Dadang Rahmat Hs: Setiap Orang Bisa Menjadi Pewarta dalam Jurnalistik Kebencanaan

Makassar, Kemendesa
Berkat adanya jurnalisme warga (citizen journalism), setiap orang sekarang bisa menjadi pewarta dalam jurnalistik kebencanaan. Yakni, memberitakan kondisi pra bencana, ketika sedang terjadi bencana, dan pasca bencana.

Demikian dinyatakan wartawan senior Dadang Rahmat Hs dalam kegiatan Bimbingan Teknis Publikasi Penyiapan Media untuk Masyarakat Tangguh Bencana, yang berlangsung dari Senin (23/5) hingga Rabu (25/5) di Makassar.

Acara yang diselenggarakan Direktorat Penanganan Daerah Rawan Bencana Kemendesa PDTT itu diikuti 60 peserta dari staf Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) atau dinas terkait, internal Direktorat Jenderal PDTu, dan unsur masyarakat peduli bencana. Jurnalisme warga dipandang bisa berkontribusi bagi peliputan bencana yang kondusif.

Mengutip tulisan Mark Glaser, Dadang menyatakan, jurnalisme warga diartikan sebagai “setiap orang tanpa kecakapan dan pelatihan khusus sebagaimana dimiliki jurnalis profesional, dengan teknologi komunikasi yang sederhana yang mereka miliki, dapat melakukan peliputan, pemuatan, sampai pendistribusian berita melalui media online (internet).”

“Secara sederhana, tiap-tiap kita adalah pewarta. Dalam keseharian, langsung atau tidak langsung, kita telah mewartakan sesuatu,” ujar Dadang, yang mantan pemimpin redaksi Nefosnews.com dan mantan Sekjen Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ini.

Dadang memberi contoh, ketika seseorang melihat demonstrasi buruh yang menimbulkan kemacetan. Ia lalu bertanya ini itu kepada salah satu buruh yang berdemonstrasi. Kemudian ia menuliskan hasil percapapannya dengan buruh di media sosial. Maka pada hakikatnya, ia telah mempraktikkan jurnalisme warga. ***

Mei 2016
Satrio Arismunandar

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)