Posts

Showing posts from August 14, 2015

Caesar 155, Howitzer Kelas Berat Andalan TNI-AD

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) masa kini bukan lagi tentara yang hanya dibekali persenjataan “kuno,” seperti citra yang dulu sempat beredar. Mengimbangi tuntutan tugas dan tantangan yang terus berubah, serta sesuai perkembangan teknologi alutsista, TNI-AD secara bertahap kini telah dilengkapi diri dengan persenjataan yang modern dan strategis.

Salah satu persenjataan yang kini menjadi andalan TNI-AD adalah meriam Caesar berkaliber 155 mm. Dengan kehadiran Self Propelled Howitzer kelas berat yang berbobot 18,5 ton ini, TNI-AD sudah melengkapi diri dengan alutsista yang kemampuannya mulai masuk ke skala strategis, bukan cuma taktis.

Caesar 155 adalah howitzer pertama milik TNI-AD yang berkemampuan swa gerak dan memiliki daya jangkau tembakan sejauh 39 km. Meriam ini juga mampu menembakkan 6 amunisi berbobot 47 kg dalam 1 menit. Meriam canggih ini dibuat oleh Nexter GIAT, perusahaan persenjataan di Roanne, Perancis. Howitzer Caesar ini memil…

Dari Sumpah Pemuda Menuju Demokrasi Terbesar Ketiga di Dunia

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Oleh dunia luar, Indonesia kini dipandang sebagai Negara demokrasi nomor tiga terbesar di dunia, sesudah India dan Amerika Serikat. Demokrasi dan nasionalisme Indonesia menunjukkan ciri-ciri tersendiri yang unik. Dengan sekitar 250 juta penduduk, persatuan Indonesia bisa bertahan, walau Indonesia bukanlah bangsa “homogen” yang berasal dari satu etnis, seperti katakanlah Jepang atau Korea Selatan.

Wujud demokrasi dan nasionalisme Indonesia mewakili keragaman dari puluhan suku bangsa, ras, budaya, bahasa, dan agama. Nasionalisme Indonesia bukanlah dilandasi oleh kesamaan suku, ras, bahasa, atau agama, tetapi lebih dilandasi oleh rasa senasib dan sepenanggungan, sebagai warga yang sama-sama mengalami pahitnya dijajah oleh kekuatan asing.

Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, di mana para wakil pemuda dari berbagai penjuru Nusantara mencetuskan semangat untuk bersatu di bawah nation bernama Indonesia, adalah terobosan yang luar biasa pada zamannya. Masing-masing perwa…

Marco Kartodikromo, Jurnalis Pengritik Kolonial Belanda

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Jurnalis Indonesia masa sekarang mungkin jarang yang mengetahui nama Marco Kartodikromo, yang dikenal juga dengan nama pena Mas Marco. Padahal Marco adalah tokoh jurnalis yang juga aktivis pergerakan, yang terkenal di zaman penjajahan Belanda. Marco adalah tokoh yang vokal dalam mengritik kolonial Belanda melalui tulisan-tulisannya.

Lahir pada 1890 dari keluarga golongan priayi berpangkat rendah di Blora, Jawa Tengah, pekerjaan pertama Marco pada usia 15 tahun adalah di perkeretaapian nasional Hindia-Belanda. Pada 1911, ia memilih meninggalkan perusahaan itu karena muak dengan kebijakan rasis, yang menggunakan ras sebagai dasar untuk jumlah upah yang dibayar.

Pada tahun itu pula, ia pindah ke Bandung dan menjadi wartawan di Medan Prijaji, yang dikelola tokoh pergerakan Tirto Adhi Soerjo. Sesudah media itu ditutup oleh Belanda, Marco pada 1912 pindah ke Surakarta dan bergabung dengan Sarekat Islam, organisasi pedagang Muslim, dan mendapat pekerjaan di Sarekat …