Wawancara tentang Pers Mahasiswa 2015

Wawancara dengan M. Hafizhuddin

Bagaimana pandangan Anda ttg Pers Mahasiswa saat ini?
Saya tidak mengamati secara intens pers mahasiswa saat ini, sehingga jawabannya sangat umum. Sejauh yang saya lihat, pers mahasiswa tidak mengalami perkembangan yang signifikan. Apalagi dibandingkan dengan maraknya media sosial dan media online saat ini. Pers mahasiswa seperti “tenggelam” dalam hiruk pikuk penyebaran informasi.

Apakah pers mahasiswa saat ini tidak lagi cukup kritis?
Ukuran kritis sangat subyektif. Dibandingkan dengan pers mahasiswa 1998, yang pernah jadi tesis saya, pers Indonesia tetap kritis dalam level yang bervariasi. Butuh penelitian untuk menjawab ini, karena kondisi pers mahasiswa di tiap kampus berbeda-beda.

Benarkah ada perubahan paradigma pers mahasiswa antara pra dan pasca reformasi?
Asumsi saya, pers mahasiswa itu selalu terkait dengan gerakan mahasiswa. Jadi kalau dilihat dari aktivitasnya, tidak ada perubahan paradigma. Tapi seberapa intens “perjuangan” pers mahasiswa, kita lihat saja inntesitas gerakan mahasiswa pra dan pasca reformasi. Jawabannya: Masih ada gregetnya, tetapi menurun karena zamannya sudah berubah, dari rezim otoriter di bawah Soeharto ke rezim demokratis di era Jokowi.

Apa yang membuatnya berubah?
Pers mahasiswa, sebagaimana juga pers mainstream, tidak terlepas dari konteks lingkungan dan zamannya. Zaman reformasi di mana banyhak keterbukaan jelas sangat berbeda dibandingkan zaman otoriter Orde Baru yang tertutup. Contoh konkrit, sidang terbuka Majelis Kehormatan Dewan (DPR) yang memeriksa kasus pelanggaran etik Setya Novanto, itu tak terbayangkan bisa terjadi di zaman Orde Baru.

Menurut Anda, apa kendala yg sering terjadi di tubuh persma? Inkonsistensi penerbitan?
Pers mahasiswa tidak akan pernah jadi profesional, karena mahasiswa itu tugas utamanya menyelesaikan kuliah. Jadi aktivitas pers mahasiswa adalah aktivitas sambilan. Ketidak konsistenan penerbitan hanyalah salah satu dampaknya.

Menurut Anda, apakah pers mahasiswa perlu mengangkat isu nasional, sementara isu2 tersebut sudah diangkat oleh media mainstream?
Tidak harus. Malah menurut saya pers mahasiswa itu sebaiknya fokus membahas masalah di sekitar lingkungan kampusnya. Jika pers mahasiswa di kampus UI, misalnya, maka dia sebaiknya fokus di masalah sekitar kampus UI dan daerah Depok. Dia akan sia-sia dan kalah bersaing jika membahas isu nasional: kalah cepat, kalah skala, kalah lengkap, dst..dsb... Nggak usah dipaksakan. Dulu kan belum ada Internet. Sekarang pers mahasiswa harus melawan detik.com dan kompas.com, ya pasti kalah.

Mengenai kasus pemberedelan yg tak jarang menimpa persma, apakah perlu ada perlindungan yg pasti, misalnya menyertakan persma dalam UU Pers?
Tidak perlu. Pers mahasiswa selama masih mengandalkan anggaran dari Rektorat akan selalu tergantung. Jadi pers mahasiswa harus lebih mandiri. Atau pers mahasiswa tidak harus memakai logo universitas, biar lebih bebas.

Adakah kekurangan persma yg perlu menjadi perhatian dan harus dibenahi?
Pers mahasiswa bagus sebagai wadah pelatihan intelektual mahasiswa. Jadi pers mahasisa itu mendidik kader-kader pemimpin masa depan, termasuk mereka yang mungkin nanti akan berkiprah sebagai profesional di pers nasional, di parpol, dll. Maka aspek peningkatan intelektual ini perlu diperhatikan. Pers mahasiswa beda dengan unit kegiatan semacam unit kegiatan bola voli, karate, dsb.

Bagaimana kondisi persma ke depan? Adakah prediksi?
Pers mahasiswa di masa depan mungkin akan masuk lebih banyak ke media online, karena media cetak makin menurun. Tetapi ini Cuma prediksi kasar saja.

Jakarta, 3 Desember 2015
Satrio Arismunandar

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)