Posts

Showing posts from April 6, 2015

Putriku Menyanyi Lagu Michael Buble di Acara Pesantren

Image
Acara sosialisasi Ujian Nasional untuk orangtua santriwati, dilanjutkan dengan acara kebersamaan pengajar, orangtua siswa, dan para siswa sendiri di pesantren di Anyer. Kelompok-kelompok siswa tampil memperagakan pertunjukan masing-masing.

Putriku Syarifa Amira, yang kelas akhir SMP, tampil solo menyanyikan "Home", lagunya Michael Buble. Aku mencatat beberapa hal kemajuan:

1) Rasa percaya diri yang meningkat karena berani tampil sendiri. Tidak lagi pemalu;
2) Mau belajar bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa pergaulan dunia. Walau belajarnya lewat syair lagu Michael Buble;
3) Hubungan antara siswa, guru dan orangtua sangat dekat dan penuh keterbukaan.

Dalam pendidikan ini sangat penting. Istriku dan putriku cukup berhasil mengembangkan pendekatan, sehingga putri-putriku yang masih ABG (masih SMP dan SMA) suka cerita kalau ada santri yang suka sama dia, dan berbagai kisah seru "cinta monyet" di pondok pesantren.

Aku juga belajar tentang hal-hal ini karena w…

Saya Bukan Penganut Syiah, Tetapi Saya Tidak Merasa Terancam Berhubungan dengan Muslim Syiah atau Penganut Agama Apa pun

Image
Beberapa teman Facebook mengirim pesan pribadi di inbox, sebagian lagi lewat e-mail. Isinya bisa dibilang seragam, yaitu mencoba membuktikan pada saya bahwa ajaran Syiah itu salah, menyimpang, sesat, bukan termasuk Islam, bahkan penganut Syiah sudah masuk kategori kafir, layak masuk neraka, dsb...dst.

Dengan segala hormat, semua upaya itu tidak perlu karena saya memang bukan penganut Syiah dan tidak pernah jadi penganut Syiah. Perbedaan saya dengan rekan-rekan itu adalah saya justru yakin dengan diri saya sendiri, sehingga saya tidak merasa terancam atau merasa tidak aman berhubungan dengan semua orang dari beragam agama, bahkan yang atheis sekalipun.

Apalagi "darah" saya sebagai wartawan dan penulis membuat saya sangat terbuka untuk berinteraksi dengan semua orang. Teman saya sangat beragam dari berbagai latar belakang, ideologi, agama, etnis. Bahkan beberapa sanak kerabat yang punya hubungan darah dengan saya juga non-Muslim.

Mungkin itulah salah satu sebabnya saya tidak …

Saya Dituntut "Tanggung Jawab Moral" dan Konsistensi Sikap yang Panjang

Image
Seorang Facebooker yang jelas sejak dulu anti-Jokowi, dalam pesan inbox, mempertanyakan "tanggung jawab moral" saya dalam situasi bangsa sekarang, karena dulu dalam pilpres 2014 saya "mendukung dan mempromosikan Jokowi."

Mungkin dia pikir saya akan "tersudut" dengan pertanyaan itu. Saya sih sama sekali tidak tersudut dan tidak repot menjawab. Ini konsistensi sikap saya:

Zaman Presiden Soeharto: Saya antikorupsi
Zaman Presiden Habibie: Saya antikorupsi
Zaman Presiden Gus Dur: Saya antikorupsi
Zaman Presiden Mega: Saya antikorupsi
Zaman Presiden SBY: Saya antikorupsi
Zaman Presiden Jokowi: Saya antikorupsi

Hari Jumat minggu lalu (20 Maret 2015) saya ikut partisipasi, di aksi mahasiswa dan alumni UI di kampus UI Salemba, ini aksi gabungan antikorupsi

Hari Kamis pagi nanti, 26 Maret, di FISIP UI Depok, InsyaAllah saya akan meluncurkan buku Antologi Puisi-Esai bertema Anti-Korupsi. judul bukunya "Mereka yang Takluk di Hadapan Korupsi."

Disertasi S3 s…

Meminjam Ucapan Deng Xiaoping untuk Konteks Korupsi di Indonesia

Image
Pemimpin dan tokoh besar China, Deng Xiaoping, yang dianggap berhasil mentransformasi China menjadi negara modern, pernah berkata "Saya tidak peduli apakah kucing itu berwarna hitam atau putih. Yang penting apakah ia bisa menangkap tikus."

Nah, saya mau meminjam ucapan Deng itu tetapi dimodifikasi dalam konteks Indonesia, yang sedang berjuang melawan korupsi. Kata saya: "Saya tidak peduli apakah dalam pilpres 2014 kamu itu pendukung Prabowo atau pendukung Jokowi. Yang penting, apakah sekarang ini kamu anti-Korupsi!"

Dikutip dari status FB Satrio Arismunandar, Maret 2015

Saya Ingin Banget Ketemu Jokowi

Image
Saya sebetulnya pengiiiinnnn banget ketemu 4 mata dengan Jokowi.

Terus saya tanya: "Saya ini dulu memilih Anda karena Anda saya yakini relatif bersih, dan ingin bikin baik negara ini. Sebetulnya masalah yang Anda hadapi itu apa sih?

Anda adalah sekarang orang nomor 1 di Republik ini. jabatan yang diinginkan banyak orang, tapi karena kehendak Allah SWT, Anda-lah yang jadi presiden RI. Jangan disia-siakan peluang yang mungkin cuma 1 kali dalam seumur hidup ini. Anda belum tentu terpilih lagi 2019.

Sekarang tema gerakan mahasiswa masih anti-korupsi, tetapi jika kita tetap begini-begini saja, ini bisa bergeser menjadi anti-Jokowi (dan itu sebetulnya sudah mulai terjadi).

Saya bukan pendukung naif, Pak. Saya yakin bahwa di sekitar bapak juga banyak orang yang tidak bersih. Kini bapak seperti terkucil sendiri.

Saya lihat bahkan wapres dan menteri-menteri juga bicaranya tidak connect dengan arahan dari Bpk. Bapak kini harus lebih ambil risiko demi kebaikan bangsa ini. anda pasti ak…

Saya Tidak Menyesal Memilih Jokowi

Image
Mungkin ada sejumlah orang menyesal memilih Jokowi dalam Pilpres. Tetapi saya: tidak. Saya tidak merasa menyesal memilih Jokowi dalam pilpres, karena dalam konteks situasi waktu itu saya merasa pilihan saya (bersama pilihan 62.576.443 rakyat Indonesia lain) sudah tepat.

Saya bersama sejumlah teman aktivis yakin melalui Jokowi kami bisa lebih leluasa memperjuangkan agenda-agenda Civil Society. Saya bukan tukang ramal. Saya tidak pernah tahu akan terjadi ini dan itu.

Dalam sejarah, kita tidak bisa bilang "seandainya waktu itu begini..." maka akan terjadi begitu,....Kalau waktu itu Jokowi kalah, maka kondisi kita akan jauh lebih baik, dst...dsb.. Belum tentu! Itu namanya spekulasi,dugaan, prakiraan, bukan real. Yang jelas, waktu tidak bisa diputar mundur. Kita harus terus melangkah ke depan.

Maka sebagai orang yang mencoba bersikap dewasa dan tidak emosional (ha..ha..ha..), saya harus mengambil sikap. Bukan dengan menyesali masa lalu, tetapi dengan berpikir dan merumjuskan a…

Orang Terkadang Tidak Bisa Membedakan "Menyesal" dengan "Kecewa"

Image
Para tokoh ormas/partai-partai Islam yang hidup pada 1960-an pasti tidak MENYESAL mendukung Jenderal Soeharto pada tahun-tahun itu. Soeharto dianggap berjasa membubarkan partai komunis. Presiden Soekarno jelas tidak akan membubarkan PKI.

Kalau bukan Soeharto, siapa yang punya kemampuan membubarkan PKI waktu itu? Jika PKI berkuasa, apa yang terjadi pada ormas-ormas Islam itu?

Tetapi para tokoh partai Islam pasti KECEWA ketika pada tahun-tahun kemudian Soeharto justru menjadi otoriter, bahkan banyak membatasi partai-partai Islam, kotbah di masjid diawasi intel, dst.

Coba tanya pada para tokoh Islam generasi tua, apakah mereka menyesal mendukung Soeharto pada 1960-an? Jawabannya hampir pasti "TIDAK MENYESAL", karena dalam konteks politik waktu itu ya itulah pilihan terbaik yang ada bagi mereka (dalam perspektif tokoh-tokoh Islam tersebut tentunya).

Bedakan MENYESAL dengan KECEWA. Saya tidak menyesal memilih Jokowi pada 2014. Ada banyak pertimbangan yang dilakukan sehingga s…

Media di Indonesia Jangan Pakai Istilah "Bali Nine"

Image
Seorang teman lulusan Hubungan Internasional UI bilang, media di Indonesia dalam memberitakan kasus terpidana narkoba Australia yang akan dihukum mati jangan "terbawa arus" pemberitaan media Australia.

Media Australia selalu menggunakan istilah "Bali Nine" untuk para terpidana narkoba itu, dan "Bali Nine" itu digambarkan sebagai selebritis yang tak berdosa, atau sekadar menjadi korban ketidakberesan sistem hukum Indonesia.

Kalau "Bali Nine" ini sampai lolos dari hukuman mati, popularitas PM Australia Abbot bakal melejit, dan dia bakal terpilih jadi PM lagi! Teman ini menyarankan: Media di Indonesia jangan sekali-kali pakai istilah "Bali Nine", tapi tegas saja sebut "gembong narkoba." Karena mereka memang gembong narkoba.

Depok, Maret 2015
Satrio Arismunandar

Raden Mas Tirtohadisoerjo, Pelopor Jurnalis Indonesia (Aktual Review)

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Secara historis, pers mempunyai peran penting dalam bangkitnya wawasan kebangsaan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Apalagi untuk pers periode tahun 1900-an. Hasrat rakyat bagi kemerdekaan dan perjuangan yang sadar dari kepemimpinan revolusioner memerlukan koordinasi. Pers berperan dalam memberikan koordinasi ini.

Tokoh-tokoh pejuang seperti Haji Agus Salim, Sam Ratulangi, Danudirdja Setyabuddhi (Douwes Dekker), Ki Hajar Dewantara, dan Tjipto Mangunkusumo, adalah tokoh-tokoh garis depan dalam pengembangan pers nasional, yakni pers yang akan berperan penting dalam perjuangan fisik di tahun 1940-an.

Bahkan Bung Karno pernah memimpin Fikiran Rakjat di Bandung, Bung Hatta bersama Sutan Sjahrir memimpin Daulat Rakjat, Haji Oemar Said Tjokroaminoto memimpin Oetoesan Hindia, dan Dokter Soetomo mengusahakan Soeara Oemoem, yang dipimpin Tjindarbumi dibantu Sudarjo Tjokrosisworo.

Pers yang pertama kali diterbitkan oleh seorang pribumi di era Hindia Belanda adal…

Mereka Optimis Pada Masa Depan Indonesia

Image
Kerusuhan Mei 1998, yang diwarnai penjarahan, perusakan, kekerasan terhadap perempuan, perkosaan, telah menimbulkan trauma berat bagi banyak warga Indonesia, terutama bagi warga etnis Tionghoa. Tetapi penyikapannya bisa berbeda.

Untuk orangtua WNI etnis Tionghoa berusia di atas 50 tahun, yang anak-anaknya sekarang sedang bersekolah di universitas-universitas luar negeri, mereka bilang pada anaknya: "Sesudah lulus, bekerjalah di luar negeri! Jangan pernah pulang ke Indonesia!"

Tetapi, untuk orangtua WNI etnis Tionghoa berusia di bawah 50 tahun, yang anak-anaknya sekarang juga sedang bersekolah di universitas-universitas luar negeri, mereka bilang pada anaknya: "Sesudah lulus, pulanglah ke Indonesia!"

Mengapa? Karena Indonesia adalah negeri dengan begitu banyak peluang untuk maju. Dan karena mereka sangat optimis pada masa depan Indonesia! Mereka sudah berusaha move on dari kepedihan tragedi 1998.

(Saya kutip dari ucapan seorang ibu etnis Tionghoa beragama Buddha…

Bedanya Pelanggaran Etiket dengan Pelanggaran Etika

Image
Orang di Indonesia sering tidak bisa membedakan "etiket" dengan "etika." Orang yang melanggar etiket dibilang melanggar etika. Pdahal etiket itu berbeda dengan etika.

Pelanggaran etika: mencuri, merampok, memperkosa, korupsi, menggarong, dsb..... Pelanggaran etiket: makan dengan tangan kiri, di restoran Perancis Anda makan langsung pakai tangan (tidak pakai garpu/sendok), bicara "kasar" di depan umum, duduk bersilang kaki di depan pejabat tinggi yang sedang pidato, mahasiswa kuliah dengan memakai sandal jepit dan kaus oblong, dsb.

Penjelasan: pelanggaran etika biasanya bersifat universal. Korupsi atau merampok adalah salah, baik itu di Indonesia, Amerika, China, atau Mesir. Tidak ada di negara manapun yang perilaku korupsi atau merampok dianggap benar. Sedangkan pelanggaran etiket bersifat relatif budaya. Makan pakai tangan di restoran Perancis, Anda akan dianggap tidak punya tata krama. Tetapi di warung Padang atau Sunda, kalau makan pakai tangan itu d…

Betulkah Bouraq Itu Sejenis "Mesin Waktu"?

Image
Ketika sedang makan malam, putri saya Rifa, kelas III SMP --yang kebetulan sedang libur dari pesantren karena harus berobat gigi-- bertanya pada saya: "Apakah mesin waktu itu ada, papa?"
"Secara teoritis, mesin waktu itu mungkin saja ada," jawab saya. Putri saya yang satu ini memang suka bertanya yang "aneh-aneh", jadi saya tidak terkejut dengan pertanyaan itu.

"Bouraq, yang dikendarai Rasulullah SAW ketika Isra Mi'raj, itu mungkin sejenis mesin waktu ya, pa?" tanya Rifa lagi.
"Kenapa kamu berpikir begitu?" tanya saya, mulai tertarik.

"Ketika Nabi Muhammad SAW melakukan Isra Mi'raj, kan dunia belum kiamat. Manusia belum dihisab, jadi belum ada manusia yang masuk surga atau neraka. Tetapi nyatanya Nabi melihat manusia yang diberi kenikmatan di surga dan disiksa di neraka. Jadi jangan-jangan Bouraq itu semacam mesin waktu, yang mampu membawa Rasulullah ke masa depan, melihat kondisi manusia yang masuk surga dan neraka,"…

Saudi Memicu Perang Baru Di Yaman

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Serangan militer Arab Saudi dan sekutu-sekutunya ke kubu Houthi di Yaman, telah membuka front perang baru di Timur Tengah. Namun, intervensi asing terhadap konflik dalam negeri di Yaman ini justru memperumit masalah dan tidak akan selesai dengan mudah.

Perang dan gejolak konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya di antara sesama negara Arab yang mayoritas penduduknya Muslim, sebetulnya sudah cukup runyam. Namun, seolah-olah itu belum cukup, pada 26 Maret 2015 dan beberapa hari berikutnya, Arab Saudi mengerahkan 100 pesawat tempurnya untuk mengebom posisi milisi Houthi di Yaman, dan praktis telah membuka front perang baru.

Saudi tidak sendirian, tetapi didukung oleh sejumlah negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC), ditambah Mesir, Jordania, Maroko, Sudan, dan Pakistan. Dalam serangan udara pertama, aksi militer Saudi didukung oleh Kuwait (15 pesawat), Bahrain (15 pesawat), Uni Emirat Arab atau UEA (30 pesawat), Qatar (10 pesawat), Jordania (6 pesawat), dan Sudan (3…

Mengusir Militan ISIS dari Tikrit

Image
Redaktur Senior Aktual, Satrio Arismunandar, melakukan liputan jurnalistik ke Irak sejak 20 Februari hingga 5 Maret 2015. Selama sekitar dua minggu, ia mencoba mengurai konflik di Irak menyangkut kelompok ekstrem ISIS. Berikut ini laporannya.

Awal Maret 2015 adalah babak baru dalam pertarungan antara pasukan pemerintah Irak, yang didukung milisi Muslim Syiah dan sebagian suku-suku Muslim Sunni, melawan kelompok ekstrem Daesh. Daesh adalah singkatan bahasa Arab untuk Negara Islam di Irak dan Suriah atau ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Pasukan Irak dan milisi pendukungnya kini berusaha merebut kembali kota Tikrit yang dikuasai ISIS, sebagai langkah awal ke arah Mosul, di Irak utara.

Pejabat Irak menyatakan, serangan pasukan darat secara masif ke basis ISIS di Tikrit ini didukung oleh sejumlah helikopter dan pesawat tempur. Namun, pesawat tempur Amerika Serikat tampaknya tidak terlibat dalam serangan ini, padahal serangan udara yang gencar terbukti cukup ampuh untuk melemahkan p…

Melawan Skenario Pemecahbelahan Irak

Image
Redaktur Senior Aktual, Satrio Arismunandar, melakukan liputan jurnalistik ke Irak sejak 20 Februari 2015. Selama sekitar dua minggu, ia dijadwalkan mengunjungi berbagai kota di negeri kaya minyak yang sering dilanda perang itu. Berikut ini adalah laporannya.

“Jangan mudah percaya dengan laporan media massa Barat tentang konflik sektarian di Irak,” ujar Des Alwi, mantan staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Irak, yang telah satu setengah tahun bertugas di KBRI Baghdad, Januari 2015. Lulusan jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia itu kini sudah ditugaskan ke pos diplomatik lain di Eropa.

“Media Barat sering menulis soal konflik keras antara warga Sunni versus Syiah di Irak. Tetapi itu sebetulnya hanya di tataran politik. Dalam kehidupan sehari-hari, warga Syiah dan Sunni di Irak biasa tinggal berdampingan, bertetangga, dan rukun-rukun saja,” lanjut Des Alwi, yang selama bertugas di KBRI Baghdad tidak membawa istri dan anaknya, yang tetap tinggal di Ind…

Sjahrir: Yang Lebih Suka Diplomasi (Sang Penerobos)

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Saat ini di Indonesia, dalam perdebatan wacana tentang pembangunan ekonomi nasional, sering muncul tudingan-tudingan bahwa pemerintah telah menjalankan kebijakan yang neo-liberal. Kebijakan ini dianggap lebih mementingkan akomodasi terhadap kepentingan modal asing ketimbang kepentingan rakyat Indonesia sendiri. Nah, jika kita telusuri ke sejarah, pola-pola pendekatan semacam itu tampak pada tokoh Partai Sosialis, Syahrir.

Selain Soekarno dan Mohamad Hatta, tokoh pergerakan Indonesia yang cukup menonjol pasca proklamasi kemerdekaan adalah Syahrir. Ia dipandang sebagai tokoh penting pada minggu-minggu pertama revolusi. Syahrir, dengan dukungan pemuda-pemuda di sekitarnya, berhasil banyak mempegaruhi jalannya politik yang akhirnya menempatkan dirinya di kursi Perdana Menteri pada 14 November 1945.

Lahirnya sistem Kabinet Perdana Menteri ini sebenarnya secara konstitusional menyimpang dari ketentuan UUD ’45, walaupun secara politis pada waktu itu dibenarkan oleh…

Ahok Menyia-nyiakan Waktu untuk Isu Perilaku (Aktual Review)

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Selama beberapa hari terakhir, pemberitaan media massa masih diramaikan oleh sengketa antara Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dengan DPRD DKI Jakarta. Salah satu aspek dalam sengketa itu adalah gaya komunikasi Ahok terhadap DPRD, yang menggunakan kata-kata “tidak santun.” Namun kini ada dimensi baru, yang melibatkan komunitas Tionghoa, komunitas Ahok sendiri.

Ahok sudah dikritik keras oleh banyak kalangan, bahkan ada kritik dan masukan dari insan media dan kalangan yang sebetulnya bukan musuh politik Ahok. Kritik itu berpusat pada gaya komunikasi Ahok, yang terkesan kasar dan menggunakan pilihan kata-kata yang dalam masyarakat kita dianggap kasar. Sayangnya, banyak masukan itu tampaknya tidak digubris atau tidak dianggap serius oleh Ahok.

Kini muncul masukan sekaligus kritik justru dari komunitas Tionghoa sendiri. Tak kurang dari Jaya Suprana (Phoa Kok Tjiang), pengusaha jamu ternama dan Ketua Museum Rekor Indonesia (MURI), yang mengeritik…