Ketika Ribuan Ikan Mati Mengambang di Pantai Ancol

Oleh: Satrio Arismunandar

Kontroversi proyek reklamasi di Teluk Jakarta juga terkait dengan isu lingkungan hidup. Teori penyebab matinya ribuan ikan di Pantai Ancol menjadi bahan tarik-menarik kepentingan berbagai pihak.

Ribuan ekor ikan ditemukan mati mengambang di Pantai Ancol, Jakarta Pusat, pada penghujung November 2015. Kasus matinya ribuan ikan ini kembali mengangkat kontroversi tentang proyek reklamasi 17 pulau di Teluk Jakarta, kali ini dari aspek lingkungan hidup. Berbagai analisis yang bertentangan, tentang penyebab matinya ribuan ikan itu, seolah-olah mewakili konfik antara pihak-pihak yang berbeda pandangan tentang boleh-tidaknya reklamasi Teluk Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan sigap menanggapi kasus ini. Ia menduga matinya ikan-ikan di kawasan Ancol disebabkan oleh pencemaran air yang dibawa oleh aliran sungai, yang bermuara ke Pantai Utara Jakarta. Pencemaran sungai bukan dimulai di kawasan Jakarta, melainkan sudah dari bagian hulunya. "Sedangkan reklamasi terjadi di laut. Jadi kematian ribuan ikan di Ancol tidak ada kaitannya dengan reklamasi Teluk Jakarta," kata Ahok, pada 1 Desember 2015.

Ahok membandingkan peristiwa matinya ikan di Ancol dengan fenomena yang sama, yang terjadi di kolam ikan Epicentrum. Air yang mengisi kolam tersebut berasal dari sungai yang mengalir di sekitarnya, lantaran bentuk kolam memang didesain mirip dengan sungai. Maka, ikan-ikan di kolam tersebut mati saat volume air sungai yang masuk terlalu banyak, apalagi saat musim hujan mulai melanda Jakarta.

Menurut Ahok, seandainya pencemaran air sungai dimulai di bantaran sungai dekat Jakarta, kemungkinan air sungai yang masuk ke kolam Epicentrum tidak memiliki kandungan racun mematikan. Maka Ahok menduga, pencemaran air sungai yang bermuara di Pantai Utara Jakarta disebabkan pencemaran di bagian hulunya.

Ledakan Populasi Fitoplankton

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah meneliti penyebab kematian ikan-ikan di perairan Pantai Ancol. Peneliti LIPI pada 30 November 2015 menyimpulkan, penyebab ikan-ikan tersebut mati adalah kehabisan oksigen untuk bernapas. Pada saat yang sama, LIPI menemukan ledakan populasi fitoplankton di lokasi ditemukannya ikan-ikan mati tersebut.

"Kadar oksigen yang terlarut di air tersebut sangat rendah, hanya 1,094 mg/liter. Padahal pada keadaan normal kadar oksigennya adalah 4-5 mg/liter," ujar peneliti Oseanografi LIPI Indra Bayu Vimono, dalam keterangan persnya. Menurut Indra, kepadatan fitoplankton yang mencapai satu hingga dua juta sel per liter membuat oksigen dengan cepat tersedot.

Indra mengaku sempat mewawancarai sejumlah pekerja di pantai Ancol, untuk mengetahui kondisi air laut saat kejadian itu. Para pekerja mengatakan, mereka melihat ada perubahan warna air menjadi lebih gelap dan banyak bintik hitam. Kondisi tersebut terlihat sejak dua hari sebelum kematian ikan-ikan secara massal.

Menurut peneliti ini, membludaknya jumlah fitoplankton disebabkan oleh meningkatnya kadar fosfat dan nitrat di kolom air. Namun pada lokasi matinya ikan, kadar zat kimia tersebut sangat rendah. Hal itu mengindikasikan, adanya penyerapan dan pemanfaatan fosfat dan nitrat oleh fitoplankton, sebelum jumlahnya bertambah secara drastis.

"Data fosfat dan nitrat di tepi pantai cenderung tinggi. Kemungkinan ini diakibatkan oleh pembusukan bangkai ikan. Kondisi perairan yang stagnan memungkinkan pertumbuhan algae menjadi cepat dan penurunan oksigen terjadi secara cepat," tambahnya.

Mengimbau Warga Tidak Cemas


Pada 2 Desember 2015, Ahok sudah tidak lagi menggunakan “teori limbah dari sungai,” melainkan mengandalkan pada hasil penelitian LIPI. Ahok meminta warga untuk tidak cemas mengenai kematian ikan-ikan di perairan Ancol. Ikan-ikan di wilayah Teluk Jakarta masih tetap bisa dikonsumsi karena matinya ribuan ikan itu tidak disebabkan oleh racun. "Jika mengacu pada LIPI, ya tidak perlu panik karena ikan mati bukan oleh racun, melainkan oleh keberadaan fitoplankton yang menyedot habis kadar oksigen di sana," tegasnya.

Ahok menjelaskan, ikan-ikan yang mati berasal dari perairan di dekat Pantai Ancol. Sementara ikan di Teluk Jakarta, lokasi dekat reklamasi, diklaim tidak ada satupun yang mati. "Ikan di Teluk Jakarta mati, tidak? Tidak. Yang mati itu yang kecil-kecil di pantai," kata Ahok di Balai Kota DKI Jakarta.

Jadi, Ahok menegaskan, reklamasi Pantai Utara Jakarta bukanlah penyebab kematian ikan-ikan di Ancol, seperti yang ramai ditudingkan orang. "Kalian percaya atau tidak dengan LIPI? Ini lembaga ilmu pengetahuan. Jika tidak percaya LIPI, kita mau percaya siapa lagi?" kata Ahok.
Sebelumnya, “teori limbah dari sungai” ini sempat dipertimbangkan oleh Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta.

BPLHD menyatakan, ada kemungkinan pencemaran limbah industri menjadi penyebab kematian ribuan ikan di kawasan Ancol. "Kami mau cek dulu dari kualitas air sungai. Bukan tidak mungkin limbah industri, karena lokasi itu merupakan muara dari 13 sungai," kata Kepala BPLHD Jakarta, Junaedi, pada 1 Desember 2015.

Tim BPLHD sudah ke lapangan untuk mengambil sampling air di pantai di Taman Impian Jaya Ancol. Sampling air tersebut dibawa ke laboratorium untuk diuji kualitas dan mutu airnya. Selain tim BPLHD Jakarta, terdapat juga tim dari Puslabfor Kepolisian Daerah Metro Jaya serta Dinas Perikanan dan Kelautan DKI Jakarta, yang akan membantu penyelidikan atas matinya ribuan ikan di Ancol.

Bagi Junaedi, kejadian matinya ribuan ikan di kawasan Ancol bukanlah fenomena baru. Pada 2014, kejadian serupa sempat terjadi dan penyebabnya adalah pergantian musim. "Musim hujan yang baru datang menyebabkan seluruh sampah dan endapan serta kotoran di darat bergerak ke muara," jelasnya.

Arus yang deras dan tinggi itu menyebabkan turbulensi sungai. Sungai pun menjadi dangkal dan banyak kotoran. Ikan-ikan menjadi kekurangan oksigen. "Inilah yang menyebabkan ikan-ikan mati. Namun, untuk kasus ini, kami akan periksa apakah benar limbah industri atau cuaca yang menjadi penyebab kematian ribuan ikan tersebut," ujar Junaedi.

Para Pengusaha Nakal

Namun, “teori peralihan cuaca” sebagai penyebab matinya ribuan ikan di kawasan Ancol itu dipertanyakan oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Walhi berpendapat, ribuan ikan itu mati kekurangan oksigen, karena tercemar oleh zat pencemar tertentu dengan kadar yang tinggi.
"Kalau disebutkan, kematian ikan-ikan itu karena peralihan cuaca, kecil kemungkinan. Saya yakin, matinya ikan-ikan itu terjadi karena tercemar atau memang kekurangan oksigen, akibat tingginya zat pencemar tertentu, apalagi di musim hujan ini," kata Manajer Penanganan Bencana Walhi, Mukri Friatna, 1 Desember 2015.

Menurut Mukri, musim hujan sering dijadikan momen bagi para pengusaha nakal untuk membuang limbah mereka ke sungai dan laut. Debit air yang tinggi mudah melarutkan dan mengalirkan zat tercemar, sehingga perusahaan bisa menutupi kenakalan tersebut. "Dari investigasi kami selama ini di hampir seluruh sungai di Indonesia, pengusaha nakal sering membuang limbah berbahaya mereka terutama di musim hujan dan musim tanam sebagai kamuflase," tegasnya.

Menurut Walhi, terdapat sekitar 600 industri di Jakarta yang tidak memiliki analisis dampak lingkungan. Maka, ada kemungkinan kematian ribuan ikan itu disebabkan oleh pencemaran limbah industri. "Terutama ini bulan Desember, di mana aktivitas produksi perusahaan pasti sedang meningkat menjelang Hari Raya Natal," jelas Mukri.

Mukri juga mempertanyakan “teori BPLHD” bahwa kematian ribuan ikan itu adalah kejadian rutin tahunan akibat peralihan cuaca. Sebab, jika memang demikian, mengapa tidak ada perbaikan atau pengawasan yang dilakukan BPLHD Jakarta, untuk mencegah kasus kematian ikan kembali terulang.

Mukri meminta BPLHD Jakarta untuk mengarahkan para pelaku industri, untuk membuang limbah ke dalam satu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terpadu. Limbah cair bisa dibuang ke perairan selama sesuai dengan baku mutu yang ada. "Sayang, akibat biaya mahal, tidak sedikit perusahaan yang tidak mematuhi peraturan tersebut," tegas Mukri.

Jakarta, 13 Desember 2015

Dirangkum dari berbagai sumber media online, dan dituliskan untuk Majalah AKTUAL

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI