Menangkal ISIS Pasca Teror Paris

Oleh: Satrio Arismunandar

Lewat aksi terornya, ISIS telah merusak nama Islam dan memojokkan kaum Muslim, yang jadi sasaran kebencian dan kecurigaan di seluruh dunia. Langkah menangkal pengaruh ISIS harus lebih serius.

Seperti sudah dikhawatirkan , serangan teror di Paris yang menewaskan 132 orang dan diklaim dilakukan oleh ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) meninggalkan banyak masalah. Korban utama yang dirugikan oleh kelompok ekstrem yang mengatasnamakan Islam itu bukan warga non-muslim, tetapi justru orang Islam sendiri.

Sejak aksi teroris 13 November di Paris, warga Muslim yang tinggal di Inggris telah mengalami 115 kali serangan rasial. Menurut suratkabar The Independent (23 November), terjadi lonjakan kejahatan Islamofobia lebih dari 300 persen. Angka ini melonjak sepekan setelah terjadinya aksi terorisme di Paris. Mayoritas korban kejahatan kebencian di Inggris adalah gadis dan wanita Muslimah berusia 14 hingga 45 tahun yang mengenakan jilbab. Sedangkan para pelakunya adalah pria kulit putih berusia 15 hingga 35 tahun.

Gara-gara aksi teror ISIS, para pengungsi dari Suriah yang mayoritas Muslim juga terkena getahnya. Para politisi sayap kanan di Amerika Serikat dan Eropa menyerukan penolakan terhadap pengungsi asal Suriah. Mereka beralasan bahwa milisi ISIS akan menjadikan permohonan suaka sebagai kedok, untuk bisa masuk ke negara mereka dan melancarkan serangan.

Karena sikap-sikap diskriminatif itulah, juru bicara PBB Stephane Dujarric pada 23 November menegaskan, tidak boleh ada diskriminasi terhadap pengungsi asal Suriah. “Yang jelas, tidak boleh ada diskriminasi atas dasar agama, etnis, atau faktor lain apa pun, jika terkait penampungan pengungsi,” ujar Dujarric.

Agama Sebagai Tameng

Ulama Al-Azhar di Cairo, Mesir, menyebutkan bahwa terorisme –seperti yang dilakukan ISIS-- hanya menggunakan agama sebagai tameng. Kekerasan sebenarnya tidak ada dalam ajaran Islam. Terorisme adalah filosofi hidup bagi mereka yang memang berniat untuk mati. Ini lebih pada “penyakit psikologi dan intelektual” dengan menggunakan agama sebagai tameng, ujar Sheikh Ahmed al-Tayeb, Kepala Pusat Pembelajaran Islam al-Azhar pada pertemuan Dewan Tokoh Muslim.

“Sangat tidak adil dan amat bias, ketika mengaitkan kejahatan pengeboman dan perusakan yang terjadi akhir-akhir ini dengan Islam, hanya karena mereka meneriakkan Allahu Akbar ketika melakukan kejahatan,” tegas al-Tayeb.

Ancaman ISIS memang sangat serius karena pengaruhnya yang meluas, tidak sebatas di wilayah Irak dan Suriah. Sebagian besar wilayah di dua negara Arab itu sudah dikuasai ISIS. ISIS kini menguasai wilayah yang luasnya kira-kira sama dengan luas negara Yordania, tetangga Irak dan Suriah. Tetapi pengaruh propaganda ISIS bahkan bisa menjangkau Indonesia, Eropa, dan Amerika, berkat kepiawaian ISIS memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan Twitter.

Hasil penelitian yang dilakukan JM Berger dan Jonathon Morgan menunjukkan, dalam dua tahun terakhir penetrasi ISIS di media sosial semakin gencar. Pada kuartal terakhir 2014, setidaknya ada 46.000 akun Twitter yang beroperasi atas nama ISIS. Setiap akun yang terkait ISIS itu rata-rata memiliki 1.000 pengikut. Secara berkala, diduga ISIS menyebarkan lebih dari 100.000 pesan setiap bulan melalui media sosial Facebook dan Twitter.

Ketika pasukan ISIS merebut kota Mosul di Irak utara pada Juni 2014, ISIS terdeteksi aktif menyebarkan 40.000 pesan Twitter setiap hari. Tiga perempat dari akun tersebut menyebarkan pesan dalam bahasa Arab, dan sisanya menggunakan bahasa Inggris.

Sebetulnya manajemen Twitter pernah mencoba membendung arus ISIS ini dengan menutup ribuan akun yang dicurigai terafiliasi ISIS, tetapi gagal. Begitu ditutup, akun -akun pendukung ISIS itu dengan cepat mengubah diri dan membiakkan diri dengan wujud identitas lain pada media sosial yang sama atau berbeda. Bahkan ISIS menciptakan media sosial sendiri, “Khelafabook,” sebagai wujud perlawanan terhadap kebijakan Facebook dan Twitter.

Indonesia Darurat Terorisme

Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama Said Aqil Siroj pada 24 November menyatakan, Indonesia harus mewaspadai kelompok ekstremis seperti ISIS. Said memperkirakan, sedikitnya ada 800 warga Indonesia telah bergabung dengan ISIS dan mereka didominasi kaum muda. Pemerintah harus menindak tegas kelompok yang menolak patuh pada nilai-nilai Indonesia.

“Kita kedodoran karena undang-undang melarang penindakan kalau belum secara nyata melakukan tindakan teror. Itu tidak bisa lagi dibiarkan, karena kita sudah darurat terorisme,” tegas Said.

Menyadari bahaya ISIS dan radikalisasi yang semakin meningkat, berbagai pihak di Tanah Air tidak tinggal diam. Salah satunya adalah KH Hasyim Muzadi, Sekjen ICIS (International Conference of Islamic Scholars), yang menggalang pertemuan keempat ICIS pada 23-25 November 2015. Acara yang dihadiri 65 tokoh agama dan ulama berpengaruh dari 34 negara itu berlangsung di UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, Jawa Timur. Sekitar 500 ulama dari seluruh Indonesia, akademisi, dan duta besar negara sahabat juga turut serta.

Menurut Hasyim, konferensi ini adalah respons terhadap problematika umat Islam di tingkat global, dan upaya untuk mencari solusi terhadap krisis yang tengah melanda dunia Islam. Ekstremitas telah dieksploitasi di Timur Tengah, yang berdampak pada hancurnya agama dan negara. Hal ini diperburuk oleh perang kepentingan di kawasan itu, termasuk perebutan sumber daya alam seperti minyak, dan hegemoni politik.

Ditambahkannya, pemikiran moderat akan tergerus oleh pemikiran radikal dan liberal jika tidak dikelola dengan baik. Maka perlu ada upaya sistematis untuk menangani ancaman terorisme dan antiterorisme yang berwujud Islamofobia, dalam saat yang bersamaan. Publik internasional seolah dipaksa untuk memihak satu dari dua fenomena tersebut.

Diiming-imingi Gaji Fantastis

Sedangkan Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian, Noor Huda Ismail, menjelaskan, warga Indonesia yang bergabung dengan gerakan radikal bisa jadi karena masalah ekonomi, unsur maskulinitas, dan lingkungan sosialnya. Pada kasus ISIS, faktor ekonomi menjadi salah satu daya tarik utama untuk bergabung. ISIS mengiming-imingi gaji yang fantastis bagi para pengikutnya.

Sedangkan konsep religius yang melakukan aksi teror juga menarik minat para pemuda, karena dianggap sebagai bentuk maskulinitas, kejantanan. “Bergabung dengan ISIS mejadi wujud perlawanan para simpatisan, karena merasa terasing dari lingkungan sosialnya,” ujar Noor Huda.

Namun harus diakui, pemerintah belum optimal mengantisipasi radikalisme sehingga gerakan radikal semakin berkembang dan mengancam bangsa. Tindakan pemerintah baru sebatas memberi pernyataan di media. Maka pemerintah perlu lebih optimal dalam menjalankan program deradikalisasi, dan ideologi ekstrem yang disebarkan oleh kelompok radikal.

Direktur Deradikalisasi BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), Irfan Idris menyatakan, program deradikalisasi ini memberikan pendidikan agama dan wawasan kebangsaan kepada ratusan terpidana terorisme di 13 lembaga pemasyarakatan. Upaya itu membuat Umar Patek, mantan anggota Jamaah Islamiyah, kembali menerima Pancasila dan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

BNPT pada awal 2015 juga meluncurkan dua situs untuk mencegah terorisme. Melalui situs Jalandamai.org dan Damailahindonesiaku.com, diharapkan orang dapat berbagi pengalaman, bagaimana mendapatkan rekan untuk bergabung melawan radikalisme agama.

Upaya menangkal ideologi ekstrem dari kelompok semacam ISIS kini masih terus diperjuangkan. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso meminta masyarakat aktif menginformasikan indikasi radikalisme di lingkungannya. “Masyarakat tidak perlu ragu melaporkan setiap kejadian yang mencurigakan kepada kami,” ucap mantan Gubernur DKI Jakarta itu. *

Jakarta, November 2015

Ditulis untuk Majalah AKTUAL

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)