Mulla Sadra: Tokoh Kebangkitan Filsafat Iran

Sadr al-Din al-Shirazi (Mulla Sadra) mungkin adalah filsuf yang terpenting dan paling berpengaruh di dunia Islam dalam 400 tahun terakhir. Pengarang lebih dari 40 karya ini adalah tokoh puncak dalam kebangkitan kembali filsafat di Iran dalam abad ke-16 dan ke-17.

Mulla Sadra mengabdikan dirinya hampir semata-mata untuk metafisika. Ia membangun filsafat kritis yang menyatukan Peripatetik, Iluminasionis, dan filsafat gnostik bersama dengan teologi Syiah Dua Belas Imam, dalam buku pedoman yang ia namai “metafilosofi.” Ini adalah sumber di mana berada wahyu Islami dan pengalaman realitas yang bersifat mistik sebagai eksistensi.

Mulla Sadra adalah seorang Filsuf Safawiyah yang terkemuka. Nama aslinya adalah Sadr Ad-din Shirazi, seorang Syiah yang berhasil menambahkan ajaran-ajaran Imam Syiah Dua Belas ke dalam pencampuran Peripatetisisme, Akbarisme, dan Illuminasionisme.

Mulla Sadra lahir sekitar tahun 980 H/1572 M dan meninggal pada 1050 H/ 1640 M. Ia merupakan filsuf pertama yang membawa susunan dan keserasian lengkap ke dalam pembahasan-pembahasan mengenai masalah-masalah filsafat. Dia menyusun dan mengatur persoalan-persoalan itu sebagai persoalan matematika, dan pada waktu yang sama dia memadukan ilmu filsafat dengan ilmu makrifat.

Mulla memberikan metode filsafat yang baru dalam membahas dan memecahkan ratusan persoalan, di mana persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan dengan filsafat Peripatetika, yaitu sistem filsafat yang dikembangkan oleh Aristoteles. Pendapat-pendapatnya yang dimilikinya lebih berpengaruh dalam pemikiran Islam dibandingkan dengan para ahli kalam, sekalipun dia bukanlah seorang ahli kalam.

Mulla Sadra adalah seorang anak tunggal dari keluarga Iran. Ayahnya sangat menaruh harapan besar padanya. Setelah ayahnya meninggal, dia pindah ke kota Isfahan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, terutama dalam bidang ilmu rasional (logika dan falsafah) dan tradisional (irfan, tafsir, dan hadits). Di sana dia bertemu dengan gurunya yang pertama; yakni Syekh Baha'i, kemudian ada juga Mir Damad, guru kedua yang sekaligus sebagai teman dekat.

Dia hidup pada masa kejayaan Dinasti Safawi yang ketika itu dipimpin oleh Syah Abbas I. Zaman ini merupakan zaman kejayaan paham Syiah Dua Belas Imam, karena paham ini dijadikan sebagai paham resmi negara. Saat itulah dia mulai mencurahkan perhatian pada ilmu-ilmu tekstual seperti hadits, tafsir, juga disiplin ilmu yang lain. Ia juga mempelajari ilmu-ilmu rasional (al-‘ulum al-‘aqliyyah) kepada seorang filsuf peripatetik yang bernama Abu al-Qasim Fendiriski.

Tiga gurunya inilah --Syekh Baha'i, Mir Damad, serta Fendiriski-- yang merupakan pelopor Madzhab Pemikiran Isfahan yang terkenal di Iran. Ini melatar belakangi lahirnya falsafah Mulla Sadra.

Mulla Sadra menelurkan banyak karya, di antaranya adalah Kitab ''Asfar Al-Arba'ah'' (Empat Perjalanan) yang meliputi bidang metafisika, teologi, juga jalan Sufi (thariqah). Yang pertama, perjalanan penciptaan di mana di sini menceritakan perjalanan makhluk menuju kepada Pencipta Kebenaran (Al-Haqq). Di dalamnya Mulla Sadra meletakkan dasar metafisika eksistensialisnya yang mencerminkan tahapan dalam jalan Sufi (thariqah), di mana ia berusaha mengendalikan nafsu di bawah pengawasan seorang guru/syekh.

Yang kedua, tahapan di mana sang Sufi mulai menarik wujud-wujud ilahi. Yang ketiga, sang sufi meleburkan diri dengan Tuhan. Sedangkan yang keempat, tempat di mana sang Sufi mengalami keteguhan dalam peleburan diri.

Dalam karya besarnya tersebut, Mulla Sadra juga menyatakan: "Teori-teori wacana hanya akan mempermainkan para pemegangnya dengan keraguan; dan kelompok yang datang kemudian akan melaknat kelompok yang datang sebelumnya, sehingga setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka) akan melaknat umat sebelumnya (yang telah ikut menyesatkannya)".

Selain karya yang berbahasa Arab, Mulla Sadra juga mempunyai karya berbahasa Persia, yakni Sih Asl. Selain di atas, karyanya yang berbahasa Arab juga adalah Kasr Al-Asnam Al-Jahiliyyah (Menghancurkan berhala-berhala jahiliyyah). Ia mengkritik banyak Sufi karena meninggalkan pengetahuan dan amal saleh, serta mengagungngkan takhayul dan patuh kepada setan.

Dalam hal pemikiran, Mulla Sadra terpengaruh oleh tokoh wihdah al-wujud yaitu Ibnu Arabi dan bahkan banyak mengambil pemikiran-pemikirannya, yang kemudian dijadikan salah satu dasar untuk membangun mazhabnya. Selain mengenal dan memahami secara mendalam mazhab-mazhab pemikiran, Sadra berhasil melakukan sintesis umum terhadap masalah epistemologis.
Menurutnya, ada tiga jalan untuk memperoleh pengetahuan yang sejati, yang ketiga-tiganya tidak bisa dipisahkan jika ingin sampai kepada tujuan yang sebenarnya, yaitu wahyu (wahy), demonstrasi (burhân, ta’aqqul), dan pengetahuan irfân melalui mukâsyafah dan musyâhadah. Tiga hal ini berhasil ia sintesiskan, dan kemudian menciptakan pola dan sistem pengetahuan yang menggabungkan secara indah antara wahyu (al-Qur’an), burhan, dan juga irfan.

Secara epistemologi, Mulla Sadra mengikuti Syuhrawardi dan mazhab iluminasi secara umum, yang membedakan antara pengetahuan konseptual (ilm al-hushuli) dengan pengetahuan dengan kehadiran (ilm al-khuduri). Pengetahuan konseptual (‘ilm al-hushuli) adalah apa yang diperoleh dari konsep-konsep dalam pikiran mengenai “yang diketahui,” sedangkan pengetahuan dengan kehadiran adalah pengetahuan yang mengimplikasikan kehadiran realitas, yang diketahui dalam akal atau intelek tanpa melalui konsep-konsep mental.

Dua kategori pengetahuan ini, yang pertama adalah pengetahuan yang mensyaratkan keaktifan rasio dan akal untuk mengetahui objek yang diketahui. Sedangkan yang kedua adalah pengetahuan langsung yang sebaliknya mensyaratkan kepasifan akal untuk menerima pancaran langsung.

Pengetahuan jenis kedua adalah pengetahuan iluminatif dan melampaui rasio, tetapi bukan berarti tidak mempunyai bobot intelektual. Bahkan bobot intelektualnya melampaui yang pertama, karena di antara karakteristiknya adalah bersifat menyeluruh, totalitas, sedangkan yang pertama dicirikan dengan keberadaannya yang bersifat partikular dan terfokus.

Hal lain yang perlu dicatat mengenai pandangan Sadra hubungannya dengan sumber pengetahuan adalah bahwa ia menerima iluminasi sebagai pengetahuan, dengan menambahkan wahyu sebagai sumber asasi bagi pengetahuan mengenai masalah filosofis dan teosofi.

Sintesis pemikiran yang dilakukan Sadra membawanya kepada satu”pandangan dunia” dan menciptakan satu sudut pandangan intelektual baru, yang dikenal dengan istilah Al-Hikmah Al-Muta’aliyah (Teosofi Transendental). Sekalipun istilah ini sebenarnya sudah ada dan disebutkan oleh tokoh-tokoh sebelum Sadra, tetapi ia dianggap sebagai tokoh yang merumuskan secara sistematis dan menjadikannya sebagai mazhab teosofi. Ia sangat setia menggunakan istilah tersebut sehingga buku yang membahas secara sistematis dasar-dasar filsafat mistisnya diberikan judul “Al-Hikmah Al-Muta’aliyah Fi Al-Asfar Al-Aqliyah Al-Arba’ah”.

Secara epistemologis, Al-Hikmah Al-Muta’aliyah didasarkan atas tiga prinsip, yaitu: Intuisi Intelektual (dzauq atau isyraq), Pembuktian Rasional (‘aql dan istidlal), dan Syariat. Al-Hikmah Al-Muta’aliyah tidak mengabaikan salah satu dari dua bentuk pengetahuan yaitu rasional dan intuitif, dan bahkan menggabungkan kedua-duanya dan ditambah dengan sumber yang ketiga yaitu wahyu.

Dengan demikian, filsafat Mulla Sadra berupaya memperoleh kebijaksanaan melalui pencerahan rohani, dan disajikan secara rasional dengan menggunakan argumen-argumen rasional. Atau sebaliknya, pengetahuan rasional ditransendensikan agar bisa mencapai pencerahan spiritual. Adapun dasar ontologis dari Al-Hikmah Al-Muta’aliyah didasarkan pada beberapa hal, yaitu: Pengistimewaan Wujud (ashâlah al-wujud), Kesatuan Wujud (wihdah al-wujud), Hirarki atau Gradasi Wujud (tasykik al-wujud).

Untuk memahami “teosofi transenden” Mulla Sadra, harus dipahami bahwa yang menjadi landasannya dan juga keseluruhan bangunan metafisikanya adalah pengetahuan tentang wujud. Maka filsafatnya secara umum bisa dikategorikan sebagai filsafat wujudiyah, karena dasar-dasar pengetahuan intelektual dan mistisnya menjadikan kajian mengenai wujud sebagai titik tolaknya. ***

Depok, Januari 2016

Dirangkum dari berbagai sumber untuk Sang Penerobos di www.Aktual.com

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI