Paris van Java.
Berbagai Tantangan ke Irak

Didiet memberi contoh, pihaknya harus membeli kopi dengan uang kontan, dalam upaya perusahaan untuk melaksanakan ekspor 200 ton kopi tahun 2016 ke Budapest, Hongaria, sesuai permintaan pasar. “Tetapi berapa besar sih kemampuan uang saya untuk memperoleh biji kopi sebanyak itu? Pemerintah saat ini telah memberi kebijakan kredit dengan jaminan yang berbasiskan komoditi. Namun praktiknya di lapangan, perbankan itu seperti bersikap setengah-setengah,” ujar Didiet.

Menurut Didit, ketika mengambil kredit ke bank, pihaknya tetap harus menyediakan collateral atau jaminan lain, padahal ia membeli biji kopi untuk ekspor itu dengan uang. “Uang kita itu sudah habis untuk membeli kopi. Tetapi kita tetap harus memberikan collateral berupa aset tetap, seperti tanah, dan sebagainya,” sambungnya.

Padahal, kata Didiet, asetnya sendiri sudah dikeluarkan untuk membeli kopi. “Seharusnya pemerintah bisa memberi lebih banyak peluang pada kami para eksportir, terutama pelaku komoditi. Agar komoditi kami, stok kami itu, bisa dijadikan jaminan collateral,” ujarnya.

Yang lucunya lagi, menurut Didiet, LC yang dimilikinya itu jika dimasukkan ke perbankan di Indonesia juga tidak bisa dijadikan jaminan. Bagi pihak perbankan, LC itu bukan collateral. Jadi Didiet tetap saja harus menjaminkan aset tetap, seperti tanah, rumah, dan segala macam. “Saya tetap harus kasih fixed asset. Saya sudah datang ke empat bank termasuk BRI, BJB, Mandiri, dan jawabannya itu sama. Kebijakan dari Bank Indonesia-nya yang belum berubah. Jadi bank-bank itu bukannya tak mau, tetapi yang harus berubah itu peraturan BI-nya,” lanjut Didiet.

Hambatan Bisa Diatasi

Mengomentari kendala itu, Ari Wardhana mengatakan, masalah LC dalam upaya peningkatan ekspor Indonesia ke negara berkembang seperti Irak, adalah hal klise. Tentang LC dari Irak yang tidak diterima sebagai jaminan oleh perbankan di Indonesia, Ari menganggap, hal itu bukanlah masalah yang tak bisa diatasi.

Ari, yang pernah menjadi Koordinator Fungsi Ekonomi di KBRI Aljazair, memaparkan, ada mekanisme lain yang bisa difasilitasi. “Misalnya, kita waktu itu bilang pada perusahaan Aljazair untuk buka account di bank, katakanlah Bank Pariba di Paris. Bank Pariba di Paris kan berkorespondensi dengan Bank Pariba yang ada di Indonesia. Maka itu bisa dilakukan transfer untuk melakukan pembayaran. Bisa diakali begitu. Jadi tidak sampai menghambat bisnis antara kedua negara. Banyak cara yang bisa kita gunakan,” ujarnya.

“Jadi masalah mekanisme pembayaran seperti itu bukan sesuatu yang tidak bisa kita selesaikan. Dan kita wajib memberi dukungan pada pengusaha Indonesia agar hal itu bisa terealisasi,” tegas Ari.

Ia mengambil contoh, perusahaan konstruksi Wijaya Karya (Wika) sudah membangun jalan raya di Aljazair, dan sekarang sedang membangun apartemen di sana. Nilai revenue-nya itu sekitar Rp 1 triliun setiap tahun. Padahal, tidak ada kerjasama antara bank sentral Indonesia dan Aljazair.
“Tetapi apakah hal itu menjadi hambatan? Wika tetap hadir, dari 2006 sampai sekarang, dengan omzet antara Rp 600 miliar sampai Rp 1 triliun per tahun. Saya yakin ada masalah, tetapi apakah itu menghambat kerjasama antara mereka di Indonesia dan Aljazair? Justru saling melengkapi ‘kan?” tukasnya.

Tantangan lain untuk masuk ke pasar Irak adalah pemahaman tentang selera dan perilaku konsumen di Irak. Minat masyarakat Irak terhadap produk pangan, seperti bumbu masak, dari Indonesia agak sulit dipenuhi, antara lain karena perbedaan antara selera orang Indonesia dan selera orang Irak. Maka mungkin strategi pemasarannya adalah menjual produk pangan yang umum, seperti saus cabai atau saus tomat, karena produk itu dikenal di seluruh dunia. ***

Baghdad, 11 November 2015
Ditulis untuk Majalah AKTUAL

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI