Posts

Showing posts from October 10, 2015

Islam Nusantara, ISIS, dan Upaya Menangkal Radikalisme Agama dalam Perspektif Ketahanan Nasional

Image
Oleh Dr. Satrio Arismunandar
Doktor Ilmu Filsafat lulusan FIB Universitas Indonesia
Peminat Masalah Politik Timur Tengah

Pengantar

Indonesia yang berpenduduk sekitar 250 juta jiwa kini telah diakui sebagai negara demokrasi ketiga terbesar di dunia, sesudah India dan Amerika Serikat. Indonesia, yang mayoritas penduduknya beragama Islam, bahkan disebut-sebut menjadi model kecocokan dan koeksistensi harmonis antara Islam dan sistem demokrasi.

Kondisi demokrasi dan hubungannya dengan agama di Indonesia berbeda jauh, katakanlah, jika dibandingkan dengan banyak negara yang berpenduduk mayoritas Muslim di kawasan Timur Tengah. Banyak pemerintah di negara-negara itu tidak demokratis atau belum berhasil mewujudkan demokrasi dalam kehidupan politiknya.

Pada saat yang sama, di negara-negara tersebut terdapat kelompok-kelompok yang mengusung ideologi radikalisme agama. Mereka aktif melakukan tindakan kekerasan, terorisme, dan aksi militer untuk kepentingannya, sehingga menimbulkan gangguan keama…

Strategi Penyajian Narasi dan Visual dalam Klarifikasi Berita

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Makalah untuk Fasilitasi Peningkatan Kapasitas Kehumasan Ditjen Bina Upaya Kesehatan (BUK) Kementerian Kesehatan RI, pada 28-30 September 2015, di The 101 Bogor Suryakancana Hotel, Jl. Suryakencana No.179-181, Bogor Tengah, Bogor – Jawa Barat 16141.

Pada era keterbukaan informasi saat ini, informasi bukan lagi barang langka yang sulit diakses. Informasi bahkan tersedia meluas dan berlimpah di media online dan media sosial. Persoalannya, tidak semua informasi itu akurat dan layak dipercaya. Banyak informasi yang sebetulnya bernilai “sampah” dan tidak bisa dijadikan landasan untuk pengambilan keputusan.

Persoalannya, publik tidak selalu bisa membedakan mana informasi yang akurat, bisa dipercaya, dan mana pula informasi yang cuma bernilai “sampah.” Semua jenis informasi itu tercampur baur di belantara dunia maya. Karena tidak bisa membedakan informasi akurat dengan informasi “sampah,” sangat mungkin terjadi publik memberi reaksi keras kepada institusi tertentu, …

Menhan RI Ryamizard Ryacudu: Indonesia Siapkan 100 Juta Kader Bela Negara yang Militan

Image
Pengantar Redaksi:
Semangat bela negara yang disertai wawasan kebangsaan adalah isu penting bagi ketahanan nasional Indonesia. Meski Indonesia saat ini tidak terlibat dalam perang militer, konflik regional dan dinamika global menghadirkan potensi ancaman yang tak boleh diabaikan. Dalam kaitan itulah, Tim Redaksi Defender pada Agustus 2015 mewawancarai Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu tentang berbagai aspek bela negara. Berikut hasil wawancaranya:

Apa yang dimaksud dengan “Bela Negara,” sebagai salah satu kewajiban bagi warga negara RI?

Bela Negara adalah sikap dan perilaku serta tindakan warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada NKRI, yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Pada akhirnya, seseorang akan bangga dengan negaranya, cinta dengan negaranya, dan terakhir ia menjadi militan, siap berkorban untuk kepentingan negaranya. Konsep dasar bela negara itu sama dari du…

Menyambut Sukhoi Su-35 “Sang Penggentar”

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Akhirnya, teka-teki tentang pesawat tempur andalan, yang akan menggantikan jajaran F-5E/F Tiger II yang mulai uzur, terjawab sudah. Dalam beberapa tahun mendatang, ruang udara Indonesia tampaknya akan dijaga oleh “Sang Penggentar” Sukhoi Su-35. Kehadiran pesawat tempur multiperan buatan Rusia ini akan memberi efek gentar bagi negara-negara, yang mau coba-coba mengusik ruang udara Indonesia.

Sejauh ini memang belum ada penandatanganan kontrak pembelian secara resmi antara pihak Indonesia dan Rusia. Namun rencana pembelian Sukhoi Su-35 ini disampaikan Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, saat melakukan inspeksi Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) di Markas Kopassus, markas Batalyon Kavaleri (Yonkaf) I Kostrad, dan Batalyon Infanteri (Yonif) Mekanis 201/Jaya Yudha, 2 September 2015.

Menurut Menhan, rencana pembelian Sukhoi Su-35 ini didasarkan pada kesepakatan dan kajian dari Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI Agus Supriatna, dan Panglima TNI, Jendera…

Malala Yousafzai: Gadis Kecil yang Melawan Penindasan Taliban

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Usia boleh muda, namun keberanian dan kegigihan membela hak kaum perempuan membuat Malala Yosafzai tidak bisa dinilai dari umurnya semata. Ketika berusia 17 tahun, gadis Muslimah Sunni ini menjadi pemenang Nobel Perdamaian 2014 bersama Kailash Satyarthi. Itu terjadi karena aktivitas Malala memperjuangkan hak pendidikan bagi kaum perempuan di Lembah Swat, Pakistan, yang saat itu dikuasai rezim Taliban.

Malala lahir di Mingora, Distrik (Lembah) Swat, Pakistan, 12 Juli 1997. Ayahnya bernama Ziauddin Yousafzai, dan ibunya bernama Tor Pekai Yousafzai. Malala dibesarkan di Mingora bersama dua adik laki-lakinya, Khushal dan Atal. Gadis pemberani itu berasal dari suku Pusthun, suku yang dominan di Afganistan, negeri tetangga Pakistan.

Malala mulai berbicara di depan publik untuk memperjuangkan hak atas pendidikan pada 2008. "Berani-beraninya Taliban merampas hak saya atas pendidikan!" adalah seruan pertamanya di depan televisi dan radio. Saat berumur sekit…