Force of the Future: AS Merombak Sistem Personel Militernya

Oleh: Satrio Arismunandar

Keunggulan sebuah angkatan bersenjata modern bukan cuma ditentukan oleh kecanggihan alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dimilikinya, tetapi yang tidak bisa tergantikan adalah sumber daya manusia (SDM) di belakang alutsista tersebut. SDM militer --yang jumlahnya ratusan ribu sampai jutaan personel-- juga tidak bisa dikelola secara sembarangan, tetapi harus lewat sistem tertentu.

Berbagai perubahan besar yang terjadi di dunia dan lingkungan strategis, menyebabkan perubahan bentuk, jenis dan skala ancaman yang harus dihadapi. Pihak militer dengan demikian juga harus menyesuaikan diri dengan perkembangan tantangan tersebut. Kualifikasi SDM militer dan sistem personel yang digunakan untuk menanganinya tentunya juga harus berubah. Salah satu negara yang sedang melakukan perombakan besar terhadap sistem personel militernya adalah Amerika Serikat (AS).

Sebuah cetak biru yang rinci tentang bagaimana membangun kembali sistem personel militer telah diajukan ke Menteri Pertahanan AS Ash Carter pada 2015. Puluhan rekomendasi dari para pejabat puncak Pentagon itu secara fundamental akan mengubah bagaimana militer AS merekrut, menggaji, mempromosikan, dan mengelola kekuatan tugas aktif yang terdiri dari 1,3 juta personel militer.

Paket reformasi yang dinamakan “Force of the Future” itu bertujuan merombak secara drastis sistem personel “satu ukuran diberlakukan untuk semua” (one-size-fits-all) yang sudah bertahan lama, untuk memasuki Zaman Informasi. Sistem baru itu akan menyapu habis banyak peraturan, kebijakan, dan tradisi usang, yang jika dirunut mundur bisa sampai ke zaman Perang Dunia II.

Reformasi sistem personel itu dirancang untuk menanggapi keprihatinan utama Carter. Carter khawatir, militer AS dan sistem personelnya yang sudah kuno akan menghadapi banyak kesulitan, dalam merekrut dan mempertahankan kekuatan yang berketerampilan tinggi (high-skilled force), yang dibutuhkan bagi abad ke-21.

Sementara itu, tantangan revolusi digital terus berlanjut dengan cepat, dan momentumnya juga tidak bisa menunggu. Dalam bidang cybersecurity dan teknologi informasi, misalnya, sektor swasta menawarkan paket kompensasi yang jauh lebih menguntungkan dan menggiurkan. Bagaimana pihak militer di masa depan bisa bersaing dengan swasta dalam merekrut tenaga-tenaga terbaik, adalah tanda tanya besar.

“Tindakan Departemen Pertahanan di masa mendatang bersifat kompetitif dan menuntut kepemimpinan, nilai-nilai Amerika, dan keprintisan militer,” kata Carter, dalam acara yang diselenggarakan oleh Dewan Urusan-urusan Dunia di Washington, 30 Maret 2016. “Namun dalam pendekatan keseluruhan kami dan juga dalam anggaran...kami menggunakan pendekatan jangka panjang dan jangka pendek. Kita harus melakukan itu, karena bahkan sekalipun kita sedang menjalani pertempuran-pertempuran hari ini, kita juga harus bersiap menghadapi apa yang mungkin muncul dalam 10, 20, 30 tahun ke depan,” lanjut Carter.

Personel Militer sebagai Investasi

“Usulan Force of the Future jauh lebih ambisius daripada usulan manapun dalam sejarah. Itu betul-betul usulan yang bersejarah,“ kata Richard Kohn, yang mengajar sejarah militer di Universitas North Caroline di Chapell Hil. Hampir 25 tahun berlalu sejak berakhirnya Perang Dingin dan ini adalah usaha nyata pertama oleh Departemen Pertahanan AS, untuk bersaing di pasar tenaga kerja dalam merekrut, memelihara, dan mengembangkan tenaga kerja itu.

Usulan itu akan punya implikasi keuangan, misalnya, untuk kenaikan gaji para personel yang memiliki kualifikasi tertentu, membangun sistem komputer baru yang masif, mengirim para perwira ke sekolah-sekolah sipil tingkat sarjana terkemuka, dan mendirikan kantor-kantor baru dengan karyawan yang sangat terampil. Secara keseluruhan, paket reformasi itu mungkin memakan biaya lebih dari 1 miliar dollar AS per tahun.

Dengan demikian, fakta bahwa usulan tersebut bisa sampai ke meja Menteri Pertahanan AS, hal itu menunjukkan adanya perubahan yang mendadak dan tak terduga di kalangan kepemimpinan Pentagon, tentang cara mereka memandang personel militer.

Padahal, hanya beberapa tahun yang lalu, perhatian utama jajaran Pentagon tampaknya adalah tentang biaya yang melonjak untuk kebutuhan personel, dan anggapan bahwa pertumbuhan pembelanjaan per prajurit tidak bisa lagi dipertahankan. Apalagi belanja itu sudah menggerogoti dana, yang seharusnya ditujukan untuk modernisasi pengembangan sistem persenjataan. Hal itu mendorong Kongres AS untuk memotong kenaikan gaji tahunan militer ke tingkat yang paling rendah dalam beberapa generasi.

Paket reformasi baru ini tidak melibatkan langkah-langkah pemotongan biaya langsung yang cukup besar. Sebaliknya, usulan ini justru disusupi oleh kenaikan gaji di pos-pos yang ditargetkan, tambahan tunjangan, dan upaya modernisasi sistem personel di seluruh jajaran.

“Kita harus berhenti berpikir tentang orang-orang (personel) kita sebagai pusat biaya, namun (seharusnya) lebih sebagai pusat profit. Mereka bukanlah pembelanjaan, (namun) mereka adalah investasi,” kata penasihat senior untuk Pembantu Menteri Pertahanan AS Urusan Personel dan Kesiapan, Brad R. Carson, dalam wawancara dengan Defense News.

Carson, yang memimpin upaya reformasi internal, mengakui usulan itu akan memakan biaya. Namun, biaya itu dianggapnya hanya bagian yang sangat kecil dari anggaran pertahanan tahunan senilai 500 miliar dollar AS. Biaya itu tak berarti apa-apa dibandingkan dengan banyak ragam pembelanjaan Pentagon lainnya.

Beberapa Perubahan Revolusioner

Reformasi Force of the Future adalah memadukan aturan-aturan personel militer dan sipil dengan tantangan abad ke-21. Beberapa perubahan revolusioner sudah bergerak ke arah penerapan. Carson, salah satu arsitek program reformasi itu, menyatakan, salah satu dari aturan-aturan ramah-keluarga yang baru –cuti keibuan yang lebih panjang—bisa segera efektif berlaku. Sedangkan program lain –pembekuan sel telur—akan mulai dicakup oleh Tricare (sistem jaminan sosial kesehatan) sejak 1 Oktober 2016.

Perubahan-perubahan semacam itu dalam sistem personel sejalan dengan pengembangan tunjangan karyawan yang mirip dengan yang berlaku di sektor swasta. Hal itu juga sejalan dengan perubahan harapan dari kalangan generasi milenium.
Departemen Pertahanan AS sejauh ini telah mengumumkan dua kelompok reformasi. Yakni, pertama, reformasi dalam hal praktik-praktik untuk merekrut dan mempertahankan anggota militer di dinas aktif. Kedua, membuat perubahan-perubahan untuk lebih menarik minat orang, untuk menjadi anggota militer serta keluarga mereka.

Salah satu unsur kritis dalam mempertahankan keunggulan militer adalah berkompetisi, untuk merekrut dan memelihara dan mengembangkan orang yang baik di dalam sebuah pasukan atau kekuatan, yang seluruhnya bersifat sukarela (all-volunteer force). “Itulah yang saya sebut Kekuatan Masa Depan (Force of the Future),” tegas Carter.

Yang juga merupakan bagian kritis dari Kekuatan Masa Depan itu adalah dibukanya posisi-posisi tempur untuk kaum perempuan, yang juga memberi akses kepada lebih banyak penduduk. “Sebaik-baiknya teknologi Amerika, hal itu tidak bisa dibandingkan dengan manusianya,” lanjutnya.

Tentang persyaratan memperoleh pensiun, juga mengalami reformasi. Carson menyatakan, sistem pensiun militer saat ini hanya berlaku bagi mereka yang sudah berdinas selama 20 tahun. Jumlah anggota militer yang memenuhi syarat itu hanya mencakup 10-17 persen dari seluruh personel. “Kita mencoba memodernisasi sistem pensiun, sehingga Anda bisa memperoleh sesuatu, tanpa mempersoalkan berapa tahun Anda sudah bertugas di militer,” ujar Carson.

Mengubah Sistem Perekrutan

Usulan reformasi personel itu secara fundamental akan mengubah bagaimana militer memperoleh anggota baru dan insentif yang diarahkan kepada pihak perekrut di level bawah (street-level). Militer akan melancarkan program percontohan yang menawarkan imbalan kontan bagi perekrut berdasarkan semata-mata pada jumlah orang yang direkrut, yang sukses menyelesaikan dua tahun pertama di dinas militer. Dengan pendekatan yang sama, pihak perekrut tidak akan menerima apa-apa, jika orang yang direkrut itu gagal menyelesaikan masa pelatihan awal.

Memberikan pembayaran dan insentif yang lebih khusus untuk pihak perekrut akan membuat militer mengeluarkan lebih banyak biaya. Namun, menurut usulan itu, biaya itu akan diimbangi oleh penghematan yang diperoleh dari hasil rekrutmen yang lebih baik, yang tidak akan tersapu keluar dengan tingkatan yang sama. Biasanya tidak seluruhnya dari yang direkrut akan bertahan di kemiliteran. Pengurangan satu persen dalam pengikisan tahap-pertama akan menghemat hampir 100 juta dollar AS tiap tahun bagi Departemen Pertahanan.

Satu opsi yang dihadirkan adalah pembentukan “sistem perekrutan yang berani” (enterprise recruiting system), yang akan mengkoordinasikan seluruh dinas militer dan sektor sipil. Sistem itu memungkinkan komponen-komponen militer dan sipil tersebut untuk berbagi informasi dan menyalurkan orang yang direkrut antara satu dinas kepada yang lain.

Proses perekrutan juga harus mencakup sistem pengujian baru, untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang individu yang direkrut, keterampilan, dan kekuatan mereka. Tes-tes itu akan melampaui sistem pengetesan ASVAB (Armed Forces Vocation Aptitude Battery) yang diberlakukan militer AS sekarang.

Sebagian besar pengetesan ASVAB dipandang sebagai pengukuran kecerdasan gaya-akademis atau kemampuan-kemampuan “kognitif.” Sedangkan tes-tes baru itu akan memasukkan ciri-ciri “non-kognitif” yang lebih samar, namun juga berkontribusi bagi kekuatan masa depan, seperti: motivasi, disiplin, keterampilan sosial dan ketahanan.

Mempertimbangkan Keluarga

Para pemerhati masalah keluarga juga bersyukur bahwa rancangan terakhir Force of the Future juga memasukkan butir-butir tentang keluarga. “Jika kita bicara tentang kekuatan masa depan dan melihat demografi masa depan, maka perempuan dan keluarga adalah bagian penting dari diskusi itu,” ujar Joyce Raezer, Direktur Eksekutif Perhimpunan Keluarga Militer Nasional.

Raezer sudah bertemu dengan Brad Carson, dan mengangkat pentingnya memasukkan butir-butir soal keluarga. Namun, pihaknya tetap harus melihat, apa yang betul-betul bisa dilakukan dengan ide-ide itu. Pasalnya, keberhasilan upaya reformasi itu harus mempertimbangkan kondisi anggaran AS saat ini dan bahwa pemerintahan Presiden Barack Obama akan segera berakhir, dan pemerintahan baru akan mengambil alih.

Di antara butir-butir usulan yang menyangkut keluarga, yang terdapat pada rancangan terakhir adalah:

Pertama, masa dinas yang lebih panjang di pos tugas permanen, berdasarkan pilihan. Militer AS harus menciptakan otoritas “Kewajiban Layanan Tugas Tambahan,” yang memungkinkan masa penugasan yang lebih panjang, untuk memberi opsi-opsi yang lebih baik pada anggota militer, untuk mendukung karir dari mitra atau pasangan hidupnya.

Berpindah-pindah tempat tugas yang terlalu sering bisa menimbulkan gangguan dalam berbagai bentuk bagi keluarga-keluarga militer. Misalnya, pasangan istri/suami harus mundur dari pekerjaan yang dijalaninya, atau anak-anak harus berpindah sekolah. Dalam sistem yang ada sekarang, anggota militer bisa pindah tempat penugasan tiap rata-rata 2,5 tahun. Sedangkan dalam paket yang diusulkan, perpindahan tempat tugas itu baru dilakukan setiap rata-rata 4 tahun.

Kedua, perpanjangan cuti sebagai orangtua (parental leave) bagi seluruh pekerja sipil dan militer, sampai 18 minggu per anak selama karirnya. Itu berlaku termasuk untuk anak yang diadopsi. Berdasarkan kebijakan sekarang, anggota militer boleh mengambil enam minggu cuti pemulihan sesudah melahirkan.

Sesuai undang-undang, para ayah yang menikah hanya boleh mengambil jatah 10 hari untuk cuti orangtua. Cuti untuk adopsi anak maksimum bisa tiga minggu. Militer AS sudah meninjau ulang kebijakan cuti ini. Misalnya, Angkatan Laut AS belum lama ini mulai menawarkan 18 minggu cuti hamil untuk anggota yang pelaut dan Marinir.

Ketiga, pembatasan pengerahan tugas bagi para ibu baru. Usulan ini akan melarang kesatuan-kesatuan militer menugaskan anggotanya yang baru melahirkan, untuk penugasan dalam jangka waktu satu tahun sejak melahirkan atau sejak mengadopsi anak.

Keempat, mengadakan “ruang ibu” di seluruh instalasi militer. Hal ini akan memudahkan para ibu untuk menyusui atau menyediakan susu bagi bayi-bayinya pada siang hari. Pengadaan ruang laktasi ini juga harus memenuhi persyaratan Undang-undang Proteksi Pasien dan Perawatan yang Terjangkau.

Kelima, mengembangkan layanan kesuburan (fertilitas) bagi prajurit. Hal ini mencakup Tricare (program jaminan sosial kesehatan) untuk menjamin perawatan reproduktif maju, seperti IVF atau fertilisasi di luar tubuh (program bayi tabung), inseminasi di dalam rahim, dan pembekuan serta penyimpanan sperma dan sel trelur. Tricare mencakup diagnosa penyakit yang dapat menyebabkan ketidaksuburan dan koreksi terhadap setiap isu pengobatan yang mungkin menyebabkan problem, namun tidak termasuk IVF atau inseminasi buatan.

Beberapa prosedur canggih tersedia dengan biaya tertentu untuk pasien yang memenuhi syarat, di dalam atau luar dari tujuh fasilitas perawatan militer di seluruh AS. Layanan-layanan tambahan tersedia tanpa biaya bagi personel yang terluka parah dan pasangannya, selama yang bersangkutan berada dalam masa dinas aktif. Usulan ini mungkin berpengaruh positif pada bertahannya orang di dinas militer, khususnya bagi prajurit perempuan, yang “menghadapi jadwal-jadwal yang menuntut, selama tahun-tahun prima mereka ketika membesarkan anak.”

Masih banyak butir-butir reformasi yang dapat diungkapkan di sini. Namun, dengan menggunakan militer AS sebagai perbandingan, kita juga perlu menekankan bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) juga perlu melakukan reformasi dalam sistem personelnya. Bukan karena kita mau meniru militer AS, tetapi karena tuntutan zaman memang mengharuskan pembaruan terus-menerus.

Ditulis untuk Majalah DEFENDER, Juli 2016

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)