Strategi Baru Militer China yang Lebih Percaya Diri

Oleh: Satrio Arismunandar

Kebangkitan China, sebagai negara adidaya baru yang menandingi Amerika Serikat, membuat segala gerak-geriknya menjadi pusat perhatian. Pertumbuhan ekonomi China membuat negara itu kini memiliki kepentingan-kepentingan yang tak bisa ditinggalkan di setiap benua. Sejalan dengan itu, militer China pun berkembang untuk bisa secara aktif melindungi berbagai kepentingan, yang kini tidak dibatasi pada lingkup sempit kedaulatan teritorialnya.

Dalam kaitan itu, pada pertengahan 2015, Kementerian Pertahanan China telah mengeluarkan Buku Putih pertahanannya. Tidak seperti dokumen-dokumen sebelumnya, inilah pertama kalinya China secara terbuka mengungkapkan bagian-bagian dari strategi militernya. Bahkan judul dokumennya diubah dari “Pertahanan Nasional China” menjadi “Strategi Militer China.” Tidak seperti dokumen pertahanan China sebelumnya, yang berisi hal-hal yang bersifat retrospektif (melihat ke masa lalu) dan samar-samar, Buku Putih baru ini menawarkan rincian tentang niat-niat strategik China dan pengembangan masa depan militernya.

Seorang pejabat militer China menyatakan, transparansi yang lebih besar dalam Buku Putih baru tersebut menandakan hadirnya China yang lebih percaya diri. Bisa dikatakan, banyak pengungkapan yang terpapar di dokumen itu sebenarnya tidaklah baru. Ia menguraikan strategi “pertahanan aktif” (active defense) China yang usianya sudah puluhan tahun, yang menyatakan bahwa China akan selalu defensif secara strategik, walau mungkin tidak demikian perwujudannya di tingkatan operasional atau taktis.

Dokumen ini juga merinci tujuan utama militer China: menyiapkan dirinya untuk menghadapi “perang-perang lokal di bawah kondisi informasionisasi (informationization).” Dengan kata lain, konflik-konflik regional di mana komando, kontrol, komunikasi, intelijen, pengintaian, dan pengawasan (C4ISR) akan memainkan peran utama. Hal itu umumnya juga sudah diketahui oleh para pengamat.

Tetapi berbagai pengungkapan lain di Buku Putih itu lebih memberi kejelasan. Buku Putih itu menunjukkan, China bermaksud memfokuskan pengembangan kekuatannya dalam empat domain: dunia maya (China akan mendorong kapabilitas perang cyber), luar angkasa (China akan mengambil langkah-langkah dalam mempertahankan kepentingannya di sana, walau China menentang militerisasi luar angkasa), kekuatan nuklir (China akan membangun kapabilitas serangan-kedua yang andal), dan terakhir samudera-samudera.

Paling Menimbulkan Kekhawatiran

Domain terakhir itu adalah apa yang saat ini paling menimbulkan kekhawatiran di kalangan tetangga-tetangga China, mengingat sikap China yang semakin asertif di Laut China Timur dan Laut China Selatan. Dan Buku Putih ini memang menggarisbawahi niat Beijing untuk mengembangkan Angkatan Laut China dan memperluas jangkauan operasinya. Yakni, ada pergeseran dari “pertahanan perairan lepas pantai” ke arah “perlindungan lautan terbuka.”

Buku Putih tersebut berargumen bahwa makin meningkatnya kepentingan China di seberang lautan telah mengubah fokus negeri itu, dari kekuatan daratan kontinental menjadi kekuatan maritim. Hal ini mendorong China untuk memprioritaskan angkatan lautnya dalam perencanaan modernisasi militernya. Dalam pernyataan yang dulu bisa dianggap sebagai “penyimpangan” di militer China, dokumen ini menyatakan bahwa “mentalitas tradisional yang mendahulukan daratan daripada lautan harus ditinggalkan.”

Hal ini berarti bahwa di masa depan, China bukan hanya akan mempertahankan garis pantainya dari serangan, tetapi juga jalur-jalur komunikasi laut (sea lanes of communications) melalui rute-rute pelayaran internasional. Ini termasuk pelayaran dari Timur Tengah, di mana lebih dari separuh suplai minyak untuk China dikirimkan.

Hal itu, pada gilirannya, berarti negara-negara seperti India akan harus membiasakan diri melihat lebih banyak kapal-kapal Angkatan Laut China di Samudera Hindia. Dengan pendekatan yang sama, Jepang dan Amerika harus memperkirakan akan lebih banyak patroli laut dan udara China di Lautan Pasifik, dan mungkin juga ada satu atau dua kapal induk China.

Dokumen “Strategi Militer China” itu disiarkan di tengah tindakan reklamasi pulau oleh China dan makin meningkatnya peringatan-peringatan bernada permusuhan, terhadap aset-aset penerbangan Angkatan Laut AS yang beroperasi di Laut China Selatan. Dokumen itu menjabarkan bagaimana Angkatan Bersenjata China diperkirakan akan bersikap, untuk mendukung tujuan-tujuan geopolitik Beijing.

Dalam Buku Putihnya, China berjanji untuk menggunakan angkatan bersenjata untuk menciptakan “postur strategik yang menguntungkan, dengan lebih banyak penekanan pada pengerahan kekuatan militer dan sarana-sarananya,” guna menjamin pembangunan negeri secara damai. Dokumen itu juga menuduh bahwa Amerika Serikat (dan negara-negara tetangga lain) melakukan “langkah-langkah provokatif” terkait pulau-pulau dan gugusan karang China.

Tentara Pembebasan Rakyat

Ada lima unsur utama yang bernilai strategik dari Buku Putih itu, yang layak diperhatikan. Pertama, tugas terpenting dan prioritas pertama dari Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) adalah tetap memelihara kekuasaan dan otoritas Partai Komunis China (PKC). Buku Putih ini secara sangat jelas menyatakan bahwa TPR pertama-tama eksis untuk melindungi PKC dan rezim Presiden China Xi Jinping.

Pernyataan membela tanah air China dan rakyat China dijadikan urutan nomor berikut, dibandingkan urutan pertama memelihara legitimasi dan keampuhan PKC. Bagaimanapun juga, TPR adalah lengan dari PKC –bukan negara China—dan dengan demikian Angkatan Bersenjata China ditugaskan semata-mata untuk mempertahankan Partai ketimbang kesejahteraan 1,3 miliar rakyat China. Jika isu-isu ekonomi, demografi, atau sosial mengancam legitimasi PKC, Presiden Xi Jinping memiliki opsi untuk mendayagunakan kekuatan TPR untuk meredam oposisi politik dan kerusuhan domestik.

Kedua, China membangun militer untuk sanggup bertarung dan memenangkan perang. Militer China difokuskan untuk memastikan, bahwa berbagai investasi baru-baru ini di TPR bisa diterjemahkan ke dalam wujud kapabilitas dalam menjalankan perang yang sebenarnya. Buku Putih secara jelas menyatakan, TPR bermaksud “mengikhtiarkan untuk merebut inisiatif strategik dalam perjuangan militer, secara proaktif merencanakan bagi perjuangan militer di semua arah dan matra, serta meraih peluang untuk mempercepat pembangunan militer, reformasi, dan pengembangan.”

Militer China sangat ingin menjadi militer yang mampu melancarkan ofensif dan menaklukkan setiap penantang. Buku Putih ini memberikan penekanan khusus pada ambisi Angkatan Laut China, untuk menjadi kekuatan laut perairan dalam yang tidak terbatas hanya bagi pertahanan pantainya sendiri (blue water force).

Angkatan Laut perairan dalam itu akan beroperasi secara reguler melalui “rantai pulau pertama” yang memisahkan China Selatan, China Timur, dan Laut-laut Kuning dari Pasifik untuk melindungi kepentingan strategik China. Angkatan Laut perairan dalam China, yang dibangun untuk mampu bertarung dan memenangkan perang, adalah juga militer yang tidak menunjukkan keraguan sedikit pun dalam menggunakan kekuatannya untuk menegakkan kedaulatan.

Bagi para pejabat di Beijing, angkatan laut perairan dalam ini (blue water navy) adalah kekuatan yang modern, yang mampu mempertahankan klaim-klaim teritorial, menyelenggarakan operasi-operasi global, dan mungkin yang paling penting adalah menjadi “tantangan nyata” terhadap Angkatan Laut Amerika.

Hasrat China untuk menjadi kekuatan perairan seperti itu tidaklah mengejutkan, dan hal itu menjadi peringatan terhadap negara-negara lain di kawasan yang berdekatan. Itu adalah sebentuk peringatan, yang tampaknya tidak akan meredakan ketegangan yang sudah ada antara China dengan Jepang, Korea Selatan, dan Filipina yang berbatasan.

Ketiga, TPR tampaknya berfokus pada ancaman-ancaman yang dalam persepsinya berasal dari Amerika Serikat, Jepang, Taiwan, negara-negara sepanjang pesisir Laut China Selatan, dan kedua Korea. Buku Putih dan arahan strategik yang telah dibenahi ulang mencerminkan persepsi tentang isu-isu keamanan nasional yang “baru,” yaitu: penyeimbangan kembali AS terhadap Asia; revisi-revisi Jepang terhadap kebijakan militer dan keamanan; negara-negara luar yang ikut campur dalam perselisihan teritorial China di Laut China Selatan dan kawasan lain mana pun; ketidakstabilan dan ketidakpastian di Semenanjung Korea; serta gerakan-gerakan kemerdekaan yang marak di Taiwan maupun Tibet.

Kepentingan keamanan Beijing kini terletak lebih jauh dari batas wilayahnya sendiri, dan melintasi kawasan-kawasan yang mensyaratkan kehadiran militer yang aktif. Kepemimpinan TPR berusaha memperlengkapi dan melatih kekuatannya untuk memenuhi persepsi-persepsi baru dari lingkungan keamanan China.

Dalam melakukan hal itu, Buku Putih terbaru memastikan bahwa China tidak punya rasa sesal dalam mempertahankan strategi militer active defense, atau apa yang dalam dokumen itu dipecah-pecah dalam kombinasi dari pertahanan strategik (strategic defense), pembelaan diri (self-defense), serangan operasional dan taktis (operational and tactical offense), dan kesediaan untuk melakukan serangan balik (counterattack).

Membenahi Struktur Internal

Keempat, militer China tahu bahwa ia memiliki beberapa hambatan besar yang bersifat keorganisasian dan harus diatasi. Buku Putih itu mengkaji langkah-langkah yang diperlukan untuk membenahi operasi-operasi harian dan struktur internal TPR. Langkah itu termasuk: pemberian prioritas yang berkelanjutan terhadap kerja ideologis dan politik, memodernkan infrastruktur logistik, membentuk sebuah sistem hukum militer, dan pengintegrasian upaya-upaya dukungan militer dan sipil.

Khususnya pada tingkat domestik, Buku Putih itu menekankan perlunya mengembangkan pendidikan pertahanan nasional, meningkatkan kesadaran publik tentang militer China, dan memikirkan kembali proses-proses yang mendorong orang untuk mendaftar menjadi anggota TPR. Inisiatif-inisiatif ini semuanya tampak bertujuan untuk menangani kelemahan-kelemahan dalam sumber daya manusia dan keorganisasian, untuk menghasilkan militer yang lebih kuat.

Kelima, China berminat dalam kontak-kontak dan hubungan militer-ke-militer, dan Buku Putih itu sendiri merupakan pertanda dari transparansi yang meningkat. Kabar baiknya adalah Buku Putih itu menegaskan, “Angkatan Bersenjata China akan terus mengembangkan hubungan militer-ke-militer yang bersifat non-blok, non-konfrontasi, dan tidak diarahkan ke pihak ketiga mana pun.”

Secara lebih spesifik, Buku Putih itu mengekspresikan minat militer China dalam mengukuhkan model baru hubungan militer dengan angkatan bersenjata Amerika Serikat. Model baru hubungan militer ini akan mencakup dialog-dialog pertahanan, pertukaran dan langkah-langkah lain yang bertujuan memperkuat rasa saling percaya, pencegahan eskalasi yang tak disengaja, dan mengurangi krisis-krisis.

Kontak militer-ke-militer dan keterlibatan dengan China memberi manfaat bagi AS, karena inisiatif seperti itu bisa membantu menghindarkan terjadinya salah perhitungan, serta meningkatkan kemampuan AS untuk memahami maksud China. Keterlibatan ini juga memberi landasan bagi negosiasi di masa depan dan de-eskalasi, jika sedang terjadi krisis.

Sisi positif Buku Putih ini adalah aspek transparansinya. Buku Putih ini adalah pernyataan yang jelas tentang niat-niat militer China. Setelah mengkaji Buku Putih ini, komunitas internasional jadi memiliki pemahaman yang lebih baik tentang rencana-rencana China bagi militernya.

Meskipun transparansi yang lebih besar pada Buku Putih itu mungkin adalah produk dari China yang lebih percaya diri, China tetaplah sebuah negeri yang belum bisa lepas dari dilema keamanan klasik. Seperti hasil pengamatan yang dinyatakan di buku itu, tetangga-tetangga China memang sedang mempersenjatai diri kembali dan membantu AS memperkuat aliansi keamanannya.

Jadi, bahkan ketika China sedang berusaha keras mengembangkan keamanannya, langkah China itu mendorong tetangga-tetangganya untuk mencari jalan dalam meningkatkan situasi keamanan mereka. Dengan demikian, hal ini mengurangi keefektifan usaha-usaha China sendiri. Perkembangan seperti ini mungkin justru sesuatu yang tidak diinginkan oleh strategi militer China.

Jangan Terlalu Naif Terhadap China

Dalam upaya membaca Buku Putih China, kita tentu tidak boleh bersikap terlalu naif bahwa Beijing betul-betul ingin menjadi pemangku kepentingan yang damai dan bertanggung jawab dalam tatanan global. Selain minatnya dalam memperdalam hubungan militer-ke-militer, arahan strategik barunya tak diragukan menunjukkan ambisi China untuk mentransformasikan militernya menjadi kekuatan maritim yang modern dan mampu menantang AS di teater Asia-Pasifik dan di tempat mana pun di dunia.

Buku Putih itu mengisyaratkan bahwa militer China bermaksud memproyeksikan kekuatan melampaui wilayah pinggiran langsungnya (periphery) menuju lautan terbuka, dalam mengejar sebuah “peremajaan nasional” atau “reformasi nasional.” Reformasi ini bertujuan menghadapi apa yang oleh para pemimpin China dipandang sebagai usaha-usaha yang dipimpin AS untuk meredam kebangkitan China.

Dokumen itu juga menandai transisi dari fokus China pada pembangunan ekonomi –dan “pendekatan lepas tangan” terhadap urusan-urusan global—ke reorientasi baru. Reorientasi itu bukan cuma berkaitan dengan cakupan kepentingan China, tetapi juga mengisyaratkan keteguhan nasional untuk mempertahankan kepentingan China melalui penggunaan kekuatan.

Dalam konteks kepentingan Indonesia dan kawasan ASEAN, Buku Putih China mengirim beberapa pesan yang terasa mengganggu bahwa China berkomitmen untuk “secara pelan-pelan mencapai hegemoni regional.” Hal ini agak mengganggu karena China kini sedang terlibat dalam perselisihan teritorial dengan sejumlah anggota ASEAN, tentang klaim kedaulatan atas sejumlah pulau dan perairan di Laut China Selatan.

Tampaknya China memiliki visi dan rencana untuk memperluas jangkauan global angkatan bersenjatanya. Kini terserah pada AS, sekutu-sekutu AS di Pasifik, dan ASEAN untuk bagaimana terlibat dengan China, seraya mengupayakan tanggapan yang memadai terhadap berbagai manuver yang dilakukan negara tirai bambu ini.

Jakarta, November 2015
Ditulis untuk Majalah DEFENDER

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI