Tinggal Seorang Diri di Surga

Oleh Satrio Arismunandar

Jika Anda sering menyempatkan diri mengamati berbagai isi media daring (online) dan media sosial tentang Indonesia saat ini, Anda mungkin akan segera merasa lelah, capek, lunglai. Persisnya, lelah secara mental. Pagi berlangit cerah cemerlang, yang seharusnya bisa Anda nikmati, berubah menjadi mendung hitam yang suram, penuh energi negatif.

Mengapa? Hal itu karena media tersebut penuh dengan konten yang bernuansa konflik, kebencian, permusuhan, antipati, prasangka, ketakutan, sikap paranoid, kecurigaan, kata-kata kasar, caci maki, dan lain-lain. Meski tidak dinyatakan secara eksplisit, semua ekspresi itu berlandaskan pada satu anggapan dari person bersangkutan: “Saya adalah yang paling benar, dan mereka yang tidak sama dengan saya berarti salah.” Titik.

Mereka yang menganggap diri paling benar tersebut seolah-olah tidak pernah kekurangan bahan dan punya banyak energi untuk menghujat, mencerca, menghina, melecehkan, bahkan mengkafir-kafirkan pihak lain, yang dianggap tidak sesuai dengan kebenaran menurut versinya. Hal yang terakhir ini biasanya terkait dengan klaim kebenaran dalam konteks keagamaan.

Karena menganggap ajaran agama yang dianutnya paling benar (atau lebih tepat: penafsirannya terhadap ajaran agama yang dianutnya paling benar), mereka tidak merasa bersalah mengkafir-kafirkan pihak lain. Sebaliknya, mereka justru merasa sedang mengemban tugas yang mulia di mata Tuhan. Yakni, tugasnya adalah meluruskan semua yang bengkok, untuk membenarkan kembali semua yang keliru, dan mengembalikan ke jalan lurus bagi siapa saja yang dianggapnya sudah menyimpang atau tersesat.

Dalam “logika kebenaran tunggal” versi mereka, secara simplistis dan sederhana mereka menganggap bahwa kebenaran itu hanya punya satu wajah, tidak ada alternatif lain. Warna hanya ada dua: putih (benar) dan hitam (salah). Tidak ada warna abu-abu. Bahkan tidak ada warna kuning, biru, hijau, ungu, merah, dan oranye. Ini warna-warna yang tidak dikenal, dan kehadirannya menimbulkan kebingungan.

Mereka gamang dan tidak terbiasa dengan keanekaragaman. Perbedaan dianggap sebagai penyimpangan dari kebenaran, karena kebenaran hanya ada satu, yakni kebenaran menurut versi mereka sendiri. Perbedaan dianggap sebagai ancaman, atau bahkan musuh yang harus diperangi.

Sudah tentu ada berbedaan yang nyata di antara berbagai agama. Bahkan di dalam agama yang sama juga terdapat perbedaan dalam fiqih (hukum agama), ritual, sekte, aliran, dan mazhab. Singkat kata, jika kita terus mau menggali-gali perbedaan yang ada, maka tidak pernah akan ada habisnya. Dan di ujung-ujungnya, jika kita konsisten menggunakan pendekatan radikal ekstrem, sesungguhnya tidak ada dua manusia yang memiliki versi kebenaran yang persis sama.

Setiap orang memiliki versi kebenaran sendiri-sendiri. Dan, manakala dia memutlakkan versi kebenaran yang dianutnya sebagai satu-satunya kebenaran, maka dia akan menjadi orang yang paling kesepian, di dunia maupun di akhirat. Mengapa?

Karena dalam versi surga yang dia anut, kalau dia konsisten dengan pendekatan radikal ekstrem, sesungguhnya hanya dialah satu-satunya orang yang layak masuk surga! Hal itu karena tidak ada satu pun manusia lain yang menganut versi kebenaran yang persis seperti versi dirinya. Jika jumlah manusia ada 1.000.000.000, maka 999.999.999 orang akan masuk neraka dan hanya dirinya seorang yang masuk surga! Inilah gambaran ekstrem ketika seseorang memutlakkan versi kebenaran yang dianutnya sebagai satu-satunya kebenaran.

Padahal perbedaan, termasuk perbedaan dalam menafsirkan kebenaran, seharusnya adalah rahmat. Kebenaran itu sangat besar, terlalu besar untuk dimonopoli sendiri. Kebenaran itu seperti gajah, sedangkan kita seperti orang-orang buta yang berusaha mengerti gajah dengan cara meraba-raba.

Ada yang meraba kuping gajah dan menyimpulkan bahwa gajah itu tipis seperti kipas. Ada yang meraba kaki gajah, dan berpendapat bahwa gajah itu seperti batang pohon kelapa. Masing-masing merasa telah mengerti gajah atau menemukan kebenaran tentang gajah. Namun kebenaran dalam versi kita itu mungkin baru satu aspek, satu sisi, satu sudut kecil dari kebenaran yang seutuhnya. ***

Baghdad, 11 November 2015
Ditulis untuk Rubrik OASE, Majalah AKTUAL

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI