Kemendesa Adakan Pelatihan Jurnalisme Kebencanaan di Makassar dan Batam

Makassar, Kemendesa
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) akan mengadakan pelatihan jurnalisme kebencanaan. Jurnalisme kebencanaan berperan penting dalam memberikan informasi yang akurat, proporsional, dan bersifat kondusif dalam memberitakan bencana dan mendorong masyarakat untuk siap sebelum terjadinya bencana.

Acara yang diselenggarakan Direktorat Penanganan Daerah Rawan Bencana Kemendesa PDTT itu akan berlangsung dari Senin (23/5) hingga Rabu (25/5) di Makassar. Acara itu resminya dinamai Bimbingan Teknis Publikasi Penyiapan Media untuk Masyarakat Tangguh Bencana. Pada 1-3 Juni, pelatihan serupa juga akan dilangsungkan di Batam.

Acara di Makassar akan diikuti 60 peserta, yang terdiri dari staf Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) atau dinas terkait, internal Direktorat Jenderal Pengembangan Daerah tertentu (PDTu), dan unsur masyarakat peduli bencana. Dua jurnalis senior akan memberi materi pada acara itu, yaitu mantan jurnalis Tabloid DeTik Dadang Rahmat Hs, dan jurnalis Aktual.com Satrio Arismunandar.

Jurnalistik kebencanaan berperan penting dalam hal memberikan informasi publik perihal kondisi atau peristiwa yang tengah berlangsung di daerah masing-masing. Peran jurnalisme yang dulu formal dan dilakukan oleh insan media, kini bisa digantikan oleh warga lewat jurnalisme warga (citizen journalism).

Dengan semaraknya jurnalisme warga, keluasan jaringan informasi bisa didapatkan, begitu pula kecepatan dan akurasi. Jika peran ideal jurnalisme bencana dapat dijalankan oleh masyarakat, informasi tentang suatu persoalan bisa lebih berimbang. Informasi tidak lagi dimonopoli oleh media yang memiliki beban kepentingan bisnis.

Ferry Syahminan, Kasubdit Penanganan Daerah Rawan Bencana Wilayah V, yang juga menjadi panitia pelatihan mengatakan, “Saat ini, peran ideal jurnalisme warga belum dilaksanakan oleh masyarakat itu sendiri. Etika jurnalistik, kemampuan menulis, serta akurasi informasi, belum banyak didapatkan dari produk-produk jurnalisme warga.”

“Alhasil, sering kali ketika ada suatu peristiwa, informasi yang beredar malah menyebabkan kekisruhan. Dalam kasus berita terorisme atau kriminal, juga banyak beredar foto-foto korban yang mengabaikan etika. Itulah sebabnya, perlu diadakan pelatihan ini, yang dalam salah satu materinya adalah tentang etika jurnalistik,” ujar Ferry Syahminan. ***

Mei 2016
Satrio Arismunandar

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)