Posts

Showing posts from September, 2016

Amicus Curiae untuk Keadilan Eko-Sosial

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Indonesia tahun 2016 ini masih banyak diwarnai konflik agraria. Harapan warga untuk memperoleh keadilan, terutama yang terkait dengan dampak lingkungan dan sosial dari pembangunan industri terhadap nafkah-kehidupan mereka, masih memerlukan perjuangan panjang. Dalam hal ini, peranan para ilmuwan dan akademisi, dalam mendukung perjuangan warga, sangat krusial dan patut mendapat apresiasi.

Ini terlihat pada kasus keluarnya izin lingkungan untuk pembangunan pabrik semen oleh PT. Semen Indonesia di daerah Rembang. Pembangunan pabrik semen akan sangat berpengaruh pada warga setempat, yang tinggal di sekitar pabrik tersebut.

Puluhan akademisi dan lembaga riset telah mengajukan Amicus Curiae atas peninjauan kembali pada Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang dan Putusan PTUN Surabaya, yang menyidangkan kasus gugatan masyarakat atas terbitnya izin Lingkungan PT. Semen Indonesia. Amicus Curiae ini telah diserahkan ke Mahkamah Agung pada 24 Agustus 2016.…

Mendorong Investasi di Daerah Perbatasan sebagai Wujud Membangun Indonesia dari Pinggiran

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Daerah perbatasan mempunyai nilai strategis dalam mendukung keberhasilan pembangunan nasional. Salah satu program utama dan sekaligus komitmen dari pemerintah Presiden Joko Widodo adalah membangun daerah perbatasan, termasuk di pulau-pulau kecil terluar. Ini sejalan dengan konsep Nawacita ketiga: “Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan.”

Pembangunan daerah perbatasan ini adalah isu yang kompleks, karena melibatkan banyak sektor, kementerian, dan lembaga, ditambah lagi memerlukan investasi yang cukup besar. Salah satu kementerian yang terlibat intens dalam upaya membangun daerah perbatasan adalah Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa).

Menyadari bahwa membangun daerah perbatasan memerlukan dukungan investasi yang signifikan dari pihak swasta, pada 3 November 2015, Kemendesa menyelenggarakan Border Investment Summit. Semua pemangku kepentingan harus terl…

Isu Muslim Rohingya Jangan Dilupakan

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Berbagai kejadian silih berganti memenuhi ruang publik Asia Tenggara. Isu sengketa wilayah di Laut China Selatan, yang melibatkan China dan sejumlah negara ASEAN (Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Vietnam) termasuk yang paling menarik perhatian. Namum, ada isu yang seakan terlupakan. Isu itu adalah soal warga Muslim Rohingya.

Akhir Agustus lalu, isu itu dihidupkan lagi oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (Sekjen PBB) Ban Ki-Moon. Ia menyatakan, warga Rohingya layak diberi status warga negara Myanmar. Warga Rohingya sudah sejak lama tinggal di wilayah Rakhine, Myanmar bagian barat.

Lebih dari 120 ribu warga Rohingya yang menganut Islam, hidup sebagai minoritas di Myanmar, negara yang mayoritas penduduknya penganut Buddha. Meskipun hidup sejak lama di Myanmar, warga Rohingya tidak mendapat kewarganegaraan, tidak memiliki hak memilih dan hak kerja, bahkan seringkali diejek sebagai penipu.

Padahal, ini bukan hanya masalah soal hak warga R…

Sutardji Calzoum Bachri: Presiden Penyair Indonesia

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Indonesia tidak kekurangan penyair hebat. Kita kenal nama-nama besar seperti Chairil Anwar, WS Rendra, Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi WM, Leon Agusta, Ahmadun YH, Wiji Thukul, dan lain-lain. Namun, dari sekian banyak penyair itu yang mengklaim dan menobatkan diri menjadi “Presiden Penyair Indonesia” adalah Sutardji Calzoum Bachri.

Penyair berbakat ini lahir di Rengat, Indragiri Hulu, Riau, pada 24 Juni 1941. Setelah lulus SMA, ia melanjutkan studi ke Jurusan Administrasi Negara, FISIP Universitas Padjadjaran, Bandung. Di awal karirnya, Sutardji mulai menulis dalam surat kabar dan mingguan di Bandung. Lalu, sajak-sajaknyai dimuat di majalah Horison dan Budaya Jaya, serta ruang kebudayaan Sinar Harapan dan Berita Buana.

Pada musim panas 1974, Sutardji berkesempatan mengikuti Poetry Reading International di Rotterdam, Belanda. Kemudian ia mengikuti seminar International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat, dari Oktober 1974 sampai Apr…

Perang Proksi (Proxy War) Mengancam Indonesia

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Apakah ada negara asing, yang akan menyerang Indonesia dengan kekuatan militer penuh, dalam beberapa tahun ke depan ini? Ini pertanyaan yang menantang bagi para ahli strategi militer. Namun, jawaban mereka untuk pertanyaan itu tampaknya adalah “tidak ada.” Perang terbuka secara militer antara Indonesia dengan negara tetangga tampaknya tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Namun, dalam konsep perang modern, perang itu tidak harus dilakukan secara langsung antara dua pihak, dalam bentuk adu kekuatan persenjataan militer. Seperti, menggunakan tank, kapal perang, pesawat tempur, pesawat tanpa awak (drone), rudal, meriam, dan sebagainya. Perang yang lebih canggih justru tidak dilakukan secara langsung, tetapi meminjam tangan pihak lain atau pihak ketiga.

Salah satu wujud perang modern dengan melibatkan pihak ketiga itu adalah yang kita sebut perang proksi (proxy war). Perang proksi secara sederhana bisa diartikan sebagai “perang kepanjangan tangan.” Dalam perang…

Kelompok Abu Sayyaf: Kaum Separatis Idealis yang Jadi Tukang Culik

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Siapa tak kenal nama Abu Sayyaf? Bagi warga asing yang tinggal di kawasan Filipina selatan, nama kelompok Abu Sayyaf atau Jamaah Abu Sayyaf bisa menjadi momok yang menakutkan. Nama itu sudah identik dengan berbagai ancaman kejahatan: penculikan, penyanderaan, pemerasan, pembunuhan, dan bahkan aksi-aksi terorisme yang memakan korban warga sipil .

Kelompok Abu Sayyaf, yang berbasis di kepulauan Julu dan Basilan, Filipina selatan, semula adalah sempalan dari gerakan separatis Moro, yang ingin merdeka dari Filipina. Namun, karena kebutuhan ekonomi dan operasional, mereka akhirnya terpecah-pecah dan menjadi pelaku kriminal biasa, termasuk menculik orang asing untuk dimintai tebusan.

Pemberitaan media massa nasional selama bulan Maret sampai Mei 2016 telah diramaikan oleh kasus penculikan dan penyanderaan 14 warga negara Indonesia (WNI) oleh kelompok Abu Sayyaf di wilayah Filipina Selatan. Berbagai kementerian dan lembaga pemerintah pun jadi sibuk dan heboh karena…

Maraknya Aksi Teror 2016 (dari Bom Thamrin Sampai Eropa)

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Tahun 2016 mungkin akan dikenang sebagai “tahun terorisme” atau tahun yang dipenuhi aksi-aksi terorisme. Berbagai aksi teror melanda dunia, mulai dari negara-negara di Timur Tengah yang selalu dipenuhi konflik berdarah, sampai ke negara yang relatif damai seperti Indonesia, bahkan sampai ke negara maju seperti Belgia, Jerman, dan Perancis.

Pada 14 Januari, teroris meledakkan bom di Jalan MH Thamrin, Jakarta. Delapan orang meninggal dunia. Terduga perencana aksi teror tersebut, Bahrun Naim, diyakini berafiliasi dengan kelompok ekstrem ISIS (Negara Islam di Irak dan Suriah) dan sudah berada di Suriah sejak 2014. Hingga Agustus 2016, sekitar 33.000 orang dari sedikitnya 100 negara diduga bergabung dengan ISIS.

Belakangan, Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri pada 5 Agustus telah menangkap lima orang terduga teroris pimpinan Gigih Rahmat Dewa di sejumlah lokasi di Batam. Kelompok ini diduga sebagai penyalur warga Indonesia dan asing di kawasan Asia yang hendak per…

Mewaspadai Media Sebagai “Pendukung” Aksi Terorisme

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Media massa tidak bisa dipisahkan dari aksi terorisme. Tanpa kehadiran media yang memublikasikan aksi teror kepada publik, terorisme akan kehilangan makna, karena tujuan aksi teror itu tidak akan tercapai. Jika teroris ingin menyampaikan pesan politik, memberi tekanan pada pemerintah, atau menciptakan ketakutan di kalangan masyarakat, semua itu baru akan tercapai jika ada publikasi media.

Bahkan, karena sangat menyadari pentingnya peran media, kaum teroris tidak cuma mengandalkan pemberitaan dari media luar. Kaum teroris sendiri dan para pendukungnya, berkat kemajuan teknologi informasi dan jaringan Internet, dapat langsung memublikasikan sendiri aksi-aksi terornya melalui media online dan media sosial. Kelompok ekstrem ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), misalnya, secara sistematis menyebarkan aksi-aksinya di media Twitter, Youtube, Facebook, dan sebagainya.

Pelaku terorisme paham bagaimana memanfaatkan media untuk mencapai tujuan-tujuan politiknya. Mer…

Revisi UU Antiterorisme dan Problem Deradikalisasi

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Bulan suci Ramadhan tahun ini, yang seharusnya ditutup dengan rasa syukur atas rahmat Allah SWT, dinodai dengan serangkaian serangan teroris di berbagai negara. Yang paling memakan korban adalah serangan bom di Baghdad, Irak, 3 Juli 2016, yang menewaskan 292 orang termasuk anak-anak. Serangkaian serangan lain dalam waktu yang berbeda terjadi di Turki, Banglades, dan Arab Saudi. Meskipun tidak memakan korban besar, serangan bom terjadi di dekat Masjid Nabawi, Madinah.

Indonesia juga tidak kebal dari serangan teroris. Sesudah serangan bom Jalan MH Thamrin, Jakarta, pada 14 Januari 2016, serangan bom bunuh diri terjadi dengan sasaran Markas Polresta Solo, Jalan Adisucipto, Solo, Jawa Tengah, 5 Juli 2016. Terduga pelaku pengeboman tewas dan satu petugas kepolisian yang mencoba menghalangi pelaku mengalami luka-luka. Pelaku diduga adalah anggota kelompok Abu Mush’ab yang ditangkap polisi di Bekasi, Jawa Barat, Desember 2015.

Berbagai serangan teror terakhir ini m…

Operasi Tinombala, Perburuan Teroris, dan Pelibatan TNI

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Santoso alias Abu Wardah sudah tewas. Gembong teroris terkemuka, yang menjadi buronan utama aparat gabungan Polri dan TNI selama berbulan-bulan dalam Operasi Tinombala di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), itu akhirnya tumbang oleh timah panas aparat. Adalah tim Alfa 29, bagian dari Satuan Tugas Operasi Tinombala, yang berhasil menghabisi Santoso di hutan lebat pegunungan wilayah Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara.

Tim yang beranggotakan sembilan prajurit Batalyon Infanteri 515/Para Raider TNI Angkatan Darat itu menemukan Santoso, bersama empat anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT), setelah melacak jejaknya selama 13 hari. Mereka akhirnya berhasil menemukan gubuk tempat persembunyian Santoso sekitar pukul 17.00 WITA, 18 Juli 2016. Lalu terjadi baku tembak selama 1,5 jam yang membuat Santoso dan salah satu pengikutnya, Mukhtar alias Kahar, tewas. Sedangkan tiga anggota MIT lainnya sempat kabur. Pada 23 Juli, terduga istri Santoso,…