Irak dan Impian Seorang Anak

(Ini adalah Kata Pengantar versi awal untuk Buku "Hari-hari Rawan di Irak: Kiprah Dubes Safzen Noerdin dan Staf KBRI Baghdad Bertugas di Daerah Rawan dan Berbahaya 2012-2015", yang insyaAllah akan dicetak dan diluncurkan pada 30 Maret 2016).

Pada tahun 1970-an, ada seorang anak laki-laki yang tinggal di komplek perumahan militer, di sekitar lapangan udara utama Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Anak dari seorang perwira menengah TNI Angkatan Udara itu sering diejek sebagai “ketinggalan zaman” oleh temannya yang sering ke luar negeri. Ejekan itu muncul karena si anak tersebut tidak tahu apa-apa tentang David Bowie, nama-nama artis top, dan perkembangan musik pop Barat, salah satu ukuran “kemajuan” bagi kaum muda gaul pada waktu itu.

Seumur-umur anak itu memang hanya tinggal dan bermain di sekitar kompleks perumahan Angkatan Udara dan tak pernah pergi ke luar negeri. Bahan bacaannya juga terbatas. Dia hanya membaca majalah anak-anak Si Kuncung, yang dijual di sekolahnya. Karena seringnya diejek, anak itu sakit hati dan memimpikan, suatu hari nanti dia akan memiliki pekerjaan tertentu yang membuatnya bisa bepergian ke seluruh penjuru dunia, sehingga ia tidak lagi akan dianggap “norak” atau “kurang pergaulan.”

Perjalanan nasib membawa anak itu menjadi jurnalis Harian Kompas sejak Oktober 1988, dengan spesialisasi liputan politik internasional. Ia pun jadi sering meliput ke luar negeri, khususnya ke kawasan yang selalu bergolak: Timur Tengah. Sebagai bagian dari proses pencarian dirinya, anak yang sudah jadi jurnalis itu berdoa pada Tuhan, agar ia dilibatkan dalam sebuah event besar, ditugaskan ke suatu wilayah yang menjadi bagian dari sebuah peristiwa bersejarah di tingkat dunia.

Doanya rupanya terkabul. Pada Agustus 1990, terjadi krisis Teluk di Timur Tengah setelah pasukan Irak menyerbu Kuwait. Dia pun ditugaskan meliput dampak krisis Teluk akibat invasi Irak ke Kuwait tersebut. Ia sempat masuk ke Yordania dan Palestina, tetapi tak bisa masuk ke Irak. Kemudian, pada 1991 pecahlah Perang Teluk antara Irak melawan pasukan multinasional yang dipimpin Amerika.

Jurnalis Kompas itu bergabung dengan kelompok perdamaian Teluk (Gulf Peace Team) yang dipimpin Yusuf Islam (dulu namanya musisi Cat Stevens), yang memungkinkannya masuk ke wilayah Irak dan meliput perang dari Baghdad, persisnya di Hotel Al-Rasheed. Tepat pada malam pertama ia menginap di Hotel Al-Rasheed, tempat para jurnalis dari berbagai negara berdiam, terjadi pemboman hebat di kota Baghdad. Itu adalah serangan pesawat-pesawat tempur Amerika dan para sekutunya, yang menandai awal pecahnya Perang Teluk.

Jurnalis Kompas yang meliput Perang Teluk 1991 di Irak itu adalah saya, penulis buku ini. Pengalaman meliput Perang Teluk itu sempat saya bukukan dalam buku berjudul Catatan Harian dari Baghdad (Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1991).

Tak dinyana, sesudah 24 tahun berlalu sejak perang 1991, Irak tetap menjadi negara yang tidak stabil. Rakyat Irak seolah-olah dikutuk untuk tidak pernah mengenyam rasa damai, karena negerinya selalu dilanda konflik berdarah, kekerasan, dan perang. Kalau bukan konflik melawan pihak asing, selalu ada saja konflik di antara sesama anak negeri, terutama antara kaum Muslim Sunni, Muslim Syiah, dan etnis Kurdi.

Meskipun kini saya bukan lagi berstatus “jurnalis perang,” seperti ketika masih bekerja di Kompas (1988-1995) dulu, saya selalu membaca dan mengamati segala hal yang terjadi di Irak, khususnya sejak jatuhnya rezim Saddam Hussein pada 2003. Dinamika situasi di Irak, kekerasan yang memakan banyak korban jiwa, bom-bom yang bisa dibilang selalu mencari mangsa baru setiap harinya, selalu menjadi bahan pemberitaan media. Saya tergelitik untuk ingin kembali ke Irak, meliput berita, menganalisis situasi, dan mengungkap apa saja yang sudah terjadi di sana. Tetapi bagaimana caranya?

Rupanya Allah SWT membukakan jalan untuk saya. Teman lama saya Ratih Wiryanti, alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, menghubungkan saya dengan Bung Des Alwi, yang juga lulusan FISIP UI. Pada Februari 2015 itu, saya saling kontak dengan Des Alwi. Saat itu lulusan Jurusan Hubungan Internasional FISIP UI tersebut masih bekerja sebagai diplomat senior atau Kepala Kanselerai di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Baghdad, di ibukota Irak. Kontak-kontak antara kami berdua dilakukan lewat media sosial Facebook.

Dari komunikasi itulah, saya mendapat gambaran betapa beratnya perjuangan rekan-rekan diplomat dan staf KBRI Baghdad, dalam mewakili kepentingan nasional RI di Irak. Baghdad sebagai ibukota Irak bisa dibilang setiap hari mengalami serangan bom atau bentuk kekerasan lain. Baghdad saat ini adalah tempat penugasan yang paling rawan dan berbahaya bagi diplomat asing, khususnya diplomat Indonesia.

Lalu muncul ide, mengapa tidak membuat buku saja tentang kiprah para staf KBRI Baghdad? Pengalaman dan suka duka mereka selama bertugas di daerah rawan dan berbahaya seperti Irak, pasti cukup seru dan menarik untuk dituliskan. Gayung pun bersambut. Ketika penulis meminta dukungan, agar difasilitasi dalam melakukan liputan dan riset untuk penulisan buku, pesan itu disampaikan oleh Des Alwi pada Bapak Safzen Noerdin selaku Dubes RI di KBRI Baghdad. Ternyata permintaan itu disetujui.

Penulis pun mendapat bantuan dan dukungan teknis dari KBRI Baghdad untuk meliput di Irak, dan itu bukan cuma sekali. Tidak mungkin menulis buku tentang Irak dan kiprah para staf KBRI Baghdad tanpa datang langsung ke Irak dan melihat sendiri kondisi di sana.

Selain itu, Bapak Dubes Safzen Noerdin tampaknya memahami bahwa buku ini nantinya bukanlah sekadar kumpulan hasil liputan biasa. Namun, diharapkan buku ini bisa memberi informasi dan pencerahan kepada banyak warga di Indonesia –khususnya para calon diplomat, akademisi, pengusaha-- tentang lika-liku bertugas sebagai diplomat di Irak. Banyak pengalaman berharga dari Bapak Dubes dan seluruh staf KBRI Baghdad, yang bisa diserap dan dibagi ke semua pihak yang berkepentingan dengan hubungan Indonesia-Irak. Demikianlah harapan penulis.

Selain itu, Irak haruslah dipandang secara adil dan proporsional oleh kita di Indonesia. Irak bukanlah sekadar sebuah negeri yang penuh konflik dan kekerasan, tetapi Irak juga negeri yang punya banyak potensi untuk maju dan berkembang, asalkan sumberdaya yang ada di sana betul-betul dikembangkan dan dikelola dengan baik.

Irak memang daerah rawan dan berbahaya. Tetapi itu baru koma, belum titik. Di tengah kerawanan itu juga ada peluang yang bisa digali dan dimanfaatkan. Irak adalah negeri penghasil minyak utama. Namun, di luar minyak dan gas bumi, rakyat Irak juga membutuhkan banyak hal lain yang tidak bisa diproduksi sendiri oleh Irak. Kebutuhan itu berupa produk-produk yang bisa dipasok oleh pelaku usaha kita di Indonesia.

Justru karena Irak dianggap rawan dan berbahaya, perusahaan-perusahaan raksasa asing masih menahan diri, belum sepenuhnya bisa masuk ke Irak. Di sinilah peluang bagi pelaku usaha Indonesia, yang berani proaktif mengambil risiko, untuk meraih keuntungan di Irak. Atau setidaknya, membuka jalan dengan memperkenalkan produk-produknya di Irak. Sehingga jika nanti kondisi ekonomi dan politik Irak sudah menjadi betul-betul mantap dan stabil, produk-produk Indonesia sudah lebih dulu dikenal oleh para pembeli di Irak ketimbang produk-produk kompetitor.

Namun hubungan Indonesia-Irak tidak cuma berdimensi ekonomi. Hubungan Irak-Indonesia punya sejarah yang panjang. Sejak Indonesia masih berstatus Republik Indonesia Serikat (RIS), sudah ada perwakilan Indonesia di Baghdad. Irak adalah juga salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia, yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Hubungan historis yang panjang antara kedua negara itu janganlah disia-siakan. Banyak hal bisa digarap oleh kedua negara dan rakyatnya. Terciptanya hubungan yang bersifat saling menghormati dan saling menguntungkan antara Irak dan Indonesia seharusnya didukung oleh pemerintah, DPR, pengusaha, media, dan seluruh pemangku kepentingan lain.

Sebagai penutup, penulis menyampaikan penghargaan dan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Safzen Noerdin sebagai pribadi dan selaku Dubes RI di Baghdad, serta kepada seluruh diplomat dan staf KBRI Baghdad. Mereka semua telah banyak memberi informasi, bantuan, dan kerjasamanya, sehingga dengan pertolongan Allah SWT buku sederhana ini dapat terwujud.
Selamat menikmati buku sederhana ini. Semoga banyak manfaat yang bisa dipetik dari kisah perjuangan Dubes Safzen Noerdin dan para staf KBRI Baghdad, dalam mengemban tugas negara di Irak.


Depok, Desember 2015

Dr. Satrio Arismunandar

Foto: Saya di wilayah Erbil, Kurdistan, Irak utara,

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)