Raja Minyak yang Terancam Bangkrut

Oleh: Satrio Arismunandar

Anjloknya harga minyak dunia yang berkepanjangan mengancam ekonomi Arab Saudi. Ditambah lagi “petualangan militer” di Suriah dan Yaman, yang menyedot anggaran. Akibatnya, Saudi menderita defisit anggaran yang besar, dan cadangan devisa pun terkuras.

Jika mendengar nama Arab Saudi, yang terbayang adalah kerajaan Arab yang kaya raya berkat minyak bumi. Dari uang minyak, Saudi membangun hotel-hotel megah di sekitar Kabah di Makkah. Para keluarga kerajaan yang berlimpah uang memborong properti mewah, berfoya-foya, dan berbelanja dengan royal di toserba-toserba terkemuka di Eropa dan Amerika.

Tetapi masa kejayaan itu kini terancam berakhir. Penyebabnya, harga minyak bumi yang selama beberapa tahun terakhir menurun, dan terus menurun. Harga minyak bumi anjlok dari tingkat tertinggi selama lima tahun, sebesar 125 dollar AS per barrel pada Maret 2012 dan diprediksi akan turun sangat rendah, menjadi hanya 30 dollar AS per barrel. Dunia mengalami over supply minyak dan harga tidak beranjak naik, karena Arab Saudi dan negara-negara OPEC lain tidak mau mengurangi produksi.

Salah satu penyebab merosotnya harga minyak adalah tingginya pasokan shale oil di Amerika Serikat (AS). Harga shale oil lebih murah dibandingkan dengan minyak mentah konvensional. Faktor penyebab shale oil bisa murah adalah adanya terobosan baru di bidang horizontal drilling dan hidraulic fracturing, yang bisa memproduksi shale oil terutama di Amerika dalam jumlah yang besar. Jadi, biaya produksi per barrelnya menjadi lebih murah.

Shale oil bisa menjadi salah satu sumber energi terpenting pada tahun-tahun mendatang, karena jumlah cadangannya sangat melimpah di bumi ini. Misalnya, Amerika diperkirakan mampu memproduksi shale oil sebesar 1,5 sampai 1,8 triliun barrel. Jumlah ini tiga kali lebih besar daripada cadangan minyak Arab Saudi dan dapat mencukupi kebutuhan minyak Amerika selama 400 tahun.

Arab Saudi Menjaga Gengsi

Namun, melimpahnya produksi shale oil dari AS tidak membuat Arab Saudi, produsen minyak terbesar dunia, mau memangkas produksinya. Seolah-olah “menjaga gengsi,” Saudi enggan menurunkan produksi minyak, yang menyebabkan harga komoditas ini merosot drastis karena pasokan melimpah. Saudi tetap mempertahankan tingkat produksi minyaknya di atas 9,5 juta barrel/hari. Bahkan, Saudi bersedia menurunkan harga jual minyak mereka ke pasar internasional, hanya untuk mempertahankan pangsa pasar yang selama ini dikuasainya.

Anggota OPEC (Organisasi Negara Pengekspor Minyak), seperti Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Aljazair, dan Libya, semuanya menghadapi penurunan pendapatan yang tajam, akibat penurunan harga minyak. Arab Saudi sangat terpukul, mengingat sekitar 80 persen pendapatan negara berasal dari ekspor minyak bumi. Untuk pertama kalinya sejak 2009, Arab Saudi pun menghadapi defisit anggaran.

Keadaan ini mendorong pemerintah memotong pengeluaran, mengurangi subsidi, menunda proyek-proyek, dan menjual obligasi. Pemerintah menjual obligasi negara setidaknya senilai 15 miliar dollar AS (55 miliar riyal) tahun 2015. Defisit anggaran juga menyebabkan PHK dalam proyek-proyek di Arab Saudi.

Arab Saudi menyatakan memangkas anggaran subsidi dan berbagai layanan umum sebagai bagian dari langkah pengetatan anggaran, menyusul defisit yang terjadi. Harga bahan bakar minyak untuk konsumen dalam negeri meningkat hingga mencapai 50 persen, meski harga tersebut masih di bawah standar internasional. Subsidi listrik, air, dan minyak tanah juga dipotong, sesudah Saudi mengalami rekor terburuk dalam defisit anggaran tahun 2015.

Perusahaan-perusahaan di Saudi yang melaksanakan proyek-proyek infrastruktur tertunda dibayar selama enam bulan atau lebih, tahun 2015. Penundaan pembayaran meningkat pada 2015, karena pemerintah ingin mengurangi pengeluaran dalam rangka mempertahankan keuangan.

Cadangan Devisa Merosot

Cadangan devisa Saudi turun 100 miliar dollar AS, menjadi 650 miliar dollar AS. Karena ekspor minyak adalah penyumbang terbesar bagi penerimaan negara, maka defisit APBN Saudi mencapai sebesar 15 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Bahkan, jika tidak dikendalikan, semula defisit itu bakal melampaui 20 persen terhadap PDB.

Sejak Oktober 2015, Dana Moneter Internasional (IMF) sudah memperingatkan bahwa Arab Saudi mungkin akan kehabisan aset keuangan pada 2020, jika pemerintah terus mempertahankan kebijakan yang ada saat itu. Menurut prediksi IMF, Saudi akan mengalami defisit anggaran sebesar 21,6 persen pada tahun 2015 dan 19,4 persen pada 2016. Maka IMF mendesak Saudi untuk menyesuaikan pengeluaran belanjanya.

Selain itu, ada tuntutan pada OPEC untuk mengurangi produksi dan mendukung harga minyak mentah. Tetapi menurut para pakar, sikap OPEC itu tidak berarti jika tidak ada perubahan kebijakan oleh produsen minyak mentah terbesar, yaitu Arab Saudi.
IMF mengatakan, prospek ekonomi di kawasan Timur Tengah dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang paling penting termasuk meruncingnya konflik regional dan harga minyak yang merosot drastis.

Perang saudara yang berkepanjangan di Suriah, yang melibatkan para aktor luar dan militan ekstrem ISIS (Negara Islam di Irak dan Suriah), mempengaruhi keuangan Saudi. Saudi diketahui mendanai kelompok oposisi bersenjata, yang melawan pemerintah Suriah di bawah Presiden Bashar al-Assad. Saudi ingin menggulingkan Assad, yang dianggap sebagai sekutu dekat Iran yang Syiah.

Pesawat-pesawat tempur Saudi juga membombardir warga Houthi di Yaman, yang adalah penganut Muslim Syiah. Pihak Houthi sebelumnya telah menggulingkan pemerintahan Yaman yang pro-Saudi dan tidak populer di mata rakyat. Saudi menuduh Iran, yang mayoritas berpenduduk Syiah, mendukung aksi militer Houthi. Iran telah membantah tuduhan itu.

Tetapi Saudi, yang memandang dirinya sebagai “kekuatan regional Sunni” di Timur Tengah, sudah memandang Iran sebagai musuh bebuyutan dan pesaing utama dalam memperebutkan pengaruh di kawasan itu. Bahkan bagi Saudi, tampaknya lebih mudah berdamai dengan rezim Zionis Israel yang menjajah Palestina, ketimbang berdamai dengan Iran. Semua “petualangan militer” Saudi yang ceroboh ini menyedot anggaran yang besar. Konflik di Timur Tengah telah melahirkan sejumlah besar masalah dan isu pengungsi, pada skala yang belum pernah terjadi sejak awal 1990-an.

Kesinambungan Fiskal

Menurut Direktur IMF Timur Tengah dan Asia Tengah, Masood Ahmed, kepada para wartawan di Dubai, “Mencapai kesinambungan fiskal dalam jangka menengah akan sangat berat, mengingat kebutuhan untuk menciptakan lapangan kerja bagi lebih dari 10 juta orang, yang diperkirakan akan mencari pekerjaan pada tahun 2020 di negara-negara pengekspor minyak di kawasan itu.”

Para pakar memperkirakan, harga minyak yang rendah akan tetap bertahan untuk masa mendatang. “Untuk negara eksportir minyak di kawasan itu, turunnya harga (minyak) telah menyebabkan penurunan pendapatan yang sangat besar, sebesar 360 miliar dollar AS tahun 2015 saja,” kata Masood Ahmed.

Prospek membaiknya harga minyak dalam waktu dekat tampaknya masih suram. Harga minyak jatuh lagi pada 26 Januari 2016, setelah Arab Saudi menyatakan akan tetap mempertahankan belanja modal proyek energi di tengah kelesuan harga. Kontrak di bursa komoditas New York sempat melemah 7,55 persen ke harga 29,76 dollar AS per barel, sedangkan Brent diperdagangkan turun 6,46 persen ke harga 30,10 dollar AS per barel.

Harga minyak terpukul oleh pernyataan Komisaris Saudi Aramco, Khalid Al Falih, setelah reli menembus 32 dollar AS per barel pada akhir pekan sebelumnya. Al Falih mengatakan, rencana investasi BUMN migas Arab Saudi tersebut akan berjalan sesuai rencana, meskipun harga minyak telah merosot tajam sejak pergantian tahun. “Saudi Aramco bisa menanggung beban harga yang rendah untuk waktu yang sangat panjang,” tegas Al Falih.

Tekanan juga muncul dari penurunan konsumsi energi di China. Badan Energi Internasional memproyeksikan konsumsi solar di ekonomi terbesar kedua dunia tersebut akan flat pada 2016, sedangkan konsumsi bensin naik 200.000 barrel per hari. ***

Jakarta, Februari 2016
Ditulis untuk Majalah AKTUAL

Comments

SAYA SEKELUARGA INGIN MENGUCAPKAN BANYAK TERIMAH KASIH KEPADA AKI NAWE BERKAT BANTUANNNYA SEMUA HUTANG HUTANG SAYA SUDAH PADA LUNAS SEMUA BAHKAN SEKARAN SAYA SUDAH BISA BUKA TOKO SENDIRI,ITU SEMUA ATAS BANTUAN AKI YG TELAH MEMBERIKAN ANKA JITUNYA KEPADA SAYA DAN ALHAMDULILLAH ITU BENER2 TERBUKTI TEMBUS..BAGI ANDA YG INGIN SEPERTI SAYA DAN YANG SANGAT MEMERLUKAN ANGKA RITUAL 2D 3D 4D YANG DIJAMIN 100% TEMBUS SILAHKAN HUBUNGI AKI NAWE DI 085-218-379-259 ATAU KLIK SITUS DANA GAIB

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI