Negara Gagal

Oleh: Satrio Arismunandar

Berbagai kondisi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akhir-akhir ini, yang terkesan berantakan, kacau, tak jelas arah, ditambah lagi perilaku korup yang meluas di seluruh lapisan masyarakat, membuat kita sering putus asa. Inikah “hasil terbaik” dari gerakan reformasi 1998? Padahal gerakan reformasi waktu itu kita dukung dengan gegap gempita. Situasi ini juga memunculkan wacana: Apakah Indonesia adalah negara gagal (failed state)?

Untuk menjawabnya, kita lihat dulu apa yang dimaksud dengan negara gagal. Negara gagal adalah negara yang tidak bisa lagi menjalankan fungsi-fungsi dasar, seperti pendidikan, keamanan, atau pemerintahan, yang biasanya terjadi karena kekerasan yang memecah-belah atau kemiskinan ekstrem. Dalam kevakuman kekuasaan ini, rakyat menjadi korban dari faksi-faksi yang bersaing dan kejahatan. Kadang-kadang PBB atau negara-negara tetangga akan ikut campur tangan, untuk mencegah terjadinya bencana kemanusiaan.

Bagaimanapun, negara-negara gagal tidak hanya disebabkan oleh faktor internal. Pemerintah-pemerintah asing juga bisa mendestabilisasi sebuah negara dengan mengompori perang etnik atau mendukung pasukan pemberontak, yang menyebabkan negara itu runtuh.

Dalam artikelnya “10 Reasons Countries Fall Apart” di Foreign Policy (Juli/Agustus 2012), ekonom Daron Acemoglu dan James A. Robinson, pengarang buku Why Nation Fails, memberi perspektif menarik tentang mengapa bisa terjadi negara gagal, dengan memfokuskan pada lembaga-lembaga domestik dan peran para elite politik dan elite ekonomi. Dua ekonom ini memberi contoh konkret dengan apa yang disebutnya lembaga-lembaga ekonomi yang “ekstraktif” (extractive), yang memberi penjelasan tentang ketiadaan rangsangan untuk pertumbuhan.

Ada beberapa negara yang gagal secara spektakuler, dengan keruntuhan total semua lembaga negara. Misalnya, yang terjadi di Afganistan sesudah penarikan mundur pasukan Soviet dari negeri itu, dan digantungnya Presiden Mohammad Najibullah. Contoh lain, adalah yang terjadi selama satu dasawarsa perang saudara di Sierra Leone, di mana keberadaan pemerintah betul-betul lenyap.

Sebagian besar negara yang runtuh, bagaimanapun, mengalami hal itu bukan seperti sebuah ledakan singkat, namun melalui rintihan panjang yang menyakitkan. Kegagalan mereka terjadi bukan dalam sebuah ledakan perang atau kekerasan, namun karena ketidakmampuan total dalam memanfaatkan potensi besar masyarakatnya untuk tumbuh, yang menterpurukkan warganya ke kemiskinan seumur hidup. Kegagalan yang lambat dan melumatkan ini menyebabkan banyak warga negara di Afrika sub-Sahara, Asia, dan Amerika Latin hidup dengan standar yang sangat jauh di bawah standar kehidupan warga di negara-negara Barat.

Yang tragis adalah bahwa kegagalan itu bukan terjadi secara kebetulan. Negara-negara itu ambruk karena mereka dikuasai oleh apa yang kita sebut lembaga-lembaga ekonomi “ekstraktif.” Yakni, lembaga yang menghancurkan insentif, mengecilkan inovasi, dan mengisap habis bakat dari para warganegaranya, dengan menciptakan lapangan bermain yang tidak adil dan merampok peluang dari mereka.

Lembaga-lembaga ini bukan ditempatkan di sana secara tak sengaja karena kekeliruan, tetapi karena maksud tertentu. Lembaga-lembaga itu ada untuk keuntungan para elite, yang meraup banyak dari ekstraksi – apakah itu dalam bentuk bahan tambang yang bernilai, tenaga kerja paksa, atau monopoli yang dilindungi –dengan merugikan masyarakat. Tentu saja, elite semacam itu mendapat keuntungan dari lembaga-lembaga politik yang diakali juga, serta memanfaatkan kekuasaan mereka untuk mencondongkan sistem ke arah yang menguntungkannya.

Namun negara-negara yang dibangun di atas cara-cara eksploitasi itu secara tak terhindarkan akan gagal, dengan menyeret seluruh sistem yang korup itu ikut ambruk bersama mereka. Hal ini seringkali menjurus ke terjadinya penderitaan rakyat yang sangat dahsyat.

Indonesia saat ini mungkin bukan negara gagal, atau belum bisa dikategorikan sebagai negara gagal. Namun ini bukan berarti kita bisa bersantai membiarkan situasi dan kondisi “bayang-bayang kegagalan” di sekitar kita. ***


Jakarta, Maret 2016
Ditulis untuk Rubrik Oase, Majalah AKTUAL

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI