Jurnalisme Kebencanaan Perlu Tingkatkan Liputan Pra Bencana

Makassar, Kemendesa
Jurnalisme kebencanaan berperan penting dalam memberikan informasi pra bencana, ketika terjadi bencana, dan pasca bencana. Namun liputan media selama ini masih timpang. Media lebih mengutamakan liputan ketika sedang terjadi bencana, dan kurang menganggap penting liputan pra bencana, yakni langkah-langkah yang sudah dilakukan dalam pengurangan risiko bencana.

Demikian ditegaskan Dr. Ir. Suprayoga Hadi, MSP., Dirjen Pengembangan Daerah Tertentu (PDTu) dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT).

Suprayoga mengungkapkan hal itu dalam kegiatan Bimbingan Teknis Publikasi Penyiapan Media untuk Masyarakat Tangguh Bencana, yang berlangsung dari Senin (23/5) hingga Rabu (25/5) di Makassar. Acara yang diselenggarakan Direktorat Penanganan Daerah Rawan Bencana Kemendesa PDTT itu diikuti 60 peserta dari staf Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) atau dinas terkait, internal Direktorat Jenderal PDTu, dan unsur masyarakat peduli bencana.

Tentang liputan pra bencana, Prayoga mengatakan, ia mengangkat hal itu karena ingin mendorong hal yang juga sangat penting, selain liputan ketika sedang terjadi bencana. Yaitu, dalam hal sejauh mana kesadaran dari pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan juga masyarakat, dalam konteks pengurangan risiko bencana. Ini bisa menunjukkan adanya perhatian dan apresiasi. Tanpa adanya apresiasi, orang akan tidak peduli.

“Dalam masalah banjir di Jakarta, misalnya, tidak ada yang mengekspos bahwa pemerintah DKI sudah melengkapi pompa air untuk menghindari banjir. Itu tak pernah diekspos secara lebih proporsional. Hal itu tidak pernah dilihat dalam konteks investasi, yang telah kita berikan untuk mengurangi risiko bencana,” tutur Prayoga.

Prayoga memberi contoh lain. Banyak bantuan yang diberikan pemerintah pusat ke daerah-daerah, seperti pengadaan bronjong. Namun media tidak pernah mengekspos hal itu dalam konteks bahwa ini sangat diperlukan untuk mengurangi ancaman longsor. “Pengurangan risiko bencana seperti itu tidak dianggap terlalu prioritas untuk diberitakan media,” lanjut Prayoga.

Menurut Prayoga, yang pernah bertugas di Bappenas, bisa dilihat bahwa yang sering jadi headline di media adalah liputan tentang ketika kejadian bencana. Seperti, ekspos tentang banyaknya korban, jumlah warga yang menjadi pengungsi, besarnya kerusakan yang terjadi, dan sebagainya. “Secara jurnalistik, mungkin ini yang laku untuk dijual. Liputan itu juga bisa membantu, agar ada atensi dari pemangku kepentingan,” ujarnya.***

Mei 2016
Satrio Arismunandar

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)