“Operasi Psikologis” Amerika di Irak dan Dihukum Gantungnya Saddam Hussein

Oleh: Satrio Arismunandar

Invasi militer AS dan sekutunya telah berujung ke jatuhnya pemerintahan Presiden Saddam Hussein. Dari 2003 sampai 2011, situasi keamanan di Irak dan khususnya di Baghdad tidak menentu. Aksi-aksi kekerasan, seperti peledakan bom di tempat-tempat umum, serangan ke tempat ibadah, dan berbagai aksi lain yang memakan banyak korban, terus terjadi tanpa henti. Tiada hari berlalu tanpa aksi kekerasan. Irak terus-menerus dilanda konflik parah yang bernuansa sektarian, serta melibatkan warga Muslim Sunni, Muslim Syiah, dan suku Kurdi.

Namun, yang perlu dicatat, pecahnya konflik sektarian yang berdarah-darah dan berlarut-larut di Irak tidak semata-mata disebabkan karena perbedaan kepentingan dan aspirasi antara tiga kelompok besar di Irak. Namun, konflik itu juga tidak terlepas dari peran yang dimainkan oleh pasukan pendudukan, yang dikendalikan dari Washington dan London. Untuk skenario tertentu, pertentangan sektarian di Irak tampak justru sengaja dipicu.

Kita bisa melihat dari kasus dijatuhkannya hukuman mati terhadap Saddam Hussein dan bagaimana eksekusi itu diproses. Saddam telah ditangkap oleh pasukan AS, diadili lewat suatu pengadilan yang oleh pihak luar dianggap tidak independen, divonis bersalah atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity), dan dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung.

Banyak orang tidak tahu bagaimana persisnya suasana ketika Saddam dieksekusi. Banyak media massa Barat seperti CNN, Fox, dan BBC, juga tidak memberitakan secara utuh. Bahkan pemberitaan itu seolah-olah memang seperti memberi bahan bakar, yang kemudian akan ikut memicu konflik sektarian berdarah di Irak, yang melibatkan tiga kelompok besar: Muslim Sunni, Muslim Syiah, dan suku Kurdi.

Eksekusi terhadap Saddam Hussein, yang penganut Muslim Sunni, secara cermat dan sengaja dilakukan justru pada saat yang paling sensitif bagi umat Islam, yakni pada momen Idul Adha. Idul Adha adalah hari raya, ketika umat Islam memotong hewan qurban.

Pilihan tanggal pelaksanaan eksekusi itu adalah tanda yang paling jelas bahwa eksekusi Saddam adalah bagian dari operasi psikologis (psychological operation, PSYOP) yang dilancarkan oleh otoritas AS. Tanggal eksekusi Saddam sengaja dipilih untuk mengeksploitasi perbedaan antara Sunni dan Syiah. Idul Adha bagi warga Sunni Irak jatuh pada Sabtu, 30 Desember 2006, sedangkan bagi warga Syiah Irak, Idul Adha itu dirayakan pada Minggu, 31 Desember 2006.

Eksekusi dilakukan pada 30 Desember, dengan tujuan untuk memancing kemarahan Muslim Sunni terhadap Muslim Syiah di Irak dan Timur Tengah. Secara “kebetulan,” baik pemberitaan media maupun pernyataan para pejabat AS selalu menyebut Muslim Syiah –atau yang disebut dengan “pemerintahan Syiah” di Irak—sebagai pihak yang bertanggungjawab atas pelaksanaan eksekusi Saddam itu. Padahal, dengan kehadiran masif pasukan AS sebagai “penguasa de facto” di Baghdad, sebetulnya tidak mungkin ada eksekusi terhadap Saddam tanpa restu, persetujuan, arahan, bahkan instruksi dari AS.

Di luar konteks religius, eksekusi itu juga ilegal berdasarkan ketentuan hukum dan konstitusi Irak. Hal itu diuraikan oleh Rizgar Mohammad Amin, warga Kurdi Irak dan salah satu mantan hakim, dalam proses pengadilan terhadap Saddam Hussein yang dipertanyakan independensinya itu.

Eksekusi itu dilakukan sebagai penjara psikologis untuk mendorong perpecahan dan kekerasan sektarian antara sesama warga Muslim Irak dan di seluruh Timur Tengah. Saat pelaksanaannya juga berbarengan dengan beberapa pengumuman dan laporan berita, tentang rencana-rencana perang AS dan Israel dalam kaitan dengan dua musuh mereka: Suriah dan Iran. Bukanlah suatu kebetulan bahwa sesaat setelah eksekusi Saddam, Presiden AS George W. Bush mengidentifikasi Suriah dan Iran sebagai musuh Irak.

Kampanye disinformasi media yang berhubungan dengan eksekusi Saddam dikoordinasikan dengan instrumen-instrumen propaganda perang yang muncul dari Pentagon dan dinas intelijen AS. Segera sesudah eksekusi, jejaring global media korporat menyiarkan misinformasi yang diinginkan Pentagon untuk disebar ke publik umum. Transkrip terjemahan kata-kata terakhir Saddam Hussein, yang sudah dimanipulasi dan didistorsi, diumpankan ke rantai pemberitaan dunia.

Detik-detik Kematian Saddam Hussein

Yang ditampilkan di buku ini adalah translasi lembaga Global Research dari audio-video asli berbahasa Arab, yang diyakini direkam menggunakan telepon seluler oleh salah seorang petugas pelaku eksekusi. Suara yang terdengar adalah sebagai berikut:

Ada suara-suara di latar belakang, yang sangat sulit didengar. Suara itu seperti percakapan di mana seseorang memanggil seseorang yang lain di ruang eksekusi dengan sebutan “Ali” atau mencari “Ali.”

Saddam Hussein: “Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Saddam Hussein: “Ya, Allah.” (Saddam mengatakan ucapan ini, sebagaimana kebiasaan di negara-negara Arab di Timur Tengah, ketika jerat tali gantungan sedang dilingkarkan di lehernya).

Satu suara memimpin doa sholawat: “Allahumma salli'ala muhammadin wa'ala ali muhammadin" (Ya Allah, wahai Tuhanku muliakan oleh-Mu akan Muhammad dan akan keluarganya).
Semua suara, termasuk Saddam Hussein, mengulangi doa sholawat: “Allahumma salli'ala muhammadin wa'ala ali muhammadin."

Ada sekelompok suara: “Moqtada…Moqtada…Moqtada…” (yang dimaksud adalah tokoh ulama muda Syiah, Moqtada al-Sadr)
Saddam dengan ucapan yang mengalihkan perhatian: “Moqtada…Moqtada! Kamu anggap ini keberanian?”
Beberapa individu berkata beberapa kali: “Pergilah ke neraka!”

Saddam menjawab dengan mengejek: “(Maksud kalian) ke neraka yang adalah Irak?”
Suara-suara lain: “Dirgahayu Mohammed Baqir Al-Sadr.”

Suara tunggal: “Tolong jangan (mengganggu). Orang ini sedang dieksekusi. Tolong jangan, tolong berhentilah.”
Saddam Hussein mulai membaca kalimat syahadat, kalimat yang selalu dibaca pada rakaat terakhir sholat: “Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasuulullah. Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammad…” (Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Allah. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad…).

Ucapan Saddam tiba-tiba terpotong tanpa sempat menyelesaikan kalimat syahadatnya. Itu terjadi tampaknya karena tempat kakinya berpijak dibuka, dan leher Saddam langsung tercekik dalam proses hukuman gantung tersebut).
Beberapa suara: “Tiran sudah runtuh.”

Suara-suara lain: “Allahumma salli'ala muhammadin wa'ala ali muhammadin."
Suara tunggal: “Biarkan dia tergantung selama delapan menit.”
Banyak suara percakapan lain terdengar di latar belakang tentang Saddam Hussein dan rekaman pun habis.

Jika dibandingkan dengan transkrip translasi yang disiarkan oleh sejumlah media Barat, tampak ada penyimpangan dari versi asli. Fox News, misalnya, hanya memberitakan bagian awal rekaman. Kata-kata terakhir Saddam tidak dimunculkan sama sekali. Aneh, kenapa potongan bagian awal yang tak penting itu ditampilkan sebagai representasi dari keseluruhan proses eksekusi, dan apa sulitnya bagi Fox News menyampaikan seluruh transkrip proses eksekusi itu, jika memang mau.

Versi pemberitaan CNN dan BBC dengan jelas mengungkapkan upaya untuk mendistorsi pernyataan Saddam Hussein. Cara pemberitaan itu menggambarkan bahwa Muslim Syiah Irak-lah pihak yang bertanggung jawab atas penggantungan Saddam di Baghdad. Ucapan Saddam bahwa Irak menjadi “neraka di bumi,” dihapus.

The Independent, harian Inggris yang biasanya menampilkan pandangan yang cukup progresif tentang peristiwa internasional, juga memuat versi yang menghilangkan ucapan terakhir Saddam, yang mengindikasikan Irak telah berubah menjadi “neraka di bumi.”

Secara internasional dan khususnya di Dunia Arab dan Timur Tengah, proses penggantungan Saddam yang terkesan liar itu secara biasa ditampilkan sebagai prakarsa Muslim Syiah. Padahal faktanya, pasukan pendudukan AS dan Inggris adalah yang mengontrol setiap tahapan proses itu.

Dalam berbagai laporan, ada upaya yang disengaja dan dipertimbangkan secara matang untuk melempar tanggung jawab atas eksekusi Saddam Hussein ke pundak yang disebut sebagai “pemerintah Irak”, tanpa mengakui bahwa pemerintah ini tidak mungkin mampu bertindak tanpa sepengetahuan dan izin penguasa AS.

Pemerintah” Irak saat itu, yang lebih tepat disebut rezim boneka yang dikontrol AS, ditampilkan dalam laporan pers sebagai “pemerintah Muslim Syiah” atau “pemerintah yang didominasi Muslim Syiah.” Ini juga merupakan bagian terpadu dari operasi psikologis AS, untuk memecah solidaritas antara Muslim Syiah dan Muslim Sunni dalam melawan pihak yang menginvasi dan menduduki Irak, yakni AS-Inggris.

“Pemerintah” Irak yang mengeksekusi Saddam adalah bagian dari administrasi pendudukan AS dan mendapat perintah dari Washington dan London. “Pemerintah” ini bukan berkarakter Muslim Syiah, bahkan ia juga bukan pemerintah yang nyata. Dengan komposisinya yang lemah dan tanpa daya, komposisi pemerintah ini secara merata terpecah antara kelompok Kurdi Irak, Syiah Arab, dan Sunni Arab.

Pada detik-detik terakhir kematiannya, ucapan Saddam juga sangat menyentak. Ketika ia disoraki “pergilah ke neraka” oleh massa yang mengeksekusinya, pemimpin Irak itu menjawab dengan ejekan: “(Maksud kalian) ke neraka yang adalah Irak?” Pernyataan “ke neraka yang adalah Irak” ini, jika tersebar meluas, bisa memberi implikasi yang negatif bagi citra penguasa di Washington dan London, dan pasukan asing yang menduduki Irak.

Jika Irak sekarang adalah “neraka di bumi,” lantas siapa yang mengubah Irak menjadi “neraka” tersebut? Siapa yang harus disalahkan? Jelas bahwa perubahan drastis kondisi Irak menjadi ”neraka di bumi” itu berlangsung ketika Irak terutama berada di bawah kekuasaan pasukan pendudukan AS dan Inggris. Ucapan terakhir Saddam ini bisa menjadi slogan politik yang kuat di Timur Tengah dan berdampak buruk pada citra AS-Inggris. Tampaknya, itulah sebabnya mengapa ucapan Saddam ini dihapus dari pemberitaan media Barat, yang mayoritas memang sejak awal “mendukung” perang dan invasi terhadap Irak.

Benih-benih perpecahan antar kelompok mungkin memang sudah ada di Irak. Di zaman kekuasaan Saddam Hussein, pemimpin Irak itu meredam setiap potensi konflik dengan kekerasan dan kebijakan tangan besi. Sesudah Saddam terguling oleh invasi pasukan Koalisi AS, potensi konflik itu mendapat saluran untuk muncul ke permukaan. Tetapi potensi konflik itu mungkin tidak akan berubah menjadi konflik terbuka yang brutal, jika tidak “dikipas-kipasi” atau “direkayasa” untuk menjalankan skenario tertentu.

Jakarta, Maret 2016

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)